
Saat sarapan semua sudah kembali normal, Nandira dan Mommy sudah tak marah lagi pada Rafiz, membuat Rafiz menjadi sedikit curiga dengan Mommynya.
Mommy biasanya sangat lama jika marah padanya, namun berbeda dengan hari ini. Mommy tak marah lagi padanya dan sudah maafkan nya bahkan sebelum Ia meminta maaf.
Nandira menyiapkan makanan di piring Rafiz, melayani suaminya itu seperti biasa. "Terima kasih ya Sayang," ucap Rafiz saat Nadira meletakkan sepiring nasi goreng di depannya.
Nandira tersenyum manis menjawab ucapan terima kasih dari suaminya dan memberikan lemparan ciuman pada.
Selesai sarapan Nandira mengantar mereka hingga ke teras rumah memberikan tas kerja pada Rafiz.
Anak-anak langsung berlari naik kedalam mobil setelah mencium tangan Nandira.
Rafiz mengulurkan tangannya pada Nandira,
"Aku pergi dulu ya," ucap Rafiz pamit pada Nandira.
"Ia Mas hati-hati ya," ucap Nandira masih memegang tangan Rafiz.
"Mas tak bisa pergi jika kau terus menggenggam tangan Mas," ucap Rafiz memperlihatkan tangannya yang masih digenggam oleh Nandira. Nandira menarik dasi Rafiz. Membuat Rafiz sedikit menunduk, dan satu kecupan dari Nandira mendarat di bibir Rafiz.
Rafiz tak menyangka jika Nandira akan mengecup bibirnya, biasanya ialah yang lebih dulu melakukannya." Selamat bekerja ya Mas," ucap Nandira setelah memberikan kecupan mesra ke bibir suaminya.
"Terima kasih, ini penyemangat buatku," ucap Rafiz. "Aku akan cepat pulang." lanjutnya.
"Enggak usah Mas, Mas nggak usah terburu-buru, aku akan menunggumu malam ini," ucap Nandira mengedipkan matanya.
Rafiz mengucapkan kening Nandira, "Aku pergi dulu ya," ucapnya.
"Papa ayo cepat nanti kita terlambat," panggil Syahidah yang sudah ada di dalam mobil.
"Kami berangkat dulu ya," ucap Rafiz.
"Iya Mas," jawab Nandira dengan senyum termanisnya.
Rafiz berjalan ke mobil sambil memegang bibirnya, rasanya sangat berbeda saat Nandira yang lebih dulu menciumnya.
"Dah Mama," ucap Syahidah melambaikan tangan kepada Mamanya yang berdiri teras melihat kepergian mereka, yang juga memberi mereka melambaikan tangan saat mobil itu terus menjauh.
Rafiz bisa melihat Nandira dari kaca spion. Istrinya itu terus melambaikan tangan kepadanya dan sesekali melempar ciuman kepada mereka.
"Ada apa dengannya, sejak semalam Sepertinya ia sangat berubah. Terlebih lagi pagi ini," batin Rafiz. Namun ia sangat suka dengan perubahan istrinya itu.
Semalam sewaktu mereka pindah ke kamar, Nandira lah yang meminta terlebih dahulu pada Rafiz. Semalam Nandira sangat memuaskan suaminya, bahkan Nandira mengambil alih permainan mereka.
Jika tak ada rapat penting yang harus dihadiri nya hari ini, Mungkin saja ia hanya akan mengantar anak-anak dan kembali mengurung istrinya itu di dalam kamar.
"Mungkin siang nanti Papa tidak akan sempat menjemput kalian, Papa akan menyuruh sopir untuk menjemput kalian ya," ucap Rafiz.
"Iya Pah, nggak apa-apa, Papa kerja aja," jawab Zidan yang selalu bersikap dewasa dalam menghadapi masalah.
Begitu sampai di sekolah, mereka langsung turun dan melambaikan tangan saat Papa mereka pergi ke kantor.
Zidan dan Syahidah berjalan masuk ke dalam sekolah, teman-teman mereka sudah menunggu kedatangan mereka. Riza, Nisam dan Memet serta Lusy dan Nara.
"Zidan, bagaimana luka kamu?" tanya Memet.
" Enggak, udah nggak apa-apa kok. Kamu sendiri gimana? Kamu Enggak apa-apa kemarin?" tanya Zidan.
"Enggak kok, Aku juga nggak apa-apa, aku baik-baik saja. Kemarin aku hanya sedikit kaget, Aku tak menyangka ternyata Singa itu akan menyerang ku," ucap Memet bergidik sendiri mengingat kejadian kemarin.
"Mama kamu nggak marah kan ?" tanya Memet khawatir.
"Enggak kok, semuanya baik-baik saja. Lagian ini kan cuma luka kecil, enggak usah di besar-besarkan," ucap Zidan pada sahabatnya.
"Enak banget sih jadi kamu, punya Papa yang kaya raya, bisa tunjuk apa saja, bisa Renovasi kamar sendiri secantik itu," ucap Nara yang merasa iri pada Zidan dan Syahidah.
"Sudah ah, Ayo kita masuk. Nanti kita terlambat lagi," ucap Syahidah melihat jam yang ada di pergelangan nya.
Mereka sedang berbincang-bincang di parkiran. Teman-teman mereka sengaja menunggu mereka datang untuk memastikan bagaimana dengan kondisi mereka.
