My Papa My Boss

My Papa My Boss
Dendam Masa Lalu



Walau Rafiz sangat marah dengan orang yang ada di hadapannya yang terus saja menertawai kekhawatirannya, ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini, disaat pria tersebut terus menodongkan  senjata api padanya. 


Rafiz melihat ke segala arah di tempat itu, menyisir tempat dengan pandangannya. "Apa pria ini juga menculik Nandira. Sepertinya aku salah karena meninggalkan Nandira dengan tidak memberikan pengamanan yang ketat saat meninggalkannya di apartemen Jazlyn," batin Rafiz menyalahkan dirinya sendiri jika benar terjadi sesuatu pada Nandira.


Aksan terus tertawa terbahak-bahak melihat wajah kekhawatiran yang tersirat di wajah Rafiz, Aksan benar-benar puas di buatnya.


Dor …. suara tembakan yang nyaring terdengar dari ruangan itu membuyarkan konsentrasi Aksan, ia melihat ke arah sumber suara dan tak memperhatikan Rafiz yang sudah mendekat dan menendang senjata yang ia pegangannya.


Senjata itu terpental jauh hingga sampai di dekat kaki Zidan dan Syahidah.


Aksan yang melihat itu ingin berlari mengambil kembali senjatanya. Namun, dengan cepat Rafiz penahanan nya, perkelahian pun terjadi, saling tendang saling tinju mereka adu kekuatan dengan tangan kosong. Di sana hanya ada mereka berdua sedangkan semua anggota mereka sedang beradu senjata di luaran sana.


Suara senjata api terus bersahut-sahutan Dar ... der ... dor … semua itu membuat Syahidah dengan kuat menutup telinganya.


Saat mereka berdua melihat senjata api itu perlahan Zidan menunduk dan mengeluarkan tangannya ingin mengambil senjata api itu..


Begitu ia akan mengambil ia mendengar suara yang berjalan ke arah mereka, dengan cepat ia kembali menarik tangannya. Zidan gagal mengambil senjata api itu.


Sialnya orang yang melewati mereka melihat senjata itu dan mengambilnya.


Zidan dan Syahidah membelalakkan mata saat melihat Mamanya juga sedang berjalan didepan mereka bersama dengan Jazlyn dengan senjata di todongkan pada mereka berdua.


Ingin rasanya Syahidah teriak bahwa mereka ada di balik  tanaman yang menjalar menjuntai dari atas. Zidan dan Syahidah masuk ke dalam tanaman itu menyembunyikan diri mereka dari orang-orang, mereka bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di depan mereka dari celah-celah dedaunan saat mereka melihat mamanya dan Jazlyn diseret oleh pria berbadan besar dan sepertinya Ia adalah orang suruhan dari orang yang sama yang menyekap mereka.


"Kakak itu Mama. Bagaimana ini?" bisik Syahidah di saat mereka semua sudah menjauh.


"Kita harus tetap bersembunyi, kita jangan membuat situasi semakin keruh biarkanlah Papa yang menyelamatkan Mama," balik berbisik pada Syahidah.


Zidan tak mau menyusahkan papa mereka dengan menambahkan jumlah yang harus di lindungi nya. Selain harus melindungi Mama, papanya juga harus melindungi mereka"  berpikir Zidan, bersembunyi di sana merupakan pilihan yang terbaik saat ini.


Satu tembakan menghentikan perkelahian antara Rafiz dan Aksan. Keduanya sudah acak-acakan, darah segar nampak dari bibir dan hidung mereka, kekuatan mereka seimbang membuat mereka mendapat luka yang sama.


Rafiz yang ingin memukul Aksan menghentikan tinjunya saat mendengar suara tembakan ke udara  melihat  Nandira dan Jazlyn di bawah oleh anak buah Aksan.


Aksan kembali tertawa dibawah kekungan Rafiz yang siap melayangkan tinjunya pada Aksan.


Semakin orang-orangnya mendekat membawa Nandira dan Jazlyn tawa Aksan  semakin mengeras dan mendorong Rafiz ke belakang.


Rafiz  terhuyung ke belakang ia tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Nandira kini  dalam bahaya.


"Jangan pernah menyentuh istriku," menatap tajam pada orang yang tengah menodongkan senjata api kepada Nandira dan Jazlyn.


Aksan masih tertawa sambil berbaring di lantai dan kini Ia memperbaiki posisinya dengan duduk dan memegang kedua lututnya melihat dengan puas hasil pekerjaan anak buahnya.


Tadinya Aksan sudah merasa kewalahan menghadapi Rafiz dan ia yakini akan kalah. Namun, kedatangan anak buahnya menjadikan ia yakin bahwa ia bisa mengalahkan sosok Rafiz dan bisa membalas dendamnya.


Aksan berdiri dan mendekati Rafiz, langsung  melayangkan tinjunya ke perut  Rafiz, Nandira memekik melihat Rafiz memuntahkan banyak darah. Aksan terus menghujani Rafiz dengan tinju dan tendangannya, Rafiz hanya menerima semua itu dari Aksan tanpa berniat untuk melawan.


"Ayo, lawan aku," ucap Aksan memancing kemarahan Rafiz yang kini terbaring penuh luka, luka di dadanya juga kembali terbuka, noda merah memenuhi kemejanya. Nandira hanya bisa menangis saat ia tak bisa berbuat apa-apa. Percuma ia memberontak pergelangan tangannya di pegang dengan erat. Nandira hanya menatap Rafiz dengan lelehan air matanya.


Setelah beberapa saat, Rafiz kembali berdiri, membuang ludahnya yang penuh dengan darah dan menatap tajam pada Aksan yang menatap meremehkannya.


