
Pagi hari mereka langsung menuju ke pantai, Syahidah yang semalam merasa kelelahan kembali sehat setelah mendengar jika mereka akan bermain ke pantai.
Dan benar saja, begitu mereka keluar dari hotel Syahidah langsung berlari menuju ke pantai dengan baju renang yang sudah dipakai nya Serta membawa pelampung di pinggangnya.
Begitu juga dengan Rafiz dan Zidan, mereka berjalan ke pantai mengikuti Syahidah.
"Syahidah pelan-pelan saja, jangan ke tengah ombaknya besar," teriak Nandira memperingatkan Syahidah yang sudah jauh mendahului mereka.
"Iya Mama," teriak Syahidah sambil terus berlari ke bibir pantai begitu juga dengan Zidan.
Rafiz mengambil papan surfing dan ikut bergabung dengan anak-anak, sedangkan Nandira hanya berdiri di tepi pantai melihat mereka bermain di pantai sambil memakai topi dan kacamata hitam. Topi yang sangat lebar hingga menutupi wajahnya dari teriknya sinar matahari, sesekali Nandira tertawa saat melihat ketiganya diterpa ombak dan saling tarik-menarik hingga terjatuh.
Mereka terlihat sangat bahagia, Rafiz pun larut dalam tawa anak-anaknya.
Zidan meminta Papanya untuk melatihnya bermain surfing!. Namun Syahidah terus saja mengganggu mereka.
Saat Rafiz mencoba membantu Zidan untuk berdiri di atas papan surfing, Syahidah bergelantungan di punggung Papanya membuat mereka kesulitan dan sering terjatuh
saat ada ombak besar yang menerpa mereka.
Walau Zidan terus memarahi adiknya namun Syahidah tetap melakukannya.
Zidan yang merasa tak akan bisa belajar papan surfing tersebut apabila ia terus diganggu oleh Syahidah memutuskan untuk belajar sendiri dipinggir pantai.
Zidan terus mencoba untuk menyeimbangkan dirinya namun tetap saja Ia gagal.
Zidan membawa papan surfing tersebut ke pantai lalu membuangnya.
Zidan kemudian ikut bergabung bersama dengan Papa dan Syahidah yang sedang berenang dan bermain ombak.
Sita menghampiri Nandira yang terus tertawa menyaksikan keseruan mereka bertiga.
"Coba kau lihat anak-anakmu, mereka begitu bahagia," ucap Sita.
Sita juga sangat bahagia melihat mereka bahagia bersama Papa kandungnya.
Selama ini saat Syahidah terus mengeluh menanyakan siapa Papanya, hati Sita juga ikut sakit mendengarnya. Ia sudah merawat dan menyayangi anak-anak Nandira semenjak masih dalam kandungan.
"Iya Mbak, aku sangat bersyukur anak-anakku bisa bertemu dengan Papanya. Mereka terlihat sangat bahagia," ucap Nandira.
"Apa kamu sudah menemui manager hotel?" tanya Sita.
"Oh iya Mba, aku hampir lupa. Aku belum menemuinya," ucap Nandira.
"Kapan kalian akan kembali?" tanya Sita.
"Kami akan kembali setelah mereka selesai bermain," jawab Nandira.
"Sebaiknya kamu menemui menejer hotel terlebih dahulu sebelum kalian pulang. Dia terlalu banyak membantu mu." ucap Sita.
"Iya Mba, Terima kasih sudah mengingatkan ku aku. Aku hampir saja tak menemuinya sebelum pulang." ucap Nandira.
"Ya sudah, biar Mba temani," ucap Sita.
Nandira berjalan mendekati Bibir pantai dan memberi isyarat kepada Rafiz jika Ia ada urusan dan ingin pergi bersama Sita.
Rafiz hanya mengangkat jempolnya kemudian melambaikan tangan. Syahidah dan Zidan yang lihat Rafiz melambaikan tangan kepada Mamanya juga ikut melambaikan tangan.
Syahidah hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan mereka! kemudian ia dan Sita menemui manajer hotel. tak lupa Nandira juga membawa kartu undangan pernikahan nya.
Begitu Nandira datang, manager hotel tempat Ia bekerja dulu langsung menyambutnya.
"Maaf ya Kak, Aku baru sempat menemui kakak," ucap Nandira pada manajer hotel tersebut.
"Tidak apa-apa, aku ngerti kok!. Kamu pasti sibuk dengan anak-anak dan calon suamimu kan?" tanya manajer itu.
Berita pernikahan Nandira sudah tersebar di Pulau itu, banyak karyawan yang membicarakannya sehingga manajer hotel pun mengetahuinya.
Dan Ia sangat senang saat mengetahui calon suami dari mantan karyawan nya itu adalah Seorang Pebisnis Sukses.
