
Syahidah ke sekolah diantar oleh Pak Wahyu dan membawa dua tas oleh-oleh yang sudah disiapkannya.
Agar mempermudah saat membagi oleh-olehnya, Syahidah sudah menulis nama di setiap oleh-oleh tersebut.
Begitu sampai di Sekolah sahabat Syahidah Nara dan Lusy langsung menghampirinya. Semalam Syahidah sudah memberitahu jika ia membawa banyak oleh-oleh untuk mereka semua.
"Mana oleh-olehnya?" tanya Nara menghampiri Syahidah dengan berlari.
"Ada di belakang," tunjuk nya pada bagian bagasi mobil. Syahidah turun dari mobil.
Pak Karyo menurunkan 2 tas tersebut. Zidan hanya menghela nafas melihat kelakuan adiknya. Syahidah dengan semangat menarik tas itu dibantu oleh kedua temannya.
Zidan hanya berjalan di belakang mereka, tak ada sedikitpun niatnya untuk membantu mereka yang terlihat kesusahan menarik tas yang ukurannya lumayan besar. Syahidah dan Nara menarik satu tas yang ukurannya lebih besar, dan Lusy menarik tas lainnya yang ukurannya lebih kecil.
"Kakak ini berat, bantuin dong," ucap Syahidah saat mereka beristirahat sejenak.
Zidan berjalan mendekat mereka, mereka sudah meresa senang akan mendapatkan bantuan, Khususnya Lusy. Mereka berpikir Zidan akan membantu mengangkat tas itu.
Zidan terus berjalan dengan santai melawati mereka, memasukkan kedua tangannya di saku celananya tanpa menoleh sedikitpun kearah mereka, membuat Syahidah dan kedua temannya melongo melihat Zidan yang melawati mereka.
Mereka bertiga saling pandang dan kembali melihat kearah Zidan yang berjalan semakin menjauhi.
"Kakak kamu nyebelin banget sih," ucap Lusy.
"Iya, aku pikir dia akan bantuin kita," timpal Nara bertolak pinggang.
"Lihat aja, kalau besar nanti akan ku balas," ucap Lucy.
Syahidah dan Nara melihat kearah Lusy sesaat setelah mendengar apa yang sahabat mereka katakan.
"Maksud kamu apa?" tanya Syahidah melihat ke arah Lusy dengan alis terangkat.
"Iya, aku yakin saat aku besar nanti Zidan pasti akan menyukaiku. Saat itu aku akan menolaknya dan berjalan melewatinya seperti apa yang di lakukan nya saat ini pada kita," ucap Lucy melipat kedua tangannya di dada dan menunjuk Zidan dengan dagunya.
Syahidah dan Nara bernafas malas, kemudian meninggalkan Lucy yang masih terus menatap Zidan yang berjalan Semakin jauh.
Lusy yang menyadari jika teman-temannya sudah pergi langsung berlari menghampiri mereka sambil menyerat kembali tasnya.
"Kalian kok ninggalin aku sih," kesal Lusy.
"Lagian kamu sih, pikirnya ketinggian. Sebelum kamu menolak kak Zidan, sebaiknya kamu bantu aku saja membagi-bagikan semua ini," ucap Syahidah masih terus berjalan sambil menyeret koper bersama dengan Nara.
Lusy pun ikut kembali menarik koper yang lebih kecil seorang diri dengan wajah yang ditekuk.
Zidan sudah sampai di kelas dan langsung disambut oleh teman-temannya.
"Yang dari Jepang udah datang, nih! oleh-olehnya mana?" sahut Memet yang langsung menghampiri Zidan dan duduk di dekatnya.
Zidan mengeluarkan 3 jam tangan dengan model yang sama dengan yang ia gunakan.
"Ini untuk kalian, pilih sendiri kalian suka yang mana," ucap Zidan.
Dengan cepat Memet menyambar 1 jam tangan yang dianggapnya paling bagus, kemudian memakainya.
"Makasih ya," ucapnya kemudian kembali ke tempatnya sambil terus melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
Nizam dan Riza yang baru datang juga langsung mengambil jam tersebut.
Nizam juga langsung memakainya dan duduk di dekat Memet.
Riza yang duduk sebangku dengan Zidan ikut memakainya dan duduk di dekat Zidan.
"Apakah tak masalah kamu membelikan jam tangan seperti ini kepada kami?" tanya Riza yang tahu jika harga jam itu seharga sebuah mobil.
"Aku membelinya dengan uangku sendiri," ucap Zidan membuat Riza langsung melihat ke arah Zidan dengan matanya membelalak.
"Kamu dapat uangnya dari mana," bisik Riza.
Zidan mendekat pada Riza begitupun sebaliknya, Riza langsung mendekat ke arah Zidan. "Itu aku dapatkan dari bermain Secret Partner," ucap Zidan.
Riza semakin membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka lebar mendengar ucapan Zidan. "Kau mendapatkannya dari permainan Secret Partner saja?" tanya Riza tak percaya.
Zidan mengangguk yakin membuat Riza kini membekap mulutnya dengan kedua tangannya agar mulutnya tak semakin terbuka lebar saking terkejutnya.
