My Papa My Boss

My Papa My Boss
KECEMASAN



Kabar dari mulut ke mulut dengan cepat menyebar, Kabar jika Zidan adalah pencipta Secret Partner dan Syahidah memiliki kemampuan IT yang luar biasa. Sudah menjadi topik utama di Kantor, bahkan dikalangan para pebisnis.


Banyak perusahaan besar mulai mendatangi Perusahaan Rafiz, untuk mengajukan kontrak kerja sama atau meminta Syahidah memperbaiki Sistem IT mereka.


Kabar itu mulai menyambar luas dan menjadikan mereka pusat perhatian.


Beberapa penguna Secret Partner mulai menghubungkan Zidan dengan pemilik akun "Mr. Z" yang menjadi pemain teratas di game online Secret Partner.


Kemampuan yang Zidan pertontonkan saat peluncuran Secret Partner level 3 beberapa bulan lalu dan tersebarnya rumor jika ialah penciptanya, membuat kecurigaan mereka semakin tertuju pada Zidan.


Kabar itu menjadi kabar terhangat sesama pemain.


Saat Zidan dan Syahidah datang ke kantor Rafiz, semua mata tertuju pada kedua anak kembar bos mereka.


Zidan dan Syahidah hanya berjalan melewati mereka, tak mempedulikan tatapan para karyawan yang menatap penuh kagum dan iri kepada mereka berdua.


Rafiz yang sudah mengetahui jika putra-putrinya telah menjadi pusat perhatian di kalangan rekan atau lawan bisnisnya, mulai merasa khawatir. Rafiz semakin mempererat penjagaan mereka.


Beberapa penggemar yang yakin jika Zidan adalah Mr Z mulai mendatangi sekolah Zidan, sekedar untuk menyapa atau meminta Zidan mengundang mereka bermain bersama.


Pihak sekolah juga memperketat penjagaan di pintu gerbang, agar kehadiran mereka tak mengganggu Proses belajar mengajar di sekolah.


"Kakak, bagaimana ini? Semua orang sudah tahu kemampuan kita, Syahidah takut penculik itu kembali muncul dan menangkap kita. Bagaimana jika lebih banyak lagi yang ingin menculik kita, dan mereka melukai kita," ucap Syahidah sambil melihat kerumunan orang yang ada di luar gerbang sekolah.


"Itulah sebabnya, selama ini Kakak meminta rahasiakan kemampuan kita, tapi sepertinya semua itu diketahui orang saat kau mulai memperbaiki sistem IT Perusahaan papa.


Syahidah menatap Zidan, ia merasa bersalah. "Kita harus bagaimana, Kak?" tanya Syahidah.


"Harus bagaimana lagi, mereka semua sudah tau. Aku yakin Papa sudah tahu jika banyak orang yang mengincar kita saat ini, apa kamu lihat beberapa hari ini sepertinya ada mobil yang terus mengikuti kita. Sepertinya Papa sudah menghalangi mereka semua."


Syahidah langsung mendekat pada Zidan, menatap kakaknya dengan penuh keseriusan. "Maksud kakak, selama ini ada orang yang berniat jahat kepada kita?" tanya Syahidah.


"Aku tidak tahu, mereka orang jahat atau hanya sekedar mengagumi kita, tapi kakak sering memperhatikan kan beberapa kali ada mobil yang mengikuti mobil kita."


"Apa papa bisa menjaga kita?" tanya Syahidah mulai berkaca-kaca.


Zidan tersenyum setenang mungkin, "Aku yakin Papa tidak akan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada kita," ucap Zidan meyakinkan adiknya.


Syahidah seakan memiliki firasat buruk yang akan terjadi pada dirinya.


"Coba kamu lihat, sepertinya hari ini papa yang menjemput kita," ucap Zidan saat melihat mobil papanya memasuki gerbang sekolah.


"Iya, itu Papa." ucap Syahidah kemudian Ia berlari menuju ke mobil Papanya. Mereka sejak tadi sudah pulang. Namun, mereka tak berani keluar karena banyaknya orang yang terus memanggil Zidan dengan sebutan Mr Z.


Mereka berdua masuk kedalam mobil. Rafiz perlahan melajukan mobilnya keluar meninggalkan gerbang sekolah, ia sedikit kesusahan saat keluar gerbang. Rafiz berusaha keluar dari kerumunan yang mengerumuni mobilnya.


Rafiz menatap mereka semua, mereka berusaha untuk berkomunikasi dengan Zidan.


Rafiz merasa semakin khawatir, melihat antusias para penggemar Zidan. Walau cemas, Rafiz tetap diam, ia tak ingin membuat Zidan dan Syahida merasa cemas juga.


Saat dalam perjalanan pulang, Zidan dan Syahidah kembali melihat ke belakang dan benar saja, kali ini lagi-lagi ada mobil yang mengikuti mereka. Mereka hanya saling pandang kemudian menatap papanya yang terlihat begitu serius melajukan mobilnya dangan sangat kencang, menghindari mobil yang sedari tadi mengikuti mereka.


Tak berapa lama kemudian, beberapa mobil menghalangi mobil yang mengikuti mereka.


Rafiz terus diam dan bersikap tenang, dia bisa melihat jika kedua anaknya tahu situasi yang mereka alami sekarang.


Rafiz melihat orang-orangnya sudah berhasil menghentikan mobil yang sejak tadi mengikuti mereka, Ia pun kembali mengendarai mobilnya dengan santai, Rafiz tak ingin membuat anak-anaknya cemas. Tak ada pembicaraan di dalam mobil itu, semua masih meresa ketegangan saat Rafiz memacu mobilnya dengan sangat kencang, mereka baru merasa lega saat sampai di rumah.