"Kami masih boleh kan main ke rumahmu lagi," tanya Lucy.
"Tentu saja boleh. Tapi sebaiknya kita main di kamarku aja ya" jawab Syahidah .
"Terus kelinci buat aku gimana ?" tanya Lucy yang belum sempat mengambil kelinci yang diberikan oleh Syahidah kemarin.
"Oh iya, aku lupa. Besok deh aku bawa!".ucap Syahidah.
"Janji!"
"Iya ,janji," jawab Syahidah.
"Oke," jawab Syahidah. Merekapun sama-sama masuk ke dalam kelas, jam pelajaran akan segera akan dimulai.
Saat anak-anak sudah mulai belajar dan Rafiz sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan kantornya, di rumah Mommy dan Nandira juga tatkala disibukkan dengan mengevakuasi semua hewan-hewan buas yang ada di rumah itu.
Mommy sengaja memindahkan hewan-hewan buas itu ke suatu tempat yang pastinya lebih nyaman dan aman buat mereka. Mommy tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi, kali ini ia berani melakukan semua itu karena ada Nandira yang mendukungnya.
Nandira bertugas memastikan agar Rafiz tak marah dengan apa yang mereka lakukan..
Mommy dan Nandra melakukan tos saat melihat hewan terakhir naik ke dalam mobil dan pergi menjauh dari rumah mereka.
Mommy menyuruh Pak Karyo memanggil beberapa orang untuk membersihkan dan mengubah kandang-kandang para hewan tersebut dan menggantinya dengan hewan yang lebih aman.
"Sepertinya sebentar lagi anak-anak akan pulang, Kita buatkan makanan untuk mereka dulu yuk," ajak Mommy.
Nandira membantu ibu mertuanya memasak di dapur. Setelah bekerja sama membereskan hewan-hewan buas . Mereka kemudian bekerja sama membuat makanan yang enak untuk makan siang mereka.
Saat pulang sekolah, anak-anak dijemput oleh sopir dan begitu sampai di rumah mereka langsung ke kamar masing-masing. Setelah itu mereka makan siang bersama Mommy, Daddy, Nandira Zidan dan Syahidah. Rafiz tak bisa makan bersama mereka, kerjanya di kantor sungguh sangat menumpuk.
Setelah makan Syahidah menemui pak Karyo meminta agar diberikan kelinci sepasang lagi untuk temannya.
"Iya Non, besok sebelum ke sekolah bapak akan memasukkannya ke kandang," jawab Pak Karyo.
"Iya pak,terima kasih ya" ucap Syahidah .
Syahidah melihat ke arah kandang singa Papa nya, "Singa nya ke mana Pak?" tanya Syahidah mencoba sedikit mendekat ke kandang tersebut.
"Mamanya Non sudah memindahkan hewan-hewan itu," jawab Pak Karyo.
"Benarkah?" tanya Syahidah.
"Iya, sepertinya Mama sama Nenek Non, tak ingin kejadian kemarin terulang lagi,"ucap Pak Karyo.
"Oh, Aku masuk dulu ya Pak," ucap Syahidah ingin melangkah masuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara kucing.
Mendengar suara itu sontak Syahidah menengok ke arah sumber suara dan ternyata dari bekas kandang singa ada tiga ekor kucing yang gemuk dan cantik berkeliaran disana lengkap dengan alat bermain kucing tersebut yang sudah disiapkan oleh Pak Karyo.
Syahidah yang memang Sangat menyukai hewan langsung masuk ke kandang tersebut.
Zidan dengan cepat berlari saat melihat Syahidah membuka pintu kandang itu.
Zidan berpikir jika Singa itu masih ada di kandang milik.
Dengan cepat Zidan menarik Syahidah keluar.
"Kamu mau kemana? di situ berbahaya?" tanya Zidan, ia yang tak tahu jika di sana sudah tak ada singa lagi.
"Berbahaya apanya Kak, itu kan cuman kucing," Syahidah menunjuk kucing-kucing tersebut.
"Kucing," kaget Zidan dan melihat ternyata benar di kandang itu sudah tak ada Singa lagi, melainkan yang berkeliaran tiga ekor kucing.
Zidan langsung berlari kearah Mama nya yang sedang bersantai di ruang tengah bersama nenek.
"Mah, Mama simpan di mana singa Papa?"
"Mama sudah menyimpannya di tempat yang paling aman untuk mereka dan kita." jawab Mamanya.
"Tapi Singa itu sudah tak berbahaya Mah, singa nya hanya terkejut atas kehadiran Memet kemarin," jelas Zidan.
"Pokoknya apapun alasannya Mama tidak suka ada hewan buas di rumah ini.," ucap Nandira tak ingin dibantah.
Zidan kesal dan ia berlari kekamarnya, melampiaskan kemarahannya dengan bermain game, kehilangan Singa nya membuat Zidan mereka kehilangan. Ia meresa sudah terbiasa dengan Singa itu. Zidan terus bermain sendirian dan terus menang.
"Aku harus telepon Papa," ucap Zidan kemudian mengambil ponselnya.
"Bagiamana kalau papa sedang sibuk,"
"Engga usah ah,,nanti aja kalau papa udah pulang." ucap Zidan.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote dan komennya 🙏
salam dariku 🙏
Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