My Papa My Boss

My Papa My Boss
Menjelang Hari Pernikahan



Nandira tak bisa tidur, ia merasa gelisah. Rasa senang, deg-degan, takut akan status barunya sebagai seorang istri. Semua perasaan itu menyusup di hatinya membuat Ia susah untuk memejamkan matanya.


"Kau belum tidur?" tanya Sita,


"Belum Mbak," jawab Nandira.


"Apa kau merasa deg-degan?" tanya Sita menatap langit-langit kamar mereka.


Nandira mengubah posisi tidurnya menghadap ke Sita.


"Apa saat Mbak menikah dulu Mbak juga merasakan hal yang sama?" tanya Nandira,


Mbak Sita adalah seorang janda yang tak memiliki anak, ia berpisah dari suaminya karena kesalahannya sendiri.


"Dulu saat malam menjelang pernikahan Mbak, Mbak justru bersedih karena saat itu Mbak dijodohkan oleh orang yang tak Mbak cintai," jawab Sita,


"Kalau Mbak nggak mencintai nya Kenapa Mbak menyetujui pernikahan itu?" tanya Nandira menyeringitkan keningnya.


"Mbak bisa Apa, itu semua keinginan orang tua Mbak," jawab Sita menghela nafasnya, "Saat awal-awal pernikahan, Mbak sangat membencinya. Pernikahan kami diwarnai dengan pertengkaran, tak ada sedikitpun kebahagiaan di pernikahan kami.


Namun setelah kami bercerai Mbak baru sadar ternyata Mbak melakukan kesalahan, tanpa Mbak sadari ternyata hati Mbak sudah menyukainya dan baru menyadari saat Mbak kehilangan dia," ucap Sita mengingat masa lalunya.


Kenapa Mbak tak memintanya kembali pada Mbak?" tanya Nandira.


"Mbak menyadari saat semuanya sudah terlambat, ia sudah bersama dengan wanita lain, bahkan mereka sudah memiliki anak dan hidup bahagia.," curhat Sita, "Nandira, saat kau menikah nanti kau harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan suamimu, jangan pernah melihat kekurangannya saja tapi lihatlah juga kelebihannya.Jangan pernah merahasiakan atau menutup-nutupi sesuatu darinya, karena itu bisa membuat awal dari kerusakan rumah tangga kalian. Kejujuran adalah hal yang harus kalian jaga dalam menjalani sebuah rumah tangga. Cinta saja tak cukup, jika dalam sebuah hubungan sudah saling tak percaya, godaan akan mudah merusak rumah tangga kita," nasehat Sita.


"Iya Mbak, Nandira usahakan akan menjadi istri yang baik dan ibu yang baik buat Rafiz dan anak-anak," jawab Nandira yakin.


"Aku lihat Rafiz begitu mencintaimu, Mbak berharap kau bisa bahagia bersamanya," ucap Sita berbalik menatap Nandira yang juga menatapnya.


"Iya Mbak aku juga sangat mencintainya, walau pertemuan kami tak seindah yang orang bayangkan. Tapi aku bersyukur bisa mengenal dirinya,"


"Semua sudah ditakdirkan, jodoh, maut, rezeki semua itu sudah diatur. Kita hanya perlu sabar menanti kapan kebahagiaan itu datang menghampiri kita, berusaha agar kebahagiaan itu tak semakin menjauhi kita," ucap Sita.


"Terima kasih ya Mbak, selama ini Mbak sudah banyak memberikan nasehat kepada Nandira, Aku nggak tahu apakah Aku bisa sekuat ini tanpa nasehat dan dukungan dari Mbak ," ucap Nandira menggenggam tangan Sita.


Selama ini di saat dia terpuruk Sita yang selalu menguatkannya, memberikan nasehat kepadanya.


"Tidurlah, besok adalah hari bahagiamu. Kamu harus terlihat cantik," ucap Sita mengusap wajah cantik sahabat yang sudah dianggap seperti Adiknya sendiri.


Nandira mengangguk dan mulai menutup matanya, ia merasa tenang setelah mendengar nasehat dari Sita.


Di saat Nandira dan Sita sudah tertidur nyenyak di kamarnya, sungguh jauh berbeda di kamar Rafiz. Teriakan Zidan dan Syahidah yang sedang bermain game online membuat suasana kamar itu terasa meriah. Mereka tak mengantuk sedikitpun walau sudah larut malam.


Awalnya Syahidah hanya melihat Kakak dan Papanya bermain game. Namun karena melihat game tersebut sangat mengasyikkan Syahidah pun mulai tertarik mencoba memainkannya, game tersebut mereka main hingga tanpa sadar mereka sudah tertidur dengan ponsel masih berada di tangan mereka.


Rafiz mengangkat kedua anaknya ke kasur, mengusap lembut rambut anak kembarnya dan Iya pun ikut terlelap sambil memeluk mereka.


***


Pagi hari Nandira terbangun dan saat membuka mata jantungnya langsung berdetak kencang.


Hari ini adalah hari pernikahannya, hari yang sudah dinanti-nantikan nya.


