
Mereka memulai aktivitas mereka masing-masing, anak-anak pergi ke sekolah sedangkan Rafiz dan Nandira pergi ke kantor.
Daddy dan Mommy kembali ke rutinitas mereka. Daddy kembali ke ruang bacanya sedangkan mommy yang menjadikan memasak adalah hobinya, terus berada di dapur saat anak-anak ke sekolah. Menciptakan resep baru untuk keluarganya.
Setiap pagi Rafiz akan mengantar anak-anak ke sekolah kemudian mengantar Nandira ke kantornya. Sebelum turun Rafiz kembali mengingatkan Nandira agar menunggunya saat pulang. Jika ia sendiri tak bisa menjemput Nandira, Rafiz akan menyuruh supir kantor untuk menjemputnya.
"Iya, kali ini aku tak akan lupa," ucap Nandira Sebelum turun dan memberikan kecupan di pipi suaminya. Rafiz terus melihat Nandira berjalan hingga memasuki kantornya kemudian barulah ia sendiri melajukan mobilnya ke kantornya.
Hari-hari terus berlalu, mereka menjalani hari-hari dengan sangat bahagia. Nandira juga sudah sedikit melonggarkan peraturannya mengenai Singa itu, anak-anak bahkan mengundang teman-teman mereka untuk melihat singa yang ada di halamannya, walau hanya dari balik kandang.
Rafiz sudah mengizinkan Nandira untuk kembali bekerja dengan catatan ialah yang mengantar dan menjemput dirinya.
Kehidupan rumah tangga mereka semakin penuh warna, perasaan cinta keduanya semakin dalam. Anak-anak juga semakin bahagia, bisa memiliki keluarga yang utuh memiliki kedua orang tua, kakek dan nenek yang begitu menyayangi mereka.
Tak terasa 2 bulan kini telah berlalu. kehidupan mereka terus diwarnai kebahagiaan dan kebersamaan.
Pagi ini setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Nandira mengajak Rafiz untuk singgah di sebuah Kafe yang tak jauh dari kantor nya.
"Ada apa? kau ingin mengatakan sesuatu?"tanya Rafiz, tak biasanya Nandira mengajaknya berduaan seperti ini. Biasanya kemanapun ia pergi ia tak ingin meninggalkan Zidan dan Syahidah.
"Apa kau tak ingin berduaan dengan ku?" tanya Nandira menatap kesal pada Rafiz.
Rafiz tertawa, hingga beberapa pengunjung kafe melihat ke arah mereka. "Bukan seperti itu Sayang, tumben aja kamu ngajak aku pacaran kaya gini," goda Rafiz.
"Aku mengajak Mas kesini bukan untuk pacaran, tetapi aku ingin berdiskusi mengani ulangtahun anak-anak," ucap Nandira.
Rafiz yang tadi masih tertawa menggoda Nandira beralih serius mendengarkan Nandira mengucapkan kata ulang tahun.
"Ulang tahun mereka? kapan?" tanya Rafiz memastikan.
Nandira menatap Rafiz tajam, "Walau kau tak ada saat aku melahirkan mereka, setidaknya kau mencari tahu kapan mereka lahir kedunia ini," ucap Nandira.
"Jangan bilang kau juga tak tau berapa usia mereka sekarang," gumam Nandira sangat pelan, Rafiz nyaris tak mendengar apa yang Nandira ucapkan.
"Aku taulah usia mereka, ini ulang tahun mereka yang ke 9 kan?!" ucap Rafiz.
"Iya, mereka ulang tahun Hari ini," ucap Nandira.
"Apa kau punya rencana?" tanya Rafiz.
Nandira baru akan menjawab pelan Kafe membawakan pesanan mereka
"Makasih Mbak," ucap Nandira.
"Aku belum punya rancana sedikit pun, Zidan biasa tak terlalu menghiraukan ulang tahunnya. Berbeda dengan Syahidah, Ian akan ngambek jika tidak dirayakan. Walau pun hanya secara sederhana, Kue dan lilin serta kado sudah cukup baginya." ucap Nandira.
"Apa ada, keinginan Syahidah yang belum bisa kamu penuhi selama ini?" tanya Rafiz.
"Walau aku membesarkan mereka seorang diri dengan kondisi perekonomian ku saat itu, aku mampu memenuhi semua keinginan mereka," Nandira menghela nafasnya. "Waktu itu keinginan tersulit yang tak bisa aku berikan hanya saat usia mereka memasuki 5 tahun, mereka selalu menanyakan dirimu," ucap Nandira menatap Rafiz dengan mata berkaca-kaca.
