My Papa My Boss

My Papa My Boss
Kecurigaan Syahidah



Di kediaman Rafiz.


Saat makan malam, Syahidah terus memperhatikan Papa dan Kakaknya.


Ia bisa melihat dengan jelas jika mereka berdua sangat bahagia, "Ada apa ya dengan Papa dan kakak," batin Syahidah.


"Ada apa sayang?" tanya Rafiz yang menyadari putrinya itu sedari tadi memperhatikan nya.


"Enggak ko Pah, nggak ada apa-apa," jawab Syahidah.


"Udahlah, itu bukan urusanku. Aku mau lanjut makan saja, aku sudah lapar" batin Syahidah kemudian mulai melahap makanannya.


Setelah makan Zidan langsung ke kekamarnya, mengerjakan tugas sekolahnya.


Syahidah datang menghampirinya,


"Kak, Pagi tadi minta bantuan apa dengan Syahidah?" tanya Syahidah.


"Enggak kok, enggak jadi. Kamu sudah ngerjain tugas sekolah kamu ?" tanya Zidan.


"Sudah, tadi kami habis main langsung mengerjakan tugas sekolah bersama-sama," ucap Syahidah.


"Kamu nggak ada kerjaan?" tanya Zidan.


"Enggak ada, emangnya kenapa?" tanya Syahidah sambil berbaring di kasur Zidan.


"Tolong rapiin ruangan game kakak dong, tadi Kak nggak sempat bersihinnya soalnya langsung ikut sama papa ngantar Memet," pinta Zidan.


"Ih kakak rapiin sendiri dong, Syahidah aja ngerapiin kamar sendiri," tolak Syahidah.


"Kakak kan lagi kerjain tugas Sekolah, Kamu kan sudah tugasnya," Rayu Zidan. "Ayo dong, kamukan adik kakak yang paling cantik."


Dengan malas Syahidah berjalan dan membuka pintu ruangan game kakaknya. Ia menghela nafas saat melihat ruangan itu sangat berantakan.


Walau tak mau Syahidah tetap melakukan apa yang diminta oleh kakaknya, Ia perlahan masuk ke dalam dan mulai membereskan ruangan itu. Sementara Zidan kembali fokus mengerjakan tugas sekolahnya


******


Hari ini adalah hari Minggu, semalam Rafiz dan Zidan sudah membuat janji akan ke tempat singanya.


Baru saja matahari terbit, Rafiz sudah izin untuk keluar. Ia beralasan ingin olahraga bersama Zidan.


"Iya, hati-hati ya ucap Nandira masih betah berada dalam selimutnya.


Rafiz menghampiri kamar Zidan, mengetuk dua kali dan langsung membukanya.


Ia melihat anaknya itu sudah rapi dengan baju olahraga nya.


Pagi ini mereka akan berlari-lari ke taman, itulah alasan yang mereka sepakati jika ada yang menanyakannya.


Saat baru keluar rumah, mereka berdua melihat Pak Karyo yang berlalu-lalang mengurus hewan yang lainnya.


"Pak Karyo, apa singanya sudah diberi makan?" tanya Rafiz mendekati Pak Karyo yang sibuk memberi makan puluhan kelinci.


"Belum Pak, ini saya lagi memberi makan kelinci-kelinci ini dulu baru saya kesana Pak,"ucap pak Karyo.


"Pak, biar aku yang memberi makan singa itu, Aku juga mau ke sana," ucap Rafiz kemudian mulai berlari kecil meninggalkan gerbang.


Tak butuh waktu lama Rafiz sudah sampai di rumah itu, mereka membuka pintu gerbang dan berjalan masuk .Mereka bisa melihat singa itu sedang berbaring di depan rumah.


Melihat Tuannya datang, Singa itu langsung berdiri dan menghampiri mereka. Memperdengarkan aungannya, seolah tanda menyambut kedatangan mereka.


"Ada apa, apakah Kamu lapar?" tanya Rafiz mengelus-elus singa tersebut.


Singa itu menggelengkan kepalanya.


Zidan tertawa melihat itu,


"Pah, kata singanya nggak lapar dia Pah, singanya menggeleng mendengar ucapan Papa," ucap Zidan.


