My Papa My Boss

My Papa My Boss
Terluka.



Dor ... dor ... dor …


 3 suara tembakan nyaring terdengar di udara, semua orang yang ada di rumah penyekapan itu berlarian ke luar mencari sumber suara tembakan.


Mereka melihat Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman mereka.


Dor ... satu tembakan dari anak buah Rafiz mampu melumpuhkan mereka. Satu tembakan pas mengenai ban mobil para pelaku, membuat mobil itu terguling-guling dan membentur pembatas jalan.


Mereka dengan cepat menghampiri mobil tersebut. Namun, 2 orang yang ada di dalam mobil sudah tewas bersimbah darah.


"Bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.


"Sepertinya mereka sudah meninggal," jawab seseorang yang mencoba memeriksa mereka.


"Urus mereka, jangan sampai membuat masalah baru," perintah pimpinan mereka.


"Baik bos,"


"Rafiz," ucap mereka bersamaan. Dengan cepat mereka berlari kembali ke rumah penyakapan dan yang lainnya memberaskan kekacauan yang terjadi.


"Cepat lihat, siapa yang terluka."


Mereka berlari kembali ke rumah dan langsung menuju ke ruangan Rafiz.


Begitu membuka pintu, mereka melihat tiga orang yang ada di dalam ruangan sudah bersimbah darah, dengan cepat mereka memeriksa nadi ketiganya. Beruntung Rafiz masih hidup, Rafiz langsung dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak dengan kedua orang yang disekap tadi, penembak jitu menembak pas di kepala mereka sehingga mereka, langsung tewas di tempat, sedang Rafiz tertembak di bagian perutnya.


Nandira begitu panik saat mendengar jika Rafiz tertembak. Dengan cepat Daddy, mommy dan Nandira menuju ke rumah sakit sedangkan Syahidah dan Zidan masih sibuk di kamar mencari informasi sejelas-jelasnya mengenai siapa sebenarnya, musuh mereka.


"Bi, tolong jaga anak-anak, ya! Kami akan ke rumah sakit," ucap Nandira  menitipkan anak-anaknya kepada asisten rumah tangga.


Begitu mereka akan keluar lagi-lagi Nandira memanggil Pak Karyo dan menitipkan anak-anaknya.


"Ya, Bu. Tenang saja, saya akan menjaga anak-anak," ucap Pak Karyo.


Nandira pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


"Kenapa Rafiz bisa tertembak?" ucap mommy merasa khawatir.


"Nandira juga nggak tahu, Mom. Tapi menurut Rafiz belakangan ini memang ada orang yang selalu mengikuti kami, itulah sebabnya mereka tak membiarkan anak-anak keluar dari rumah," jelas Nandira.


"Siapa mereka sebenarnya?  Mengapa mereka mengikuti kalian?" tanya mommy.


"Rafiz juga baru mencari tahu apa alasan mereka terus membuntuti kami,"


"Apa ini ada sangkut-pautnya dengan kekacauan yang terjadinya di perusahaan beberapa bulan yang lalu?" tanya Daddy.


"Mungkin saja Daqccd," ucap Nandira mencoba tetap fokus menyetir mobilnya.


Begitu sampai di rumah sakit mereka semua langsung menuju ke ruang operasi, mereka menunggu dengan gelisah.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa Rafis bisa tertembak?" tanya Daddy pada orang yang membawa Rafiz ke rumah sakit.


Kedua orang yang ditanya hanya diam dan menunduk, mereka tidak ingin ikut campur terlalu dalam. Mereka hanya tau Rafiz  menyuruh untuk menggali informasi dari para penjahat yang mereka sekap…


Disaat Nandira, mommy, dan Daddy menunggu dengan cemas di depan ruang operasi, kegaduhan juga terjadi di kediaman Rafiz.


Perkelahian terjadi di luar gerbang, membuat Pak Karyo menjadi khawatir dan langsung menutup pintu gerbang begitu juga dengan pintu rumah.


Zidan dan Syahidah berlari turun ke bawah menghampiri Pak Karyo dan bibi yang bekerja di sana.


"Ada apa Pak Karyo?" tanya Syahidah memegang tangan Pak Karyo dengan gemetar.


"Bapak juga tidak tahu, tapi sepertinya ada perkelahian di luar," ucap Pak Karyo yang sedari tadi mengintip dari balik jendela.


"Papa sama mama mana?  Nenek dan kakek juga nggak ada di rumah ya, Pak?" tanya Syahidah.


"Tadi mereka keluar, mereka hanya menitipkan kalian pada bapak."


Zidan dengan cepat mengambil ponsel lalu nelpon mamanya.


"Mah, di luar rumah ada perkelahian. Kami sangat takut, Mama dan Papa dimana?"  tanya Zidan saat mendengar suara mamanya dari balik telepon.


"Apa … perkelahian," Pekik Nandira.


"Dad, bagaimana ini. Sepertinya mereka juga menyerang rumah kita, anak-anak ada di rumah," ucap Nandira merasa sangat khawatir.


Nandira tak bisa membendung air matanya, ia sangat ketakutan, takut apabila sesuatu yang buruk akan menimpa anak-anak nya, air matanya sudah menetes dengan dan tangannya bergetar.


Mendengar apa yang dikatakan istri Bosnya, mereka berdua langsung menghubungi teman-teman mereka untuk membantu para penjaga yang ada di kediaman Rafiz. Beberapa dari mereka masih tetap berjaga di rumah sakit dan yang lainnya langsung bergegas menuju kediaman Rafiz termasuk Nandira.


Penjagaan di rumah di kediaman Rafiz sedikit terpecah dengan adanya kejadian penembakan Rafiz di rumah penyekapan. Sepertinya mereka sengaja dan sudah merencanakan penyerangan di kediaman itu. 


