
Lampu dimatikan, semua gelap gulita.
"Ada apa ini, kenapa ini," semua itu ada dibenak mereka para tamu undangan.
Tak lama kemudian lampu kembali menyala namun hanya menerangi bagian panggung, dimana Nandira dan Rafiz berdiri.
Panggung itu sudah berubah menjadi sangat cantik, sangat indah dan hanya tinggal mereka berdua.
Nandira terlihat bingung, panggung itu tiba-tiba berubah sangat cantik jauh berbeda dari yang tadi.
"Kemana anak-anak, kemana mommy dan Daddy," batinnya.
Tak lama kemudian terdengar suara musik, Rafiz mengulurkan tangannya pada Nandira.
"Boleh Aku berdansa denganmu," ucap Rafiz.
Nandira yang terbawa suasana langsung menyambut uluran tangan Rafiz.
Rafiz menarik tangan Nandira agar menghadap dengannya.
Mereka pun menari mengikuti irama, mereka terus saling menatap larut dalam setiap gerakan tarian mereka. Melihat cinta di mata mereka.
Rafiz memeluk erat pinggang Nandira.
Semua yang ada di sana terdiam menyaksikan pemandangan yang begitu indah di atas panggung.
Musik berhenti, Nandira langsung melepas Pelukannya dan sedikit menjauh dari Rafiz.
Jantungnya benar-benar sudah tak bisa di kondisi kan lagi.
Serasa jantungnya ingin melompat keluar saking kencangnya debaran yang ia rasakan.
Bukan hanya Nandira yang meresa debaran yang sama, Rafiz juga merasakannya.
Jantung nya berdetak kencang, saat ia begitu dekat dengan wanita pujaan hatinya.
Mereka bisa saling mendengar debaran jantung masing-masing, Nandira salah tingkah saat Rafiz terus menatap nya penuh kekaguman.
Wajahnya sudah terasa panas dibuatnya.
Kemudian Rafiz mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan ia berlutut dihadapan Nandira .
"Nandira Will you marry me," ucap Rafiz.
Suara Rafiz terdengar sangat jelas di ruangan itu,,, Ruangan gelap dan sunyi. Seakan hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
Nandira berkaca-kaca mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria yang sedang berlutut di hadapannya, ia tak bisa melihat apa-apa selain Rafiz .
Semua gelap gulita, hanya panggung itu yang terang dan suara musik yang menyentuh hingga ke relung hati yang mendengar nya.
Musik terdengar mengiringi Rafiz yang berlutut sambil mengarahkan sebuah cincin yang sangat indah pada Nandira.
Nandira membekap mulutnya, ia tak menyangka jika malam ini Rafiz benar-benar melamarnya.
Nandira yang terbawa suasana mengangguk pelan sambil terus membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Semua tersenyum dan terharu di balik gelapnya ruang itu.
Tak ada suara sedikitpun.
Rafiz berdiri dan menarik tangan Nandira, memakaikannya cincin di jari manisnya, terlihat sangat cantik dan pas di jarinya.
Rafiz mencium jari-jari tangan Nandira yang sudah dihiasi cincin yang sangat Cantik.
"Terima kasih sudah menerima lamaran ku, aku janji akan membahagiakan mu dan anak-anak, menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangga kita," ucap Rafiz menatap penuh keyakinan pada Nandira.
Nandira hanya bisa mengangguk, Ia masih menutup mulutnya dengan satu tangan nya, air matanya sudah menetes, Air mata kebahagiaan.
Rafiz menarik Nandira pelukannya.
Lampu kembali menyala, barulah tepukan tangan memenuhi ruangan itu memberi selamat atas bersatunya mereka.
Kamera masih menyorot mereka, aksi lamaran tadi disaksikan oleh jutaan penggemar Secret Partner yang menyaksikan acara peluncuran tersebut.
semua ikut bahagia melihat dua insan yang Sedang bahagia itu, namun tidak dengan seseorang yang sedang menyaksikan acara peluncuran dan pertunangan itu di negara lain.
Ia melempar gelas ke dinding hingga hancur lebur tak berbentuk lagi.
