
Zidan berlari mencari Pak Karyo. Namun ia tak menemukan di manapun petugas penjaga singanya itu. Zidan yang panik melihat seember air yang ada di di depan rumah, ia pun tanpa berpikir panjang langsung mengangkat ember itu dan membawanya masuk.
Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara untuk membangunkan mamanya.
Zidan menyiramkan seember air Itu ke wajah mamanya dan berharap mamanya itu bisa sadar dari pingsannya.
Setelah menyiram mamanya, Zidan melihat Mamanya benar-benar sudah sadar dari pingsannya.
Zidan sadar akan kesalahannya, ia melihat Syahidah yang sudah berlari keluar, dengan cepat pun ia mengikuti syahidah. Zidan yakin mamanya akan marah dengan perbuatannya itu.
Nandira berusaha untuk duduk dan mengusap wajahnya yang basah, bahkan air itu ada yang masuk ke hidung nya.
Nandira melihat pakaiannya yang basah kemudian melihat Rafiz yang mematung di depannya dan masih memegang gelas yang berisi air di tangannya.
"Mas kamu kok nyiram aku sih ?" kesal Nandira
Rafiz tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menggeleng dan menelan salivanya, kedua Anaknya sudah pergi meninggalkannya sendirian setelah melakukan kesalahan sebesar ini. Zidan membuatnya dalam masalah di saat mamanya sedang kesal padanya.
Nandira berdiri dari duduknya, mengambil gelas yang ada di tangan Rafiz.
"Maaf ya Mas," ucap Nandira kemudian menyiram air tersebut ke kepala Rafiz kemudian berlalu pergi dari sana.
Rafiz mengerjapkan matanya saat merasakan guyuran air di kepalanya, Ia baru tersadar akan keterkejutannya melihat perbuatan apa yang di lakukan Zidan. Rafiz dengan cepat berbalik dan melihat Nandira yang sudah berjalan ingin keluar dari rumah itu.
"Nandira tunggu," ucap Rafiz berusaha mengejar Nandira.
"Nandira, sayang dengarkan aku dulu, bukan ini maksud ku," ucap Rafiz menarik tangan Nandira menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam mobil.
"Mas, ya udah aku menyerah. Terserah Kalau Mas ingin memelihara Singa itu lagi, aku takkan melarang tapi aku tak suka anak-anak sedekat Itu dengan singa. Aku hanya takut, Mas tolong mengerti aku. Nandira mencoba menepis tangan Rafiz yang menggenggam nya.
"Iya aku mengerti maksudmu, Tapi tolong percaya padaku Singa itu tak akan menyakiti mereka, aku sudah merawatnya sedari kecil apa kau tak lihat dia bahkan suka saat kau mengelusnya," ucap Rafiz.
"Iya singa itu suka, tapi aku tak suka. Aku takut Mas, apa salah kalau aku takut dengan hewan buas seperti itu?" tanya Nandira.
"Nandira," ucap rafis memegang kedua tangan Nandira. "Aku yakin jika kau sudah terbiasa dengannya kau takkan takut lagi dan akan menyukainya."
"Aku akan berusaha mendekatinya, dan jika aku pingsan lagi kau akan menyiramku seperti ini, apakah tak ada cara lain untuk membangunkan ku dari pingsan ku, apa begini caramu. Lihat kondisi Ku," Ucap Nandira menunjuk pakaian yang.
"Bukan," Rafiz menggeleng, Ingin rasanya ia mengatakan jika itu adalah ulah Zidan, tapi apakah dengan mengatakan itu Nandira akan maafkannya atau malah akan semakin marah padanya karena telah menuduh Zidan tanpa bukti.
Rafiz melihat ke kiri dan ke kanan mencari kedua sosok anaknya, mereka sudah tak terlihat di sana.
"Oke, aku minta maaf. Aku hanya berniat untuk membangunkan mu.
"Apa begini caranya, menyiramku dengan air ," kesal Nandira.
"Aku tidak menyiram mu, aku hanya memercikkan air ke wajahmu," ucap Rafiz yang sejujurnya.
"Memercikkan, apa ini yang namanya memercikkan! Mas ini menyiramku bukan memercikkan. Apa mas tak lihat bajuku Aku bahkan merasa kedinginan sekarang.," keluh Nandira.
Rafiz yang mendengar kelurahan Nandira langsung melepas jasnya dan mengenakannya pada Nandira.
"Aku mau pulang ke rumah," kesal Nandira.
"Ya udah kita pulang, biar Mas yang bawa mobil," ucap rafiz membuka pintu mobil dan mempersilahkan Nandira masuk.
Sebelum ikut masuk ke dalam mobil, Rafiz masih mencari kedua anaknya itu dengan pandangannya."Dimana mereka," batin Rafiz.
Rafiz melihat Pak Karyo, Ia pun melambaikan tangan kepada Pak Aryo memberi isyarat agar menjaga kedua anaknya.
Pak Karyo mengangguk tanda mengerti apa arti isyarat Rafiz tersebut.
