My Papa My Boss

My Papa My Boss
Saling Merindukan.



Pagi ini mereka akan kembali ke kota mereka, Nandira telah berpamitan kepada semua orang yang dikenalnya dan tak lupa pula Nandira memberikan undangan pernikahan nya kepada mereka.


Sebelum naik ke kapal, Nandira kembali menatap pulau tersebut dan tersenyum.


Ia menatap pulau itu sepanjang matanya dapat melihat pulau itu. Di Pulau itu terlalu banyak kenangan.


Dimana di Pulau itu pertama kali Ia mendapat gelar sebagai seorang ibu.


Status yang mampu membuat dirinya bisa melewati segala derita yang dihadapinya selama ini.


Mendengar kata ibu terucap dari mulut anak anaknya, bisa menghilangkan segala kelelahan yang dirasakan saat sehari ia bekerja.


Di Pulau itu juga banyak cobaan baru yang dihadapinya, di Pulau itu juga ia bertemu kembali dengan Rafiz.


Terlalu banyak kenangan di Pulau itu. Zidan dan Syahidah juga menatap Pulau dimana mereka dilahirkan.


"Mama jika ada waktu bisa kan kita sesekali datang ke pulau ini lagi?"tanya Syahidah.


"Tentu saja, kita akan sering datang kemari. Ini adalah tempat kelahiran kalian, kalian senang kan bisa berkunjung ke sini?" tanya Nandira mengusap kedua kepada anaknya.


Keduanya mengangguk,


Rafiz kemudian menghampiri mereka,


"Sebentar lagi kapalnya akan berangkat, sebaiknya kita naik," ucap Rafiz.


"Iya Pah," ucap Syahidah memegang tangan Papanya, sedangkan Zidan menggandeng tangan Mamanya.


Perlahan-lahan kapal mulai meninggalkan bibir pantai, meninggalkan Pulau itu.


Mereka melambaikan tangan kepada Sita, Tika, dan Dina yang juga melambaikan tangan mengantar kepergian mereka.


Nandira sudah mengajak mereka untuk ikut bersamanya ke kota, mereka bisa bekerja di kantor atau di tokonya kue miliknya. Namun mereka menolak, mereka memilih untuk tetap bekerja di Pulau itu. Mereka sudah merasa nyaman tinggal disana.


Apalagi Tika dan Dina sudah menikah dengan


pria yang juga tinggal di pulau itu.


Mereka menikmati perjalanan pulang, membiarkan angin menerpa kulit mereka.


Udara panas tak menjadi penghalang Syahidah, ia berdiri memandang luasnya lautan yang mereka sebrangi.


Setelah sampai di kotanya, sopir yang diminta Rafiz untuk menjemput mereka langsung menghampiri mereka dan langsung membawa barang-barang dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.


"Kita mau kemana pak?" tanya sang sopir.


"Kalian akan ke rumah kan?" tanya Rafiz pada Nandira.


"Tidak, sebaiknya kami menginap di rumahku dulu," ucap Nandira.


"Apa kamu yakin ?!"tanya Rafiz memastikan.


"Iya, aku yakin. Bukannya kau sudah mengatakan jika mereka tak akan mengganggu kami lagi, Aku merasa tak nyaman jika aku tinggal bersamamu sebelum kita menikah?" ucap Nandira.


"Baiklah kalau itu yang kau mau, aku tak akan memaksamu, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi sekitaran rumah kalian jadi kalian tak usah khawatir. Aku juga sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi anak-anak saat di sekolah." ucap Rafiz.


"Terima kasih ya, aku merasa lebih aman sekarang berkat dirimu," ucap Nandira melihat ke arah Rafiz sambil tersenyum.


Rafiz mengangguk dan membalas senyuman Nandira.


"Papa apa ada orang yang berniat jahat lagi sama kita?" tanya Syahidah sedikit trauma saat mengingat kejadian saat penculikan malam itu.


"Tidak kok Sayang, Papa meminta mereka menjaga kalian hanya untuk berjaga-jaga saja, Papa tidak ingin kecolongan lagi, Papa tak ingin terjadi sesuatu pada kalian," jelas Rafiz.


"Ya sudah pak, kita ke rumah Nandira ," ucap Rafiz pada supirnya.


Merekapun menuju ke kediaman Nandira, bibi sudah menyiapkan makan siang untuk mereka.


Semalam Nandira sudah menelfon asisten rumah tangganya mengabarkan jika mereka akan pulang ke rumah besok dan meminta menyiapkan semuanya.


Itulah Nandira, ia tak suka melakukan sesuatu dengan terburu-buru.


Merekapun sampai ke kediaman Nandira, Nandira meminta supir Rafiz untuk masuk dan makan siang.


"Aku akan ke kantor dulu ya, setelah kekantor mungkin aku akan langsung pulang," ucap Rafiz berpamitan pada Nandira dan anak-anak.


