
Mereka semua bersiap-siap akan berangkat ke rumah sakit, mommy mengambil kotak makan dan beberapa pakaian Zidan dan Syahidah yang tertinggal di kamar Rafiz.
Semua keluar rumah dan masuk ke mobil, mommy melihat jika Jazlyn masih terus berteriak di depan gerbang.
Rafiz menatap tajam pada Jazlyn, mom aku tak ingin mommy membawa Jazlyn lagi ke rumah ini," tegas Rafiz.
"Iya mommy juga menyesal membawanya kesini, dasar wanita tidak tahu berterima kasih," kesal mommy.
"Ayo kita jalan," ucap Daddy.
Rafiz mulai menjalankan mobilnya, satpam yang melihat mobil majikannya akan keluar langsung membuka gerbang.
Jazlyn langsung berlari menghampiri mobil itu namun Rafiz hanya membunyikan klakson dan terus memajukan mobilnya. Ia tak ingin mendengar ucapan Jazlyn yang terus meminta maaf padanya dan meminta kesempatan kedua.
Satpam yang melihat hal itu langsung menarik Jazlyn agar menepi. Kemudian Rafiz melajukan mobilnya meninggalkan Jazlyn yang terus berteriak memanggil namanya.
"Lepaskan aku. Dasar satpam tidak tahu diri, berani-beraninya kalian menyentuhku. Apa kalian tahu berapa biaya perawatan kulit ku ini hah. Gaji kalian setahun saja tidak mampu untuk membayar biaya salon Ku," ucap Jazlyn menyombongkan diri. Ia pun memperbaiki penampilannya merapikan rambutnya dan menarik kopernya berjalan menjauhi pintu gerbang rumah itu.
Kedua satpam itu hanya menggeleng melihat tingkah laku Jazlyn.
Mereka tiba di rumah sakit. Mereka berjalan menuju ke kamar rawat Syahida
"Dimana kamarnya?" tanya mommy yang sudah tak sabar ingin berjumpa dengan Syahidah dan Zidan, kedua cucu yang baru ia ketahui setelah sebesar itu.
"Disana mom," tunjuk Rafiz pada sebuah kamar VIP di rumah sakit itu.
Mommy membuka pintu dan melihat Syahidah sedang duduk ditemani oleh Zidan.
"Wah cucu nenek sudah bangun ya," ucap mommy menghampiri syahidah dan mencium kedua pipi tembem gadis cantik itu. Syahidah hanya tersenyum mendapat ciuman bertubi-tubi dari neneknya. Kemudian mommy mencium kening Zidan.
Mommy melihat ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Nandira.
"Mama kalian ke mana?" tanya mommy yang tak melihat Nandira disana.
"Mama sedang keluar mencari makan," ucap Zidan.
"Maaf ya, sepertinya nenek terlambat membawa makanan untuk kalian," ucap mommy langsung membuka kotak makannya.
Zidan yang melihat makanan tersebut langsung menghampirinya, perutnya sudah sangat lapar semalam ia melewatkan makan malamnya.
begitu juga dengan Syahidah, ia sangat lapar.
Mommy menyuapi Zidan sedangkan Rafiz menyuapi Syahidah.
Mommy duduk disebelah Zidan mengusap lembut rambut cucunya itu yang sedang makan .
"Bagaimana rasanya enak?" tanya Daddy.
Zidan hanya mengganggu karena mulutnya penuh dengan makanan.
Rafiz melihat Syahidah dan Zidan yang sedang makan dengan lahap hatinya sungguh sangat senang, selama ini Ia memang sangat berharap jika mereka adalah anak kandungnya.
Tak lama kemudian Nandira datang. Ia berjalan pelan menghampiri mereka, meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya ke atas meja samping tempat tidur Syahidah.
"Maaf ya mommy terlambat membawakan untuk kalian, tadi kami habis membasmi hama,"Ucap mommy.
"Enggak apa-apa,Terima kasih makanannya mommy," ucap Nandira saat melihat kedua anaknya makan dengan lahap.
"Kamu sudah makan?" tanya Rafiz.
Nandira menggeleng, Rafiz memberikan kotak makan yang satunya lagi pada Nandira.
"Terima kasih ," ucapan Nandira kemudian Ia pun pergi ke sofa dan duduk di sana.
Nandira melihat kedua anaknya terlihat begitu bahagia Zidan mendapat kasih sayang dari kakek dan neneknya, sedangkan Syahidah terus saja tersenyum saat Papanya menyuapinya dengan penuh kasih sayang.
