My Papa My Boss

My Papa My Boss
Amarah Rafiz



Nandira menjatuhkan semua perhiasan yang ia kenakan. Berhadap ada yang akan melihat dan membebaskannya dari orang yang sedang membekapnya.


Ia yakin orang yang membekap mulutnya dan menyeretnya ini adalah orang yang berniat jahat padanya.Dari cara ia membawa secara kasar dirinya.


"Mereka pasti adalah orang-orang suruhan Shireen untuk menyakitiku," batin Nandira.


Pria itu terus menyeret Nandira jauh dari tempat nya tadi. Walau berusaha memberontak namun kekuatan Nandira tak sebanding dengan kekuatan orang tersebut, orang itu bahkan tak segan mencengkram erat lengan Nandira.


Nandira sangat terkejut saat melihat orang yang menyeret nya ternyata adalah Riko, mantan tunangannya.


Riko menatap dirinya dengan penuh kebencian membuat Nandira menjadi ketakutan. Riko kemudian meluapkan semua kekesalannya yang sedari tadi di tahannya.


"Rafiz di mana kamu tolong aku," batin Nandira menjerit memanggil pria yang baru saja memasangkan cincin di jari manisnya dan berjanji akan selalu menjaganya.


Rafiz terus mengikuti kemana perhiasan itu membawanya, perhiasan itu tersebar di sepanjang jalan. Anting, kalung gelang, bahkan jepitan telah ia temukan namun ia tak melihat sosok Nandira di manapun.


Rafiz terus mencari dan meneriakkan namanya


"Nandira, Nandira di mana kau, Apa kau mendengar ku," teriakan Rafiz terus berlari membuka pintu satu persatu ruangan yang ada di sana. Namun ia tak mendapati Nandira.


"Nandira dimana kau," Gumam Rafiz yang merasa frustasi. Iya yakin Nandira saat ini sedang dalam bahaya, Nandira tak akan mungkin menjatuhkan perhiasannya begitu saja, semua ini pasti sebagai petunjuk jika ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Rafis menelpon Miran dan memintanya untuk mencari Nandira dengan segera.


Miran yang mendapat kabar jika tunangan bosnya itu menghilang memanggil semua orang nya dan meninta membantu mencari tunangan bosnya itu, dengan segera.


keamanan sudah dikerahkan untuk mencari Nandira, mereka melakukan pencarian tanpa mengganggu jalannya acara yang sedang berlangsung.


"Bukankah itu anak dari paman Nandira yang telah membunuh orang tua Nandira," ucap Rafiz saat menangkap sosok Shireen yang mengendap-ngendap dan berlari dari arah belakang.


Rafiz dengan cepat berlari menuju ke belakang gudang perkantoran itu. Gudang adalah tujuan utamanya, Iya yakin Nandira ada disana. Tempat itu sangat terpencil dan jauh dari keramaian jika ingin melakukan kejahatan tempat itu adalah tempat teraman, pikir Rafiz dan pastinya siapapun yang berniat jahat pasti akan membawa nya kesana.


Diluar gerbang banyak keamanan yang berjaga, mereka tak akan bisa membawa Nandira keluar dari halaman kantor..


Dan benar saja Saat memasuki gudang itu, sayup-sayup Rafiz mendengar suara teriakan, Rafiz dengan cepat mencari sumber suara tersebut.


Semakin dekat dan semakin mendekat suara itu terdengar. Rafiz bisa mengenali Jika suara itu adalah suara Nandira yang menjerit minta tolong sambil menangis.


Rafiz berlari sekencang mungkin menuju titik sumber suara.


"Hay kau," teriak Rafiz saat melihat seseorang berusaha melecehkan tunangannya itu.


Rafiz langsung berlari dan menarik pria yang sedang berusaha menyentuh Nandira dan memberikan hantaman keras di rahang pria tersebut.


Mereka terlibat perkelahian, Rafiz yang telah dikuasai amarah dan emosi saat melihat kondisi Nandira saat ini, ia terus memukul Riko hingga tak sadarkan diri.


Hiks, hiks, hiks Nandira menangis sambil menutupi dadanya yang nyaris tak tertutupi lagi.


Rafiz melepas jasnya dan memakaikannya kepada Nandira.


