
Mereka semua masih merasakan ketegangan di detik-detik akan di mulai permainan tersebut.
Semua membaca kalimat "Yang terkuat yang jadi pemenang," dalam hati mereka masing-masing. Khususnya para pemain yang telah bersiap dengan keyboard mereka.
Mereka sama-sama bertekad akan menjadi yang terkuat dan berhasil memenangkan permainan tersebut.
Layar pun berganti, Peraturan permainan pun mulai dijelaskan, tak jauh berbeda dari SP level 1 dan level 2, cara permainannya kali ini juga sama. Cara menembak, mengambil senjata dan lain-lain sama saja dengan SP level 1 dan level 2. Zidan hanya menambahkan tingkat kesulitan di level permainan dan beberapa bantuan yang bisa mereka gunakan agar jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Dan beberapa penjelasan lainnya terpampang di layar, para pemain dengan teliti membaca semua peraturannya.
Penjelasan selesai dan suasana kembali sunyi mereka semua tetap fokus pada layar besar, menanti apa yang akan terjadi berikutnya.
Terlihat di layar muncul tulisan,
"PLAY"
"Kalian siap?" tanya Zidan,
"Siap," ucap ke 9 pemain tersebut dengan sangat kompak dan tegas. Mereka semua saling terhubung melalui earphone yang mereka pakai.
Zidan perlahan mendekatkan tangannya untuk menekan tombol play, semua pemain yang ada disana melihat ke arah tangan zidan.
Setelah melihat tangan Zidan menekan tombol play, mereka semua kembali fokus pada layar komputer yang ada di depan mereka.
Pemain utama sudah menekan tombol play, yang berarti permainan akan segera dimulai. Sebuah musik menegangkan mengawali permainan tersebut, menambah ketegangan di antara mereka semua.
Satu per satu musuh mulai berdatangan, dengan gerakan lincah jari-jari mereka semua menari di atas keyboard dan mata mereka tetap fokus pada layar komputer masing-masing.
Satu demi satu musuh mereka kalahkan namun puluhan musuh kembali berdatangan, membuat mereka sedikit kualahan.
Mereka saling mengerahkan, saling bersahut-sahutan. Ke sana, ke kiri,ke kanan , berjongkok, ada musuh, lindungi aku, tetap siaga, tetap fokus, jangan terburu-buru, tetap waspada dan masih banyak lagi yang mereka katakan.
Zidan hanya tersenyum mendengar mereka semua saling mengarahkan, dengan santai Zidan memainkan jemarinya tak kalah lincah dari para pemain yang lebih dewasa darinya itu.
Ia sudah pernah Melawati level ini beberapa kali, saat percobaan dan ini bukan hal yang sulit baginya.
"Arggg," teriakan satu persatu pemain yang telah dikalahkan. Ada yang memukul jidatnya, ada yang memukul pahanya, bahkan ada yang berdiri dan mengangkat kedua tangannya karena melakukan kesalahan kecil.
Kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal bagi permainan mereka.
ketelitian dan kecepatan tangan sangat diperlukan dalam permainan kali ini. Kekompakan para pemain juga dapat membantu mereka melewati level ini tanpa menghabisi semua musuh mereka.
Mereka semakin jauh ke dalam misi permainan, sejauh ini hanya tersisa 4 orang yang berhasil selamat dari gempuran musuh-musuh yang semakin banyak.
Mereka berlari sambil terus menembak saat melihat gerbang yang harus mereka masuki untuk ketahap selanjutnya.
Saking tegangnya meja mereka sampai bergetar karena menekan tombol agar pemain mereka berlari sekencang mungkin.
"Huuuuu," mereka bersorak gembira saat berhasil masuk ke tahap berikutnya.
Keberhasilan mereka di sambut tepuk tangan yang meriah dari semua para tamu undangan.
Dan juga para pemain yang tak lolos.
Mereka semua mendapat poin.
Walau mereka sudah kalah, namun jika kelompok mereka berhasil lolos mereka juga akan mendapat poin walau tak sebanyak mereka yang telah lolos.