Nandira tersenyum kemudian membuka kotak makannya, bau wangi menyesap ke Indra penciumannya, masakan mommy sungguh sangat menggiurkan membuat perut Nandira langsung keroncongan Tak sabar ingin memakan makanan yang dibuat oleh mommy itu. Ia kemudian makan dengan lahap makanan yang di buat mommy, dari kemarin perutnya tak terisi apapun.
Selesai makan mommy membantu Zidan untuk mandi dan mengganti pakaiannya,
"Wah cucu nenek tampan sekali persis Papanya waktu kecil," ucap mommy sengaja mengeraskan suaranya. Mommy mencium kedua pipi Zidan dengan gemes.
Nandira melihat mommy saat mendengar apa yang mommy katakan, Nandira kemudian melihat Rafiz yang juga melihatnya, dengan cepat Nandira mengalihkan pandangannya pada Syahidah.
Syahida mau mandi juga,?" tanya Nandira, Syahidah mengangguk.
Biar Papa yang gendong," ucap Rafiz langsung menggendong Syahidah masuk ke dalam kamar mandi.
Nandira dan Rafiz memandikan Syahidah, saat berada di dalam kamar mandi Nandira merasa canggung, bersama dengan Rafiz di kamar mandi yang sempit membuat mereka terus saja bersentuhan.
Rafiz mendudukan Syahidah di ranjang Rumah Sakit, menggantung cairan infus dan mengeringkan badan Syahidah. Nandira menyiapkan pakaian dan beberapa perlengkapan Syahidah lainnya.
Zidan dan Syahidah sudah bersih dan wangi. Tak lama kemudian dokter masuk.
Nandira dengan sigap membereskan ruangan itu. Dokter memeriksa Syahidah menanyakan apa saja keluhan dan mana saja yang masih sakit.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter mengatakan jika Syahidah bisa pulang sore ini.
"Terima kasih Dokter," ucap Syahidah merasa senang, ia tak tahan berada di rumah sakit walau hanya sehari lagi. Ia sangat merindukan kamarnya.
"Sama-sama," ucap Dokter lalu keluar dari kamar Rawat Syahidah.
"Nandira," panggil Rafiz,
"Iya,"
Baru saja Rafiz ingin menanyakannya, ponsel Nandira berdering,
"Sebentar ya, Ini dari kantor," ucap Nandira.
"Iya, silakan," jawab Rafiz.
Nandira keluar ruangan itu.
Mommy menghampiri Syahidah membantunya untuk kembali berbaring.
Rafiz duduk di sofa bersama Daddy dan Zidan.
"Zidan apa kau tahu sesuatu?" tanya Rafiz, ia tahu jika anaknya itu sangat cerdas.
"Tahu apa?" tanya Zidan melihat kearah Papanya.
Rafiz ingin mengeluarkan hasil tes DNA dari sakunya namun Nandira langsung datang. Ia pun memasukkannya kembali kedalam saku jasnya.
Nandira menghampiri Syahidah mengusap rambut Putri nya,
"Minum obat dulu ya?!" ucap Nandira.
Syahidah mengangguk, Nandira kemudian memberikan Syahidah obat.
"Istirahat ya, sore nanti kita pulang ," ucap Nandira.
"Iya Mah ," jawab Syahidah.
Nandira mengecup kedua pipi putrinya mengelus lembut pipi Putri kesayangannya itu.
Mommy membantu Syahidah kembali berbaring, menaikkan selimutnya dan mencium kening cucunya itu.
Rafiz menghampiri mereka,
"Nandira, aku ingin bicara. Bisa kita bicara berdua?" tanya Rafiz,
"Tentu saja," jawab Nandira.
"Bagaimana kalau kita ke kafe depan?" tanya Rafiz lagi.
Nandira melihat Syahidah,
"Mama pergi saja, ada nenek kok," ucap Syahidah memegang tangan neneknya.
Mommy mengangguk dan tersenyum mempersilahkan mereka pergi.
"Ya sudah, Mama pergi dulu ya,"
"Iya Mah,"
Baru saja mereka akan pergi Rafiz mendapat telepon itu dari Miran, "Sebentar ya ?!" Rafiz keluar untuk mengangkat telepon dari Miran.
Setelah mengangkat telepon dari Miran Rafiz kembali menghampiri Nandira.
"Sepertinya kita bicarakan lain kali saja, aku ada urusan penting di kantor," ucap Rafiz,
"Iya," jawab Nandira.
"Mom, titip anak-anak ya," ucap Rafiz pada mommy.
Mommy mengangguk,
"Papa ke kantor dulu ya," ucap Rafiz mencium kening Syahidah.
"Iya,"
"Zidan ikut Papa," Ajak Rafiz pada Zidan.
"Iya Pah,"
Mereka berdua pergi ke kantor.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Like,
Vote,
Komentar.
Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