My Papa My Boss

My Papa My Boss
Ketahuan juga



Rafiz bisa mendengar jika suara Nandira bergetar, dengan segera ia berdiri dan memeluk istrinya itu dari belakang.


Bermaksud untuk menenangkan.Namun, Nandira justru semakin terisak.


"Kamu jahat banget sih, hari itu aku sudah berharap banyak sama kamu, aku bela-belain datang ke kantormu, Aku tak ingin kau salah paham denganku dan Riko. Tapi, ternyata saat sampai disini aku melihatmu ...," Nandira tak bisa melanjutkan perkataannya, hatinya sakit saat mengingat waktu itu.


"Itu semua tidak seperti yang kau bayangkan, waktu itu aku dan Jazlyn tak melakukan apa-apa. Aku tahu batasan ku, kami sudah bercerai. Aku memang salah hari itu, aku begitu kesal karena cemburu melihatmu dengan Rico. Tapi, sungguh kami tidak melakukan hal-hal seperti kau pikirkan," jelas Rafiz.


Rafiz membalik tubuh Nandira mengangkat wajah istrinya itu agar menatapnya. Dengan lembut Rafiz mengusap airmata Nandira," Aku minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud menyakiti hatimu," ucap Rafiz.


"Tadi itu aku benar-benar tidak sengaja, kenapa kau harus begitu marah padaku," ucap Nandira kembali mengungkit masalah yang tadi. Ia memukul dada Rafiz dan mencoba menyembunyikan wajahnya.


Rafiz kembali membawa Nandira ke pelukannya, mengusap lembut rambut istrinya dengan penuh cinta. Mengecup kening istrinya.


"Aku nggak marah sama kamu, hanya kesal saja. Aku takkan mengulanginya lagi.Sudah ya jangan nangis lagi," ucap Rafiz.


Nandira mengangguk dan mencoba menghapus air matanya.


"Marah dan kesal sama saja Mas," lirih Nandira."Jangan marah lagi, Aku nggak suka," ucap Nandira masih dengan suara bergetar mencoba menahan isakannya.


"Iya maaf, aku nggak marah kok," ucap Rafiz.


"Ga suka di cuekin, didiamkan," ucap Nandira.


Rafiz kembali duduk di kursinya dan menarik Nandira ke pangkuannya.


Nandira dengan pasrah duduk di pangkuan Rafiz dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


Rafiz memeluk erat Nandira, menarik tengkuknya dan bermain di bibirnya.


****


Diruang pantry Zidan dan Syahidah sudah selesai makan.


"Kamu ya yang bereskan," ucap Zidan mencuci tangannya.


Syahidah mengangguk ia mulai memakan kue coklat kesukaannya.


Zidan kembali duduk dan sesekali menakan kue coklat Syahidah.


"Papa sama Mama mana ya? bukannya tadi mama juga lapar?!" Melihat ke arah Pintu.


"Mungkin mama bantuin kerjaan papa biar cepat selesai," sahut Syahidah.


Lama mereka menunggu Mama dan Papanya namun tak juga datang, Syahidah sudah selesai makan kuenya dan membersihkan tempat mereka makan dan menyimpan sisanya di atas meja. Zidan dan Syahidah kembali ke ruangan Papanya.


Anak-anak masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu, membuat Rafiz dan Nandira terkejut. Dengan cepat mereka mengakhiri kegiatan mereka.


Nandira dengan cepat mengancingkan bajunya, merapikan pakaiannya yang sudah berantakan.


Syahidah menghampiri mereka,


"Mama ga makan?" tanya Syahidah.


"Bentar lagi sayang," jawab Nandira.


"Mama kenapa?" tanya Syahidah, ia masih bisa melihat wajah sembab mamanya.


"Enggak apa-apa kok Sayang," jawab Nandira mencoba tersenyum.


"Mama habis nangis ya?" tanya Syahidah.


"Enggak kok, mama baik-baik saja," jawab Nandira.


"Mama bohong, Mama habis nangis kan?"ucap Syahidah mulai berkaca-kaca, ia paling tidak bisa melihat mamanya menangis.


"Mama baik-baik saja," ucap Rafiz mencubit pipi Syahidah.


"Tuh kan Pah, Syahidah sudah bilang sama Papa kalau Mama pasti marah kalau tahu Papa dan kakak menyembunyikan Singa itu, mama kan nggak suka papa dan Zidan main dengan singa itu ," ucap Syahidah yang meneteskan air matanya, ia mengira mamanya menangis karena papanya membohonginya mengenai singa itu lagi.