Nandira memberikan kartu undangan tersebut kepada manajer hotel itu "Aku sangat berharap kakak bisa datang menghadiri pesta pernikahan Ku," Ucap Nandira.
Manager hotel itu langsung mengambil kartu undangan tersebut, " tentu, pasti aku akan datang ke acara pernikahan kalian," ucap manager hotel tersebut.
Selain mereka menghadiri dan memberi selamat kepada yang punya acara, mereka juga akan bersilaturahmi dengan para tamu undangan lainnya dan bisa dipastikan tamu undangan yang akan di pesta pernikahan Nandira dan Rafiz adalah dari kalangan pengusaha sukses, dan itu sangat menguntungkan bagi pebisnis sepertinya.
Lama mereka berbincang-bincang di kantor manajer tersebut, hingga ponsel Nandira berdering. Itu adalah panggilan dari Rafiz yang mengabarkan jika mereka telah ada di di kamar hotel.
"Kak aku permisi dulu ya, sepertinya anak-anak sudah selesai bermain di pantai," pamit Nandira.
"Iya, sesekali mampirlah ke pulau ini dan ajak keluargamu yang lain," ucap Manajer hotel.
"Tentu saja kak, kami akan sering datang ke sini Jika ada waktu. Kalau begitu saya permisi dulu! jangan lupa ya Kak untuk datang, Nandira selalu menunggu Kakak," pinta Nandira.
"Iya pasti," ucap manager hotel tersebut.
Sita dan Nandira pun meninggalkan ruangan manager hotel tersebut dan juga menyapa beberapa teman yang pernah bekerja sama dengannya di hotel itu, semua menyambut bahagia kabar tentang pernikahan Nandira.
Nandira juga tak lupa mengundang mereka semua.
"Mba temenin kamu sampai sini aja ya, Mba masih ada kerjaan," ucap Sita.
"Iya Mba, terima kasih ya untuk hari ini."
Mereka pun berpisah, Sita kembali bekerja sedangkan Nandira kembali ke hotel.
Saat kembali ke hotel Nandira tercengang saat membuka pintu kamar. Di dalam kamar tersebut sangat berantakan, pakaian yang ada dalam koper yang sudah dirapikan nya dari semalam kini semua berantakan kembali. Begitu juga dengan bedak Syahidah beterbangan di dalam kamar itu.
"Ya ampun Syahidah Kamu ngapain ?!" ucap Nandira saat melihat isi bedaknya sudah habis.
Zidan dan Syahidah bermain perang bedak, mereka saling melempar bedak hingga bedak itu habis.
Disaat Nandira sedang menasehati kedua anaknya, Rafiz keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Nandira yang tak sengaja melihatnya dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Oh mataku ternoda," batin Nandira melihat perut kotak-kotak Rafiz.
"Rafiz yang bisa melihat jika Nandira kembali merona sengaja mendekatinya.
Merasa jika Rafiz berjalan mendekatinya Nandira dengan cepat berjalan menuju koper mereka, sengaja menyibukkan diri merapikan barang-barang tersebut.
Rafiz duduk di atas kasur dan bermain dengan ponselnya!. Sampai Nandira selesai membereskan semuanya, Rafiz masih duduk di sana.
"Kamu kenapa nggak pakai baju?!" tegur Nandira.
"Ambilkan ya di kamar!" ucap Rafiz.
Seperti seorang istri yang patuh pada suaminya, Nandira langsung ke kamar Rafiz tanpa berbicara sepata kata pun.
Anak-anak sudah tenang dan duduk di balkon kamar hotel sambil memakan cemilan yang telah Nandira telah siapkan.
Nandira masuk ke kamar dan melihat kamar Rafiz sudah rapi. Baju yang sepertinya akan dipakainya pulang juga telah dia siapkan di atas kasur begitu juga dengan kopernya juga ada di sana, sudah siap untuk berangkat.
Nandira dengan cepat mengambil pakaian Rafiz dan terburu-buru ingin memberikan baju itu kepada Rafiz. Namun saat berbalik Ia menabrak Rafiz yang sudah berdiri dibelakangnya.
Nandira yang tak siap langsung terjatuh ke atas kasur dengan posisi terlentang.
Rafiz mengecup kening Nandira dan mengambil pakaian yang ada di tangan Nandira kemudian berdiri! dan dengan santainya Ia memakai pakaiannya di hadapan Nandira.
Nandira yang melihat Rafiz, langsung berlari keluar kamar dengan menggerutu, bisa-bisanya dia memakai pakaian di depannya.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
jangan lupa ya beri dukungan kalian dengan memberi
LIKE VOTE KOMENNYA π
Salam dariku π€
Author m anha β€οΈ
πππππππππππππ