"Kau tidak lapar ?" tanya Rafiz lagi, Singa itu kembali menggeleng.


"Masa sih kamu ga lapar," ucap Rafiz menggiring singa itu masuk ke dalam kandang .


Didalam kandang mereka memberi makan Singa itu. Zidan kembali tertawa saat iya aduh tarik daging dengan Singanya.


Pagi ini Rafiz dan Zidan menghabiskan waktu bermain dengan singa kesayangan mereka.


Rafiz melihat jam tangannya, sekarang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Zidan sebaiknya kita pulang takutnya Mama curiga," ucap Rafiz.


Mereka pun bergegas pulang ke rumah, tak ingin membuat orang lain curiga pada mereka Khususnya Mamanya.


Begitu mereka sampai di rumah, mereka disambut oleh tatapan penuh tanya oleh Syahidah yang duduk di teras rumah menunggu mereka.


"Papa kok nggak ngajak Syahidah sih," protes Syahidah.


"Maaf, tadi Papa lihat kamu masih tidur, jadi Papa nggak tega bangunin nya." ucap Rafiz memeluk anaknya itu.


Syahidah menjauh dan menutup hidungnya "Papa bau, bau keringat." ucap Syahidah.


Rafiz mencium kedua ketiaknya, "Ga bau kok, harum malah. Coba deh Syahidah cium," ucap Rafiz menyodorkan ketiaknya pada putrinya itu.


Syahidah semakin menutup hidungnya,


"Enggak mau, Papa bau," ucap Syahidah berlari menjauhi Papanya.


Rafiz mengejar Syahidah yang berlari, mereka mengelilingi sofa saling kejar-kejaran.


Syahidah berlari sambil terus menjerit-jerit.


Daddy yang sedang duduk di sofa tersebut hanya tertawa melihat anak dan cucunya terus mengelilinginya.


Zidan berlari ke kamarnya, ia merasa sangat gerah. Jarak dari rumah mereka dengan tempat Singa itu memang dekat, namun cukup jauh jika mereka hanya berlari kesana.


"Sudah ya, Papa capek," ucap Rafiz berhenti mengejar Syahidah.


"Iya Pah, Syahidah juga capek. Papa sana mandi dulu bau tahu Pah" ucap Syahidah kembali menutup hidungnya.


"Iya, Papa mau mandi dulu," ucap Rafiz berjalan di samping Syahidah.


Syahidah yang mengira Papanya sudah menyerah santai saja saat papanya berjalan ke arahnya.


Rafiz langsung menangkap putrinya itu, Rafiz menggendong Syahidah dan menggelitik nya.


"Sudah jangan di gelitikin terus nanti dia ngompol lagi," tegur Mommy.


"Udah ya, Papa mandi dulu," ucap Rafiz mengecup pipi putrinya itu sebelum naik ke kamarnya.


Syahidah penduduk di dekat Kakeknya, menemani kakek yang sedang menonton saluran berita.


"Kakek Syahidah pindah kan ya," ucap syahidah ingin mengganti channel nya.


"Iya boleh," ucap kakek mengelus rambut cucunya.


Dengan cepat Syahidah mengganti ke channel acara kartun kesukaannya.


Rafiz naik ke atas ke kamarnya dan melihat Nandira yang baru habis mandi.


Nandira mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Rafiz memeluknya dari belakang.


"Kamu wangi banget sih," bisik Rafiz di telinga Nandira, membuat Nandira menjadi merinding.


"Aku sudah mandi, jangan peluk dulu ya, nanti keringat kamu nempel lagi di badan aku," ucap Nandira mencoba mendorong suaminya yang semakin mempererat pelukannya.


"Iya, Aku mandi dulu," ucap Rafiz melepas pelukannya kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang memang sangat lengket karena keringatnya.


Nandira masih di kamar saat Rafiz selesai mandi,


Rafiz keluar dengan hanya melilitkan handuk pinggangnya.Walau Rafiz sudah menjadi suaminya, namun melihat Rafiz seperti itu masih membuat jantungnya berdebar.


Rafiz bisa melihat jika Nandira langsung memalingkan wajahnya saat melihatnya.


