
Pagi hari Nandira bangun lebih awal, ia ingin menjadi menantu dan istri yang bisa melayani mereka.
Namun saat menuju ke dapur, sepertinya ia masih terlambat bangun. Didapur ia melihat mommy dan bibi sedang berkutat memilih bahan makanan yang akan di gunakan nya.
Nandira berpikir ia bangun lebih dulu, ternyata mommy jauh lebih dulu bangun dari dia, Nandira pun ikut bergabung dan mulai membuat sarapan.
Mommy membiarkan Nandira membuat sarapan, ia hanya mengawasi apa yang dibuat oleh menantunya itu.
Nandira meminta biar dia saja yang masak, Mommy tinggal mengawasi dan memberi petunjuk saja agar dia bisa lebih mahir dalam memasak.
Pagi ini Nandira masak nasi goreng spesial resep mommy.
"Mom, rasanya sangat enak," ucap Nandira setelah mencicipi Masakannya sendiri.
"Iya dong, itukan resep spesial ala Mommy," ucap mommy.
"Iya, Mommy memang yang terbaik," ucap Nandira memberi 2 jempol kepadaku mertuanya itu.
"Kamu jangan suka memuji Mommy, nanti Mommy melayang lagi," canda Mommy.
"Mommy memang pantas ko untuk di puji. Masakan Mommy sangat enak." Kata Nandira. "Mom, aku ke atas dulu ya? Mau lihat anak-anak, mereka kadang susah kalau enggak dibangunin." lanjut Nandira.
"Iya, yang ini biar Mommy saja yang terus kan dengan bibi," ucap Mommy.
Nandira kemudian menuju ke lantai atas di mana kamar mereka berada.
Dan mommy kembali mulai membuat makanan pelengkap lainnya. Sedangkan bibi sudah mulai menyiapkan nasi goreng yang sudah dibuat oleh Nandira di meja makan.
Nandira mengetuk kamar Syahidah dan membuka pintu kamar putrinya itu.
"Wah,... Putri Mama udah siap ternyata, Mama pikir Syahidah masih bobo," ucap Nandira membantu Syahidah bersiap.
Syahidah sudah bisa bersiap-siap sendiri kok Mah," ucap Syahidah.
"Kalau begitu Mama lihat Kakak kamu dulu ya," ucapnya.
"Iya Mah," jawab Syahidah memakai seragam sekolahnya.
Nandira berjalan ke arah kamar Zidan yang berada di samping kamar Syahidah, ia mengetuk terlebih dahulu pintu Zidan sebelum membukanya.
"Ya ampun, Ini jagoan Mama kok masih tidur ?!" ucap Nandira berjalan masuk saat melihat Zidan masih berada di dalam selimut dan masih tertidur pulas.
Nandira duduk di sisi kasur kemudian dengan lembut ia mengusap rambut anaknya.
"Zidan bangun ya nak, Ini sudah pagi. Zidan mau sekolah kan?!" tanya Nandira yang kini menarik selimut anaknya.
"Lima menit lagi ya Mah," ucap Zidan kembali menarik selimut menutupi tubuhnya dan ngambil bantal guling. Mencari posisi nyaman.
"Ya udah 15 menit ya, Mama bangunin lagi ," ucap Nandira kemudian menyiapkan keperluan sekolah Zidan. Mengambil seragamnya kemudian memeriksa jadwal pelajaran hari ini, memeriksa apakah putranya itu sudah mengerjakan PR atau belum. Memasukkan buku-buku ke dalam tas Zidan dan memastikan semua peralatan tulis sudah ada di dalam tasnya.
Nandira kemudian melihat ruangan bermain game Zidan. Ruangannya terlihat sangat rapi dan bersih, sepertinya semalam setelah ia main Zidan membereskan sendiri tempat tersebut.
Sedari kecil Nandira mendidik anak-anaknya untuk membereskan mainan setelah mereka memainkannya. Zidan sepertinya mendengarkannya. Nandira mengambil sampah yang ada di sudut ruangan tersebut kemudian keluar keluar dari kamar Zidan. Membiarkan anaknya itu tidur 15 menit lagi.
Nandira kemudian masuk ke kamarnya dan melihat suaminya juga masih tertidur.
"Rafiz bangun, Kamu nggak ke kantor?" tanya Nandira menggoyang-goyangkan bahu suaminya.
Bukannya bangun, Rafiz malam narik Nandira untuk tidur kembali bersamanya.
Rafiz menjadikan Nandira bantal guling dan kembali tidur.
Nandira memberikan kecupan di pipi Rafiz,
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Nandira.
"Mau kok," jawab Rafiz dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu sukanya aku panggil apa?,,nggak enak kayaknya kalau manggil nama?!" tanya Nandira melihat wajah tampan suaminya.
Rafiz membuka matanya dan mencoba berpikir sebutan apa yang cocok untuknya.
"Nyamannya kamu saja, Kamu mau panggil apa," ucap Rafiz mempererat pelukannya.
"Aku panggil Mas aja ya, dulu Ibu panggil Ayah dengan sebutan Mas," ucapan Nandira mengingat panggilan Ibunya kepada Ayahnya.
" Iya boleh," ucap Rafiz.
Nandira sejenak membiarkan suaminya itu memeluk dirinya.
