
Rafiz dan Zidan ke kantor, mereka menghadiri rapat membahas tentang peluncuran Secret Partner level 3, sepanjang rapat Rafiz terus memperhatikan Miran,
"Apa Miran yang memberitahu mereka jika Zidan yang menciptakan Secret partner!"batin Rafiz.
Banyak para petinggi perusahaan yang datang, saat itu Rafiz memperkenalkan Zidan sebagai putranya, ia tak memberitahu orang-orang jika Zidan lah yang menciptakan Secret partner yang sebentar lagi akan mereka luncurkan.
Zidan ikut ke dalam rapat, sesekali ia memberi saran tentang peluncuran game online tersebut , semua merasa kagum dengan pendapat yang dikemukakan Zidan, begitu juga dengan Papanya. Ia bangga memiliki benih yang genius Zidan.
Peluncuran Secret partner yang sempat tertunda karena insiden di ruangan Rafiz dan penculikan Zidan dan Syahidah akan kembali diadakan Minggu depan.
Setelah rapat selesai mereka langsung kembali ke rumah sakit.
Saat mereka tiba, Mereka melihat semua sudah bersiap-siap untuk pulang,
"Apa kalian sudah di bolehkah pulang?" tanya Rafiz melihat jam tangannya,
"Iya , kata dokter Syahidah sudah baik-baik saja, kita bisa pulang sekarang tapi tetap harus kontrol," jawab Nandira.
Rafiz menggendong Syahidah, Syahidah langsung mengalungkan tangannya dileher Papanya, mereka semua berjalan ke mobil.
"Papa Syahidah takut mereka akan datang lagi menculik Syahidah?"ucap Syahidah mengingat kejadian malam itu,
Rafiz bisa melihat kalau wajah ketakutan anaknya kembali terlihat di sana.
Rafiz mencubit pipi anaknya,
"Sudah jangan diingat-ingat lagi ya, Papa janji akan selalu menjaga kalian," ucap Rafiz.
Nandira mengusap punggung anaknya yang ada di gedongan Rafiz, Zidan bergandengan tangan dengan kakek dan neneknya berjalan di belakang mereka.
Begitu sampai di mobil,
"Nandira apa sebaiknya kalian tinggal untuk sementara waktu di rumah kami," usul mommy khawatir.
"Enggak usah mom, kami baik-baik saya, Bibi sudah membereskan semuanya dan kata bibi rumah sudah bersih," ucap Nandira.
Rafiz yang sudah mendudukkan Syahidah di dalam mobil menghampiri Daddy nya dan memberi kunci mobil miliknya.
"Dad pulang dengan mommy, aku akan mengantar mereka pulang dengan mobil Nandira."
"Tentu saja," ucap Daddy mengambil kunci mobil yang di berikan.
Nandira dan kedua anaknya sudah ada di dalam mobil,
"Rafiz Mama Ingin secepatnya kau membawa mereka pulang ke rumah," pinta mommy,
"Iya mom, akan aku usahakan," ucap Rafiz.
"Jangan membuang waktu lagi,,"
"Iya mom."
Daddy dan Mommy pun menuju ke mobilnya mereka pulang ke tujuan masing-masing.
Sepanjang perjalanan pulang, Syahidah terus mengoceh membuat suasana di mobil yang tadinya canggung menjadi hangat kembali.
Begitu sampai Syahidah merasa trauma dengan rumah mamanya, Iya langsung memeluk erat mamanya.
Rafiz yang melihat ketakutan Syahidah kembali menggendong nya. Syahidah langsung mengalungkan kedua tangannya ke
leher Papanya, menyembunyikan wajahnya.
"Apa kamu mau langsung ke kamarmu ?" tanya Rafiz saat sudah masuk ke dalam rumah,
Syahidah menggeleng,
"Di ruang tv aja Papa, kita nonton tapi temani Syahidah ya,"
Rafiz mengangguk, ia mendudukkan Syahidah di sofa di ruang tv kemudian menyalakan televisi menyetel film kartun kesukaan Syahidah.
Nandira langsung ke dapur menyiapkan makan malam untuk mereka. Sedangkan Zidan ikut duduk di di ruang tengah kembali menyempurnakan Secret level 3.
Rafiz mendekati Zidan,
"Apa kau berencana membuat level-level lanjutannya?" tanya Rafiz.
"Tidak Papa, ini yang terakhir." ucap Zidan tanpa melihat ke arah Papanya, ia masih sibuk mengutak-atik gadgetnya.
"Apa kau punya rencana lain,?" tanya Rafiz.
Zidan menggeleng ,
"Aku hanya ingin hidup normal seperti anak lainnya, tidak terbebani hal ini dan itu. Aku tak ingin Syahidah celaka lagi," ucap Zidan. Ia mengerti jika penculik tersebut menculik Syahidah karena mengira dialah yang menciptakan Secret partner tersebut. Zidan merasa gagal melindungi adiknya. Ia tidak menyangka jika keputusannya untuk minta Syahidah menggantikannya hari itu justru membahayakan adiknya.
Nandira yang sudah selesai memasak makan malam mulai menyajikannya ke atas meja makan dan memanggil mereka semua karena waktu memang sudah menunjukkan jam makan malam.
Semua makan bersama dengan tenang, Nandira dengan telaten menyuapi Syahidah dan meminumkannya obat.
