My Papa My Boss

My Papa My Boss
KEBAHAGIAAN.



Rafiz perlahan berjalan masuk ke ruangan ICU dan melihat Miran berbaring di sana.


Rafiz mengira jika Miran sudah meninggal akibat kejadian beberapa hari lalu. Namun ternyata Miran selamatkan oleh beberapa bawahan Rafiz, tapi sampai sekarang dia belum sadar juga.


Rafiz berdiri di samping Miran, memandang lekat pada Miran, pria yang pernah mengkhianatinya. Namun, pria itu yang banyak berjasa untuk dirinya.


"Miran apa kau mendengar ku?" Rafiz semakin mendekat pada Miran yang masih menutup matanya dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya.


Mendengar suara Rafiz, Miran Langsung refleks membuka matanya, membuat Rafiz terperanjat kaget dan memundurkan langkahnya, memegang dadanya.


 Rafiz  tak menyangka jika Miran akan langsung bangun begitu mendengar suaranya.


Miran mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu di ruangan itu.


"Kau sudah sadar?" tanya Rafiz berjalan mendekat.


Dengan perlahan Miran menoleh ke arah sumber suara, suara yang sangat dikenalnya.


Miran perlahan menggerakkan tangannya, ia ingin membuka alat bantu pernafasannya.


Rafiz dengan cepat menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Pak maafkan saya," ucap Miran dengan susah payah.


Rafiz memasang kembali alat pernapasan Miran, "Kita bahas nanti saja, sebaiknya sekarang kamu istirahat. Masalah Aksan sudah selesai, kau tak usah khawatir,  penting kan dulu kesehatanmu baru kita bahas masalah tentang Aksan," ucap Rafiz.


Miran mengangguk samar, kembali memposisikan kepalanya ke depan dan menutup kembali matanya, ia masih sangat lemah dan butuh banyak istirahat.


"Istirahatlah dulu, aku akan menjenguk mu lain waktu,"  ucap Rafiz sebelum pergi dari ruangan perawatan Miran. 


Saat akan keluar beberapa dokter datang dan juga perawat datang, "Ada apa Pak?" tanyanya.


"Tadi Miran sudah sadar, sekarang dia kembali istirahat," jawab Rafiz.


"Baik, Pak. kami akan memeriksanya."


Mereka pun masuk untuk memeriksa Miran sedangkan Rafiz sendiri kembali dengan keluarganya, mereka akan pulang ke kediaman mereka.


"Bagaimana?" tanya Nandira.


"Miran sudah sadar, kita akan membahasnya setelah ia benar-benar pulih." Kemudian mereka pun kembali ke kediaman mereka.


Begitu mereka sampai mereka langsung disambut oleh aungan singa, yang sudah sangat merindukan mereka dan sepertinya ia juga bisa merasakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Tuannya.


Singa itu berjalan mendekat. Namun terhalang oleh dinding kandang. 


Rafiz berjalan pelan menghampiri singanya itu kemudian membuka pintu kandang.


Singa itu berjalan keluar menghampiri Rafiz dan seperti Ia menginginkan elusan dari Tuannya. 


Rafiz mengelus lembut rambut Singa itu membuat Singa itu langsung terduduk dan seolah ia ingin berkata apa kau baik-baik saja. Menatap lekat pada Rafiz dan mendekat kan wajahnya menyentuh wajah Rafiz.


"Lama tidak bertemu denganmu, Maaf selama ini aku tak pernah menjenguk mu lagi. Aku sedang ada masalah," ucap Rafiz seolah mengerti arti tatapan Singanya.


Syahidah dan Zidan  juga menghampiri hewan peliharaan Papanya, mencoba mengusap nya.


"Pak Karyo, sinyalnya nggak usah dimasukkan ke kandang ya, biarkan saja ia berkeliaran di sini, seperti biasanya," ucap Rafiz. "Nggak apa-apa kan Sayang?" Mereka bertiga menatap memohon pada Nandira.


Nandira yang sudah yakin jika singa itu tak berbahaya untuk anak-anaknya akhirnya mengizinkannya.


"Iya, nggak apa-apa." Jawabnya.


Mereka kemudian masuk dan membiarkan singa itu di luaran kandang.


Hari terus berlalu kini Rafiz sudah sembuh total, begitu juga dengan Zidan dan Syahidah. Mereka perlahan-lahan sudah bisa melupakan kejadian itu dan mulai masuk kembali ke sekolah.


Rafiz mengizinkan anak-anaknya untuk sekolah kembali, mengingat Aksan sudah tak ada lagi dan Rafiz ingin anak-anaknya cepat melupakan kejadiannya itu dengan bermain bersama teman-temannya.


Para fans Zidan di depan sekolah juga kini sudah berangsur sepi tak ada lagi penggemar Zidan. Mereka mendapatkan kabar jika  Zidan sudah tak sekolah di sana lagi membuat mereka tak pernah datang lagi.


Nandira juga sudah mulai aktif di kantor dan di toko kuenya, Rafiz sudah memastikan jika tak ada lagi yang akan mengganggu mereka.


Begitu juga dengan Miran perlahan-lahan ia sudah mulai membaik. Pagi ini Miran pergi ke kantor dan langsung menemui Rafiz di ruangannya.


"Apa kau bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah sebenarnya Aksan?" Menatap tajam pada Miran.


