My Papa My Boss

My Papa My Boss
Rahasia Rafiz dan Zidan.



Sore hari jemputan mereka mulai berdatangan satu persatu.


Zidan dan Syahidah menemani mereka di teras rumah, menunggu jemputan mereka.


Kedua teman Syahidah Sudan pulang, ia kemudian masuk kembali ke kamarnya.


Teman-teman Zidan pun pulang, tersisa Memet saja.


Orang tuanya sudah menelepon Jika ia ada pekerjaan dan mungkin akan terlambat menjemputnya.


Rafiz turun dari kamar dengan pakaian lengkap nya ingin keluar, "Mas kamu mau kemana?" tanya Nandira.


"Aku ada urusan sebentar di luar, nggak apa-apa ya aku keluar sebentar?!" pamit Rafiz.


"Iya nggak apa-apa lah Mas," ucap Nandira ngantar Rafiz hingga keluar.


Rafis melihat Zidan dan Memet yang sedang duduk di teras rumah.


"Yang lainnya sudah pulang?" tanya Rafiz.


" Iya Om," jawab Memet.


"Jemputan kamu mana?" tanya Rafiz.


"Belum datang Om, Papa lagi sibuk katanya, jemput nya agak telat ," jawab Memet.


"Ya sudah, naik ke mobil. Om antar!" ucap Rafiz.


"Baik Om," jawab Memet kemudian naik ke dalam mobil begitu juga dengan Zidan.


"Sayang aku berangkat dulu ya," ucap Rafiz mengecup kening Nandira.


Saat mobil mulai berjalan menuju pintu gerbang Nandira terus melambaikan tangan kepada mereka.


"Om mau kemana? Aku nggak ganggu kan Om?" tanya Memet meresa tak enak merepotkan.


"Enggak kok, Om juga mau keluar jadi sekalian saja ," Jawab Rafiz.


"Emangnya Papa mau ke mana?" tanya Zidan penasaran. Papanya akan pergi namun ia tidak menggunakan jas, berarti itu bukan urusan kantor.


"Papa dapat telepon dari Miran mengenai kemungkinan Singa itu berada dimana," ucap Rafiz. Zidan yang mendengar nya sangat senang.


Zidan sangat antusias ingin menemui singanya. Entah mengapa Zidan juga sangat menyukai hewan singa itu walau berbahaya.


"Jadi sekarang ini Papa ingin mencari tahu dimana singa itu?" tanya Zidan berbinar.


"Iya, Papa ingin memastikan apakah singa itu benar-benar ada di sana atau tidak. Papa berencana ingin mengambilnya kembali dan menempatkannya di tempat yang sudah Papa siapkan. Tapi kita antar teman kamu dulu ya ," ucap Rafiz


"Aku juga ikut dong Om untuk mencari Singa itu. Aku kan sudah terlanjur sayang juga dengannya," ucap Memet.


"Kamu hubungi dulu orang tua kamu," ucap Rafiz memberikan ponselnya yang ada di sakunya kepada Zidan.


"Sebutkan berapa nomor yang bisa dihubungi agar kau bisa izin dengan orang tuamu?!" tanya Zidan.


Memet mulai menyebutkan nomor ponsel Papanya, nada sambung terhubung dan Zidan sengaja mengaktifkan pengeras suara di ponselnya.


"Halo Papa, Ahmat pulangnya agak terlambat ya, nggak usah dijemput nanti Papanya Zidan yang ngantar. Boleh Pah?" tanya Memet .


"Iya boleh, kalian hati-hati dijalan ya," ucap orang tua Memet.


"Iya Pah," ucap Memet mengakhiri panggilannya.


"Sudah dihubungi Om, aku boleh ikut kan ?" tanya Memet.


"Tentu saja, kalau begitu kita langsung ke alamat yang diberikan Miran," ucap Rafiz.


Rafiz kemudian menambah laju mobil mereka, tempatnya masih jauh.


Nandira membawa singa itu ke kebun binatang. Nandira berfikir tempat itu adalah tempat yang paling aman buat mereka. Disana memang khusus binatang dan memiliki banyak pegawai yang mengawasi hewan-hewan itu.


Saat sudah sampai, Rafiz langsung menemui Orang yang bertanggung jawab atas kebun binatang tersebut dan memberitahu tujuannya untuk datang.


"Benar Pak, kemarin memang kami mendapat telepon agar mengevakuasi berapa hewan. Apakah itu rumah Bapak?" tanya penjaga tersebut.


"Iya itu adalah rumah saya dan hewan saya. Apa boleh saya melihat singa saya," ucap Rafiz.


"Tentu saja Pak, kami masih mengurungnya di dalam kandang agar bisa menyesuaikan diri dengan tempat ini terlebih dahulu sebelum kami lepas." ucap orang tersebut.


Mereka pun berjalan ke sebuah kandang, Rafiz bisa melihat jika singanya langsung berdiri dan menyambut kedatangannya.


"Tolong buka kandangnya Pak!" ucapan Rafiz.


"Tapi Pak ini sangat berbahaya, Singa ini belum bisa kami jinakkan," ucapnya.


Saya sudah bersamanya sejak ia kecil, jadi tidak apa-apa. Tolong buka pintunya," Pinta Rafiz.


Penjaga itupun membuka pintu kandang singa tersebut.


Rafiz langsung masuk dan memegang singanya, mencoba agar singanya lebih tenang.


Seperti mengerti jika Rafiz adalah Tuannya, sehingga Singa tersebut mengusap kepalanya pada Rafiz seperti ia meminta untuk dikeluarkan dari sana.