"Mulai besok kalian tak usah ke sekolah, papa akan meminta pihak sekolah mengirim guru privat ke rumah Kita."


Zidan dan Syahidah hanya mengangguk mereka mengerti jika mereka memang seharusnya tinggal untuk saat ini di rumah saja.


"Papa, siapa mereka?" tanya Syahidah pada Rafiz saat akan membuka pintu mobil.


"Papa juga tidak tahu pasti, tapi sepertinya mereka memiliki niat jahat pada kalian."


"Papa, Syahidah takut," ucap Syahidah.


Rafiz keluar dari mobil dan membuka pintu mobil Syahidah,


"Percaya sama Papa, Papa akan melindungi kalian dengan segala kemampuan Papa. Bahkan dengan nyawa Papa," ucap Rafiz menggenggam tangan Syahidah.


Syahidah langsung memeluk bapaknya, tangisnya pecah. Entah mengapa perasaannya begitu takut.


Zidan berusaha tetap tenang saat mengetahui jika ada seseorang yang berniat jahat pada mereka.


Rafiz berusaha meyakinkan meraka berdua jika semuanya akan baik-baik saja.


Mereka pun masuk. Nandira langsung menyambut mereka semua.


"Iya, Mah." Zidan dan Syahidah langsung berlari ke kamar mereka.


"Mas sudah makan?" tanya Nandira mengambil tas kerjanya.


"Iya, Mas sudah makan. Tadi Mas rapat di restoran, jadi kami sekalian makan siang," jawab Rafiz.


Mereka berjalan menaiki tangga menuju ke kamar.


"Mulai besok, anak-anak tak akan kesekolah. Aku akan meminta guru privat untuk mengajar mereka. Aku harap untuk saat ini kau juga tak ke kantor dulu," ucap Rafiz.


Nandira menghentikan langkahnya, saat akan membuka pintu kamar. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Nandira khawatir.


Rafiz melihat kearah pintu kamar kedua anaknya, "Kita bicara di dalam saja."


"Ada apa? Tolong jangan sembunyikan sesuatu hal pun dariku!" desak Nandira saat mereka sudah berada dalam kamar.


"Sepertinya ada seseorang yang terus mengawasi kita," ucap Rafiz menghela nafas.


"Maksudmu?" tanya Nandira mendekat pada Rafiz yang sedang duduk di sisi tempat tidur.


"Orang-orang ku sudah menangkap puluhan orang yang selama ini terus mengikuti kalian, kami sudah menginterogasinya, tapi tetap saja mereka tak mau bicara. Bahkan kami sudah melakukan kekerasan. Orang-orang ku sudah menyiksa mereka, tapi sepertinya mereka sangat setia dengan orang yang menyuruhnya. Mereka memilih mati daripada membuka mulut," jelas Rafiz.


Nandira tersentak mendengar perkataan Rafiz.


Jika mereka bersedia mati untuk melindungi orang yang menyuruh mereka, berarti orang tersebut pasti sangatlah berbahaya. Pikir Nandira.


"Mengapa mereka ingin menyakiti anak-anak kita?"


"Aku juga tak tahu, sepertinya target mereka bukan hanya anak-anak, tapi juga kita. Beberapa dari ini mereka sering mengikuti mu. Kemungkinan mereka punya dendam denganku atau dengan mu. Kemungkinan ke dua Karena kemampuan anak-anak kita. Semua sudah mengetahui kemampuan mereka, banyak orang yang menginginkan Syahida dan Zidan berada di pihak nya."


"Mereka bisa mengajukan kerjasama kepada kita, tak harus mengambil Syahidah dan Zidan 'kan, jika memang tujuan mereka adalah kemampuan mereka berdua."


"Aku juga belum tahu pasti, yang jelas untuk saat ini kalian harus tetap berhati-hati, aku akan meminta orang-orangku untuk siaga di sekitaran rumah ini."


"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Nandira.


"Tidak, aku tidak mencurigai siapapun. Aku sama sekali tak memiliki musuh, aku tak pernah mengganggu bisnis orang lain. Aku juga tak mengerti apa yang mereka inginkan dan mengapa mereka melakukan itu semua."


"Bagaimana dengan Miran?" tanya Nandira ragu.


Rafiz menggeleng, "Sepertinya Miran tak ada sangkut-pautnya dengan mereka, aku sudah menyelidikinya. Miran tak pernah menemui seseorang atau berhubungan dengan orang yang mencurigakan."


Tanpa sengaja Syahidah yang tadinya ingin menemui mamanya mendengar pembicaraan mereka di balik pintu.


"Ada apa? Apa yang kau lakukan?" tanya Zidan yang melihat Syahidah seperti ketakutan.


Syahidah kembali ke kamarnya diikuti oleh Zidan.


"Kau kenapa?" tanya Zidan.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Syahidah merahasiakan ketakutannya.


"Ya sudah, kalau memang tak ada apa-apa. Ayo kita makan dulu, mama pasti sudah menunggu kita," ucap Zidan dan menarik tangan Syahidah untuk turun ke bawah.


Sebelum turun saat melewati pintu kamar mama dan Papanya, Zidan mengetuk pintu kamar itu. "Mama, Papa Kami tunggu di bawah," teriak Zidan yang tau mamanya masih di dalam kamar, lalu kembali berjalan menuruni anak tangga.


"Apa kau merahasiakan sesuatu?" tanya Zidan yang melihat perubahan Syahidah...


"Aku hanya takut Kak, bagaimana jika orang jahat itu menangkap aku lagi,"


"Kamu tenang saja, ada kakak. Semua akan baik-baik saja." jawab Zidan dan mencoba setenang mungkin, walau Ia juga cemas.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa like vote dan komennya πŸ™


salam dariku πŸ™


Author m Anha❀️.


Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–