"Mas tadi Zidan belum bangun, Aku bangunin dulu ya. Takutnya dia telat," ucap Nandira mengelus tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
Rafiz kemudian meraba di meja samping tempat tidurnya, Dimana ia sering menyimpan ponselnya.
Ia melihat jam di ponselnya sudah pukul 6 pagi, memang seharusnya ya sudah bangun.
'
"Ya Sudah," Rafiz melepas pelukannya namun sebelum itu ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi kepada pipi Nandira, Iya begitu gemas dengan istrinya itu.
Nandira mengetuk pintu kamar mandi.
"Mas, Aku keluar dulu ya, ingin lihat Zidan," ucap Nandira.
"Iya," teriak Rafiz dari dalam kamar mandi.
Setelah mendapat persetujuan dari Rafiz, Nandira kemudian menuju ke arah kamar Zidan.
Saat membuka pintu, Nandiri sudah melihat jika putranya itu sudah rapi dengan seragam sekolah yang telah di siapkan nya tadi.
"Mama pikir kamu masih tidur," ucap Nandira menghampiri Zidan dan mengecup pipi putranya itu.
"Mah boleh enggak Aku ngajak temanku datang ke sini?" tanya Zidan.
"Mama sih nggak masalah, tapi coba tanya Papa dulu ya," jawab Nandira.
"Iya, nanti aku izin sama Papa dulu," ucap Zidan mengambil tasnya kemudian mereka pun keluar dari kamar..
Nandira membuka pintu kamar Syahidah. "Sepertinya adikmu sudah turun lebih dulu.," ucap Nandira yang tak melihat sosok Syahidah di dalam kamar nya.
"Mama lihat Papa dulu ya, Zidan turun aja dulu ya!" ucap Nandira yang dibalas anggukan oleh Zidan.
Zidan kemudian turun dan ikuti bergabung dengan Syahidah di meja makan sementara Nandira kembali ke kamarnya.
Nandira melihat Jika suami itu sudah selesai mandi dan sedang berpakaian. Dengan telaten Nandira membantu suaminya itu memakaikan dasi.
Nandira mengikat dasi untuk Rafiz. Dulu ia juga sering melakukannya saat Ayahnya akan berangkat ke kantor.
Rafiz menarik pinggang Nandira agar lebih dekat dengannya.
Nandira hanya tersenyum melihat tingkah suaminya sambil terus konsentrasi mengikatkan dasi ke leher suaminya.
Rafiz mengagumi kecantikan Nandira dan terus menatap senyum di bibir istrinya yang sedang mengikat dasi untuknya.
"Kamu sudah sering mengikat dasi ya?" tanya Rafiz saat melihat hasil Nandira sangat rapi.
"Iya, dulu ayah tak tahu mengikat dasi, jika Ibu sedang sibuk di dapur, aku yang mengikat dasi untuk Ayah," ucap Nandira mengingat kegiatannya di pagi hari sebelum ayahnya berangkat ke kantor.
"Ayahmu pasti sangat menyayangimu," ucap Rafiz masih memeluk pinggang Nandira yang sudah selesai mengikat dasi untuknya.
Nandira mengalungkan tangannya dileher Rafiz,
"Iya, Ayah sangat menyayangiku. Apapun yang kuinginkan Ayah selalu berikan nya. Begitu juga dengan ibu. Aku sangat merindukan mereka," sedih Nandira.
"Apa kamu sudah mengunjungi makam mereka?" tanya Rafiz..
Nandira menggeleng.
"Baiklah jika ada waktu kita akan mengunjungi makam kedua orang tuamu, apa anak-anak juga belum pernah mengunjungi makam kakek neneknya?" tanya Rafiz.
Nandira kembali menggeleng, air matanya sudah menetes.
Rafiz mengusap airmata Nandira, "Sudah jangan bersedih lagi, ada aku dan anak-anak yang akan menemanimu. Kita sarapan yuk," ajak Rafiz yang tak ingin membuat istrinya itu terus bersedih.
Nandira hanya mengangguk, kemudian mereka pun ikut bergabung dengan anak-anak di meja makan.
Nadira mengambilkan makanan untuk suami dan anak-anaknya.
Daddy juga ikut bergabung dan mereka dan sarapan bersama.
"Pah, Zidan boleh mengajak teman Zidan nggak ke rumah ini?" izin Zidan.
"Tentu saja boleh," ucap Rafiz mengizinkannya.
"Syahidah juga mau ngajak teman syahidah ya Pah?" ucap Syahidah.
"Iya boleh, tentu saja kalian boleh mengajak teman-teman kalian ke sini, asal mereka harus izin dulu sama orang tua mereka. Takutnya kalau kalian mengajaknya tanpa persetujuan orang mereka, mereka akan dicari oleh orang tuanya," jelas Rafiz
"Iya Pah, nanti Aku nyuruh mereka izin dulu," ucap Syahidah.
Setelah mereka sarapan, Nandira mulai membiasakan diri untuk mengantar suami dan anak-anaknya hingga ke depan pintu, melambaikan tangan saat mereka akan akan pergi.
ππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENNYA ππ
Salam dariku
Author m anhaβ€οΈ
love you all ππ
ππππππππππππππππ