
Malam ini mereka makan malam di kamar, Nandira memesan makanan untuk mereka.
Syahidah sudah tak sanggup lagi keluar dari kamar walau sekedar untuk makan malam. Ia terlalu lelah bermain di pantai bersama Papanya.
Nandira membantu Syahidah mengganti pakaiannya dengan piyama begitu juga dengan Zidan.
Mereka berbaring sambil menonton acara TV, menunggu makan malam mereka datang.
"Syahidah sayang, kamu jangan tidur dulu, kita tunggu makannya dulu ya. Enggak baik tidur dengan perut kosong," ucap Nandira mengelus rambut Syahidah yang sudah memejamkan matanya.
"Iya Mah," lirih Syahidah yang sudah terkapar di atas kasur.
Beberapa saat kemudian suara ketukan terdengar dibalik pintu,
"Syahidah bangun sayang, makanannya sudah datang," ucap Nandira mencoba membangunkan Syahidah.
"Iya Mah," Ucap Syahidah namun matanya masih terpejam.
Mendengar suara ketukan pintu Zidan dengan cepat membuka pintu dan melihat ternyata itu adalah Papanya yang membawa makanan pesanan mereka.
Rafiz masuk dengan mendorong troli makanan. "Kalian memesan makanan?" tanya Rafiz. Ia bertemu dengan pengantar makanan di depan kamar mereka, tadinya ia ingin mengajak mereka semua untuk makan malam.
"Iya, Syahidah terlalu kelelahan seharian bermain dengan mu. Kamu lihat dia, Syahidah sudah tidak bisa bangun," ucap Nandira memangku anaknya itu.
Syahidah mencoba membuka matanya namun terasa berat.
"Makan dulu Sayang," ucap Rafiz mengambil Syahidah ke pangkuannya.
Syahidah hanya mengangguk.
Syahidah bersandar di dada Papanya, Rafiz menyuapinya sedikit demi sedikit anak gadisnya itu, Syahidah mengunyah makanannya dengan tetap mata tertutup.
Dia benar-benar sangat mengantuk walau dengan mata tertutup Syahidah menghabiskan makanannya. Rafiz kemudian memberikan minum kemudian membaringkannya di tempat tidur, menutup tubuhnya hingga ke leher dan memberikan kecupan Selamat malam untuk anaknya itu.
Syahidah kembali tertidur dengan sangat lelap memeluk bantal guling dan mencari posisi yang nyaman.
Rafiz kembali duduk dan ikut makan bersama mereka.
"Memangnya Papa ngapain aja dengan Syahidah sampai kecapean kayak gitu?" tanya Zidan yang baru selesai makan dan kembali menyaksikan acara di TV.
"Tadi kita main lari-larian di pantai, Papa sudah ngajak nya pulang tapi dia nggak mau," ucap Rafiz memakan makanannya dengan lahap, seharian bermain menemani Syahidah sungguh menguras energi nya.
Tadinya mereka akan pulang setelah melihat sunset, namun Syahidah bersikeras ingin tetap bermain. Alhasil mereka pulang jam 8 malam itupun Rafiz sedikit memaksa gadis kecilnya itu untuk pulang dan menjanjikan berbagi macam janji.
Selesai makan Nandira membereskan makanannya kemudian Iya sendiri mengganti pakaiannya dengan piyama.
Rafiz masih duduk di sofa bersama Zidan.
Nandira berlalu-lalang di depan Rafiz dengan piyama tipisnya membuat Rafiz yang sedang bermain Secret Partner dengan Zidan tak konsentrasi dan terus melirik kearah Nandira.
"Zidan sudah ya, Papa sudah lelah, kamu juga tidurlah besok kita main lagi."
"Iya Pah," ucap Zidan menyimpan gadgetnya dan pergi tidur di samping adiknya.
Tak butuh waktu lama Zidan sudah tertidur dengan sangat pulas.
Rafiz melihat Nandira berdiri di balkon kamar hotel, ia terlihat sedang menikmati indahnya suasana malam di Pulau.
Nandira menutup mata dan menikmati angin yang menerpa wajahnya. Ia kembali teringat saat pertama kali Ia datang ke pulau itu. Bagaimana kondisinya sangat itu benar-benar terpuruk, perlahan-lahan mulai membaik semenjak kehadiran anak-anak nya. Dan kini ia merasa sangat bahagia saat Rafiz berada disampingnya.
Nandira terkejut saat merasakan tangan kekar Rafiz melingkar di perutnya dan memberikan kecupan ringan di leher bagian belakangnya, membuat Nandira menjadi merinding.
Nandira ingin melepaskan pelukan Rafiz.
"Biarkan seperti ini sebentar saja,"ucap Rafiz masih menenggelamkan wajahnya di leher Nandira. Menghirup aroma tubuh Nandira yang sangat di rindukannya.
Nandira menuruti perkataan Rafiz dan membiarkan tunangan nya itu memeluk.
Nandira bisa merasakan aliran darah Rafiz yang mengalir dan nafas yang mulai memburu.
"Sudah ya,"ucap Nandira memegang kedua tangan Rafiz yang melingkar di perutnya dan mencoba melepaskannya.
