My Papa My Boss

My Papa My Boss
Peliharaan baru, kebiasaan Baru



Saat sarapan Rafiz hanya diam begitu juga dengan yang lainnya.


Mommy yang ikut andil dalam pemindahan hewan kesayangannya putranya itu juga hanya diam dan melimpahkan semuanya pada Nandira menantunya.


Mommy juga tak berani untuk memulai pembicaraan.


Zidan dan Syahidah yang juga tahu jika Papanya sedang kesal karena hewan-hewannya sudah di pindahkan tanpa seizin nya juga tak berani memulai pembicaraan.


Zidan sangat ingin menanyakan apakah Papanya itu sudah menanyakan tentang keberadaan singa itu kepada Mamanya atau tidak, namun ia juga ikut terbawa suasana menegangkan di meja makan itu dan mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Setelah selesai sarapan Rafiz berjalan keluar dimana tempat biasanya ia menyapa hewan-hewannya sebelum berangkat ke kantor.


Rafiz yang biasanya akan memberi makan hewan-hewannya saat pagi hari, hari ini ia merasa ada yang kurang.


Dalam hati Rafiz sangat kesal dia ingin marah tapi harus marah pada siapa, Semua itu adalah ulah istrinya. Tidak mungkin ia marah kepada Nandira, mereka baru saja menikah bisa-bisa Nandira akan pergi meninggalkannya padahal mereka baru saja bersatu.


Rafiz masuk ke kandang singa nya, biasanya ia akan disambut oleh aungan singanya menyambut kedatangannya, namun kali ini ia disambut dengan suara meong 3 ekor kucing yang menghampirinya.


Rafiz berjongkok dan mengusap bulu kucing tersebut.


Kucing-kucing itu menggosok-gosokkan tubuhnya di kaki Rafiz, terlihat sangat lucu menurut nya.


"Ada apa, apa kalian lapar ?" tanya Rafiz memainkan kucing itu dengan jarinya.


Kucing itu seolah mengerti apa yang di katakan oleh Rafiz, mereka mengeong saat Rafiz selesai berbicara pada mereka.


"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang kalian akan menjadi Singa ku," ucap Rafiz menggendong 1 anak kucing tersebut.


"Pak Karyo," panggil Rafiz,


"Iya Pak?" tanya pak Karyo menghampiri majikannya.


"Makanannya mana?" tanya Rafiz masih menggendong kucing tersebut.


"Sebentar pak," ucap pak Karyo mengambilkan makan untuk kucing itu.


"Ini Pak makanannya," ucap Pak Karyo memberikan keamanan kucing dan tempat makan khusus untuk kucing kepada Rafiz.


Namun Rafiz hanya mengambil makanannya saja, ia memberi makan kucing-kucing itu di telapak tangannya. Ada kesenangan tersendiri saat melihat kucing itu berebut makanan di telapak tangannya, dengan lahap kucing-kucing itu makan di telapak tangannya.


"Pah singanya ga bisa balik lagi ya Pah ke sini??" tanya Zidan menghampiri Papanya dan ikut memberi makan kucing tersebut di telapak tangannya. Melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan Papanya.


"Mama tak mengizinkan kita memelihara nya, Papa tak bisa berbuat apa-apa!" jawab Rafiz.


"Ya Papa, padahal Zidan sudah sangat sayang sama singa nya Pah," lirih Zidan.


"Anggap saja kita sedang memberi makan pada anak singa!" ucap Rafiz tertawa saat melihat ekspresi cemberut Zidan.


"Iya deh, dari pada Mama marah," jawab Zidan pasrah.


"Mau beri makan anak buaya?" canda Rafiz.


"Boleh deh," lirih Zidan.


Mereka kemudian memberi makan kura-kura dan ikan.


Zidan sangat senang saat memberi makan ikan, saat ia melempar makanan ke dalan kolam ikan-ikan tersebut, puluhan ikan berlomba-lomba mengambil makanan yang baru di buang olehnya, sehingga menimbulkan percikkan dan mengenainya.


"Sudah nanti pakaian kamu kotor, Sudah saatnya kita berangkat ke sekolah. Papa juga ada pekerjaan di kantor, nanti kita terlambat" ucap Rafiz kemudian mereka kembali masuk ke dalam rumah, membersihkan tangan mereka dan mulai bersiap untuk berangkat.


Seperti biasa mereka melakukan hal yang sama, Nandira mengantar mereka hingga ke teras rumah dan baru masuk setelah mobil mereka menghilang di balik gerbang.


Melihat mereka sudah pergi Mommy yang sedari tadi memperhatikan mereka baru menghampiri Nandira di teras rumah.


"Bagaimana? Apa Rafiz marah karena kita menyingkirkan hewan-hewan kesayangannya?" tanya Mommy.


