My Papa My Boss

My Papa My Boss
Kecewa.



Saat di kantor Nandira terus memikirkan noda lipstik yang ada di kemeja Rafiz,


"Kemana dia sepagi itu, apa mungkin dia sudah menikah?!" gumam Nandira.


Suara dering ponsel mengagetkannya dari lamunannya. Tertera nama Rafiz,


"Iya ada apa?" jawabnya Nandira,


"Aku sama anak-anak sudah janjian akan ke cafe X, apa kamu mau kami jemput?" tanya Rafiz,


"Enggak usah, biar aku yang menyusul kalian ke sana ," jawab Nandira.


"Oke ya sudah, kami tunggu di sana ya, sebentar lagi aku sampai di sekolah anak-anak !" jawab Rafiz.


Nandira pun melajukan mobilnya ke kafe yang dimaksud Rafiz, sepanjang perjalanan Ia terus memikirkan apakah ia harus mengatakannya sekarang atau harus menunda lagi,


"Bagaimana kalau Rafiz sudah menikah atau sudah memiliki kekasih," gumam Nandira.


Jujur ia akui hatinya sangat sakit mendengar kenyataan jika memang Rafiz mempunyai wanita lain, beberapa hari bersama dengannya membuat perasaannya semakin dalam. Ia semakin jatuh cinta kepada sosok Papa dari anak-anaknya itu.


Saat sampai di kafe Nandira bisa melihat Zidan dan Syahidah sedang mengobrol dengan sangat gembira bersama Rafiz, dengan ragu Nandira mendekat, matanya langsung tertuju pada kemeja Rafiz, walau terlihat samar namun Nandira yakin itu adalah bekas lipstik.


"Ada apa?" tanya Rafiz yang melihat Nandira hanya diam dan menatapnya ,


"Tidak, tidak apa-apa!" jawab Nandira,


"Mungkin saja itu tak sengaja menempel di sana," batin Nandira mencoba membuang pikiran buruknya.


"Mommy, Rafiz bersama dengan siapa ?"tanya Jazlyn yang duduk tak jauh dari mereka.


"Mommy ga tau, mungkin teman atau rekan kerja nya,"


"Kita samperin yuk mom," ucap Jazlyn, ia merasa curiga dengan kedekatan Rafiz dengan mereka.


"Untuk apa ?! bagaimana kalau dia itu rekan bisnisnya, kita hanya akan mengganggu mereka dan itu tidak baik untuk hubungan mau ke depan dengan Rafiz," Jazlyn yang berdiri akhirnya duduk kembali. Ia terus memperhatikan mereka, ia bisa melihat jika Rafiz menatap wanita yang duduk di depannya dengan tatapan yang berbeda.


"Siapa gadis itu?!" batin Jazlyn.


"Apa kau masih punya pekerjaan?" tanya Rafiz,


"Iya, aku sebentar lagi ada meeting," jawab Nandira .


"Baiklah kalau begitu mereka biar aku saja yang ngantar , Aku sedang kosong," ucap Rafiz


"Baiklah ."


Mereka pun berpisah, Rafiz mengantar anak-anak ke rumah sedangkan Nandira kembali ke kantor.


Jazlyn yang sejak tadi memperhatikan Nandira mengikutinya,


"Mommy pulang naik taksi ya, aku ada urusan sebentar," ucap Jazlyn.


Jazlyn pun mengikuti kemana Nandira pergi, hingga mereka sampai di sebuah perkantoran.


"Oh, jadi dia bekerja disini," gumam Jazlyn. Ia pun bertanya pada resepsionis.


"Permisi mbak,"


"Ada yang bisa saya bantu?" jawab sang resepsionis,


"Saya mau nanya mbak, lihat wanita itu," tunjuk Jazlyn pada Nandira, "Dia bekerja sebagai Apa ya disini?"


"Beliau pemimpin perusahaan ini Mbak ," jawab Rasepsionis.


"Apa... pemimpin perusahaan," kaget Jazlyn. Ia berfikir jika Nandira hanyalah karyawan biasa.


"Iya mba,"


"Jadi ia pemimpin perusahaan, apa dia memang benar-benar rekan bisnis Rafiz," batin Jazlyn.


"Terima kasih ya ,saya permisi dulu "ucap Jazlyn pamit, ia kembali ke kediaman Rafiz. Membuat rencana bagaimana agar Rafiz bisa kembali padanya.


Malam hari di rumah Nandira.


"Kapan sih Mama mau bicara dengan papa ?!" tanya Syahidah.


"Maksud kamu ?!" tanya balik Nandira.


"Iya ma, kapan Mama memberitahu tentang kami pada papa !"


"Mama juga berencana untuk memberitahunya, mama hanya menunggu waktu yang tepat ," jawab Nandira.


"Tapi mah, Syahidah pingin Papa tinggal sama kita," mohon Syahidah.


"Baiklah, besok mama bicara dengan papa kalian ," ucap Nandira.


"Benar mah?!" tanya Syahidah berbinar.


"Iya, Sekarang Syahidah tidur ya. Ini sudah malam." Nandira mencium pipi putrinya sebelum tidur.


Syahidah sangat senang, bayangan keluarga yang utuh sudah terlintas di benaknya. Dia sangat ingin memanggil Rafiz dengan sebutan Papa bukan Paman lagi.


Pagi hari anak-anak terlihat sangat gembira,


"Mah kapan kita bertemu dengan Papa,?" tanya Syahidah yang sudah tak sabar.