Miran langsung berlutut di depan Rafiz.


"Aku orang yang diminta Aksan mengawasi Anda, pak. Aksan sengaja mengirim ku bekerja di sini untuk memata-matai anda. Namun aku baru tahu jika itu tujuannya beberapa bulan terakhir ini.


Selama bertahun-tahun ini aku benar tulus bekerja untuk anda.


Beberapa bulan lalu Aksan menemuiku ingin meminta balas budinya. Aksan meminta rahasia perusahaan agar  anda hancur, waktu itu aku menolak keinginannya walau  nyawaku taruhannya."


"Sepertinya kepala Tim IT  yang menjadi rekan kerjanya saat itu, maafkan aku telah lalai dan tak memberitahu niat jahat Aksan  pada anda…" lanjut Miran.


Aksan lah yang mengirim ku bekerja di sini, dulu aku hanyalah seorang gelandangan di jalan. Aku pernah mencoba untuk mengakhiri hidupku dan Aksan menyelamatkanku dan memberiku semangat untuk tetap hidup.


Rafiz berdiri dan menghampiri Miran, mintanya untuk duduk di sofa..


"Sekarang Aksan sudah tiada, Aku harap kau kan tetap setia padaku," tegas Rafiz.


Miran langsung menatap Rafiz,


"Apakah Bapak mau maafkan ku?" tanyanya penuh harapan.


"Aku akan memberikanmu kesempatan Kedua, jadi tolong hargai kesempatan yang aku berikan."


Miran bernafas lega, tadinya Ia berpikir jika Rafiz tidak akan memaafkannya dengan semua yang telah diperbuatnya. Namun, ternyata Rafiz berjiwa besar ya mau memaafkan dirinya.


"Saya berjanji akan selalu setia kepada A'nda Pak. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya dan akan berusaha  selalu membantu bapak dengan semampu saya."


"Baiklah, selamat bekerja kembali, mari kita bangun perusahaan ini menjadi lebih besar lagi," ucap Rafiz menjabat tangan Miran yang disambut dengan sukacita oleh Miran.


Mereka melalui hari-hari dengan sangat bahagia, tak ada lagi kekhawatiran, ketegangan yang terjadi diantara mereka.


Seiring berjalannya waktu kehidupan Zidan dan Syahidah juga kembali normal.


Tak ada lagi orang-orang yang mengganggu mereka, orang-orang yang mengungkit kecerdasan mereka.


Dengan segala cara, Rafiz berusaha meyakinkan jika anaknya hanyalah anak-anak biasa dan itu berhasil.


Pagi ini Nandira merasa mual.


Nandira memegang perutnya dan mengingat jika ia sudah 3 minggu tak menstruasi.


"Apa aku sedang hamil," batin Nandira mengingat dia juga pernah mengalami hal itu saat mengandung anak pertamanya.


Tak membuang waktu nanti langsung ambil jaket menuju apotek membeli tespek.


Nandira sangat senang saat melihat hasil tespek tersebut yang menunjukkan jika dirinya sedang hamil.


Dengan cepat ia menghampiri Rafiz yang masih tertidur.


"Sayang bangun," ucap Nandira menggoyangkan tubuh Rafiz yang masih terlelap.


"Ada apa," sahut Rafiz menarik selimut dan mencari posisi ternyaman melanjutkan tidurnya.


Nandira kembali menarik selimut Rafiz.


"Ayo lihat apa ini!" Nandira memperlihatkan alat tespek.


Rafiz hanya melihatnya sepintas dan kembali,  ia sama sekali tak mengerti benda apa itu, mengapa Nandira mengganggu tidurnya hanya untuk memperlihatkan benda pipih itu.


"Iya, aku sudah melihatnya," kembali berbaring dan menutup matanya, " Memangnya itu apa?" Masih dengan mata terpejam.


"Ini alat tespek, disini tertera dua garis merah yang berarti aku sedang hamil,"  jelaskan Nandira.


"Oh … kau hamil" ucap Rafiz bergumam pelan. kemudian kembali menarik selimutnya.


Nandira kesal melihat ekspresi suaminya, tadinya Ia berpikir Rafiz akan bahagia mendengar jika dirinya sedang hamil.


Baru saja Nandira akan turun dari ranjang, dengan sigap Rafiz menahan lengannya, dan menatap lekat pada Nandira.


"Kamu bilang apa tadi? Kamu hamil? tanya Rafiz dengan ekspresi keterkejutan nya. Ia baru mencerna apa yang dikatakan Nandira.


Nandira mengangguk, "Aku hamil," ucapnya kembali memperlihatkan alat tespek yang masih ada di tangan nya.


Rafiz langsung menarik Nandira kepelukannya, meluapkan segala rasa kesenangannya, ia sangat bahagia mendengar kabar itu. Rafiz bahkan berkaca-kaca mendengar kabar kehamilan Nandira.


"Kamu beneran hamil 'kan?" Rafiz memastikan.


"Iya, Mas. Aku hamil, Kita akan punya bayi lagi. Zidan dan Syahidah akan memiliki adik."


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Makasih atas dukungannya Kalian 🥰


Mampir ke karya ku yang lainnya ya kak🙏



Makas Kak 🙏💗


Dinanti kehadirannya ❤️❤️❤️


salam dariku Author m anha 🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