"Ya marah lah Mom, tapi awalnya aja sih dia marah Mom, tapi setelah kita bicara dia akhirnya ngalah juga," ucap Nandira.


"Emangnya kamu ngomong apa sama Rafiz sampai dia bisa ngalah seperti itu?" tanya Mommy, setau mommy Rafiz putranya itu orangnya sangat keras. "Sama Mommy sendiri saja terkadang Rafiz susah ngalahnya," ucap Mommy penasaran.


"Aku nyuruh dia milih Mommy, milih hewan-hewan atau milih aku dan anak-anak ," jawab Nandira.


"Yah kalau itu sih tentu saja Rafiz akan memilih kalian. Sebagaimana pun sayangi dia pada hewan-hewannya dia pasti lebih menyayangi kalian dan pastinya memilih kalian," ucap Mommy. Mereka pun masuk ke dalam rumah.


Sementara di dalam mobil Zidan terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengembalikan singa itu ke rumah mereka atau setidaknya bagaimana caranya iya bisa tetap bertemu dengan singa itu.


"Papa ke mana ya kira-kira Mama membawa Singa itu?" tanya Zidan melihat Papanya yang sedang menyetir.


"Mama memindahkan hewan-hewan buas Itu demi kebaikan Kakak juga, Kakak sih suka main-main sama mereka. Kakak kan jadi terluka ,"ucap Syahidah yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


Zidan yang baru menyadari kehadiran adiknya itu di jok belakang mengingat kemampuan yang dimiliki oleh adiknya itu.


Zidan tersenyum melihat Syahidah.


"Kakak kenapa?" tanya Syahidah melihat senyuman penuh arti dari Zidan.


"Kamu tolong cariin alamat di mana mama membawa singa itu ya?!," pinta Zidan.


"Aku nggak bisa," ucap Syahidah menolak permintaan Kakaknya.


"Iya ya, kamu kan bisa meretas. Dan kenapa juga Papa bisa lupa kalau di rumah ada CCTV, kita kan bisa mengeceknya nya disana. ucap Rafiz.


Zidan dan Rafiz melakukan, tos mereka memiliki pemikiran yang sama Walau tanpa berkata apa-apa.


Syahidah mengernyitkan keningnya mencoba mencari tahu apa yang ada dipikiran Papa dan Kakaknya itu.


Mereka sampai ke sekolah, Zidan dan Syahidah turun dari mobil.


"Kalian belajar yang rajin ya. Kalau Papa ga terlalu sibuk nanti Papa yang jemput kalian ," ucap Rafiz.


"Iya Pah," ucap mereka berdua.


Rafiz melajukan mobilnya meninggalkan sekolah dan menuju ke kantornya, ia mengangguk-angguk memikirkan ide yang ada di kepalanya. Begitu juga dengan Zidan senyum terus menghiasi bibirnya, sebuah ide juga sudah ada di benaknya.


Zidan berjalan lebih dulu meninggalkan Syahidah yang masih terus memikirkan apa yang ada dipikiran mereka.


Mereka yang tadinya terlihat sangat kecewa sekarang terlihat begitu senang.


"Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu untuk membawa kembali Singa itu, aku harus mencari tahu apa yang ingin Papa dan zidan lakukan," gumam Syahidah. "Aku harus beritahu Mama hal ini," batin Syahidah.


Syahidah berlari mengejar kakaknya yang sudah jauh meninggalkan nya.


"Zidan, kapan kami boleh kerumah mu lagi?" tanya?" Memet.


"Kapan saja kalian mau datang ke rumahku silahkan!" jawab Zidan.


"Nanti ya, aku ingin melihat singa itu lagi?" ucap Memet antusias,


" Iya boleh, tapi Singa nya sudah di kutuk sama mamaku karena hampir menerkam kita," ucap Zidan.


"Di kutuk," ucap ketiganya bersamaan.


"Iya, semoga saja kutukannya segera berakhir," ucap Zidan dengan raut wajah dibuat seserius mungkin.


Mereka bertiga saling pandang, ingin percaya atau tidak.


"Kamu bohong ya?" tanya Nizam tak percaya.


"Iya, emangnya Mama kamu punya ilmu kutukan?" timpal Riza.


"Kalau kalian ga percaya, nanti lihat aja di rumahku," ucap Zidan menambah bingun ketiga temannya itu.


"Ya udah, pulang sekolah kita main kerumah mu." ucap Memet.


"Iya, kita buktikan apa benar singa itu dikutuk." ucap Nizam.


"Hmm, kita buktikan." kata Zidan mencoba menahan tawanya melihat ekspresi wajah Ketiga sahabat nya itu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 💗


Jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


Love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