"Kurang ajar, Aku tak rela kau bahagia. Aku akan membuat hidupmu menderita selamanya," ucapnya mengepal tangannya.
Sementara diantara para tamu yang ikut bahagia menyaksikan keromantisan lamaran Rafiz dan Nandira,
"Anak-anak Rafiz, Jadi Meraka sudah berhubungan sejak lama," batin Riko baru menyadari jika wajah Zidan sangat mirip dengan Rafiz dan tadi ia mendengar anak Nandira itu memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Apa Nandira dulu meninggalkannya memang karena Rafiz," batin Riko mengepal tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.
Jazlyn juga sangat kesal, nafasnya memburu, "Aku tak akan membiarkan kalian bersatu dan bahagia," batin Jazlyn melihat Rafiz, dan Nandira yang terlihat sangat bahagia bersama kedua anak mereka.
Mommy dan Daddy juga terlihat begitu bahagia di atas panggung bersama mereka.
Rafiz sangat senang Nandira menerima lamarannya, gitu juga Nandira.
Nandira bisa membayangkan kebahagian rumah tangga yang akan ia bangun bersama pria yang telah mengenakan cincin kepadanya.
Telah memberinya anak-anak yang cantik dan tampan serta genius.
Mommy meneteskan air mata haru melihat anak nya sebentar lagi akan menikah.
Kembali memiliki rumah tangga yang bahagia, ia berharap pernikahannya kali ini adalah pernikahan yang terakhir dan bisa bahagia selamanya.
Zidan dan Syahidah juga sangat senang, kini Papa dan Mama mereka sudah bersatu..
Semua larut dalam pesta malam ini mereka menyaksikan ketegangan dan adegan penuh cinta.
Nandira dan Rafiz ikut bergabung dengan para tamu, beberapa kolega bisnis Rafiz menghampiri mereka dan memberi selamat .
Rafiz meminta Nandira untuk menggandeng tangannya, mereka berkeliling menyapa para tamu.
"Aku ke belakang dulu ya," ucap Nandira.
Nandira yang merasa sangat gugup tiba-tiba ingin buang air kecil, Ia pun berjalan menjauhi tempat diadakannya acara tersebut mencari kamar mandi.
Tanpa ia sadari ada yang mengikutinya.
Nandira tak tau di mana Kamar mandi,,, ia terus berjalan hingga ia bertemu salah satu karyawan yang kebetulan lewat.
Karyawan itu pun menunjuk ke arah dimana ada kamar mandi.
"Terima kasih," ucapan Nandira setelah melihat kamar mandi yang ditunjuk oleh karyawan tersebut. Nandira segera pergi ke kamar mandi, ia sudah tak tahan lagi.
Setelah selesai, Nandira mencuci tangannya namun Shireen tiba-tiba masuk.
Menarik tangan Nandira yang memakai cincin dan melihatnya,"
"Selamat ya atas pertunangan mu, ternyata dugaanku benar, kau adalah simpanannya kan," ucap Shireen melihat cincin yang melingkar di jari manis Nandira.
Nandira menarik tangannya,
"Terima kasih, tapi aku bukanlah simpan,"
"Bukan simpanan, lalu apa?, wanita bayangan?," tanya Shireen tertawa.
Nandira tak ingin meladeni Ocehan Shireen, ia ingin keluar dari kamar mandi itu, namun Shireen terus menghalanginya.
"Kenapa harus terburu-buru banget sih,"
"Maaf Shireen, aku harus kembali ke pesta ,"
"Ayolah, Apa kau tak kangen denganku. Kita ini adalah saudara,"Ucap Shireen menarik tangan Nandira yang ingin keluar.
"Aku tak ingin berbicara denganmu," ucap Nandira berlalu keluar dari kamar mandi.
Nandira Baru beberapa langkah meninggalkan kamar mandi seseorang membekap mulutnya dan menyeretnya dari sana.
Shireen yang melihat kejadian itu dengan cepat mengikuti dimana orang itu membawa Nandira.
ππππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
semoga menghibur βΊοΈ
jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi LIKE VOTE KOMENNYA πππ
Salam dariku
Author m anha β€οΈβ€οΈ
πππππππππππππππ