"Ayah, ibu doakan Nandira agar bisa bahagia," ucap Nandira mengingat sosok kedua orang tuanya yang telah tiada.


Nandira bangun dan mulai bersiap-siap.


Nandira berpamitan pada Sita yang masih bermalas-malasan di balik selimutnya. Ia kemudian menghampiri kamar Rafiz.


Nandira mengetuk pintunya.


Lama Nandira mengetuk pintu namun tak ada yang membuka pintu untuknya, "Kemana mereka, apa mereka belum bangun," Nandira melihat jam di pergelangan tangannya.


Ia pun mengambil ponselnya dan menelpon Rafiz, namun telepon Rafiz pun tak diangkat.


Nandira tak menyerah, ia kemudian menelepon ponsel Zidan, namun hasilnya tetap sama.


Nandira yang merasa ada yang tak beres di dalam, meminta bantuan pihak hotel, meminta kunci cadangan kamar tersebut.


Saat membuka pintu kamar, dugaannya benar, mereka semua masih tertidur pulas dengan posisi yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Ayo bangun, kita harus siap-siap," ucap Nandira membangunkan Rafiz terlebih dahulu.


Rafiz mencoba mengumpulkan kesadarannya kemudian membangunkan kedua anaknya. Nandira membantu Syahidah.


Rafiz yang baru bangun dan masih mengantuk hanya mengangguk menjawab pertanyaan Nandira.


Nandira mengajak Syahidah ikut bersamanya, Sebelum keluar kamar Nandira sekali lagi mengingatkan Rafiz dan Zidan untuk segera bersiap-siap, kali ini Meraka berdua hanya mengangkat jempolnya mengiyakan ucapan Nandira.


Saat Nandira menutup pintu Rafiz dan Zidan langsung menjatuhkan kembali tubuh mereka ke kasur empuk dan kembali terlelap.


Nandira dan Syahidah menuju ke ruang make up, begitu masuk di ruangan tersebut Nandira terpukau dengan gaun yang akan ia kenakan, begitu juga dengan Syahidah. Ia langsung berlari menghampiri gaunnya.


Sewaktu fitting terakhir gaun itu belum terlihat seperti saat ini, sangat jauh berbeda.


"Mama kita akan pakai yang ini kan?" tanya Syahidah antusias.


"Tentu saja Sayang, kita make up dulu ya," ucap Nandira.


Di sana sudah ada MUA yang khusus dipesan Rafiz untuk mendandani mereka berdua.


Saat MUA itu sudah mulai mendandani Nandira, airmata Nandira terus menetes membuat MUA itu kesulitan merapikan makeup


Nandira.


"Mama, kenapa Mama menangis?" tanya Syahidah.


"Iya Kak, kalau Kakak menangis terus nanti makeup-nya tidak bagus," ucap MUA itu.


"Maaf ya, Aku nggak tahu, air mataku mengalir sendiri, aku sangat bahagia hari ini.," ucap Nandira.


"Kami mengerti Kak, Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk Kakak, tapi kakak tahan ya air matanya," mohon MUA tersebut.


Nandira mengangguk namun air matanya terus mengalir.


Syahidah menghampiri Mamanya dan memeluknya.


"Mama Semua akan baik-baik saja, kita akan bahagia bersama Papa. Mama jangan menangis lagi ya!" ucap Syahidah menepuk-nepuk punggung Mamanya.


Nandira mengangguk dan mencoba untuk tersenyum, bahkan ia mendongak agar air matanya tak menetes.


Nandira terus mencoba tersenyum dan mengatur nafasnya.


"Ok Mbak, Aku siap," ucap Nandira.


MUA tersebut kembali memulai melakukan pekerjaannya, memakaikan make up pada mereka berdua.


"Wah...Mama cantik sekali," ucap Syahidah saat melihat hasil akhir make up Mamanya, hasilnya sangat cantik.


Nandira juga memuji penampilan Syahidah. "Anak Mama juga sangat cantik," ucap Nandira .


"Mari kami bantu menggunakan gaunnya" ucap mereka kemudian membantu Nandira dan Syahidah menggunakan gaun yang sudah disiapkan.


Nandira melihat penampilannya di cermin, ia tersenyum matanya kembali berkaca-kaca melihat pantulan dirinya di cermin yang mengenakan gaun pengantin.


"Jangan nangis lagi ya Kak," ucap MUA tersebut saat melihat Nandira sudah mulai berkaca-kaca.


"Iya," Ucap Nindira mencoba tersenyum dan kembali mengatur nafasnya.


Syahidah berputar-putar di depan cermin, ia sangat senang dengan gaun yang dipakainya. Sangat cocok dengan make up natural yang dipakaikan di wajahnya.


"Apa Papa sama kakak kamu sudah siap ya!' ucap Nandira berjalan mengambil ponselnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca,


❀️Doakan ya biar pernikahan mereka berjalan dengan lancar dan bisa bahagia selamanya❀️


Jangan lupa memberi dukungannya


LIKE VOTE KOMENNYA ❀️


Salam dariku Author m anha ❀️


love you all πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–