"Kau tak apa kan?, tenanglah kau sudah aman sekarang, aku ada di sini," ucap Rafiz membawa Nandira ke pelukannya. Nandira hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rafiz sambil terus menangis.


Nandira terlihat sangat lemah dan tubuhnya juga masih bergetar karena ketakutan.


Pipi Nandira membiru karena pukulan Riko saat Nandira terus berusaha melakukan perlawanan saat Riko ingin menikmati tubuh nya.


Ia juga mengalami beberapa luka lebam bagian tubuhnya yang lain .


Rafiz sangat marah melihat semua itu, melihat kondisi Nandira yang penuh luka pukulan dan pakaian yang sudah tak berbentuk lagi.


Miran baru datang bersama dengan beberapa orang anak buahnya, mereka terkejut saat melihat kondisi pria yang tergeletak di lantai, yang sudah tak sadarkan diri itu. Mereka tak tau orang tersebut masih hidup atau sudah tiada melihat kondisinya.


"Apakah ini yang kau sebut sudah menyiapkan semuanya dengan baik," Ucap Rafiz sambil memberikan tinjunya pada Miran, tak ada yang berani menghentikan Apa yang dilakukan oleh Rafiz, Saat Miran sendiri tak berusaha melakukan perlawanan dan menerima setiap pukulan bosnya itu.


"Aku menyuruhmu mengawasi tempat ini, apa saja yang kalian lakukan sehingga kejadian ini bisa terjadi.," Rafis menatap puluhan anak buah Miran yang bertugas mengawasi keamanan acara tersebut.


"Apa yang kalian kerjakan ha',, aku membayar kalian tak hanya berdiri menyaksikan acara tapi mengamankan siapa saja yang hadir di acara ini termasuk dengan Tunanganku, lihat apa yang ia alami, untung saja aku cepat datang menyelamatkan nya, jika tidak kalian tak akan bisa menghirup udara lagi," ucap Rafiz berapi-api.


"Rafiz,,," panggil Nandira dengan suara yang sangat pelan,


Rafiz mendekati Nandira,


"Ada apa, katakan?!" tanya Rafiz membenahi jas yang di pakai Nandira.


"Bawa aku pergi dari sini, aku tak ingin anak-anak melihat kondisiku seperti ini, aku mohon," lirih Nandira sesegukan.


"Kau urus orang ini, kali ini jangan mengecewakanku," ucapnya menatap Miran tajam.


Miran hanya mengangguk membiarkan darah segar menetes dari hidung dan sudut bibirnya akibat pukulan Rafiz.


Miran menerima semua karena ini memang adalah kesalahannya.


Miran bisa melihat ketakutan di wajah tunangan bosnya itu.


Rafiz mengangkat tubuh Nandira, merapikan jas yang di pakainya agar bisa menutupi bagian depannya.


Nandira menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan luka lebam di dada bidang Rafiz.


"Pastikan tak ada yang melihat kami keluar dari sini," ucap Rafis pada beberapa anak buah Miran yang ada di dekatnya.


"Baik pak," jawab kedua orang itu kemudian keluar lebih dulu.


Mereka pun mengamankan jalan ke pintu belakang agar tak ada orang yang melihatnya. Mereka berhasil sampai ke mobil tanpa ada yang lihat mereka.


Nandira masih sesenggukan saat Rafiz mendudukkannya di dalam mobil. Mereka pergi meninggalkan gedung perkantoran di mana tempat acara itu berlangsung.


"Bagaimana dengan anak-anak,?"


"Biar Daddy yang mengurus mereka.,"Jawab Rafiz melajukan mobilnya.


"Apa dia Riko mantan tunangan mu?" tanya Rafiz saat dalam perjalanan, melihat sekilas Nandira yang terus menatap keluar jendela, kejadian tadi masih terbayang di benaknya.


"Iya dia adalah Riko, ia berpikir aku meninggalkannya waktu itu karena aku pergi bersamamu,"Lirih Nandira.


Rafiz mencengkram setir mobilnya, meluapkan emosi yang masih memuncak di dadanya.


Selepas Rafiz pergi, Miran langsung menyeret Riko ke mobilnya, tak ada yang tau Miran membawanya Riko ke mana.


💖💖💖💖💖💖🙏🙏🙏🙏💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Mohon dukungannya ya dengan memberi


LIKE VOTE KOMENNYA ❤️


Salam dariku


Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