
Hari ini Rafiz, Zidan dan Syahidah sarapan bersama, bibi sudah menghidangkan sarapan di atas meja, mereka makan bersama-sama.
"Mama kalian mana?" tanya Rafiz yang tak melihat Nandira, sedari tadi ia menunggunya namun Nandira tak kunjung datang.
"Sepertinya masih di kamar Pah," ucap Syahidah.
"Biar Zidan panggilan dulu ya Pah,"
Zidan berlari ke kamar mamanya, Dia mengetuk pintu,
"Mah,...mama,...!" tak ada jawaban dari dalam, Zidan mencoba membuka pintu namun terkunci.
"Mama enggak sarapan! Papa nungguin Mama sarapan," ucap Zidan kembali mengetuk pintu.
Nandira ada di balik pintu, namun ia tak menjawab panggilan Zidan. Nandira tak ingin bertemu dengan Rafiz. Kejadian tadi pagi masih membuatnya malu.
"Mah,...mama!"
"Kenapa Zidan ga berhenti manggil sih," batin Nandira. ia mencari alasan agar bisa menghindari Rafiz.
Nandira berlari ke kamar mandi.
"Kalian sarapan saja dulu, Mama lagi di kamar mandi," teriak Nandira dari dalam kamar mandi.
"Ya udah mah, Zidan sarapan dulu ya," teriak Zidan.
" Iya, minta Papa aja ya yang nganterin kalian," Nandira kembali teriak dari dalam kamar mandi .
"Iya mah,"
Zidan kembali ke meja makan bersama Papa dan Syahidah,
"Mama mana?" tanya Syahidah.
"Mama lagi di kamar mandi, katanya kita sarapan duluan aja dan sekolah nganterin Papa," jelas Zidan.
Selesai sarapan Rafiz mengantar mereka ke sekolah, Nandira melihat dari jendela saat mobil Rafis keluar meninggalkan pintu gerbangnya.
Nandira menggigit bibir bawahnya, ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.
"Semalam kan aku nemenin Rafis makan, terus apa lagi ya?! kok aku enggak ingat?! apa Aku berjalan sambil tidur ke kamarnya, masa iya sih Aku kan nggak pernah gitu. Apa aku tertidur di meja makan, tapi Kalau iya kenapa Rafiz tak membangun kan ku atau mengangkatku ke kamarku?!" Nandira terus bertanya-tanya dalam hatinya dan mencoba mengingat apa yang terjadi saat ia tidur bersamanya.
Nandira kembali melihat perutnya,
"Apa semalam....,!? sudahlah aku mau ke kantor,"
Nandira mencoba membuang pikiran negatif nya terhadap Rafiz. Dia kemudian bersiap-siap akan ke kantor.
Begitu sampai di sekolah Syahidah langsung menarik Rafiz masuk ke dalam sekolah,
"Pah, temenin kita dulu ya kedalam," ucap Syahidah memasang senyum terbaiknya.
"Iya, Papa temanin,"
Mereka berjalan menuju ke arah teman-teman Syahidah yang sedang berkumpul.
"Hay teman-teman, perkenalkan ini Papa aku,"ucap Syahidah memperkenalkan Papanya kepada teman-teman yang selama ini terus menanyakan dimana Papanya.
"Hay Om, kami temannya Syahidah ," ucap mereka dan mulai memperkenalkan nama mereka satu persatu.
Zidan melihat senyum bahagia di wajah adiknya, itulah yang selama ini ia inginkan.
Syahidah ingin memperkenalkan Papanya pada teman-temannya, teman-teman yang selalu mengejeknya karena tak memiliki Papa.
Syahidah terus memamerkan kepada teman-teman kalau ia punya Papa.
"Papa pulang dulu ya, Papa gerah belum mandi nih bau asem," ucap Rafiz mencium kedua ketiaknya.
Syahidah tertawa menutup hidungnya.
"Papa nanti jemput lagi ya!" pinta Syahidah,
"Iya, Papa pulang dulu ya, kalian belajar yang rajin." Rafiz mengusap rambut kedua anaknya berjalan Kembali menuju mobil, sesekali ia berbalik dan melambaikan tangan kepada Zidan dan Syahidah yang juga melambaikan tangan padanya.
Rafiz pulang ke rumah dan di sambut oleh mommy nya.
"Bagaimana, Apa kau sudah menanyakannya kepada Nandira?" tanya mommy tak membiarkan Rafiz naik ke kamarnya sebelum mendapatkan Jawaban dari pertanyaan nya.
