
Di kamar utama.
Keduanya terdiam dalam hening, Rafis mendekati Nandira dia menyesal dan ingin minta maaf.Namun, wajah Nandira terlihat begitu dingin seakan menciutkan nyalinya. Tapi, ia memberanikan diri untuk mendekati dan bicara dengan Nandira.
"Maaf ya, aku nggak bermaksud untuk membohongimu," ucap Rafiz.
Nandira tetap diam dan bahkan membelakanginya.
"Apa karena hal kecil itu saja Kau sampai marah padaku?" tanya Rafiz mencoba menggenggam tangan Nandira.
"Mungkin bagi Mas ini hanya hal kecil. tapi, tidak untukku. Hal yang Mas anggap kecil ini menyangkut Zidan dan Syahidah, hal apapun jika menyangkut anak-anakku itu sudah menjadi hal yang sangat penting bagiku. Aku hanya tak ingin melihat mereka terluka," kesal Nandira.
"Tapi, percayalah singa itu tak akan melukai anak-anak kita ,"kekeh Rafiz.
"Terserah kamu saja, aku tak akan melarangmu lagi untuk membawa Singa itu ke rumah ini. Bahkan, jika kau ingin tidur dengannya silahkan, Aku ingin tidur dengan Syahidah," ucap Nandira berlalu meninggalkan Rafis yang hanya bisa terdiam memandang istrinya itu keluar dari kamar mereka.
Dia ingin menghentikan Nandira.Namun, ia kembali teringat akan kata-kata Zidan agar untuk saat ini mengalah dan mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh mamanya.
Rafis melihat tempat tidur mereka, di sanalah ia tidur sambil memeluk istrinya, hatinya terasa kosong saat ini. Ia pun memilih untuk ke kamar Zidan, ia tak bisa memeluk istrinya setidaknya ia bisa memeluk anaknya.
Malam ini Nandira tidur bersama dengan Syahidah sedangkan Rafiz tidur bersama dengan Zidan.
Saat larut malam Syahidah meresa lapar, ia memang melewatkan makan malamnya.
Syahidah terbangun dan melihat mamanya tidur di sampingnya. Ia mencoba mengingat kembali kejadian siang tadi, "Kenapa aku ada di kamar, bukannya tadi kami ada di kandang singa," gumam Syahidah memandang mamanya yang sedang tertidur pulas.
Tiba-tiba perutnya berbunyi, ia sangat lapar. Cacing di perutnya sudah meminta makanan.
"Mah, mah bangun," ucap Syahidah membangunkan mamanya.
Nandira mengerjapkan matanya saat merasakan Syahidah menggoyangkan lengannya.
"Syahidah, ada apa sayang?" tanya Nandira.
"Mama, aku lapar," ucap Syahidah memegang perutnya.
"Mau makan apa? mama masakin."
"Apa aja boleh. Mah," jawab Syahidah.
Mereka berdua pun turun ke bawah dan menuju ke dapur.
"Papa," ucap Syahidah saat melihat papanya sedang merebus mi instan.
"Mas lapar?" tanya Nandira mendekati Rafiz, ia mereka tak enak melihat suaminya memasak makannya sendiri.
"Enggak kok, Aku masih kenyang, ini untuk Zidan." jawab Rafiz.
"Mah, aku juga ingin mi instan," ucap Syahidah yang melihat apa yang Sedang di masak oleh papanya.
"Aku aja Mas yang masak," ucap Nandira mengambi alih.
"Ya sudah, kami tunggu di kamar Zidan ya!," ucap Rafiz.
"Iya," jawabnya.
Rafiz dan Syahidah menuju lantai atas, mereka menunggu mamanya di kamar Zidan.
Zidan sedang asyik bermain game bersama teman sekolahnya.
Saat bagun ia langsung mengingat janjinya kepada teman-teman untuk mengundang mereka bermain Secret Partner.
Zidan melihat jam yang ada di dinding kamar nya, jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
"Apa mereka masih bangun ya." gumam Zidan berjalan ke ruangan Gamenya.
Zidan duduk dan mulai mengaktifkan komputer dan menyalakan aplikasi game Secret Partner dan memasukkan Akunnya.
Zidan mencoba untuk mengundang mereka semua, ia tak berharap mereka akan menerimanya. Melihat jam saat ini menunjukkan sudah larut malam. Zidan yakin mereka pasti sudah tidur.
Zidan menunggu sebentar, ia ingin tau apakan undangan untuk ikut bermain dengannya masih di terima pada jam seperti ini. "sepertinya mereka memang sedang tidur," gumam Zidan.
