My Papa My Boss

My Papa My Boss
PENYALAMATAN.



Rafiz sampai pada sebuah gedung tua yang sudah tak terawat dan sepertinya sudah sangat lama tak digunakan.


Dari kejauhan, mereka bisa melihat jika ada kehidupan di sana, ia melihat beberapa kendaraan dan juga beberapa orang yang mondar-mandir sambil membawa senjata di tangan mereka.


Rafiz tak pergi sendiri, Ia tahu misi kali ini sangat berbahaya. Rafiz mengajak beberapa orang untuk membantunya.


Jazlyn mengenalkan Rafiz pada salah satu anggota geng yang terkenal di wilayahnya, 


Rafiz menerima tawaran itu dan meminta anggota geng tersebut menemaninya untuk menyelamatkan anak-anaknya, tentu saja dengan iming-iming uang.


Mereka juga membawa senjata, Begitu juga dengan Rafiz.


Mereka mengatur strategi. "Orang yang kita hadapi bukan orang sembarangan, tapi aku aku mengenal geng yang bisa membantu kita, musuh dari geng mereka."


"Tapi. Kau akan membayar mahal untuk menggunakan jasa mereka," ucap ketua geng itu.


"Berapapun, akan aku bayar asalkan anak-anak ku bisa selamat."


Anggota geng yang dibawa Rafiz  mengenal para penjahat yang sedang mereka hadapi, mereka yakin mereka tidak akan sanggup. anggota geng tersebut menghubungi lawan dari para penjahat itu, ada sebuah game juga yang merasa tak senang dengan kelompok mereka.


Setelah menunggu sekitar 3 jam bala bantuan datang, ketua geng yang memperkenalkan pada ketua kelompok yang baru datang.


Rafiz berani membayar berapa saja agar anak-anaknya bisa selamat, Rafiz tak peduli mereka mau menghabisi para penjahat itu, yang ia pedulikan hanyalah keselamatan anaknya.


Mereka pun kembali mengatur strategi dan mulai menyerang.


Beberapa orang anggota Rafiz menghadapi langsung lawan mereka, dan beberapa orang lainnya menyusup masuk mencari Zidan dan Syahidah. Begitu juga dengan Rafiz.


Saling tembak pun terjadi di luar gedung membuat Aksan yang berada di dalam dengan segera langsung melihat apa yang terjadi di luar gedung tersebut dari jendela.


"Sepertinya mereka sudah menemukan kita, ternyata dugaanku salah. Aku pikir kita akan bermain-main dulu dengan mereka, ternyata mereka terlalu cepat menemukan kita. Sepertinya ini tidak terlalu seru. Aku butuh hiburan yang lebih seru dari ini," ucap Aksan tertawa.


Aksan mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Bawa kedua gadis itu kesini," perintah Aksan. Aksan melihat kedua anak kecil yang sedang diikat di sebuah kursi, tangan dan kakinya diikat begitu juga dengan mulutnya yang di lakban.


Aksan berjalan mendekat sambil memainkan senjata di tangannya, membuat Syahidah sungguh sangat ketakutan dan bergeser ke belakang Zidan.


Zidan memasang badan melindungi Syahidah.


Dengan kasar Aksan membuka lakban yang ada di mulut Zidan begitu juga dengan Syahidah.


"Apa yang kau inginkan dari kami?"tanya Zidan menatap tajam pada Pria yang sedari tadi menertawakan mereka.


"Nyawa kalian!" ucap Aksan tersenyum sinis.


Syahidah Sudah menangis ketakutan dan terus bersembunyi di balik tubuh kakaknya.


"Sepertinya papamu sudah datang untuk mencari kalian, kita akan sedikit bermain-main dengannya sebelum menghabisinya," ucap Aksan kemudian kembali tertawa terbahak-bahak.


Meninggalkan Zidan dan Syahidah dalam sebuah kamar .


Syahidah semakin menangis mendengar ucapan Aksan yang akan menghabisi Papanya.


