My Papa My Boss

My Papa My Boss
Pemandangan indah hari ini.



Pagi hari Nandira terbangun, ia membuka dan melihat cahaya terang yang masuk melalui cela jendela kamarnya.


Nandira memeluk bantal gulingnya dan terus memperhatikan cahaya itu, menarik kembali selimut hingga sebatas lehernya.


Lama Nandira memperhatikan cahaya itu, hatinya pagi ini terasa tenang, Beben yang selama ini dipikulnya seolah terangkan sudah.


Kehadiran Rafiz dalam hidupnya sungguh memberi ketenangan tersendiri baginya.


Ingatan saat Rafiz memeluk nya semalam masih sangat jelas.


Nandira berjalan mendekati jendela kamar nya, membuka gorden yang menghalangi cahaya masuk ke kamarnya.


Nandira berjalan keluar, berdiri di balkon kamarnya. Merentangkan kedua tangannya menghirup udara pagi yang begitu menyegarkan membiarkan hangatnya sinar matahari menerpa kulitnya di balik piamanya.


Menutup kedua matanya menikmati udara pagi yang cerah, salah satu nikmat yang Allah berikan kepada umatnya yang menyambut indahnya pagi hari.


Menyambut berkah di pagi hari.


Rafiz yang begitu bersemangat untuk bertemu mereka datang lebih awal ke rumah Nandira, sehingga ia bisa menikmati pemandangan yang begitu indah.


Rafiz bersandar di kap depan mobilnya, memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya, melipat kedua tangannya di dada, melihat ke arah balkon kamarnya Nandira.


Ia bisa melihat wanita yang sudah mencuri hatinya begitu bahagia. Wajah tenang yang begitu manis. Rafiz ikut tersenyum saat melihat Nandira tersenyum menikmati paginya.


Nandira membuka mata dan menghirup dalam-dalam udara hingga memenuhi paru-parunya kemudian menghembuskan nya perlahan.


Saat akan masuk Nandira melihat Rafiz di halaman rumah nya sedang melihat ke arahnya.


"Rafiz, sejak kapan ia di sana" batin Nandira memperjelas penglihatannya.


Rafiz yang tau jika Nandira baru menyadari kehadirannya melempar ciuman pada nya,


Nandira membulatkan matanya melihat apa yang di lakukan Rafiz.


Rafiz mengisyaratkan body Nandira dengan gerakan tangannya dan memberi kedua jempolnya.


Nandira yang mengerti apa yang di maksud Rafiz dengan isyarat tangannya melihat tubuhnya sendiri.


Nandira langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, ia baru menyadari jika ia memakai piama seksi tanpa memakai dalaman.


Nandira kembali melihat pakaiannya dan berjalan ke cermin besar yang ada di kamarnya, melihat jika piama nya benar-benar transparan memperlihatkan dengan jelas apa yang ada di dalamnya.


"Ibuuuuu malu banget," batin Nandira menjerit, ia berjalan gontai menuju ke kamar mandi.


Hari ini mereka akan pergi mencari gaun yang akan mereka pakai nanti malam ke acara peluncuran Secret Partner.


Nandira berdandan secantik mungkin, ia memakai dress yang begitu pas di badannya, dress polos berwarna Ice blue di tambah makeup tipis membuat wajahnya terlihat cantik natural, tas kecil sebagai penambah penampilannya.


Rafiz yang baru datang langsung masuk ke dalam rumah, Syahidah dan Zidan langsung menyambutnya.


Mereka sudah bersiap-siap sejak tadi.


"Mama kalian mana?"


"Masih mandi kayanya Pah," jawab Zidan.


Mereka pun menunggu Nandira sambil menonton televisi.


"Mama ko lama ya," ucap Syahidah yang mulai lelah menunggu,


"Kamu lihat mama sana" ucap Zidan.


Syahidah pun menyusul mamanya di kamar,


Syahidah mengetuk pintu dan membuka pintu kamar mamanya.


"Mama kenapa belum turun?" Tanya Syahidah yang melihat mamanya duduk di tempat tidur dan Sudah siap.


"Iya, bentar lagi ," jawab Nandira pura-pura merapikan makeup nya.


"Syahidah tunggu di bawah ya mah, jangan lama-lama," ucap Syahidah menutup kembali pintu kamar mamanya dan kembali turun.


"iya" jawab Nandira saat pintu sudah tertutup.


Nandira sudah siap sejak tadi, tapi ia malu untuk bertemu Rafiz.


Belum juga bertemu jantung sudah berdetak kencang, Nandira melihat wajahnya di cermin, wajah nya yang putih membuatnya sangat jelas jika ia sedang merona, ia menambah bedaknya agar warna merah di pipinya tak begitu nampak.


Nandira mengatur detak jantung dan berjalan keluar menghampiri mereka.


"Ayo kita berangkat," ucapnya.


Mendengar suara Nandira semua melihat ke arah nya,


"Wah mama cantik sekali,"puji Zidan.


"Ayo kita berangkat, sudah siang," ucap Nandira terlalu, ia tak ingin melihat Rafiz yang sangat jelas terlihat terpesona dengan penampilan nya.


"Ayo pah kita berangkat," ucap Syahidah menarik tangan Rafiz yang masih terpesona melihat penampilan Nandira yang berbeda dari biasanya.