"Iya mom, Nandira sudah mengakui kalau mereka adalah anak-anak ku," jawab Rafiz.
Mommy bernafas lega,
"Tapi kenapa Nandira merahasiakan itu semua dari kita, kita sudah sangat dekat dengan anak-anak bahkan anak-anak sudah memanggilmu sebagai Papa?" tanya Daddy.
"Nandira takut kalau kita akan memisahkannya dari mereka," ucap Rafiz melonggarkan dasinya dan membuka kancing atas kemejanya.
"Apa rencanamu ?" tanya Daddy.
"Ya tentu saja kita harus menikahkan mereka dan membawa cucu-cucu kita ke sini, mama sudah nggak sabar ingin menyambut mereka di rumah kita. Pasti sangat bahagia bila setiap hari bermain dengan mereka ," ucap mommy antusias.
"Iya mom, Rafiz juga sudah tidak sabar membawa mereka ke sini, rencananya aku akan melamar Nandira saat peluncuran nanti." ucap Rafiz.
"Nanti,..?Kenapa?" tanya mommy dah ga sabar.
"Kita harus menunggu hingga peluncuran itu!"
"Kenapa nggak sekarang saja ngelamarnya," protes mommy.
"Mommy bersabarlah, Peluncurannya tinggal beberapa hari lagi, Aku hanya Ingin melamar Nandirah bertepatan pada peluncuran nanti,"
"Daddy dengar Secret Partner level 3 ini sudah dinanti oleh banyak penggemarnya dan dicari oleh banyak perusahaan besar, bahkan sampai ke luar negeri."
"Iya, mereka juga mencari pencipta Secret Partner ini,"ucap Rafiz mengingat penculikan Zidan dan Syahidah.
"Bukankah kau bilang, penciptanya masih di rahasiakan." tanya Daddy.
"Iya Dad, mungkin itu sebabnya ia merahasiakan identitasnya dari semua orang," ucap Rafiz.
"Maksud kamu, Kamu sendiri tak tahu siapa ciptanya?!" tanya mommy.
"Aku tahu mom, tapi dia ingin merahasiakan identitasnya dari orang lain dan Rafiz pikir keputusannya itu sangat tepat ," ucap Rafiz membayangkan kembali kejadian mengerikan yang mereka alami yang kemungkinan besar penyebabnya adalah Secret Partner itu.
"Mom aku ke kamar dulu!" ucap Rafiz pamit pada mommy dan Daddy nya.
"Iya," jawab mereka.
Begitu Rafiz akan berjalan mommy langsung memanggilnya,
"Ada apa mom,
"Apa anak-anak ke sekolah?" tanya mommy.
"Iya mom, mereka semua ke sekolah. Aku baru saja mengantarkannya.
"Apa Syahidah sudah baik-baik saja?"
'Iya mom, Syahidah sudah sehat.
"Mommy akan buat kue untuk mereka, kau harus menjemputnya bawa mereka ke sini.
"Iya Mama,aku usahakan".
"Aku mandi dulu ya, ucap Rafiz kemudian berlalu meninggalkan mereka menuju ke lantai dua kamar miliknya.
Rafiz mengambil handuk dan mulai melepas pakaiannya, berjalan menuju kamar mandi dan memulai mandi, membiarkan air shower membasahi seluruh tubuhnya.
Rafiz melihat telapak tangannya kemudian tersenyum, ia kembali mengingat saat semalam tanpa sadar tangannya masuk kedalam baju Nandira. Awalnya dia hanya ingin mengusap perutnya, dimana kedua anaknya pernah tinggal di sana. Namun lama-kelamaan tangan nya semakin naik dan memegang bagian lain sampai ia tertidur.
Rafiz bersiap-siap akan ke kantor,
Iya sangat sibuk menyiapkan peluncuran Secret partner game online yang sudah dinanti-nanti oleh jutaan para gamers di seluruh dunia.
Zidan sengaja menciptakan Secret Partner level 3 ini sebagai game online Secret Partner yang terakhir. Zidan tak berniat untuk membuat yang lainnya . Ia sudah tak ingin membuat bagian 4 ,5 dan seterusnya .
Itu sebabnya Zidan benar-benar memfokuskan semua pikirannya dalam pengembangan Secret Partner level 3 ini.
Secret partner level 1 dan 2 masih merajai dunia game online. Rafiz dan Zidan sudah banyak meraih keuntungan dari game online itu.
💖💖💖💖🙏💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca
jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi
LIKE VOTE KOMENNYA 🙏
Salam dariku
Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