"Kakak, bagaimana ini. Mereka akan melukai Papa," ucap Syahidah di sela tangisannya.


"Tenanglah, Papa tidak akan semudah itu dikalahkan. Papa pasti tidak datang begitu saja tanpa persiapan."


"Kita harus bagaimana?"


"Apa kau bisa melepas ikatan, kakak?" Zidan mulai membalikkan badannya mendekatkan ikatannya pada ikatan tangan Syahidah agar Syahidah bisa membuka ikatannya.


"Tidak bisa. Kak," keluh Syahidah tak bisa membuka ikatan tangannya Zidan. Ia sudah berusaha melakukannya. Namun, ia gagal, ikatannya terlalu erat sedangkan tangan Syahidah juga terikat. Kemudian Zidan yang mencoba membuka ikatan Syahidah. Walau dengan bersusah payah akhirnya Zidan  berhasil membuka ikatan tangan Syahidah. Dengan cepat Syahidah berusaha membuka ikatan tangan Zidan.


Mereka pun terlepas dari ikatannya. Namun, mereka masih berada dalam sebuah kamar yang terkunci.


Zidan  mencoba melihat ke jendela, di sana masih terlihat perkelahian antara dua kubu.


Syahidah berlari mendekati pintu dan mencoba membuka gagang pintu. Namun, pintu terkunci.


"Kita harus cari cara agar bisa keluar dari sini."   Mereka berdua mencari cara agar bisa membuka pintu itu, Syahidah teringat akan jepitan rambutnya, Ia pun mencoba membuka kunci dengan menggunakan penjepitnya.


"Bagaimana kau bisa?" tanya Zidan.


"Sedikit lagi," ucap saya terus mencoba membukanya.


"Kakak ini tinggal diputar saja, tapi aku tak kuat  memutarnya," ucap Syahidah.


"Biar aku coba," ucap Zidan mencoba memutar penjepit rambut Syahidah,


Ceklek terdengar bunyi pintu terbuka Zidan dan Syahidah tidak saling tatap.


Dengan perlahan Zidan memutar gagang pintu dan mereka pun berhasil membuka pintu. Namun, Zidan  kembali menutup saat melihat seseorang berjalan ke arah.


"Ada apa kak?" tanya Syahidah.


"Ada yang berjalan kemari, bagaimana ini."


"Kak, bagaimana ini?" tanya Syahidah kembali panik.


Zidan melihat tali yang tadi dipakai mereka  untuk mengikat ia dan Syahidah, Zidan  dengan cepat berlari mengambil tali tersebut.


Mereka bersembunyi di balik tembok.


Tak lama kemudian penjahat itu masuk dan panik saat melihat 2 anak yang telah Ia ikat sebelumnya telah hilang. Ia memeriksa dan dengan cepat ia ingin pergi dari sana. Namun, tiba-tiba.


"Hai, lepaskan aku. Dasar anak-anak nakal," teriak pria tersebut yang kini sudah menggantung dengan sebelah kakinya terikat dengan kepala di bawah.


Zidan memasang jerat begitu penjahat itu masuk jebakannya dengan cepat mereka berdua menarik talinya membuat pria itu tergantung, dengan cepat Zidan dan Syahidah mengikat ujung tali tersebut pada salah satu tiang yang ada disana.


"Ayo cepat, kita pergi dari sini sebelum yang lainnya datang," ucap Zidan menarik tangan Syahidah kemudian berlari keluar ruangan tersebut. Sebelum keluar tak lupa Zidan mengunci pintunya dari luar.


"Kakak Sekarang kita mau ke mana, kita ke arah mana?" tanya Syahidah.


Mereka berdua berdiri, mereka bingung harus memilih jalan yang mana. Ke kiri atau ke kanan.


"Kita kesana, mungkin saja Papa mencari jalan lain dan tak lewat depan," ucap Zidan mencoba membaca situasi saat ini. Saat  Zidan melihat ke jendela ia tak melihat jika papanya ada diantara orang-orang itu. Zidan yakin pasti papanya mencari jalan lain.