Sepanjang menyaksikan pertarungan ke 4 teman seperjuangan nya itu,
Mereka bisa merasakan ketegangan yang di rasakan ke 4 pemain yang masih berjuang.
Hampir semua pemain yang kalah fokus pada cara permainan Zidan yang mereka anggap mempunyai trik yang luar biasa. Ketepatan Zidan dalam membidik musuh-musuh membuat mereka kagum, tak satupun pelurunya yang keluar dengan percuma.
Zidan sengaja memasukkan sedikit intro ke dalam permainan di setiap perpindahan level misi, agar para pemain dapat mengistirahatkan kembali jari-jari mereka.
Ada diantara mereka yang berlari di tempat, memutar-mutar tangannya dan ada pula yang sekedar menghilangkan ketegangan dengan mengambil air minum membasahi tenggorokan yang terasa kering karena ketegangan yang ia rasakan.
Hitungan mundur kembali dimulai, dengan cepat para pemain itu kembali ke tempat masing-masing.
Mereka dengan cepat memasang kembali earphone nya dan bersiap di atas keyboard menunggu hitungan mundur dari angka 10.
Tik, tik, tik, tik.
Suara hitungan mundur seolah seirama dengan detak jantung mereka.
Play,
Siap untuk ditekan.
"Kalian siap ?" tanya Zidan pada ketiga temannya yang akan berjuang bersama di misi berikut nya.
"Siap" jawab seseorang dari mereka,
"Cepatlah aku sudah tidak sabar membantai mereka semua," ucap seseorang lagi,
"Kita pasti bisa mengalahkan semua musuh dan menjadi yang terkuat dan memenangkan permainan ini, Aku sudah tak sabar mendapatkan poin di level ini.," ucap yang lain lagi.
Dengan gerakan cepat Zidan menekan tombol play.
Suara musik menegangkan kembali terdengar semua kembali menegang dan kembali fokus.
Mereka ingin melihat seperti apa permainan keempat peserta yang telah lolos, apakah kali ini mereka juga bisa lolos walau berjumlah 4 pemain.
Baru beberapa detik permainan dimulai belum juga satupun dari mereka yang mengeluarkan satupun peluru dari senjata mereka berempat .
Tiba-tiba terdengar 4 kali suara tembakan dan pemain mereka berempat sudah tertembak oleh musuh dan tergeletak di tanah.
"Failed," tertulis di layar.
Tak ada yang bersuara, mereka semua saling pandang. Para pemain dan para tamu undangan terdiam semua saling pandang dengan pikiran masing-masing, kemudian Zidan tertawa membuat semua yang ada di sana ikut tertawa, bahkan mungkin saja ribuan penonton di seluruh penjuru dunia ikut tertawa karena kekalahan yang mereka alami.
Di saat semuanya sedang menanti ketegangan permainan di level berikutnya mereka bahkan tidak mendengarkan satupun tembakan dari keempat orang itu sebelum kalah.
Menjadikan kekalahan mereka terlihat sangat konyol dan lucu.
Suara gelak tawa mengisi ruang gedung tersebut bahkan Rafiz pemimpin perusahaan itupun ikut tertawa melihat permainan yang baru saja dipertontonkan ke seluruh dunia itu.
Setelah cukup lama tertawa akhirnya ruangan kembali tenang.
"Papa sekali lagi," teriak Zidan pada papanya yang berada tak jauh dari mereka.
Rafiz mengangkat jempolnya dan mengisyaratkan kepada Miran untuk memberikan kesempatan sekali lagi pada mereka.
"Apa,,, jadi anak ini adalah anak dari pemilik perusahaan ini, Pantas saja permainannya luar biasa," batin para pemain melihat kearah Zidan.
Semua para tamu undangan juga mendengar Zidan menyebut Rafiz dengan sebutan Papa.
Ada yang ikut senang mendengar nya namun ada beberapa orang yang tak suka mengetahui kebenaran itu.
ππππππππππππππππTerima kasih sudah membaca π
terima kasih atas kunjungannya π€
Mohon dukungannya dengan memberi
LIKE, VOTE dan KOMENNYAβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Salam dariku
Author m anha πππ
ππππππππππππππππ