My Papa My Boss

My Papa My Boss
Pria Misterius.



Pagi hari seperti persetujuan semalam, singa itu akan dikembalikan ke kandangnya. Pak Karyo bertugas memindahkan singa itu.


Karena jaraknya hanya sekitar 1 km dari kediaman Rafiz, pak Karyo tak menggunakan kendaraan untuk memindahkannya, pak Karyo hanya berjalan kaki sambil menggiring singa itu ke kediaman Rafiz, membuat ia jadi pusat perhatian bahkan beberapa pengendara menghentikan kendaraan mereka hanya untuk mengabadikan momen itu di ponsel mereka.


Zidan dan Syahidah menghampiri kakeknya yang sedang duduk di teras rumah.


"Zidan, Syahidah. Mulai sekarang kalian tidak boleh terlalu dekat dulu dengan singa itu," ucap kakek,


"Tapi, kenapa. Kek?" tanya Syahidah.


"Kamu tahu sendiri kan mamamu tak menyukai jika kalian terlalu dekat dengan singa itu, mama kalian khawatir jika kalian sampai terluka," ucap Kakek.


"Siang itu tidak berbahaya, singa itu baik," jawab syahidah.


"Jika kalian melanggarnya nanti singanya akan dipindahkan lagi loh," ucap Kakek.


"Ya udah deh, Syahidah nggak dekat-dekat lagi, cuma lihat dari jauh saja. Tapi, sesekali boleh kan dekat dengan singa itu?" bujuk Syahidah dengan wajah imutnya pada Kakek.


"Boleh, tetapi harus ada pengawasan orang dewasa dan izin dulu sama mama," ucap Kakek.


"Yeeee, Kakek baik deh," ucap Syahidah mencium pipi kakek nya.


Zidan yang melihat Pak Karyo menarik singanya itu kembali ke kandangnya langsung berlari menghampiri Pak Karyo yang baru datang dan langsung memasukkan Singa itu ke dalam kandangnya.


"Pak karyo kok nggak bilang-bilang sih mau mindahin singa ini! Zidan kan bisa ikut mengawasinya ke sini," protes Zidan. "Aku kan bisa bantu menggiringnya."


"Iya, maaf dan terima kasih. Maaf tak memberitahu Aden, dan terima kasih bapak bisa sendiri kok ," jawab Pak Karyo.


Syahidah juga menghampiri mereka .


"Pak Karyo, apa singa ini selama tinggal di sini pernah melukai bapak?" tanya Syahidah.


"Tentu saja pernah, walau singa ini sudah jinak, tapi kita harus tetap hati-hati, karena se jinak apapun mereka singa ini tetaplah hewan buas," terang pak Karyo membuat Zidan dan Syahidah menganggukkan kepala.


"Apa lagi jika mereka sedang kelaparan, mereka bisa saja mencabik pemiliknya," lanjut pak Karyo.


"Apa singa ini akan melukai kami?" tanya Syahidah.


"Semoga saja tidak, terkadang saat dia lapar dan kami terlambat memberinya makan, ia biasa saja menerkam kami," jawab Pak Karyo dengan ekspresi dibuat seolah ia ketakutan. Zidan dan Syahidah saling pandang dan kembali menatap Pak Aryo.


"Apa kalau singa itu lapar dan kami mendekatinya dia juga akan menerkam kami" tanya Syahidah.


Pak Karyo sengaja menakuti mereka atas permintaan kakek.


"Bapak juga kurang paham. Tapi sebaiknya memang saat hewan buas sedang lapar sebaiknya kita tidak mendekatnya. Sebaiknya kita mendekat saat dia sedang kenyang, takutnya kita dikira makanannya lagi," Kakek Pak Karyo.


"Pak Karyo, Kalau begitu hewan-hewan yang lainnya apakah juga akan kembali?" tanya Syahidah.


"Sepertinya tidak, hanya singa ini yang sangat disayangi oleh Papa Aden, hewan yang lain hanya sebagai pelengkap saja dan beberapa dari mereka baru datangnya," jawab Pak Karyo.


Rafiz dan pak Karyo bersama-sama membesarkan singa itu, mereka merawat sedari kecil.


Rafiz menghampiri mereka dan langsung berjalan masuk ke kandang singanya. Melihat itu Zidan dan Syahidah juga ikut masuk.


"Apakah Kakek sudah menjelaskan peraturan yang harus kalian patuhi?" tanya Rafiz melihat kedua anaknya.


"Kami nggak boleh mendekati singa nya tanpa ada pengawasan dan izin dari Mama ," jawab Zidan.


"Papa harap kalian mematuhinya," keduanya hanya mengangguk.


Nandira menghampiri mereka, "Ini sudah jam berapa sayang, Ayo kalian siap-siap nanti telat ke sekolah,


"Mama, makasih ya singanya bisa kembali ke sini lagi," ucap Syahidah memeluk mamanya.