"Ayo lawan aku, permainan ini tak akan seru jika kau tak melawan, benarkan Jazlyn sayangku," ucap Aksan menatap Jazlyn kemudian tertawa lagi.


"Aksan hentikan semua ini. Ini bukan salah Rafiz, jika kau ingin marah, marah lah padaku. Semua ini salahku. Aku yang telah bersalah padamu dia tak tahu apa-apa, Rafiz tak pernah merebut aku darimu, akulah perempuan yang tak pernah bersyukur memilikimu," ucap Jazlyn dengan tatapan memohon.


"Kenapa kamu baru sadar setelah semua ini terjadi?!" Aksan menatap penuh kecewa pada Jazlyn kemudian berjalan ke arahnya.


Anak buah Aksan terus menodongkan senjata api pada mereka berdua membuat Rafiz hanya bisa mengepalkan tinjunya dengan tangan yang bergetar saat melihat Aksan menatap pada Nandira.


Aksan meraih dagu Jazlyn mengusap bibirnya. "Kau wanita serakah Jazlyn, aku sudah tak tertarik lagi denganmu," ucapnya kemudian melirik Nandira dengan senyuman licik terbit dari bibirnya.


Nandira sedikit memundurkan langkahnya saat Aksan berjalan ke arah nya.


Aksan melihat tangannya yang telah ditepis oleh Nandira kemudian kembali menatap tajam pada Nandira membuat nyali Nandira langsung menciut dan menetap memohon kepada Rafiz yang hanya bisa berdiri memegangi dadanya.


"Aww," pekik Nandira saat Aksan menarik rambut bagian belakangnya, membuat Nandira mendongak menatap Aksan dengan mata sembabnya. Nandira memegang tangan Aksan mencoba melepaskan tarikan Aksan yang menyakitinya.


"Beraninya kau menepis tanganku," ucap Aksan memainkan jemarinya di pipi Nandira.


"Jangan menyentuh istriku," teriak Rafiz tak terima apa yang dilakukan Aksan pada Nandira. Terlihat ia ingin melangkah. Namun kedua orang yang memegang senjata langsung mengarahkan senjatanya ke kepala Nandira dan yang satunya mengarahkan kepada Rafiz. Rafiz kembali menghentikan langkahnya.


"Apa kau sangat mencintai istrimu tuan Rafiz?" Aksan mengejek kemarahan Rafiz.


Aksan mendekatkan bibirnya kepada Nandira, seolah mencium aroma tubuh wanita yang dicintai oleh pria yang menatapnya marah.


Nandira terus berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Aksan yang terus mendekat padanya, tarikan rambut dari  Aksan memaksanya untuk mendekat.


Aksan menampilkan pipinya yang penuh darah di pipi Nandira, Nandira hanya bisa menutup matanya, ketakutan saat merasakan sentuhan pipi Aksan di pipinya.


Noda merah ini sangat cocok di kulit putihmu, Aksan  melihat pipi Nandira yang sudah berlumuran cairan berwarna merah darinya.


Suara tembakan semakin mendekat,


"Bagaimana situasinya di luar?" tanya Aksan pada salah satu anak buahnya.


Sepertinya ia membawa kelompok geng naga hitam dan gang amatir yang sering mengacaukan misi kita. Mereka  masih terus menggempur orang-orang kita," jelas salah satu anak buah yang berdiri memegang senjata  mengarahkannya pada Nandira.


Aksan hanya meliriknya saat mendengar penjelasannya.


"Kita harus cepat menyelesaikan misi ini sebelum mereka berhasil mengalahkan kita," ucap pelan Aksan pada bawahannya.


"Apa apa yang mereka bicarakan, menyelesaikan misi! Apa itu artinya mereka akan menghabiskan kami semua. Dimana, dimana anak-anakku. Zidan, Syahidah dimana kalian," batin Nandira ketakutan, mencoba melihat ke segala arah mencari keberadaan anak-anaknya.


Mendengar itu Nandira menjadi takut sambil terus berusaha melepas tarikan Aksan pada rambutnya.


"Aku mohon jangan sakiti kami, kami tak pernah bersalah padamu," mohon Nandira dengan deraian air mata. Dia takut Aksan


akan melukai mereka. Anak-anaknya juga belum mereka temukan. Pikir negatif mulai menghinggapinya," Apa Aksan telah … ga, nggak mungkin ia melukai mereka," batin Nandira mengusir pikirannya sendiri.


Tembakan semakin dekat salah satu orang yang ada di samping Aksan langsung mengecek sumber tembakan yang semakin mendekat kepada mereka dan benar saja beberapa orang Rafiz sedang menuju ke arah mereka. Ia pun dengan cepat mengarahkan tembakannya dan mengenai 2 orang yang berjalan ke arah mereka.


"Ada apa?" tanya Aksan melepas tarikan rambutnya pada Nandira dan berjalan menuju ke anak buahnya.


"Bos, seperti kita sudah semakin kalah, kita harus cepat pergi dari sini," ucapnya saat melihat beberapa anak buah Rafiz sudah mulai mendekat ke posisi mereka.


Nandira berhasil lolos dari pria yang mengawasi dan merebut senjatanya dibantu oleh Jazlyn. 


Nandira berlari ke arah Rafiz.


Dor …. Suara tembakan memenuhi ruangan itu, Aksan yang melihat apa yang mereka lakukan mengarahkan tembakannya pada Nandira yang berlari ke arah Rafiz.


😱💖💖💖💖💖💖💖💖😱


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏


ramaikan juga karyaku yang lainnya ya kk🙏


salam dariku Author m Anha❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