Mereka berhasil mengalahkan penjaga yang ada diluar. Mereka dengan cepat merusak pintu gerbang dan masuk.


Zidan yang melihat semua itu langsung menarik Syahidah untuk mencoba keluar dari rumah lewat Pintu belakang diikuti oleh bibi dan pak Karyo.


"Bagaimana ini, kita harus pergi kemana?" ucap bibi panik.


"Mereka juga menjaga pintu belakang, Pak," ucap Zidan melihat dua orang terlihat duduk di kap depan mobilnya di depan pintu belakang.


"Kita tidak punya jalan lain selain 2 pintu itu. Namun, mereka pasti bisa melihat kita jika kita lewat di sana," ucap Zidan.


"Bapak akan coba menghalangi mereka, kalian cobalah cari jalan keluar," ucap pak Karyo mengambil beberapa alat untuk melawan para penjahat itu. Begitu juga dengan Bibi, Ia mengambil dua teflon berukuran besar di kedua tangannya.


"Ayo, Pak Karyo. Bibi akan membantu," ucap Bibi mengangkat dua teflon yang dipegangnya.


Syahidah memegang erat tangan Zidan saat mendengar suara pintu yang berusaha dibuka secara paksa.


Zidan membawanya keluar, mencoba mencari cara bagaimana agar bisa menyelamatkan adiknya.


Para penjahat itu berhasil membuka pintu depan, Pak Karyo dan Bibi langsung melakukan perlawanan, tetap saja mereka dengan mudah dilumpuhkan.


"Cepat cari kedua anak itu," ucap pemimpin mereka setelah berhasil mengikat Pak Karyo dan Bibi.


Mereka mencari seluruh rumah. Namun mereka tak menemukan kedua anak itu. Mereka terus menyisir rumah itu, mencari didalam dan di luar rumah, tetap saja mereka tak menemukan Zidan dan Syahidah.


"Ke mana mereka, aku yakin mereka belum keluar dari rumah ini."


"Cari dengan teliti, dan lakukan cepat. Sepertinya bala bantuan sudah mendekat, kita harus secepatnya pergi sebelum mereka datang.


Mereka kembali mencari Zidan dan Syahidah, menyisir setiap sudut rumah itu hanya satu tempat yang tak mereka cari yaitu di kandang singa.


Cepat kau cari didalam, siapa tahu saja mereka bersembunyi di sana.


"Kau saja yang cari di dalam kandang itu," ucap salah satunya.


"Tak mungkin mereka bersembunyi di sana, itu adalah binatang buas."


"Tapi, sepertinya binatang itu sudah jinak. Cepat kalian berdua masuk," ucap pemimpin dari pasukan itu.


Dua orang tadi mencoba masuk untuk memeriksa di dalam kandang singa. Namun, baru saja mereka melangkah masuk Singa itu langsung berdiri dan menggaung, memasang taringnya kepada mereka. Membuat mereka berdua mengurungkan niatnya dan kembali mengunci pintu tersebut.


"Maaf Bos, sepertinya bantu mereka sudah sangat dekat. Sebaiknya kita harus pergi sekarang! Menurut info jumlah mereka sangat banyak," ucap salah satu dari mereka yang berlari dari arah gerbang, ia bertugas mengawasi situasi yang ada.


"Baiklah, cepat kita pergi dari sini, mungkin mereka punya jalan lain untuk keluar dari rumah ini, Kita coba di kesempatan berikutnya," ucap pemimpin dari gerombolan tersebut. Mereka pun segera meninggalkan kediaman Rafiz tanpa membawa Kedua anak Rafiz sesuai dengan perintah bos besar mereka.


Begitu mendengar suara mobil bejalan menjauhi kediamannya, Zidan dan  Syahidah baru berani keluar. Mereka bersembunyi di belakang singa. Zidan yakin itulah tempat yang teraman untuk mereka.


Beberapa saat setelah penjahat itu pergi Nandira dan beberapa anak buah Rafiz


datang. Zidan dan Syahida yang melihat mamanya langsung berlari menghampiri Nandira.


"Sayang, kalian tidak apa-apa?" tanya Nandira memeriksa kedua anaknya.


"Nggak apa-apa, tadi ada orang jahat yang berniat jahat pada kami, beruntung  singa papa menyelamatkan kami, Mah!" Ucap Syahidah.


Nandira melihat singa itu, ia merasa bersyukur hari itu dirinya yang mengalah dan membiarkan Rafiz memelihara singanya.


"Di mana Pak karyo dan Bibi?" tanya Nandira.


Zidan dan Syahidah saling pandang.


"Kami juga tidak tahu, Mah. Tadi mereka menghadang para penjahat untuk mengulur waktu," Ucap Zidan.


Mereka semua berlari masuk dan melihat pak Karyo dan Bibi yang telah diikat di sudut ruangan.


"Kalian nggak apa-apa ?" tanya Nandira mencoba melepaskan ikatannya.


'"Nggak apa-apa,Bu." 


"Mama dan Papa kemana saja?" tanya Syahidah.


"Papa ada di rumah sakit, papa Sedang terluka. Ayo kita ke rumah sakit, sebaiknya kita menemani papa," ucap Nandira.


Mereka pun bersama- sama menuju ke rumah sakit.


Miran yang mendengar kabar penyerangan Rafiz langsung bergegas ke rumah sakit dan memperketat pengawasan.


Miran yakin penyerangan ini dilakukan oleh Aksan. Miran tau benar jika Aksan takkan segan-segan menghabisi nyawa musuhnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca🙏


Semoga menghibur🤗


Jangan lupa ya tetap memberikan dukungannya dengan memberikan like dan komen di setiap bab nya.


Salam dariku author m anha


Thank you all💕💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