Rafiz membalik tubuh Nandira dan mengurungnya dengan kedua tangannya.
Menatap dalam mata indahnya.
Rafiz menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik tunangannya itu.
Nandira menutup matanya saat tangan Rafiz memegang wajahnya. Ia terkejut dan refleks memegang dada Rafiz saat tiba-tiba bibir Rafiz sudah berada di bibirnya, bermain di sana.
Nandira coba mendorongnya, namun semakin Nandira menolak Rafiz semakin memperdalam ciumannya.
Nandira terus mendorong bahkan memberikan pukul ringan di dada Rafiz agar menghentikan ciumannya.
Setelah merasa Nandira sudah kehabisan nafas karena ulahnya, barulah ia melepaskan ciuman nya.
Rafiz menghentikan apa yang ia lakukan dan menatap Nandira yang mencoba mengatur nafasnya.
"Maaf ya, belum saatnya kita melakukan ini," ucap Nandira berusaha melepas tangan Rafiz yang masih melingkar di pinggangnya.
Nandira menggeleng,
"Sebaiknya kita menghindarinya, aku takut kita berdua tak bisa menguasai diri. Bersabarlah sebentar lagi kita akan resmi menjadi suami-istri," mohon Nandira.
Rafiz tersenyum dan mengangguk .
Rafiz kemudian duduk dan menarik Nandira ke pangkuannya, kembali melingkarkan tangannya di perut Nandira.
"Aku sangat bahagia kalian ada disisiku," ucap Rafiz mempererat pelukannya.
"Aku juga bahagia kau hadir dalam hidupku dan anak-anak, aku merasa lebih aman saat kau berada bersama kami," ucap Nandira menatap wajah Rafiz.
Rafiz kembali mengecup singkat bibir Nandira, "Aku harap tak ada lagi yang menghalangi kebahagiaan kita," ucap Rafiz.
"Apa yang kau lakukan pada Riko?" tanya Nandira kembali mengingat kejadian malam itu.
"Kau tahu usah memikirkannya lagi, Jazlyn dan Shireen juga takkan mengganggu kita lagi." ucap Rafiz.
Nandira menatap Rafiz dangan pandangan penuh tanya,
"Apa kau,...?"
"Apa maksudmu aku menghabisi mereka," ucap Rafiz menebak ekspresi wajah Nandira .
Nandira mengangguk samar,
"Aku tak sekejam itu, aku hanya mengirim mereka ke tempat dimana mereka seharusnya berada, jauh dari kita. Aku ingin memulai ke kehidupan bahagia dengan kalian, membesarkan anak-anak kita. Mungkin bahkan menambah satu anak lagi," ucap Rafiz mengusap perut Nandira.
Merasa tak nyaman dengan posisi mereka, Nandira mencoba berdiri.
"Ini sudah malam sebaiknya nya kau kembali ke kamarmu, Aku ingin istirahat," ucap Nandira mengusir Rafiz secara halus.
Jantung nya sungguh tak bisa di kendalikan nya lagi.
"Aku Masih Ingin bersamamu, mumpung anak-anak sedang tidur. Apa kau tak senang bersamaku?" tanya Rafiz.
"Bukan seperti itu, Aku hanya tak nyaman dengan posisi ini," ucap Nandira jujur.
Rafiz kemudian melepas pelukannya, dengan cepat Nandira berpindah duduk di samping Rafiz.
Mereka pun mulai berbincang-bincang mengenai kehidupan masing-masing. Nandira menyandarkan kepalanya di dada Rafiz, mereka berbincang sambil melihat bintang yang kelap kelip menghiasi langit malam, terlihat sangat indah.
Rembulan juga bersinar dengan sangat terang, ikut menyaksikan kebahagiaan di hati Nandira dan Rafiz.
Lama mereka dalam posisi itu, hingga tanpa sadar mereka berdua tertidur di balkon, dengan Nandira bersandar di dada Rafiz.
Pagi hari Rafiz terbangun dengan posisi sama seperti semalam, Ia melihat Nandira masih bersandar di dada nya sambil melingkarkan tangannya memeluk dirinya.
Rafiz menghalangi sinar matahari yang menerpa wajah Nandira dengan telapak tangannya .
Ia terus menatap wajah cantik Nandira yang sedang terlelap.
Tak lama kemudian anak-anak juga sudah terbangun dan berteriak memanggil mamanya.
Nandira terbangun saat mendengar teriakan Syahidah yang begitu nyaring.
Saat membuka mata Nandira melihat telapak tangan Rafiz menutupi cahaya matahari yang menyilaukan matanya, Nandira mendongak menatap Rafiz yang tersenyum padanya.
"Selamat pagi," Sapa Rafiz.
"Selamat pagi," jawab Nandira mencoba berdiri.
Syahidah terus memanggilnya.
"Aku masuk dulu ya," ucap Nandira.
"Hmmm," Jawab Rafiz.
Pagi ini mereka berencana akan menghabiskan waktu untuk menikmati wahana yang ada di pulau tersebut.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa untuk memberi
LIKE, VOTE, KOMENNYA π
Salam dariku π€
Author m Anhaπ€
love you all π
ππππππππππππππππ