"Mah Zidan ke kamar dulu ya, Zidan ingin istirahat ," ucap Zidan yang memang sangat lelah. Ia sangat ingin merebahkan tubuhnya di kasur empuknya dan pergi ke alam mimpi.
Rafiz menggendong Syahidah ke kamarnya Yang sepertinya juga sudah mengantuk.
Nandira membereskan meja makan.
Nandira melihat Rafiz juga menutup matanya. Ia berpikir jika Rafiz sudah tidur dan ia keluar menutup pintu secara perlahan.
Begitu akan meninggalkan pintu yang telah di tutupnya, pintu kembali terbuka. Nandira menolah saat mendengar suara pintu di buka, dan melihat Rafiz keluar dari sana.
"Apa kita bisa bicara?" tanya Rafiz.
"Tentu saja," ucap Nandira mengangguk.
Mereka kemudian turun ke bawah di ruang tengah.
Rafiz awalnya duduk di depan Nandira kemudian berpindah tempat kesamping Nandira, Nandira sedikit menjauhkan diri saat Rafiz duduk sangat dekat dengannya.
Rafiz memegang tangan Nandira dan menatap kedua bola mata Nandira yang begitu indah.
Nandira berusaha melepaskan tangannya, tatapan Rafiz membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Nandira tolong jawab jujur padaku, apa anak-anak adalah anak kandung ku?" tanya Rafiz.
"Mengapa kau sangat ingin mengetahui mereka anakmu atau bukan ," ucap Nandira mencoba melepaskan pegangan tangan Rafiz.
Rafiz semakin mempererat pegangannya dan menarik Nandira lebih mendekat padanya padanya.
Nandira ingin berdiri namun harus kembali menariknya untuk duduk.
"Aku tak ingin membahasnya , aku sudah pernah bilang jika mereka adalah anak ku," ucap Nandira.
"Apa aku boleh tahu apa alasanmu merahasiakan ini dariku?" tanya Rafiz,
"Aku tak merehasiakan apapun,"
"Benarkah,"
"Iya, lepaskan aku," ucap Nandira terus mencoba melepaskan pegangan Rafiz.
Rafiz mengeluarkan hasil tes DNA yang ada di sakunya,
"Aku sudah tahu kalau mereka adalah anak-anak Ku, anak kandungku," Ucap Rafiz menyerahkan secarik kertas yang berisi pernyataan bahwa Zidan dan Syahidah adalah anak kandungnya.
Nandira mengambil kertas tersebut dan membacanya, ia menatap Rafiz.
"Kau melakukan tes DNA?"
"Iya, sejak pertama bertemu dengan mereka dan mengetahui mereka adalah anak-anak mu aku sudah curiga jika mereka adalah anak-anakku."
Nandira kalau kamu hamil karena hubungan kita malam itu, kenapa kau tak mencoba menghubungi Ku ?" tanya Rafiz.
Nandira tak menjawab,
"Dan saat kita bertemu untuk pertama kalinya di pulau, kenapa kamu tak memberi tahu ku kalau kita punya anak?!"
Nandira diam, ia tertunduk.
"Apa mereka tahu kalau aku ini adalah Papa kandung mereka?"
Nandira hanya mengangguk,?!"
"Kalau mereka sudah tahu, kita sudah sering bertemu. Bahkan mereka memanggilku Papa kenapa kamu belum memberitahu kalau mereka itu anak-anakku?!" desak Rafiz.
"Aku hanya tak ingin kau mengambilnya dariku," jawab Nandira.
"Mana mungkin aku akan mengambilnya darimu, mereka adalah anak-anakmu, walau mereka juga anak-anakku tapi selama ini mereka tinggal denganmu kaulah Yang merawatnya, membesarkan mereka. Aku takkan sekejam itu memisahkan kalian.
Aku minta maaf, akulah yang salah dalam hal, aku melakukan nya tanpa izin mu, semua sudah terjadi. Bisakah kau memaafkan ku?" ucap Rafiz menggenggam tangan Nandira.
Nandira semakin menunduk, air matanya menetes, mengingat apa yang sudah di alaminya selama ini, hinaan dan cacian yang ia dapatkan karena memiliki anak tanpa pernah menikah. Bagaimana orang memandang hina padanya, pada mereka bertiga. Menganggapnya wanita murahan, bagaimana ia bekerja keras untuk membesarkan mereka.
"Kau tak tau apa yang telah aku alami selama ini, kau tak tau penderita ku membesarkan mereka." ucap Nandira sesegukan.
Rafiz berlutut di depan Nandira yang duduk di sofa, menggenggam erat tangannya, menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Aku minta maaf, aku tak akan membuat kalian menderita, aku janji akan menjaga kalian. Mari kita membahagiakan mereka, mari kita menikah dan membesarkan anak-anak kita bersama-sama.
Jantung Nandira serasa berhenti berdetak,
" Apa ini , Apa dia melamar ku, Apa dia ingin aku menjadi istrinya?" tanya Nadira pada dirinya sendiri menatap mata Rafiz mencari kebenaran atas perkataannya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
😉😉😉😉😍😍😍😉😉😉😉
Like di setiap bab nya kak.
Vote jika ada,(Sesekali boleh lah)
Komennya ( agar menjadi penyemangat).
Salam dariku
Author m anha🙏
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