
Saat makan malam Rafiz belum juga pulang, membuat Nandira semakin cemas, takut jika terjadi sesuatu pada Suaminya.
Siang tadi Rafiz pergi dengan terburu-buru dan sepertinya masalah di kantor begitu penting.Rafiz bahkan meninggalkan Nandira saat mereka akan bercinta.
Nandira membantu mommy menyiapkan makan malam, Nandira tinggal menghangatkannya saja, mommy telah membuat makanan kesukaan mereka semua siang tadi.
"Nandira, kamu kenapa?" tanya mommy yang melihat Nandira sedari tadi terus melamun dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Enggak, Mom. Aku hanya khawatir dengan Rafiz."
"Rafiz? Ada apa dengan Rafiz?" tanya mommy.
"Iya, aku juga enggak tahu pasti Mom, Tapi tadi Rafiz ke Kantor dengan terburu-buru. Aku sudah mengirim pesan dan belum dijawab. Nandira tak berani meneleponnya, takut mengganggu pekerjaan Rafiz," lirih Nandira.
"Udah, kita makan dulu nanti kita coba telepon setelah kita makan. Mungkin saja dia memang sedang sibuk setelah meninggalkan pekerjaannya selama seminggu ini, semoga saja tak ada masalah yang serius yang terjadi di Perusahaan," ucap mommy menghampiri Nandira dan mengusap punggungnya.
Nandira tersenyum haru, Ia memiliki mertua yang sangat menyayanginya layaknya seorang anak kandungnya.
"Kamu panggil anak-anak, kita makan malam. Mereka pasti sudah lapar."
Mereka pun makan malam bersama tanpa Rafiz, anak-anak makan dengan lahap, mereka sangat merindukan masakan Neneknya. Seminggu di negeri orang membuat mereka makan makanan yang tak begitu mereka sukai.
Nandira juga ikut makan, sesekali ia melihat ke arah pintu berharap Rafiz datang dan ikut bergabung makan malam bersama mereka.
Setelah makan, anak-anak sudah ke kamar mereka masing-masing. Mereka memilih untuk beristirahat. Nandira mengambil kotak makan dan memasukkan beberapa makanan kesukaan Rafiz, ia berencana akan ke kantor. Nandira takut jika Rafiz sampai mengabaikan makan malamnya karena banyaknya pekerjaan.
"Mom, aku ke kantor Rafiz dulu ya," pamit Nandira menunjukkan kotak makan yang dibawanya.
"Iya, hati-hati. Mintalah Pak Wahyu Untuk mengantarmu."
Nandira pun pergi ke kantor Rafiz diantar oleh Pak Wahyu, saat di jalan Nandira kembali mengirim pesan kepada Rafiz jika Ia sedang menuju ke kantor. Pesannya terkirim, tetapi Rafiz belum membuka pesannya.
Ia masuk ke kantor dan menuju ke ruangan Rafiz. Nandira masuk dan mencari dimana keberadaan suaminya itu.Namun, Rafiz tak ada di sana, ruangan itu kosong.
Nandira melihat petugas keamanan yang berlalu-lalang mengecek setiap ruangan.
"Permisi Pak, di mana pak Rafiz?" tanya Nandira.
Petugas keamanan itu menghampirinya, ia mengenali jika Nandira adalah istri dari bosnya. " Iya Bu, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas tersebut saat sudah sampai di dekat Nandira.
"Saya ingin ketemu Rafiz, tapi sepertinya ia tak di ruangannya."
"Bapak ada di ruang IT, mari saya antara ibu ke sana,"
Nandira berjalan menuju ruang IT.
"Apa beberapa karyawan masih bekerja Pak?" tanya Nandira saat melihat beberapa ruangan yang masih terang.
"Iya Bu, sepertinya ada masalah penting di bagian IT, semua karyawan masih berada di ruangan itu, Bahkan mereka melewatkan makan siang dan makan malam. Semoga saja tak terjadi masalah yang besar," ucap petugas tersebut.
"Semoga saja, Pak!" ucap Nandira saat sampai di depan pintu.
"Saya permisi dulu, Bu."
"Terima kasih ya, Pak."
Nandira mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian dengan perlahan membuka pintu.
Nandira bisa melihat jika mereka semua masih sangat sibuk.
Semua mata mengarah padanya saat melangkah masuk.
Mereka sudah tahu jika wanita yang baru datang itu adalah istri dari bos mereka, sehingga mereka kembali melakukan pekerjaannya.
Rafiz yang melihat Nandira datang langsung menghampirinya,
"Ada apa? Kenapa kau datang kemari?" tanya Rafiz.
"Apa aku mengganggu pekerjaan kalian?" bisik Nandira merasa tak enak.
"Tentu saja tidak, masuk lah," ucap Rafiz membawa Nandira duduk di kursinya.
"Aku hanya khawatir karena kau tak pulang untuk makan malam, makanya aku bawa makanan untukmu," ucap Nandira.
Rafiz mengusap kasar wajahnya, Ia baru menyadari jika sedari tadi mereka semua belum makan.
"Baiklah. Kita istirahat sebentar, silahkan kalian makan malam terlebih dahulu, Setelah itu kita lanjutkan lagi."