"Singa?" tanya Nandira bingung kemudian menatap Zidan yang duduk di sofa yang ada di sana.


Zidan yang mendapat tatapan tajam dari mamanya langsung mengambil bantal sofa dan menutup wajahnya.


Kemudian Nandira beralih menatap Rafiz.Namun suaminya itu juga sudah menutup wajahnya dengan jas kerjanya.


"Mas maksud Syahidah apa? singa apa, apa singa yang kalian sembunyikan maksudnya singa yang dulu? mas sudah menemukan singa itu lagi?"tanya Nandira.


Rafiz tak bergeming.


Nandira dan Syahidah mencoba membuka jas yang menutupi wajah Rafiz.


Rafiz semakin erat menutup wajahnya, tidak tahu dan belum siap harus menjelaskan seperti apa kepada Nandira.


"Mas jawab dong," desak Nandira.


Nandira berhasil membuka jas yang menutupi wajah Rafiz dibantu oleh Syahidah.


Rafiz menunduk, tak ingin melihat mata Nandira.


"Mas jawab aku, apa kamu sudah menemukan singa itu?" tanya Nandira.


Rafiz mengangguk masih menunduk.


"Terus singa-nya kamu simpan di mana?" tanya Nandira lagi.


Rafiz tak menjawab.


"Di dekat rumah kok Mah, kata pak Karyo Papa beli rumah baru untuk singa itu," jelas Syahidah.


Rafiz yang mendengar jawaban Syahidah kembali mengambil jasnya dan menutup wajahnya.


Nandira memukul lengan Rafiz,


"Kamu ya Mas, aku ngelarang kamu dekat-dekat singa itu karena aku mengkhawatirkan kalian, kalau seperti ini sama saja kalau Singa itu tinggal di rumah," ucap Nandira.


"Ayo Syahidah kita pulang."Mengajak Syahidah.


Rafiz langsung menariknya kembali duduk di pangkuannya.


"Mas lepas ah, aku mau pulang," ucap Nandira berusaha melepaskan tangan Rafiz yang melingkar di pinggangnya.


"Ayo Mah kita pulang, Syahidah tahu kok tempatnya di mana," ucap Syahidah.


Mendengar itu Rafiz semakin memeluk Nandira.


" Aku ntar pulang ya!" ucap Rafiz.


Rafiz memberanikan diri melihat wajah istrinya,


dengan Wajah memelasnya.


Nandira berhasil melepaskan pelukan Rafiz dan melengos pergi dari ruangan itu.


Dengan cepat Rafiz mengejarnya begitu juga dengan Zidan. Mereka berjalan dibelakang mamanya.


Mereka masuk ke dalam lift, tak ada satupun yang bicara.


Rafiz membelakangi Nandira begitu juga dengan Zidan. Mereka lebih memilih menghadap ke tembok daripada menghadap pada Nandira yang memasang muka kesal dan tatapan tajam kepada mereka berdua.


Baru saja mereka bermesraan.Namun sekarang mereka kembali perang dingin hanya karena Singa itu.


Nandira langsung berjalan cepat naik ke mobilnya, Rafiz dan Zidan dengan kompak langsung ikut naik di mobil Nandira.


Nandira yang kesal mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.


Tak ada yang berani bersuara di mobil itu, membiarkan apa yang dilakukan oleh Nandira semuanya hanya bisa berpegangan.


"Mama, rumahnya di sana," petunjuk Syahidah saat melihat rumah dimana papanya menyembunyikan Singa itu.


Rafiz membulatkan matanya melihat Syahidah namun saya hanya membalasnya dengan kedipan mata.


Zidan hanya menghela nafas, "Aku sudah bilang kan Pah, Syahidah itu satu tim dengan Mama," ucap Zidan pada papanya yang duduk disampingnya. Mereka duduk di jok belakang sedangkan Syahidah duduk di depan bersama mamanya.


Nandira membunyikan klakson saat berada di depan pintu gerbang.


Pak Karyo yang sedang berada di sana dengan sigap membuka pintu gerbang, begitu pintu gerbang terbuka Nandira langsung melajukan mobilnya masuk ke dalam.


Pak Karyo melongo saat melihat Nandira turun dari mobil dan melihat ekspresi wajah majikannya.


"Alamak ... sepertinya bakalan perang dunia ke-3 ini," batin Pak Karyo.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Mohon dukungannya ya kak 🙏 dengan memberikan like, vote dan komennya 💗🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


Love you all 💕💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💗💗💗