Ia mendekati istrinya itu dan mengambil kedua tangannya. Rafiz menarik kedua teman Nandira agar menghadap padanya dan meletakkannya di dadanya bidangnya. Menarik pinggang Nandira agar mereka lebih dekat.


"Kenapa kamu memalingkan pandangan saat kau melihat ku tadi? ku tak suka melihatku?" tanya Rafiz. Memberi kecupan singkat di bibir Nandira.


Nandira tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Rafiz.


"Aku hanya takut tergoda," jujur Nandira.


Rafiz tak tahan melihat bibir istrinya, bibir yang seakan sudah menjadi candu baginya.


Rafiz baru melepaskannya saat merasa istrinya itu sudah kehabisan nafas.


Nandira memukul dada bidang Rafiz. "Kebiasaan deh kamu Mas, langsung cium aja," protes Nandira.


"Habisnya kamu gemesin sih, makin hari kumu makin cantik," ucap Rafiz kembali mengecup singkat bibir Nandira kemudian melepas pelukannya.


Nandira sudah menyiapkan pakaian ganti di atas kasur untuk Rafiz.


Hari ini, Kamu masih ada kerjaan?" tanya Nandira.


"Enggak ada, emangnya kenapa?" Jawab Rafiz sambil memakai pakaiannya.


"Aku ingin pulang ke rumah, Ada beberapa barang yang aku ingin ambil," ucapkan Nandira.


"Habis sarapan kita langsung ke sana, biar aku yang mengantarkan mu," ucap Rafiz.


"Aku ke bawah dulu ya, bantu mommy menyiapkan sarapan," ucap Nandira


Rafiz hanya mengangguk mengiyakan ucapan Nandira.


Nandira membantu menyiapkan sarapan.


Sarapan sudah terhidang di meja, semua sudah berkumpul untuk sarapan kecuali Zidan.


"Mas Zidan mana?" tanya Nandira pada Rafiz yang baru saja duduk.


"Tadi sih Zidan ke kamar, apa dia belum pernah turun?" tanya Rafiz.


"Belum Pah, selama kakak naik ga pernah turun lagi,," jawab Syahidah.


"Biar Papa panggil dulu," ucap Rafiz berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar Zidan.


"Zidan," panggil Rafiz mengetuk pintu Zidan kemudian membuka pintunya.


Rafiz melihat putranya itu sedang tidur dengan memakai handuk yang masih melilit di pinggangnya.


"Ya ampun,,, ternyata kau kembali tertidur ,"ucap Rafiz mengusap rambut Zidan.


"Ayo bangun dulu sarapan, lalu tidur lagi," ucap Rafiz mencoba membangunkan putranya.


"Pah, kita beli sepeda ya, Zidan nggak sanggup harus berlari lagi menuju ke sana," gumam Zidan masih menutup matanya.


Rafiz memikirkan perkataan Zidan, memang benar jarak dari rumah ke sana cukup melelahkan, membeli sepeda memang itu ide yang sangat bagus. Selain olahraga juga mempermudah mereka.


"Hari ini kita akan ke rumah mama, pulang dari sana kita akan langsung membeli sepeda," ucap Rafiz."Ayo pakai pakaianmu, kita sarapan dulu lalu kita pergi." Rafiz membantu Zidan memakai pakaiannya.


Zidan dan Rafiz ikut sarapan bersama yang lain, setelah sarapan mereka pun pergi ke rumah Nandira.


Saat dalam perjalanan Syahidah tak sengaja melihat Pak Karyo berada di depan sebuah rumah yang tak jauh dari kediaman mereka.


"Ngapain pak Karyo di sana," batin Syahidah,


****


Nandira ingin mengambil beberapa pakaian, kosmetik, sepatu, tas dan beberapa perlengkapan lainnya.


Semenjak menikah dengan Rafiz ia belum pernah kembali ke rumahnya dan hanya memakai pakaian dan aksesoris seadanya yang ada di rumah Rafiz.


Nandira tak lupa juga mengambil beberapa pakaian kantornya, ia sudah mendapat izin dari Rafiz untuk kembali berkantor walau hanya sesekali.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya.


salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