Baru saja Zidan ingin mengakhirinya, ternyata ajaknya sudah di terima oleh mereka.
Zidan tertawa dan langsung memakainya earphone nya. Ia bisa mendengar gerutu dari teman-temannya dari balik earphone yang ia pakai.
"Maaf, aku ketiduran." Hanya itu yang di ucapkan Zidan saat mendengar Omelan mereka.
Rafiz dan Syahidah menghampiri Zidan dan hanya melihat nya bermain.
"Papa mi instannya mana?" tanya Zidan yang tak melihat papanya tak membawa apa-apa.
"Mama yang membuatnya, sebentar lagi," jawab Rafiz mulai menyalakan komputer lain.
Ia dan Syahidah akan bermain bersama.
Mereka memainkan S P L 1 dan misi awal. Misi yang terbilang mudah bagi para penggemar Secret Partner. Namun, permainan itu sangat Sulit untuk Syahidah.
Rafiz terus mengajari Syahidah bermain hingga Nandira datang barulah mereka menghentikan permainannya.
Zidan menghentikan permainannya, perutnya sudah sangat lapar. Bermain dengan teman-temannya hanya membuang waktu saja, cara bermain mereka sama saja sejak pertama kali mereka bermain.
Mereka makan bersama, Rafiz yang tadinya tak ingin makan jadi ikut makan melihat mereka semua makan dengan lahap walau hanya mi instan. Nandira juga menambahkan beberapa potong daging di mangkuk mereka.
Setelah makan, Syahidah yang masih penasaran kembali mengajak papanya untuk bermain bersama. Syahidah akan tertawa saat berhasil menembak para musuhnya.
Nandira yang sedari tadi memperhatikan Rafiz dan Syahidah bermain, tertarik untuk mencobanya.
Nandira meminta Zidan untuk mengajarinya bermain. Setelah ia sedikit menguasai permainan tersebut, Nandira meminta Zidan mengundang bermain secara kelompok.
Mereka menggunakan 3 komputer, Zidan, Nandira dan Syahidah yang di bantu oleh papanya.
Mereka mulai bermain, Zidan sengaja memilih permainan yang paling gampang dari semua permainan Sp L 1, 2, dan 3.
Kalah dan kalah. Namun , Nandira tak ingin menyerah, ia seperti tertantang baginnya untuk menyelesaikan sebuah misi tertentu.
Syahidah merasa sangat mengantuk, dan memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Setelah mencoba beberapa kali akhirnya mereka bertiga selangkah lagi mencapai level target berikutnya. Setelah mereka berkumpul, Karakter yang Zidan mainkan dalam game tersebut melangkah mencoba untuk berjalannya ke pintu gerbang lebih dulu di ikut Nandira dan Rafiz.
"Ini apa?" tanya Nandira memperlihatkan sebuah kotak yang diambil dari ranselnya karakter yang dimainkannya.
"Mama jangan dibuka," teriak Zidan.Namun, Nandira sudah terlanjur membuka kotak tersebut.
Setelah membuka kotak tersebut, ternyata kotak itu berisi bom dan jika mereka membukanya mereka akan langsung meledak.
Zidan dan Rafiz bernafas lemas, melihat Nandira membuka kotak tersebut dan merekapun kalah.
"Mama sih, Zidan kan sudah bilang jangan di bukan" gerutu Zidan.
"Mana mama tau kalau itu bom. Salahkah sendiri, seharusnya kamu sertakan tulisan di sana jika itu berbahaya," ucap Nandira.
"Udahan Ah! ngantuk," ucap Zidan keluar dari ruangan itu dan ikut bergabung dengan Syahidah yang sudah kembali ke alam mimpinya.
"Mas, main lagi ya!" ucap Nandira masih penasaran.
"Boleh," jawab Rafiz. Mereka kembali bermain dan kali ini mereka hanya berdua.
Sepanjang permainan Rafiz hanya fokus melindungi karakter Nandira, hingga mereka mencapai gerbang dan masuk ke level berikutnya.
Nandira sangat bahagia dan langsung memeluk Rafiz, Rafiz mengambil kesempatan tersebut dan balas memeluk erat Nandira.
"Apa hadiahku?" tanya Rafiz memandang kedua bola mata Nandira.
Nandira memberikan kecupan.Namun, Rafiz menahan tengkuknya dan kecupan itu berubah menjadi *******.
ππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Mohon beri dukungannya dengan memberikan like, vote dan komennya.
Salam dariku
β€οΈAuthar M Anha. love you all ππ
ππππππππ