"Iya, kami baik-baik saja ko disini," ucap Nandira.


Rafiz pun pergi ke kantor nya, banyak hal yang harus di kerjakan nya hari ini termasuk memeriksa persiapan pernikahan nya.


Rafiz menghampiri Miran di ruangan nya.


Iya hanya mengangguk sekali dan langsung membuka pintu.


Miran sangat terkejut saat mengetahui yang baru saja masuk ke ruangannya adalah Rafiz.


"Ada apa?" tanya Rafiz melihat keterkejutan Miran.


"Tak apa pak," jawan Miran mencoba sesanti mungkin.


Miran langsung mempersilahkan bosnya itu duduk di tempatnya dan ia sendiri duduk di kursi yang ada di depannya.


"Bagaimana?" tanya Rafiz setelah duduk.


"Aku sudah mengatur semuanya pak. Sekitar dua hari lagi semuanya akan siap," jawab Miran yang mengerti apa maksud dari pertanyaan Rafiz.


"Baiklah, Acara pernikahanku akan dilaksanakan 4 hari lagi dari sekarang, aku sudah memberikan kelonggaran waktu padamu, aku tak ingin ada masalah.," ucap Rafiz.


"Baik Pak," jawab Miran. Iya yakin 4 hari yang di berikan sudah lebih dari cukup.


Rafiz kembali ke ruangannya, beberapa hari tak masuk bekerja membantu pekerjaan menumpuk.


***


Rafiz kembali kerumahnya saat sudah tengah malam, rumahnya terasa sangat sepi. Kehadiran Nandira dan anak-anak nya sungguh mengubah suasana dirumah itu.


Rafiz berjalan dengan lesu ke atas kamarnya, saat membuka kamarnya Rafiz tercengang melihat kondisi kamarnya.


Ia perlahan masuk, dan melihat tempat tidur yang di tutupi seprai bergambar Frozen. Beberapa makeup Nandira masih ada di sana.


Gordennya juga sudah berubah, gorden yang bergambar Elsa tergantung di sana. Beberapa pernak-pernik juga terpajang di sana.


Rafiz menggelang melihat kondisi kamarnya.


Baru beberapa hari mereka tinggal bersama, kamar sudah berabah.


Entah seberapa besar perubahan hidupnya nanti saat Nandira menjadi istrinya.


Rafiz yang suka dengan warna yang menenangkan kira kamarnya penuh dengan berbagi warna dan gambar karakter Frozen.


Rafiz mengusap Boneka Syahidah yang masih ada di kamar itu.


Seminggu bersama mereka sunggu waktu yang sangat berharga bagi Rafiz yang selama ini kesepian.


Walau selama ini ia sering sendiri dan kesepian, entah mengapa malam ini ia merasa sangat kesepian. Kehadiran anak-anak di sisinya dan Nandira sangat mengubah hidupnya.


Rafiz tak bisa tidur, baru sehari berpisah dengan anak-anak dan Nandira ia sudah sangat merindukan mereka.


Rafiz mengambil ponselnya dan menghubungi Nandira.


"Halo, Nandira, apa anak-anak ada?" tanya Rafiz.


"Anak-anak sudah tidur,".jawab Nandira.


Rafiz mematikan panggilan.


Nandira menatap telfonnya yang sudah terputus,


"Kanapa di matikan," gumam Nandira. Tadinya ia sangat senang saat melihat panggilan yang masuk di ponselnya adalah Rafiz. Nandira tak memungkiri jika hatinya juga merindukan sosok Rafiz.


Nandira menyimpan ponselnya dan kembali berbaring.


Ponsel nya kembali berdering, dengan cepat Nandira menyambar nya dan melihat siapa yang menelepon nya.


Nandira dengan cepat merapikan penampilannya, ia bahkan menambah bedak dan warna di bibirnya.


Nandira menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


Dengan jantung yang berdebar kencang perlahan ia menekan tombol untuk mengangkat panggilan video dari tunangannya itu.


"Lagi apa?" Tanya Rafiz.


"Nggak lagi ngapa-ngapain kok, ini lagi mau tidur." jawab Nandira.


"Kok cantik banget," ucap Rafiz yang bisa melihat makeup tipis Nandira.


"Masa sih, biasa aja kok," jawab Nandira salah tingkah.


Saat Nandira tampil cantik di layar Rafiz, Rafiz justru tampil acak-acakan, Khan orang yang akan tidur.


Mereka terus mengobrol hingga Nandira merasa ngantuk dan tertidur dengan ponselnya masih melakukan panggilan video dengan Rafiz.


Rafiz terus menatap layar ponselnya, melihat wajah cantik Nandira yang sedang tertidur hingga ia sendiri pun tertidur.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa untuk memberi


LIKE, VOTE, KOMENNYA ❤️


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖🙏🙏💖💖💖💖💖💖💖