"Jika aku bisa mengulang waktu, aku tak akan pernah meninggalkan kalian sedetikpun," ucap Rafiz mengecup punggung tangan Nandira.
Nandira menghapus kasar air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Kita kesini untuk membahas apa yang akan kita berikan pada mereka, bukan untuk berkencan atau membahas masa lalu," ucap Nandira mencoba tersenyum mengusir rasa sesak di dadanya.
"Kau tak usah memikirkan nya, aku yang akan memikirkan kejutan untuknya," ucap Rafiz.
"Apa kau sudah punya rencana?" tanya Nandira.
"Jauh hari?" tanya Nandira tak mengerti apa yang di maksud Rafiz.
Rafiz meminum kopinya dan mencicipi apa yang di pesan Nandira
"Rasanya enak, apa kau bisa membuat seperti ini?" tanya Rafiz sengaja membuat Nandira menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan.
"Tentu saja, aku bahkan bisa membuat yang lebih enak dari ini," Ucap Nandira ikut mencoba nya.
"Lalu kenapa kau tak pernah membuatkannya untukku?" goda Rafiz.
"Aku akan membuatkan mu saat kita sudah ada di rumah. Apa kau sudah membuat pesta untuk anak-anak? apa kau tau hari ulang tahun mereka?" tanya Nandira mengambil kue yang ada di hadapannya Rafiz.
"Tentu saja, tahun lalu kami juga merayakannya bersama-sama," ucap Rafiz melihat kearah Nandira.
"Maksud, Mu?" tanya Nandira.
Rafiz lagi-lagi menggantung pertanyaan Nandira, ia kembali mengambil kue yang ada di hadapan Nandira.
Nandira benar-benar gemes melihat tingkah suaminya hari ini, Nandira tau jika Rafiz tak suka kue seperti ini, ia tak suka memakan makanan yang terlalu manis.
Nandira menatap kesal pada Rafiz.
"Tahun lalu aku bertemu Syahidah dan Zidan saat ulang tahun mereka. Itulah untuk yang pertama kalinya dan kami bertemu langsung dan merayakan ulangtahun mereka bersama-sama.
Rafiz menceritakan Semua yang ia lakukan bersama Syahidah tahun lalu, menceritakan bagi anak-anak menipunya dengan mengatakan Syahidah adalah pencipta Secret Partner dan saat itu ia percaya.
Hari ini mereka membatalkan semua janjinya dan mengobrol di kafe ini layaknya sepasang kekasih yang sedang berpacaran sambil menunggu jam pulang sekolah anak-anak mereka.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang mengambil beberapa foto mereka dan mengirim nya pada seseorang.
Penerima Pasan itu mengepal tangannya. "Kau sudah menghancurkan kebahagiaanku, aku tak akan membiarkan kau bahagia," geram pria itu.
"Berikan perintah kami akan melakukannya," ucap seseorang yang selalu setia mendampingi nya.
"Tentu saja, tapi tidak untuk sekarang. Biarkan saja mereka bahagia untuk saat ini, aku ingin melihat Rafiz jatuh lebih dulu. Untuk saat ini awasi saja mereka dan awasi juga anak-anak mereka. Sepertinya mereka bukanlah anak-anak biasa, salah satu dari mereka adalah pencipta Secret Partner. Aku ingin tau apa yang lainnya mempunyai kemampuan. Bukan mereka kabar, tak menutup kemungkinan salah satunya juga memiliki kemampuan yang sama," ucapnya sambil melihat beberapa foto Zidan dan Syahidah.
"Keluarlah, aku ingin sendiri." ucap pria itu kemudian ia mengambil sebuah foto dari dalam laci meja kerjanya.
"Andai saja waktu itu kau mau bersabar di sampingku, mungkin kita berdua bisa bahagia. Kita bisa hidup bersama dan memiliki keluarga yang bahagia seperti mereka. Jazlyn nikmatilah keserakahan mu seorang diri, sejauh apapun kau terbang kau akhirnya kembali juga ke sarang mu." ucapnya membakar foto dirinya yang sedang memeluk Jazlyn.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Terus dukung ya perjalanan cinta Rafiz dan Nandira dan perjalanan Si Genius Zidan dan Syahidah.
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
Love you all 💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