My Papa My Boss

My Papa My Boss
Mereka Cucu Kita.



Begitu sampai di rumah sakit Rafiz langsung menggendong Syahidah masuk ke dalam rumah sakit.


" Dokter, dokter , tolong dokter ," para perawat medis pun langsung menghampiri Rafiz dan Syahidah, memberi pertolongan pada Syahidah.


Zidan dan Nandira berlari ikut masuk ke dalam rumah sakit mengikuti Rafiz yang sudah masuk lebih dulu membawa Syahidah.


Syahidah di dorong menuju ruang perawatan.


Mereka mendampingi Syahidah yang didorong di ranjang Rumah Sakit menuju ke ruang perawatan. Nandira terus menggenggam tangan Syahidah, melihat wajah anaknya yang semakin pucat dengan matanya yang masih tertutup rapat.


"Syahidah bangun sayang ini mama," ucap Nandira tak bisa menahan tangisnya.


Zidan berlari kecil mengikuti Syahidah,


"Maaf Bu silakan tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik buat anak Ibu," ucap perawat.


"Tolong anak saya," mohon Nandira.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk anak ibu, tolong Tenanglah dokter akan melakukan pertolongan," ucap perawat itu kemudian menutup pintu.


Nandira langsung memeluk Zidan yang masih menangis, mereka duduk di kursi yang ada di depan ruangan tersebut sementara Rafiz berjalan bolak-balik di depan pintu perawatan itu.


"Zidan Apa kau juga terluka?" tanya Nandira memeriksa seluruh tubuh Zidan,


"Tidak mah, Zidan tidak apa-apa;" jawab Zidan.


"Maaf ya Papa terlambat untuk membantu kalian ,"ucap Rafiz,


"Enggak Pah, papa nggak salah apa-apa,"


Sementara di kediaman Rafiz Jazlyn menghamburkan semua barang-barangnya ia melempar barang-barang nya ke segala arah, termasuk tas mahalnya.


Mommy yang mendengar keributan di kamar Jazlyn menghampirinya


"Apa-apaan kamu Jazlyn?" tanya mommy.


"Mom, sebenarnya mommy mendukung siapa, mendukung aku atau Nandira itu. Mommy sudah janji padaku akan menyatukan ku dengan Rafiz," tagih Jazlyn.


"Mommy memang sudah janji tapi mommy tidak bisa memaksakan keinginan mommy pada Rafiz, ia bukan anak-anak lagi yang bisa mommy atur, Rafiz berhak menentukan siapa yang akan menjadi pendampingnya. Mommy hanya berusaha membantumu mendekatinya. Tidak bisa menjanjikan apakah kamu akan menjadi istrinya atau tidak," jawab mommy.


"Tapi mommy, aku sangat mencintai Rafiz,"


"Kalau kau mencintainya kenapa dulu kau meninggalkan nya, kau tahu dulu Rafiz sangat mencintaimu. Dia sangat frustasi dengan penghianatan mu. Mommy sangat kasihan saat melihat ia waktu itu Jazlyn." ucap mommy mengingat bagaimana frustasi nya anaknya itu saat berpisah dengan Jazlyn.


"Kenapa mommy selalu saja mengungkit hal itu," geram Jazlyn


"Dengan Jazlyn, mommy menyetujui kamu kembali pada Rafiz karena mommy pikiran dia masih mencintaimu, tapi sepertinya mommy salah.," ucap Mommy muak dengan kelakuan Jazlyn.


Saat mommy keluar, ia tak sengaja melihat berkas yang berserakan di lantai dan di sana tertulis nama Rafiz, Zidan dan Syahidah.


Mommy memungut berapa berkas tersebut.


Jazlyn menegang,


"Itu kan laporan hasil tes DNA Rafiz dan anak-anaknya. Bodohnya aku kenapa aku tak langsung menghancurkan nya," batin Jazlyn.


Mommy memungut dan membacanya, mommy tak percaya dengan apa yang dibacanya ia kemudian terus mengulang membaca kertas tersebut,


"Jazlyn kenapa ini ada bersamamu?" tanya mommy menatap Jazlyn penuh tanya.


Jazlyn berjalan ke arah mommy dan ingin merebut kertas itu, namun mommy menjauhkannya dari Jazlyn.


"Jazlyn jawab mommy, kenapa hasil tes DNA ini ada di dalam tas kamu, dan mengapa kau tak memberi tahu kami hasil tes DNA ini dan hanya diam saja. Mommy kecewa sama kamu Jazlyn." ucap mommy meninggalkan kamar itu dengan membawa kertas hasil tes DNA itu di tangannya.