Rafiz mengendarai mobilnya keluar dari gerbang rumah tersebut dan menuju di kediamannya, hanya butuh beberapa menit saja mereka sudah sampai.
Nandira yang masih kesal tanpa kata langsung keluar dari mobil dan masuk kedalam, menuju ke kamarnya.
Mommy yang melihat mereka datang ingin menyapa, namun ia menghentikan langkahnya saat melihat Nandira yang basah kuyup. Begitu juga dengan Rafiz, kemejanya juga basah.
Rafiz melihat Nandira berjalan dan sedikit berlari menuju kamarnya.
Mommy mendekati Rafiz yang akan naik ke tangga, menghentikan putranya itu .
"Ada apa ini? ada apa dengan kalian?" tanya mommy.
"Enggak apa-apa Mom, aku ke atas dulu ya," ucap Rafiz.
Mommy melihat kearah pintu, Zidan dan Syahidah mana?" tanya mommy yang tak melihat kedua cucunya.
"Sama Pak Karyo, Mom," ucap Rafiz yang sudah berjalan naik ke atas menyusul nandira kamarnya.
"Pak Karyo ?! di mana Pak Aryo, sudah dari pagi aku tak melihatnya," gumam mommy kembali berjalan menuju sofa dan kembali melanjutkan membaca majalah.
"Ada apa?" tanya Daddy yang juga duduk di sana.
"Entahlah, sepertinya mereka sedang ada masalah," ucap mommy.
"Mereka masih menyesuaikan diri satu sama lain, jadi wajar kalau ada sedikit pertengkaran di antara mereka," ucap Daddy.
"Iya, semoga saja mereka cepat menyelesaikan permasalahannya dan tidak membiarkan masalahnya berlarut-larut," seru mommy.
Mommy mencoba berjalan keluar, mencoba mencari kedua cucunya .
Mommy yang melihat salah satu petugas yang juga ditugaskan untuk menjaga hewan-hewan Rafiz menghampirinya.
"Pak Karyo mana" tanya mommy.
"Enggak tahu juga Bu, sudah dari pagi pak Karyo Keluar, kami juga tidak tahu dia keluar ke mana," jawabnya.
Mommy mengangguk, "Ya sudah lanjutkan pekerjaan Kalian," ucap mommy kembali masuk ke dalam.
"Rafiz bilang anak-anak bersama dengan Pak Karyo, tapi Pak Karyo sudah keluar dari pagi dan belum pulang," ucap mommy khawatir.
"Mungkin saja Rafiz membawa anak-anak bersama dengan Pak Karyo, mereka pasti baik-baik saja. Tidak usah khawatir," ucap Daddy menenangkan istrinya.
Sementara di kamar, Nandira langsung masuk ke kamar mandi. Rafiz menunggu Nandira di depan pintu kamar mandi. Ia berdiri sambil sesekali mencoba memutar gagang pintu, berharap pintu itu terbuka. Rafiz bisa mendengar suara shower yang dimatikan. Rafiz melihat kearah pintu saat melihat gagang pintu itu berputar dan pintu terbuka.
Nandira yang terburu-buru lupa membawa pakaian gantinya, sehingga ia hanya memakai handuk kecil yang dengan susah menutupi dada dan bagian bawahnya.
Jika istrinya itu tidak dalam kondisi marah mungkin Rafiz akan langsung menerkamnya. Namun ia menahan dirinya dan hanya mengikuti Nandira berjalan menuju lemari.
"Kau masih marah padaku?" tanya Rafiz.
Nandira tak menjawab, ia hanya terus berjalan sambil mengambil pakaiannya dan di letakkan nya di atas tempat tidur.
"Enggak baik lo marah sama suami seperti seperti ini," ucap Rafiz yang terus mengikuti Nandira kemanapun ia pergi. Terus mengekor seperti anak kecil yang meminta uang jajan pada Mamanya.
Nandira mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya yang basah.
Rafiz langsung mengambil hair dryer dan membantu Nandira mengerikan rambut panjangnya.
"Biar aku bantu mengeringkannya," ucap Rafiz mulai mengeringkan rambut Nandira.
Nandira tak menjawab, ia terus mengeringkan badannya yang masih basah dengan handuk yang di pegang.
Rafiz dengan susah payah menahan rasa ingin menyentuh istrinya, melihat Nandira dalam kondisi ini sungguh membuat jiwanya meronta-ronta.
Nandira yang memakai handuk duduk di atas tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah dan badannya yang masih basah. Aroma shampo dan sabun yang digunakannya masih tercium jelas oleh Rafiz.
Dengan pelan Rafiz mulai membantu mengeringkan rambut Nandira dan sesekali mengecup punggung polos Nandira yang tersaji di hadapannya.
Nandira yang masih kesal tak mau berbicara pada Rafiz. Ia tak menolak Apa yang dilakukan suaminya itu.
💖💖💖💖💖💖💗💗💗💗💗💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku
Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