Zidan membeli 3 jam berarti harganya seharga 3 mobil, semua itu di luar pemikiran Riza.
Zidan kembali ke posisinya dan menahan tawa melihat Riza yang masih terus memandangnya dengan pandangan tak percaya. Mata yang masih membelalak dan terus membekap mulutnya.
Semua teman kelasnya langsung bersorak dan mengatakan jika mereka menginginkan oleh-oleh tersebut.
Syahidah berdiri di depan dan meminta mereka untuk duduk, dengan patung mereka semua duduk.
Dibantu Nara dan Lusy, Syahidah mulai mengambil oleh-olehnya satu-persatu dan menyebutkan nama mereka.
Nama yang disebut Syahidah langsung naik mengambil oleh-olehnya.
Semua sudah kebagian.Namun, hadiah tersebut masih banyak.
"Ini masih banyak? Emangnya untuk siapa saja?" tanya Nara.
"Disitu kan ada namanya, ya sudah kita bagikan saja semuanya! Aku sengaja membeli semua untuk teman-teman kita yang tak sekelas dengan kita," ucap Syahidah santai.
Nara dan Lusy hanya ber O saja mendengar ucapan Syahidah.
Dibantu dengan beberapa teman sekelasnya, Syahidah mulai membagi-bagikan oleh-oleh tersebut kepada beberapa teman sekolahnya.
Syahidah sangat cepat akrab dengan semua teman sekolahnya, kebaikan Syahidah membuat orang-orang senang berteman dengannya.
Sementara di kediaman Rafiz.
Rafiz sudah siap dengan pakaian kantornya begitu juga dengan Nandira.
Siang ini, mereka berdua akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan semalam yang belum selesai mereka kerjakan.
"Apa kau yakin tiada orang dalam yang membantu mengacaukan sistem IT Perusahaan mu?" tanya Nandira.
Mendengar pertanyaan itu, entah mengapa kecurigaan Rafiz langsung tertuju pada satu nama yaitu Miran, otaknya mengatakan jika kemungkinan Miran terlibat dalam hal itu. Namun, perasaannya mengatakan jika itu tak mungkin. Mengingat kesetiaan Miran selama ini padanya.
Rafiz mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang selama ini ia minta untuk mengawasi Miran. Berkali-kali ia memanggilnya.Namun, tak ada jawaban.
"Kemana dia, tak biasanya dia mengabaikan panggilanku," batin Rafiz.
Rafiz juga baru menyadari jika sebulan ini, orang suruhannya itu tak pernah lagi mengirim informasi tentang Miran padanya. Biasanya ia akan mengirim seminggu sekali tentang apa saja yang dilakukan Miran di luar kantor.
Rafiz menggigit Bibir bawahnya, mencoba menyangkut pautkan antara waktu dimulainya pembobolan sistem IT perusahaan miliknya dengan waktu menghilang pemberi informasi mengenai Miran.
Rafiz mengepalkan tangannya, "Apa Miran ada di balik semua ini," batin Rafiz merasa kecewa.
Nandira telah siap dan mereka pun berangkat ke kantor bersama-sama.
Mereka langsung menuju ke ruang IT dan melihat beberapa orang sudah mulai sibuk disana.
Rafiz menghampiri seseorang yang memimpin di bidang itu,
Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rafiz.
"Sepertinya orang yang berhasil meretas sistem kita sangat ahli, kita sudah berhasil menemukan identitasnya. Namun, ia kembali mengganti dengan identitas lain dan dengan cepat mereka bisa membobol sistem kita lagi," Penjelasannya berhenti saat melihat tatapan Rafiz padanya. "Kita sudah memperbaikinya dan memperkuat sistemnya, tapi... " ucap pemimpin tim IT Perusahaan itu yang bernama Dirga, terpotong saat Rafiz meninju mejanya.
Semua yang ada di ruangan itu tersentak kaget saat mendengar suara tinju rafiz. Termasuk Dirga yang ada di sampingnya.
"Jika benar Miran ada sangkut-pautnya dengan semua ini, aku tak akan membiarkannya lolos," batin Rafiz mengepal tangannya, rahangnya mengeras matanya seakan berkilat menahan amarah.
Semua kembali sibuk dengan kegiatannya tanpa berani melihat kearah bos mereka yang terlihat begitu marah. Dirga bahkan sekarang sudah menunduk dan meremas jari-jarinya. Jika ada yang patut disalahkan dalam hal ini, itu adalah dirinya yang sudah gagal memimpin timnya.
"Lanjutkan pekerjaan kalian, Aku ingin hari ini ada kemajuan. Kita harus bertindak cepat sebelum semua kerja keras kita selama ini hancur," tegas Rafiz.
Mereka semua menelan salivanya dengan susah. Mereka tak yakin hari ini mereka bisa mendapat sesuatu yang bisa membuat pemimpin mereka puas. Lawan yang membobol sistem mereka sangat hebat. Mereka mengakui jika kemampuan tim lawan diatas kemampuan mereka.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi like dan komen.π
Salam dariku, π€
author m anhaβ€οΈ
love you allππππ
πππππππππππππ