Rafiz mulai menjalankan mobilnya, sesekali ia melirik Nandira yang duduk di sampingnya sementara anak-anak duduk di kursi belakang.


Mereka akan pergi ke sebuah butik langganannya Rafiz.


Begitu sampai di butik, mereka langsung disambut oleh pemilik butik dan mempersilahkan memilih beberapa rancangan terbaik mereka yang sudah dipilihnya.


"Kamu suka yang mana?" tanya Rafiz menemani Nandira memilih gaun.


Rafiz sengaja memilih gaun yang paling seksi yang memperlihatkan bagian belakangnya.


"Coba yang ini," ucap Rafiz meminta mereka membantu Nandira, menunjuk salah satu gaun itu.


"Apa ini tidak terlalu terbuka," protes Nandira.


"Benarkah, coba saja dulu," ucap Rafiz.


"Baiklah," Nandira berjalan menuju ke ruang ganti di ikuti karyawan butik sambil membawa baju yang di pilih Rafiz.


Zidan dan Syahidah juga sudah memilih pakaian yang akan mereka coba.


"Papa, bagaimana," tanya Syahidah yang sudah mencoba baju yang dipilihnya.


"Iya itu cantik, pakai itu saja," jawab Rafiz.


Zidan berjalan keluar dari ruang ganti memakai setelan jas lengkap, terlihat sangat tampan dan menggemaskan. Bergaya layaknya seorang model.


"Bagaimana dengan penampilanku," tanya pada semua yang ada di sana.


Mereka semua mengacungkan dua jempolnya kepada Zidan yang terlihat sangat tampan mengenakan jasnya. Wajah tampan Rafiz tercetak sempurna di wajahnya.


Sekarang giliran Rafiz yang mencoba Jas nya. Ini adalah butik langganannya jadi masalah ukuran sudah dipastikan itu akan pas di badannya. Hanya memilih modelnya saja, menyesuaikan dengan model yang dipilih oleh Nandira dan anak-anak.


Nandira keluar dengan menggunakan pakaian yang dipilih Rafiz.


"Bagaimana?" ucap Nandira sedikit memutar tubuhnya memperlihatkan gaun yang dipakainya.


Rafiz melongo, Nandira terlihat sangat Cantik dan seksi, gaun itu nyaris memperlihatkan semua bagian belakangnya dan bagian dadanya juga sangat terbuka.


Rafiz berjalan mendekati Nandira.


"Bagaimana menurut mu?"


"Ini terlalu terbuka, ambil yang lain saja," ucap Rafiz.


"Kan aku udah bilang tadi ini terlalu terbuka," kesal Nandira kemudian kembali mencoba gaun lain. Berjalan dengan kesal menuju ke ruang ganti.


Rafiz tersenyum melihat tingkah Nandira, sebenarnya dari awal ia juga tak suka dengan gaun itu, ia hanya ingin melihat Nandira memakainya.


"Bagaimana?" tanya Nandira kembali memperlihatkan gaun yang di pakainya.


Rafiz, Zidan dan Syahidah yang telah memilih pakaian mereka duduk di sofa menunggu Nandira.


Ketiganya mengangguk dan memberi jempol pada Nandira.


Pakaiannya lebih tertutup dari yang pertama, namun tetap terlihat seksi saat di pakai oleh nya.


Selesai memilih pakaian, mereka mendatangi mall terbesar di kota itu.


Nandira ingin membeli tas yang sesuai dengan gaunnya.


"Aku kesana dulu ya," ucap Rafiz saat Nandira yang sibuk memilih tas.


Rafiz mengajak Syahidah dan Zidan ke toko perhiasan.


"Kalian pilih yang mana, Papa ingin membelinya untuk mama kalian," ucap Rafiz, memperlihatkan beberapa cincin yang sangat indah pada keduanya.


Zidan yang tak tahu mengerti masalah cincin hanya diam saja, Syahidah yang lebih antusias memilih cincin cincin tersebut.


"Pilihan ini saja Pah" ucap Syahidah menunjuk sebuah Cincin yang sederhana namum terlihat sangat cantik.


"Baiklah, Papa juga suka itu,"


"Rencananya malam ini Papa akan melamar Mama kalian, Kalian setuju kan?" tanya Rafiz


"Iya Pah, kami setuju." jawab Zidan cepat.


"Setelah Papa menikah dengan mama, Papa akan tinggal di rumah kan?" tanya Syahidah,


"Tentu saja, kita akan tinggal bersama,"


"Papa, kita ditinggal di rumah Papa saja ya," pinta Zidan.


"Kenapa?" tanya Syahidah.


"Disana kan ada kakek dan nenek," jawab Zidan.


Alasan sebenarnya adalah Zidan sangat suka tinggal dirumah Papanya Karena disana ia bisa bermain dengan banyak binatang terutama binatang buas.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™πŸ’


Jangan lupa ya untuk memberi LIKE, VOTE, KOMENNYAπŸ™πŸ˜Š


Sambil menunggu update berikutnya bisa mampir ke karya pertamaku judulnya.πŸ’–πŸ’–"Pilihan Ku" πŸ’–ditunggu ya.


Salam dariku


Author m anha ❀️


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–