My Papa My Boss

My Papa My Boss
Menjelang Hari Bahagia.



"Mama bangun, Mama bangun," ucap Syahidah membangunkan Nandira yang tertidur dengan posisi berada di bawahnya.


Nandira mencoba membuka matanya yang terasa berat, berusaha melihat sosok gadis kecil yang sejak tadi mengganggu tidurnya.


Semalam entah sampai jam berapa ia berbicara dengan Rafiz bahkan sampai ia tak sadar jika dirinya sudah tertidur.


"Syahidah Kamu sudah bangun sayang?"tanya Nandira menguap dan mengucek matanya melihat Syahidah dengan rambut yang acak-acakan.


"Mama kok tidur di bawah sih?" ucap Syahidah yang terbangun saat tak sengaja menendang mamanya yang tidur di bawah kakinya.


"Mama juga ga tau, Mama nggak sengaja tidur sini," ucap Nandira." Kamu mau ke sekolah ?"


"Iya Mah, sudah beberapa hari ini Syahidah tidak ke sekolah! hari ini aku ingin ke sekolah Mah," pinta Syahidah.


"Ya sudah, kamu mandi ya Mama siapkan sarapan" ucap Nandira mengecup kedua pipi putrinya.


"Oke Mah," ucap Syahidah turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi.


Nandira meregangkan otot-ototnya, kepalanya terasa berdenyut. Iya merasa baru saja beberapa menit dia tertidur.


Saat akan turun dari tempat tidur Nandira melihat ponselnya,


Dia membulatkan matanya saat melihat panggilan videonya masih aktif dan melihat Rafiz yang juga tertidur di sana.


Nadira tersenyum dan menyentuh wajah tampan Rafiz dari balik layar ponselnya kemudian mematikan panggilannya itu.


Wajah bahagia terus terpancar saat membuatkan sarapan untuk anak-anaknya.


"Wah, anak Mama ternyata sudah pintar ya berpakaian sendiri," ucap Nandira saat melihat Zidan dan Syahidah turun telah memakai seragam lengkapnya tanpa bantuan dirinya atau bibi yang bekerja di sana.


"Iya dong Mah, kita kan sudah besar" ucap Zidan.


"Oh ya," goda Nandira.


"Mah di luar itu siapa," tanya Zidan yang melihat ada seseorang yang duduk di teras rumahnya.


"Emang ada ya?" tanya Nandira yang tak tahu jika ada seseorang di luar sana.


Zidan mengangguk,


Nandira yang penasaran pun berjalan keluar diikuti Zidan dan Syahidah yang juga penasaran siapa sebenarnya orang itu.


Saat membuka pintu pria tersebut langsung berdiri dan membungkuk kepada mereka saat melihat mereka.


"Anda siapa ya?" tanya Nandira melihat penampilan orang tersebut sedikit menakutkan, berpakaian serba hitam dan memakai topi hitam.


"Perkenalkan nama saya Tara, Saya ditugaskan pak Rafiz untuk mengantar anak-anak ke sekolah," ucap pria tersebut.


"Hay Pak Tara!" ucap Syahidah menyapa orang itu.


Pak Tara yang mendengar sapaan Syahidah padanya mengangguk sebagai jawaban rasa hormat kepada majikan barunya.


"Ayo masuk Pak, Anak-anak belum sarapan Bapak nunggunya di dalam saja.


"Iya Bu, terima kasih,"


"Apa Bapak sudah sarapan, mari sarapan bersama kami,"


"Sudah Bu, saya sudah sarapan. Saya tunggu di luar saja silahkan anda sarapan," ucap Pak Tara.


"Ya sudah Pak, anak-anak sarapan dulu ya?"ucap Nandira kemudian membawa anak-anaknya masuk.


"Mama itu tadi kayak bodyguard gitu ya?!" ucap Syahidah berbinar. Ia merasa seperti film-film yang di tonton nya, dimana Seorang putri di kawal oleh para penjaga.


"Mungkin," jawab Nandira,


"Mana ada bodyguard, dia itu cuman sekedar supir biasa, bodyguard itu badannya besar dan punya senjata. Sedangkan pak Tara tadi enggak ada ototnya tuh dan kayaknya dia juga nggak punya senjata!" ucap Zidan.


"Emangnya kakak pikir bodyguard itu kayak Algojo gitu? yang berdiri di belakang kita dengan memamerkan ototnya?!" tanya Syahidah berdiri dan memperagakan Seseorang berjalan dengan otot besar.


"Ya iyalah," ucap Zidan santai.


"Sudah ayo makan kasihan pak Tara menunggu di luar, nanti kalian juga bisa terlambat." ucap Nandira meletakkan Susu di depan mereka.