"Pak, Saya berencana ingin mengambilnya kembali . Saya sudah menyiapkan tempat untuknya," ucap Rafiz.


"Tentu saja boleh Pak," jawab penjaga tersebut melihat kedekatan Rafiz dengan singa itu. Iya yakin jika orang itu memang milik nya.


Setelah mendapat kabar dari Miran, jika Singanya ada di kebun binatang itu Rafiz langsung menyiapkan tempat untuk singa itu, ia sengaja membeli sebuah rumah yang tak jauh dari kediamannya agar ia masih bisa tetap melihat singa itu walau mereka sudah tak tinggal di rumah yang sama.


Singa itu sudah kembali dinaikkan ke dalam mobil dan dibawa ke rumah yang sudah dipersiapkan.


Begitu sampai di tempat barunya dan dilepas, Singa itu seolah merasa bebas dan merasa jika tuannya masih bersamanya.


Hari sudah mulai malam,


"Pak Karyo,tolong urus sisanya," ucap Rafiz sebelum meninggalkan tempat itu.


"Baik Pak, pasti akan kami urus," jawab Pak Karyo.


"Ayo, Kami akan mengantarmu pulang," ucap Rafiz pada Memet.


Mereka pun mengantar Memet ke rumahnya.


Setelah mengantar Memet mereka langsung pulang.


Sebelum pulang, mereka kembali singgah untuk melihat singa itu. setelah memastikan semuanya sudah aman, Rafiz kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah..


"Zidan, ini rahasia kita berdua ya. Kamu jangan beritahu siapa-siapa termasuk mama dan nenekmu," ucap Rafiz sebelum turun dari mobil.


"Oke Pah, Zidan mengerti kok. Oh ya, Papa jangan beritahu pada Syahidah juga ya," ucap Zidan juga memperingatkan Papanya.


"Aku rasa tak masalah jika Syahidah tahu tentang ini," ucap Rafiz.


"Jangan Pah, Syahidah itu suka mengadu sama Mama, dia itu satu geng sama mama. Jadi jika Syahidah tau, Zidan pastikan Mama juga akan tahu Soal itu," ucap Zidan mengeluhkan kelakuan adiknya itu.


"Baiklah, hanya kita berdua yang tahu," ucap Rafiz kemudian mereka pun turun dari mobil.


Nandira membantu membereskan kamar Syahidah yang sangat berantakan.


"Sepertinya Papa sama Kakak punya rencana deh Mah," ucap Syahidah.


"Rencana-rencana apa ?" tanya Nandira sambil merapikan tempat tidur Syahidah.


Syahidah berlagak sok berpikir keras, ia mondar-mandir dan memegang dagunya.


"Sepertinya Papa dan kakak berencana untuk mengembalikan singa itu deh Mah," ucap Syahidah dengan nada serius.


"Mama tidak akan membiarkan Papa membawa hewan itu ke sini lagi, dan mama yakin Papamu akan menuruti perkataan Mama," ucap Nandira.


"Tapi Syahidah yakin, mereka punya rencana lain ucap Syahidah mengingat kelakuan Kakak dan Papanya saat di mobil tadi pagi.


Sepertinya Papa sudah datang," ucap Nandira saat mendengar mobil Rafiz datang.


Mereka berdua pun langsung keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


Nandira dan Syahidah menghampiri mereka.


"Papa sama kakak dari mana? Kenapa lama sekali," cecar Syahidah.


Syahidah sudah mulai merasa curiga melihat ekspresi Papa dan Kakaknya saat masuk ke dalam rumah.


"Tadi kan kita habis mengantar Memet ke rumahnya. Ternyata rumahnya jauh," ucap Zidan.


"Benarkah ,"tanya Syahidah.


"Iya benar ," ucap Zidan dan berlalu ke kamarnya.


"Mah aku mau mandi dulu ya," pamit Zidan kembali menghentikan langkahnya dan berbalik pada mamanya.


"Iya sana mandi, Kamu bau," ucap Nandira.


Zidan kembali berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya sambil terus menciumi kedua ketiaknya.


"Aku juga ingin mandi ya sayang," ucap Rafiz memberi kecupan di pipi Nandira dan juga berlalu ke ke kamar mereka.


Syahidah kamu ikut Mama ya, kita bantu Nenek di dapur," ucap Nandira kemudian mereka pun pergi ke dapur untuk membantu Mommy membuat makan malam untuk mereka.


"Mama bagaimana kalau Papa dan kakak membawa singa itu kembali?" tanya Syahidah masih penasaran.


"Ya Mama bawa keluar lagi sini, tinggal hubungi pihak kebun binatang untuk mengambilnya," jawab Nandira.


"Apa Mama kan marah?" tanya Syahidah lagi.


"Yah, Mama akan marah dan Mama akan mengutuk mereka berdua," ucap Nandira kemudian mereka berdua tertawa.


"Kamu tuh ngomong apa sih?" tanya Mommy sejak tadi hanya mendengar pembicaraan mereka


"Aku mau mengutuk anak dan cucu Mommy, sekarang Nandira punya ilmu mengutuk Mom," ucap Nandira menahan tawanya.


"Kamu ini ada-ada aja, Ayo cepat selesaikan masakannya. Sebentar lagi waktunya makan," ucap Mommy menggeleng melihat kelakuan menantu dan cucunya.


Syahidah dan Nandira sekali masih tertawa.


Nandira tak habis pikir , bagaimana teman Zidan bisa berpikir kalau dia memiliki kemampuan untuk mengutuk.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa untuk memberi like, vote dan komennyaπŸ™


Mohon dukungannya Kak πŸ™


Salam dariku πŸ€—


Author m anha ❀️


Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–