"Kalian kan harus sekolah dulu, sepulang sekolah ya kita ke kantor Papa,"


"Oke mah," jawab Syahidah.


Nandira mengantar anak-anak ke sekolah dan langsung ke toko kuenya, sudah beberapa hari ini ya terus disibukkan dengan urusan kantor. Untung saja kiran bisa menghandle semua pekerjaannya.


"Selamat pagi Bu," ucap Kiran menyambut Nandira, begitu juga dengan karyawan lainnya.


"Bagaimana penjualan?" tanya Nandira,


"Semuanya lancar bu, dan penjualan semakin meningkat ," jawab Kiran .


"Aku mohon bantuannya ya, Aku sangat sibuk di perusahaan," ungkap Nandira.


"Tenang saja Bu, masalah toko kue saya bisa menghandle nya," jawab Kiran


"Semoga saja Rafiz bisa menerima anak-anak," gumam Nandira.


Rafiz menelpon,


"Halo...ada apa?! tanya Nandira ,


"Kamu lagi di mana?"


"Aku lagi di toko kue!" jawab Nandira,


"Aku ke sana ya!"


"Untuk apa ?!"


"Ada yang ingin aku katakan, tunggu ya di sana," ucap Rafiz mengakhiri panggilannya.


Rafiz yang merasa tak nyaman dengan Jazlyn di rumahnya dan desakan dari mommy nya untuk menikah lagi, Membuat Rafiz membulatkan tekatnya untuk melamar Nandira hari ini, ia sudah menyiapkan sebuah cincin dan bunga.


Rafiz memandang cincin sambil mengemudi menuju ke toko Nandira.


"Semoga saja keputusan yang aku ambil tepat," gumam Rafiz mencium kotak cincin yang dipegangnya.


Nandira sedang memeriksa hasil penjualannya bulan ini, tiba-tiba suara ketukan terdengar,


"Masuk," ucap Nandira berdiri, ia mengira jika itu adalah Rafiz.


"Apa aku mengganggu ?!" tanya Riko.


"Tidak, masuk lah," jawab Nandira.


"Ada apa?" tanya Nandira saat Riko sudah duduk di depannya.


"Apa yang sebenarnya membuatmu menjauh dariku, apa aku punya salah?" tanya Riko langsung pada pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.


"Sudahlah Riko, Aku tidak mau membahasnya lagi, hubungan kita sudah berakhir. Sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing," ucap Nandira.


Rico mendekat dan memegang tangan Nandira,


"Aku masih sangat mencintaimu, Aku minta maaf jika aku ada salah. Bisakah kita perbaiki hubungan kita lagi," mohon Riko.


"Maaf, aku benar-benar tidak bisa kembali lagi padamu,"


"Kenapa ? karena Rafiz," tegas Riko,


"Apa maksud kamu?"


"Aku tahu, kau sedang dekat dengan Rafiz kan?"


"Itu bukan urusan kamu,"ucap Nandira.


"Apa dia penyebab kau meninggalkanku?"


Nandira melepas genggaman tangan Riko.


"Rico sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi," ucap Nandira.


"Tapi aku ingin tahu apa yang menyebabkan kau tiba-tiba meninggalkanku begitu saja ?!"


"Aku meninggalkanmu bukan tanpa sebab,"


"Apa sebabnya?"


Nandira ingin mengatakannya penyebab nya, namun lidahnya terasa kaku.


"Kau tidak bisa menjawabnya kan, karena memang Rafiz lah penyebabnya," tegas Riko.


"Rafiz tak ada hubungannya dengan berakhirnya hubungan kita"


"Benarkah...? lalu apa yang menyebabkan kau meninggalkanku malam itu ?! " bentak Riko.


"Karena malam itu aku melihatmu berhubungan dengan Shireen," ucap Nandira menatap tajam pada Riko, rasa sakit malam itu kembali menyerang hatinya, matanya sudah berkaca-kaca. Malam itu aku sangat membutuhkanmu, aku diusir dari rumahku sendiri. Hanya kau tempatku satu-satunya, namun saat aku ke Apartemen mu, yang aku lihat hanyalah penghianatan mu. Aku melihatmu bercinta dengan Shireen, Apa itu bukan alasan yang cukup untuk aku meninggalkanmu?" teriak Nandira mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya.


Rico tersentak mendengar ucapan Nandira,


"Nandira, malam itu hanya khilaf, mohon maafkan aku," ucap Riko menggenggam erat kedua tangannya Nandira yang duduk di sofa.


"Hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi," ucap Nandira yang kini menangis,


Riko berlutut dan mencium punggung tangan Nandira, menatap Nandira penuh penyesalan,


"Nandira aku mohon maaf, aku janji tak akan melakukannya lagi, aku sangat mencintaimu.


Aku mohon, mari kita perbaiki hubungan kita. Aku akan menjagamu dan anak-anak mu," lirih Riko.


Rafiz mengepal tangannya hingga kotak cincin yang dipegangnya retak,


Ia keluar dari sana dengan perasaan yang hancur,,, membuang bunganya dan cincin itu ke tempat sampah.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🥺❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Terima kasih sudah membaca,


jangan pernah lupa ya, setelah membaca klik


👉 Like (Harus)


👉 Vote (kalau ga ada ga apa-apa 😭😭)


👉Komen(Harus).


Mari saling dukung dan menghargai 🥺🤗🤗🤗🤗❤️


Bisa mampir juga ke karya pertamaku judulnya"Pilihan Ku" ditunggu ya🙏😍


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤲❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Author m anha.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️