Zidan yakin orang-orang itu adalah orang-orang yang dibawa oleh Papanya untuk menyelamatkan mereka berdua.


Mereka dengan cepat berlari meninggalkan ruangan di mana mereka tadi disekap.


Mereka berlari dengan cepat, Namun langkah kaki mereka terhenti saat mendengar suara tawa pria yang penculik mereka.


Dengan perlahan mereka mengintip dari balik tembok.


"Bukankah itu orang yang tadi," ucap Syahidah saat melihat orang yang sedang tertawa itu. Syahidah yang tak melihat siapa lawan bicara dari Pria tersebut.


"Papa," ucap Syahidah saat mendengar suara Papanya dan ingin ke sana. Namun, dengan cepat Zidan mencegahnya.


"Jangan kesana dulu, itu sangat berbahaya. Kita lihat dulu situasinya seperti apa.  


Zidan kemudian melangkah lebih kedepan agar bisa melihat situasi yang ada disana.


Zidan membekap mulut Syahidah saat hampir saja Syahidah berteriak begitu melihat papanya ditodongkan senjata api.


"Jangan berisik percayakan semua sama papa," bisik Zidan yang dibalas anggukan oleh Syahidah. Mereka mencari tempat yang aman agar tak terlihat oleh para penjahat itu.


"Di mana anak-anak ku, mengapa kau membawa mereka dalam urusan kita," ucap Rafiz menatap tajam pada Aksan dan yang ditatap dengan santai ia menodongkan senjata pada Rafiz.


"Anak-anakmu akan membayar semua kesalahan yang kau lakukan,"


"Apa maksudmu, aku sama sekali tak tahu apa yang kau maksud aku tak pernah berbuat salah padamu."


"Kau sudah menghancurkan semua impianku, kau sudah merebut Jazlyn dariku," garam Aksan.


Rafiz teringat kembali cerita Jazlyn.


"Apa  benar orang ini menargetkan ku hanya karena aku melamar Jazlyn waktu itu." 


"Aku sama sekali tak mengenalmu dan waktu itu aku pun tak tahu jika kau telah bertunangan dengan Jazlyn, saat aku melamar Jazlyn dia langsung menerimanya Aku tak mengira jika dia sudah bertunangan denganmu sebelumnya. Jika aku tahu aku tak akan merebutnya darimu.


"Oh ... ternyata kau sudah bertemu, dengan mantan istrimu itu dan Sepertinya dia juga sudah menceritakan hubunganku dengannya, tapi sudah lah rasa cinta itu sudah berubah menjadi kebencian dan rasa kecewa. Yang bisa mengobati kebencian dan kekecewaan ku hanyalah melihatmu menderita, karena aku yakin kau akan menderita jika aku juga merebut orang yang kau sayang."


"Jangan sakiti anak-anak ku, kalau boleh membalas ku jika itu bisa membuatmu puas."


Aksan kembali tertawa,


"Jika waktu itu Kamu tak merebut tunangan ku, mungkin aku juga akan bahagia dan memiliki anak sepertimu. Bagaimana jika aku juga merebut istrimu, "ucap Aksan tertawa sinis.


"Rafiz membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Aksan.


"Nandira," ucap Rafiz melihat ke segala arah mencari apakah Nandira ada disana. 


"Apa apa yang kau lakukan pada istriku? Jangan berani kau menyentuhnya sedikitpun!" 


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca🙏


Jangan lupa ya beri like, vote, dan komennya.🙏


Sambil nunggu up, bisa mampir ke karya terbaruku ya Kak, mohon dukungannya 🙏🙏" Berbagi cinta: Mencintai diriku dan dirinya🙏



🙏  jangan lupa favorit ya Kak, like dan komennya 🤗💖


salam dariku Author m anha ❤️


Love you all 💕🤗🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