Semua menghentikan pekerjaannya dan keluar dari ruangan tersebut, sebenarnya sudah sejak tadi mereka sangat lapar. Namun, karena kesalahan besar yang mereka perbuat, mereka tak ada yang berani mengeluarkan pendapat. Walau itu hanya izin untuk makan. Bahkan beberapa dari mereka menahan hasrat buang air kecil saking merasa bersalah dan takutnya dengan atasan mereka.
Rafiz dan Nandira juga kembali ke ruangannya,
Nandira menyiapkan makanan yang dibawanya dari rumah dan menyimpan makanan tersebut di depan Rafiz.
"Makanlah dulu," ucap Nandira penuh kelembutan.
Rafiz pun makan makanan yang di sediakan oleh Nandira.
"Ada apa dengan perusahaan mu?" tanya Nandira setelah Rafiz selesai makan.
"Ada yang mengacaukan sistem IT, harga saham anjlok aku sudah kehilangan 70% seluruh hasil kerja kerasku selama ini." geram Rafiz, "Jika masalah ini tak bisa diselesaikan dengan cepat mungkin aku akan kehilangan semuanya," lirihnya frustasi.
"Kenapa semua ini bisa terjadi dan apa kalian tak mengetahuinya?"
"Bagian IT sama sekali tidak mengetahui jika mereka telah diretas dan sepertinya pelakunya sudah merencanakannya dengan sangat matang, sehingga hanya dalam sebulan dia bisa memporak-poranda bisnis yang selama ini sudah ku bangun dengan susah payah." Rafiz mengepalkan tangannya, rahangnya.
"Apa masalahnya sampai sebesar itu?" tanya Nandira dengan hati-hati.
"Bahkan mungkin lebih besar dari masalah yang bisa kau bayangkan. Sekarang aku harus mencari pinjaman untuk menyelamatkan perusahaan ku, aku tak akan membiarkannya hancur tanpa perlawanan."
"Mas, Kamu bisa pakai uang perusahaan ku, mungkin tak seberapa, tapi aku harap itu bisa membantumu," ucap Nandira.
"Apakah tak masalah jika aku memakai uang perusahaan mu? Jumlahnya yang kubutuhkan mungkin sangat besar." ucap Rafiz.
"Tentu saja tak masalah, Aku akan berusaha membantu sebisa Ku," ucap Nandira.
"Malam ini Nandira juga ikut membantu, ia mencoba membantu sebisa mungkin khususnya dalam laporan keuangan. Nandira memperhitungkan sebaik mungkin berapa yang harus dikeluarkan untuk membuat perusahaannya stabil untuk saat ini.
Malam ini sama bekerja lembur dan mereka berusaha mencari siapa pelaku yang membuat perusahaan menjadi sangat kacau seperti saat ini.
Mereka terus memperbaiki sistem IT mereka. Namun hasilnya tetap tak merubah banyak hal.
Semua karyawan IT bahkan bekerja hingga menjelang subuh, beberapa dari mereka yang sudah tak tahan tidur di meja kerja dan beberapa lainnya masih bertahan ngutak-atik komputer mereka.
"Kalian pulang dan istirahatlah dulu, datanglah saat siang hari, mungkin malam ini kita akan bekerja lembur lagi," ucap Rafiz.
"Baik, Pak," jawab mereka semua. Kemudian satu persatu dari mereka keluar dari ruangan itu. Rafiz melihat Nandira yang juga sudah tertidur di sofa. Ia merasa bersalah ikut melibatkan istrinya dalam masalah perusahaannya. Namun, kemampuan Nandira sungguh sangat membantunya.
Mereka pun pulang ke rumah, sesampainya di rumah mereka melihat anak-anak tengah sarapan.
"Bagaimana dengan Perusahaan mu?" tanya Daddy saat Rafiz ikut duduk bersama dengan mereka.
"Sangat kacau, Dad. Tapi, aku akan berusaha memulihkan kembali."
Nandira mengambilkan makanan untuk Rafiz,
"Makanlah dulu, setelah itu istirahatlah sebentar. Siang nanti kita akan kembali ke kantor," ucap Nandira.
"Zidan, Syahidah kalian minta Pak Wahyu ya, yang mengantar kalian ke sekolah pagi ini."
"Iya, Mah," jawab Zidan dan syahidah.
Setelah makan Rafiz langsung ke kamarnya, tanpa mandi atau membuka pakaian kerjanya Rafiz langsung berhambur ke kasur. Kepala sangat pusing tubuhnya sangat lelah dan ia sangat mengantuk.
Nandira menyiapkan anak-anaknya kesekolah.
Setelah melihat anak-anak pergi, Nandira kembali ke kamarnya, ia melihat Rafiz tidur dengan nyenyak tanpa membuka pakaian kerjanya.
Nandira mencoba memperbaiki posisinya dan membuka dasi serta ikat pinggang yang masih Rafiz kenakan, bahkan Rafiz tidur dengan nyenyak, tanpa membuka sepatunya.
Nandira bisa melihat wajah lelah Rafiz.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote dan komennya π
salam dariku π€
Author m anhaβ€οΈ
Love you all πππ
πππππππππππππ