"Iya, Ayo sana ganti baju! nanti anak mama yang cantik ini telat lagi ke sekolahnya," ucap Nandira.


Mereka berdua pun berlari ke kamar masing-masing. "Zidan , Syahidah jangan berlari nanti kalian terjatuh," teriak Nandira. Namun, kedua anaknya itu tetap berlari dan saling berlomba siapa yang lebih dulu menggapai kamar mereka.


Pagi ini kehangatan kembali mereka rasakan.


***


Sebuah mobil terparkir di pinggiran jalan,


Miran yang baru datang dengan taksi langsung masuk ke dalam mobil tersebut. Begitu Miran masuk, mobil tersebut langsung melaju meninggalkan tempat itu. Saat dalam perjalanan dan melihat ada yang mengikutinya, ia bisa memastikan itu pasti suruhan dari Rafiz. Miran sudah menyadari semenjak penculikan anak-anaknya Rafiz terus mengawasi nya selama ini.


"Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Miran pada seseorang yang duduk disampingnya.


"Aku kan sudah bilang aku hanya membutuhkan sedikit informasi darimu," ucap pria itu.


"Jika masalah game Secret Partner, Aku sudah tak punya informasi sedikitpun, tak ada lagi level lanjutannya," jawab Miran.


Orang itu tertawa, mendengar ucapan Miran. "Kau itu memang tidak tahu cara untuk membalas Budi, coba lihat penampilanmu sekarang. Kau memakai jas, dasi, celana, tinggal di rumah mewah. Kau tak lupa kan bagaimana kehidupan mu dulu," ucap pria tersebut menatap meremehkan pada Miran, terlihat jelas raut wajah kekecewaan darinya.


Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, "Ada yang mengikuti Kami, habis dia." perintahnya.


Miran melihat ke arah belakang, dan melihat jika motor yang sedari tadi mengikuti mereka sudah tak ada, "Apa yang mereka lakukan padanya," batin Miran.


"Dengar Miran, kalau bukan karena aku mungkin sekarang kau masih menjadi gembel di luaran sana, tidakkah kau ingin membalas sedikit baikku beberapa tahun yang lalu?" tanya pria tersebut senyum liciknya.


Pria tersebutlah yang mempekerjakan Miran di perusahaan Rafiz, awalnya ia mempekerjakan nya disana agar menjadi mata-matanya di perusahaan itu.Tapi, sepertinya ia salah, ia kesulitan mencari informasi melalui melalui Miran.


1 pesan masuk di ponsel pria itu, iya tak membukanya dan langsung melemparkan ponsel itu pada Miran.


"Bukalah ," ucapnya.


Miran membuka pesan tersebut dan terkejut melihat apa yang ada di sana.


"Itu adalah foto orang yang tadi mengikuti mu, aku juga bisa melenyapkan mu dengan mudah Sama seperti orang itu." ucapnya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Miran.


"Biarkan orang-orang Ku masuk ke sistem IT di perusahaan Rafiz, sisanya biar mereka yang mengurusnya!" ucap pria itu.


"Perusahaan Rafiz memiliki tim IT


yang sangat hebat, sangat sulit untuk menembus pertahanan sistem mereka," jawab Miran.


"Itu adalah urusanku, berikan saja kami beberapa informasi penting agar memudahkan pekerjaan Orang-orang ku," ucap pria tersebut tanpa melihat kearah Miran.


"Sepertinya Rafiz mulai curiga padamu, jadi berhati-hatilah orang tadi adalah suruhannya untuk mengawasi mu," ucap pria tersebut meminta Supir untuk menghentikan laju kendaraannya.


Sang supir kembali memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Dengar Jika kau tak berguna aku bisa saja menyingkirkan mu. Tapi, aku juga masih mengingat beberapa kebaikanmu di masa lalu padaku. Jadi, setelah kau memberikan informasi ini, aku tak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi. Terserah kau ingin menjadi pesuruh bos mu itu aku tak peduli," ucapnya kemudian mempersilahkan Miran untuk turun dari mobilnya.


Begitu Miran turun dari mobil, mobil itu kembali melaju. Miran berdiri melihat mobil itu semakin menjauh, Iya tak mengerti apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi ia ingin setia pada Rafiz.Tapi, di sisi lain ia tahu seperti apa sosok orang yang pernah membantunya di masa lalu itu. Ia bisa melakukan apa saja Bahkan mengakhiri nyawanya.


"Seharusnya sedari dulu aku sudah nolak kebaikannya, aku tak menyangka ia menolongku hanya karena ingin sesuatu dariku," batin Miran yang baru menyadari jika pria tersebut menolongnya dan mempekerjakannya ditempat Rafiz ada maksud tertentu. Miran berpikir jika ia memang pria yang baik dan ingin menolongnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih telah membaca 🙏


Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🤗


Author M Anha.


love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