Anak-anak pun makan dengan tenang.


Mulai hari ini anak-anak akan diantar ke sekolah oleh pak Tara, dan Nandira sendiri tak di izinkan untuk ke kantor.


Ada 2 orang ditugaskan berjaga di sekitar rumah mereka.


Setelah anak-anak pergi, Nandira kembali ke kamarnya. Ia melihat ponselnya dan mengambilnya,


"Apa Rafiz sudah bangun ya!" gumam Nandira. Kemudian ia mencari kontak Rafiz. Iya ingin menekan tombol panggil namun Ia juga ragu, namun beberapa saat kemudian panggilan Rafiz masuk.


"Halo," ucap Nandira,


"Kamu kok nggak bangunin aku sih?" tanya Rafiz.


"Maaf tadi aku buru-buru menyiapkan sarapan untuk anak-anak, mereka akan ke sekolah".


"Anak-anak ke sekolah ?" tanya Rafiz,


"Iya, tadi juga ada seseorang, katanya di supir! kamu ya yang mengirimnya?" tanya Nandira.


"Iya, itu pak Tara, dia salah satu supir di rumah.


Selain supir dia juga itu mahir dalam beladiri jadi aku sengaja memilih nya untuk menjaga anak-anak ," jawab Rafiz.


"Iya terima kasih ya, Aku jadi merasa lebih tenang melepas anak-anak ke sekolah."


"Kamu nggak ke kantor kan?" tanya Rafiz,


"Enggak kok, aku di rumah aja," jawab Nandira.


"Sudah ya, Aku mau siap-siap dulu. Aku akan kantor, sampai di kantor nanti aku telepon lagi," ucap Rafiz.


"Iya," ucap Nandira matikan teleponnya.


Nandira memeluk ponselnya, mendapat telepon di pagi hari dari orang yang sudah menggetarkan hatinya membuat harinya semakin indah.


Nandira menyimpan ponselnya lalu berjalan ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan menyegarkan dirinya yang masih terasa mengantuk.


Di dalam kamar mandi Nandira terus menyanyi lagu-lagu tak jelas, kemudian ia tertawa. Ada rasa menggelitik di perutnya saat ia mengingat jika sebentar lagi ia akan menikah dengan Rafiz.


Hari berganti Hari, hingga tiba saatnya nya besok adalah hari pernikahan Nandira.


Mereka semua malam ini akan menginap di hotel tempat dimana acara tersebut akan laksanakan.


Tika, Sita, dan Dina juga sudah datang bersama keluarga mereka.


Nandira langsung meminta mereka untuk ke hotel yang telah di siapkan Rafiz.


Beberapa karyawan yang bekerja di toko kue Nandira juga sudah datang, ia juga menyiapkan kamar untuk mereka.


Nandira sudah tidak punya siapa-siapa lagi, teman bekerjanya di pulau dan para karyawannya di toko kuenya sudah seperti keluarganya sendiri.


Mommy dan Daddy Serta Rafiz juga sudah ada di hotel tersebut.


Mereka makan malam bersama.


Rafiz memesan makan malam mewah untuk mereka semua.


Hidangan yang pastinya sangat mahal membuat para karyawan dan juga teman-teman Nandira menjadi sedikit kaku, pasalnya mereka tidak pernah memakan makanan semahal itu.


Nandira mendekat pada mereka, "Makan saja mumpung gratis," bisik Nandira bercanda agar mencairkan suasana.


Mereka semua tersenyum dan mengangguk.


Suasana makan malam yang elegan dan mewah diadakan Rafiz untuk menyambut mereka semua.


Mereka tak menyia-nyiakan makanan tersebut mereka makan dengan lahap hidangan yang sudah di siapkan untuk mereka.


Mommy yang cepat akrab dengan teman-teman Nandira, awalnya mereka semua menganggap mommy yang berkebangsaan luar orangnya cuek, Namun ternyata mommy sama saja dengan mereka ramah dan periang.


Setelah makan, mereka ke kamar masing-masing. Malam ini Nandira tidur bersama Sita, Nandira sudah menganggap Sita sebagai kakak sekaligus ibunya, sedangkan anak-anak tidur dengan Papa mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membacaπŸ™


Mohon dukungannya ya dengan memberi,


LIKE, VOTE KOMENNYA β€οΈπŸ™


Satu saja like dan komen dari kalian itu sangat membantu untuk memberi semangat kepada kamiπŸ€—


Semoga kedepannya kami dapat menciptakan karya-karya yang dapat menghibur kalian semua☺️


Salam dariku😊


Author m anha ❀️


love you allπŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–