My Papa My Boss

My Papa My Boss
Air Mata Bahagia



Nandira mematung saat Rafiz menyatakan perasaannya kepadanya.


Menyatakan Jika ia ingin menjadi suaminya, menjadi pendampingnya, menjadi ayah dari kedua.


Apakah aku bermimpi, apakah aku akan benar-benar memiliki pendamping, apakah aku akan memiliki teman membesarkan anak-anakku, apakah aku tak akan sendiri lagi.


Akankah aku memiliki seseorang yang menjadi sandaran ku, menjadi pelindungku.


Nandira terus menatap Rafiz butiran air mata perlahan mengalir dari matanya.


Matanya terasa panas, dadanya terasa sesak. Beban yang selama ini ditanggungnya seolah terangkat, sakit yang selama ini ditahan nya seolah hilang, saat mendengar kata-kata dari pria yang berlutut di hadapannya.


Ia sangat ingin mengatakan,


Iya Aku ingin menjadi pendamping mu, Aku ingin kau mendampingiku membesarkan anak-anak kita. Namun lidahnya terasa keluh penderitaan yang selama ini dirasakannya seolah kembali terasa. Ia mengingat semua peristiwa dimana ia berada di titik 0, dititik paling bawah , dititik dimana ia ingin mengakhiri semuanya, di saat ia hanya seorang diri di dunia ini.


Hatinya sesak, hanya air mata yang bisa keluar dari matanya.


Bibir Nandira bergetar lidahnya keluh Iya hanya diam membisu.


Rafiz menghapus air mata Nandira, namun air mata itu terus mengalir.


Rafiz kembali duduk di samping Nandira, menarik wanita lemah itu kedalam pelukannya


Rafiz memeluknya dengan sangat erat, sehingga membuat tangis Nandira pecah.


Nandira menangis sejadi-jadinya, ia bahkan meraung-raung layaknya anak kecil yang ditinggal oleh ibunya.


Nandira mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya.


Bahkan suara tangisnya yang terdengar memilukan itu sampai ke hati Rafiz.


Rafiz bisa merasakan bagaimana penderitaan yang telah Ia buat pada sosok wanita yang ada di dalam dekapannya,


"Apakah sesakit ini wanita ini, apakah sesakit ini luka yang telah aku goreskan padanya. Apa yang harus aku perbuat untuk mengobati lukanya, untuk menghilangkan rasa sakit nya."


Rafiz semakin mempererat pelukannya saat Nandira semakin menambah tangisannya.


Nandira membiarkan kemeja Rafiz basah oleh air mata dan cairan yang keluar dari hidungnya.


Nandira membiarkan semua kesedihannya pergi bersamaan dengan air mata yang jatuh, yang terus keluar dari pelupuk mata indahnya.


Syahidah dan Zidan bahkan terbangun saat mendengar tangis memilukan mamanya.


Mereka sangat menyayangi mamanya.


Zidan dan Syahidah tak bisa menahan air matanya. Melihat wanita yang selama ini menjaganya, wanita yang selama ini mereka lihat sangat tegar ternyata sangat rapuh.


Zidan memeluk Syahidah, mereka saling menguatkan mendengar tangis pilu mamanya. Ada rasa senang di hati mereka melihat kedua orang tuanya saling berpelukan, namun rasa sedih mendengar tangis memilukan mamanya lebih menyakitkan hati mereka.


"Mama," ucap Syahidah bergetar.


Mereka duduk di tangga bagian atas. Mereka terdiam disana, mereka tak ingin mengganggu kedua orangtua mereka.


Mereka terus duduk di sana hingga tangis mamanya mulai mereda walau masih terisak.


Nandira masih berada di pelukan Rafiz.


Zidan dan Syahidah berjalan turun menghampiri mereka dan ikut memeluk mereka.


Nandira melepas pelukannya dari Rafiz melihat kedua anaknya yang juga berlinang air mata.


Nandira mencoba tersenyum namun ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya pada kedua anaknya itu. Ia menghapus air mata Zidan dan Syahidah lalu memeluk mereka.


Tangisnya kembali pecah, Rafiz pun ikut memeluk Nandira dan putra-putrinya.


"Maafkan Papa ya, Papa sudah membuat kalian menderita. Kalian mau kan maafkan Papa?"ucap Rafiz yang masih memeluk mereka, mengusap punggung mereka.