Jazlyn terus memaki dirinya sendiri, memaki kebodohannya. Bisa-bisanya ia membawa pulang hasil tes DNA itu.


"Seharusnya aku langsung membuangnya ke tempat sampah waktu itu, mengapa aku menyimpan nya di tasku," gumam Jazlyn menggigit kukunya berjalan mondar-mandir berpikir apa yang harus dilakukan saat. Mommy pasti mengatakan hal itu kepada yang lainnya, terutama pada Rafiz.


Mommy langsung ke kamar menemui suaminya dan memperlihatkan hasil tes DNA yang ditemukannya di kamar Jazlyn.


"Dad, lihat ini.," ucap mommy memberikan lembaran kertas itu pada suaminya.


"Apa ini?" tanya Daddy mengambil dan membaca apa yang di berikan istrinya.


Daddy melihatnya berkas itu dan benar saja di sana tertulis bahwa Rafiz memang orang tua kandung dari Zidan dan Syahidah,


"Tapi mengapa Rafiz waktu itu mengatakan bahwa hasil tes DNA nya menyatakan jika ia tidak ada hubungan darah dengan mereka, lalu mengapa ini berbeda dengan laporan yang dimiliki Rafiz,?!" tanya Daddy melihat mommy.


"Ini pasti akal-akalan Jazlyn, sepertinya keputusan mommy untuk menyatukan mereka itu salah."ucap mommy.


"Jika kamu minta pendapat ku sebelum membawanya kerumah ini, pasti saat itu juga aku tak mengizinkan mu membawanya kerumah ini."Ucap Daddy.


Daddy mengambil ponselnya dan menelepon Rafiz, nomornya tersambung namun tak diangkat.


"Kemana anak itu mudah-mudahan saja mereka bisa menemukan cucu kita dalam keadaan baik-baik saja." ucap Daddy terus mencoba menghubungi Rafiz.


Meraka semakin merasa khawatir dengan keberadaan Zidan dan Syahidah sekarang, saat telah mengetahui jika Zidan dan Syahidah adalah cucu kandung mereka.


"Coba hubungi lagi," ucap mommy.


Daddy kembali menghubungi nomor Rafiz, namun hasilnya tetap sama.


"Apa mommy punya nomor Nandira?"


"Tidak, mommy tak menyimpan nomor Nandira. " jawab mommy.


Sementara di rumah sakit syahidah sudah dipindahkan ke ruang perawatan, lukanya telah dibersihkan dan dibalut.


"Mama..." lirih Syahidah saat tersadar, perlahan ia membuka matanya merasakan sakit di daerah kepalanya.


"Sayang kamu sudah bangun, mana yang sakit?" tanya Nandira mengusap pelan rambut anaknya.


Syahidah melihat mamanya dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Sakit mah" keluh Syahidah air matanya menetes, Nandira menghapus air mata anaknya itu,


"Maafkan mama ya, nggak seharusnya Mama ninggalin kalian di rumah, kamu pasti takut selama bersama mereka?!" tanya Nandira menatap sendu pada anaknya


Syahidah hanya mengangguk dan meminta pelukan namanya, Nandira memeluk Syahidah dengan sangat erat sesekali mengusap rambutnya mencium pipi anaknya itu .


"Kakak mana mah?" tanya Syahidah menghawatirkan kakaknya.


Zidan yang melihat Syahidah Sudah sadar langsung menghampiri Syahidah,


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan,


"Tidak apa-apa Kak,,"


"Maaf ya, Kakak tidak bisa menjagamu," sesal Zidan.


"Tidak Kak, Kakak sudah menjaga Syahidah dengan sangat baik, Syahidah senang punya Kakak seperti kak Zidan.,"


Rafiz mendekat dan mengusap rambut Syahidah.


"Maafkan Papa ya, Papa sudah melanggar janji untuk menjemput kalian," ucap Rafiz mencium tangan Syahidah.


"Enggak apa-apa pah, Syahidah sayang Papa," ucap Syahidah.


"Istirahat lah," ucap Rafiz mengelus pipi Syahidah.


Syahidah mengangguk dan tersenyum pada Papanya, ia langsung menutup matanya dan kembali tertidur pulas.


Malam ini Rafiz menginap di rumah sakit menemani mereka. Sementara Daddy dan Mommy terus menunggu kabar dan kepulangan Rafiz.


😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍


Terimakasih Semua sudah mampir, 💗


jangan lupa like vote dan komennya 💗🙏


salam dariku Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