Nandira melepas pelukannya begitu juga dengan kedua anaknya, mereka menetap Rafiz.


Syahidah langsung memeluk Papanya,


"Papa, Syahidah sayang Papa, Syahidah Putri kandung Papa, Syahidah ingin tinggal sama Papa. Papa mau ya tinggal sama kami!" pinta Syahidah di sela-sela Isak tangisnya.


"Tentu saja, Papa tidak akan meninggalkan kalian,Papa akan selalu menjaga kalian, akan selalu bersama dengan kalian," ucap Rafiz.


Rafiz yang sangat tegar pun tak bisa menahan air matanya, melihat air mata yang tumpah dari ketika orang yang sangat Iya cintai.


Rafiz menghapus air mata anak-anaknya.


"Kalian mau kan memaafkan Papa," ucap Rafiz mencoba tersenyum.


"Iya Pah," jawab keduanya membalas senyuman Papanya dan kembali memeluk Papa mereka.


Nandira menghapus air matanya dan tersenyum melihat putra-putrinya berada di dekapan sosok Papa yang selama ini mereka rindukan.


"Sudah ya, sekarang kita tidur ini sudah lewat tengah malam," ucap Nandira yang baru menyadari jika saat ini jam sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam.


Keduanya mengangguk dan menghapus air mata mereka yang masih menetes.


Mereka pun berjalan ke lantai atas


"Kita tidur di kamar mama ya," ucap Syahidah.


Kamar Mama nya memang yang paling besar dari kamar mereka.


"Tentu saja," ucap Rafiz.


Nandira baru saja akan menolak Tapi Rafiz lebih dulu menyetujui permintaan anaknya itu.


Mereka pun masuk ke dalam kamar Nandira.


Zidan dan Syahidah berada di tengah sedangkan Nandira dan Rafiz berada di kedua sisi mereka.


Tak butuh waktu lama kedua anak itu sudah tertidur, Syahidah tidur dengan memeluk Papanya sedangkan Zidan tidur memeluk mamanya.


Nandira melihat Rafiz yang sejak tadi menatapnya,


"Ada apa?!" tanya Nandira,


"Tak apa-apa, tidurlah!," ucap Rafiz.


"Keluarlah !" ucap Nandira,


"Apa?!"


"Ini kamarku,"


"Bisakah Malam ini kita tidur berempat,"


Nandira bangun dari tidur nya,


"Kau yang keluar atau aku yang akan keluar, kamar anak-anak ada dua yang kosong?!"


Rafiz menyingkirkan tangan Syahidah yang memeluknya dan mencoba turun dari tempat tidur secara perlahan, ia takut akan membangunkan Syahidah.


"Kau tidurlah bersama mereka, Aku akan tidur di kamar Zidan,"


Nandira mengangguk,


Rafiz berjalan pelan ke arah pintu dan memegang gagang pintu, ia kembali berbalik menatap Nandira,


"Apa kau yakin menyuruhku keluar?!" tanya Rafiz.


Nandira mengangguk,


Rafiz kembali berbalik memutar gagang pintu dan membuka pintu, berhenti dan berbalik,


"Tak bisakah aku tidur di sini bersama kalian ?!" tanya Rafiz melihat Nandira,


Nandira menggeleng,


"Oke baiklah," ucap Rafiz keluar dan menutup pintu.


Nandira baru akan berjalan untuk tidur di samping Syahidah, pintu kamar kembali terbuka,


"Apa Kau benar-benar Tak ingin ditemani oleh ku, Bagaimana kalau anak-anak bangun dan mencariku ," ucap Rafiz memasukkan kepalanya di kamar dan melihat Nandira dengan tatapan memohon...


Nandira berjalan menuju Rafiz, tidurlah bersama kami setelah kau menghalalkan ku," ucap Nandira kemudian menutup pintu, memutar kuncinya agar Rafiz tak masuk lagi.


Nandira bersandar di daun pintu ia menggigit bibirnya, ia merasa malu sendiri saat mengatakan kata menghalalkannya. Wajahnya sampai memerah mengingat kata-kata itu.


Rafiz tersenyum dibalik pintu dan berjalan ke kamar Zidan dengan senyum yang terus terbit di bibirnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


🥰🥰🥰😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍


LIKE VOTE KOMENNYA 🙏


Author m anha.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️