
Nandira dibawa ke sebuah gudang di mana tempat itu agak jauh dari tempat di laksanakan acara tersebut.
Nandira terus memberontak saat orang tersebut menyeretnya dan menutup mulutnya.
Orang tersebut baru melepasnya saat sudah sampai di tempat tujuannya, Nandira di bawah ke sebuah gudang di bagian belakang gedung perkantoran itu.
"Riko Apa yang kau lakukan, Kenapa kamu membawaku kesini,?"geram Nandira melihat orang yang sedari tadi menyeretnya ternyata adalah Riko mantan tunangannya.
Riko langsung mencengkram dagu Nandira dengan sangat keras,
"Wanita murahan, jadi kau meninggalkanku karena Rafiz, pria yang baru saja bertunangan denganmu itu?"tanya Riko berapi-api.
"Aku sudah bilang sebelumnya, aku meninggalkanmu bukan karena Rafiz, tapi aku melihatmu dengan Shireen malam itu, Rafiz tak ada hubungannya dengan perpisahan kita ," ucap Nandira, air matanya sudah menetes, Riko mencengkram dagunya sangat keras membuat Nandira kesakitan.
Rico langsung mendorong Nandira ke belakang,
Nandira terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Untung saja ia dengan cepat menguasai dirinya dan bisa tetap tegak berdiri.
"Bohong, itu hanya alasanmu saja kan," bentak Riko.
"Untuk apa aku harus berbohong, emang itulah alasan sebenarnya," sahud Nandira.
"Selama ini kau terus menolak untuk berhubungan denganku, aku selalu menurutimu dan menahan diriku, agar menjaga hubungan kita. Aku tak pernah menyentuhmu sekalipun. Aku tak menyangka ternyata kau memberikan tubuh mu itu kepada pria lain bahkan kau melahirkan anaknya," geram Riko.
Nandira tertawa,,,
"Itu semua karena kesalahanmu sendiri," teriak Nandira mengingat penjelasan Rafiz jika saat itu ia sedang tidak sadar.
"Karena ku?"
"Iya, kamu kan yang memasukkan obat ke dalam minuman ku?"
"Iya, aku yang memasukkannya. Aku sudah muak kau terus menolakku,"
"Jika kau tak melakukannya mungkin semua ini tak akan terjadi, aku tak akan kehilangan kehormatan ku malam itu," ucap Nandira menatap tajam pada Riko.
"Oh jadi anak-anakmu lahir karena malam itu, jadi malam itu kau menghabiskan malam dengan nya, ternyata memang benar jika mereka adalah anak-anak Rafiz kan?"
"Iya, mereka adalah anak-anak kami. Terima kasih sudah mempertemukan kami malam itu. Rafiz jauh lebih baik darimu,"
"Plakkk," Riko menampar Nandira.
Nandira memegang pipinya yang terasa panas, bahkan ada cairan merah di sudut bibirnya.
Riko berjalan mendekati Nandira, Nandira terus berjalan mundur saat Riko semakin mendekat.
"Kau tau, malam itu aku terus mencari mu, aku sangat khawatir, ternyata kau menghabiskan malam dengan nya, dia melakukannya saat kau tak sadarkan diri. Apa itu yang kau sebut pria baik ha', sebaik apakah dia sampai mengambil kesucianmu secara paksa," ucap Riko memainkan jarinya di wajah Nandira.
Nandira terus berusaha menjauhkan wajahnya dari jari Riko.
"Jika dulu alasanmu menolakku karena ingin menjaga kesucian mu, menjaga kehormatanmu. Aku bisa terima. Sekarang kau tak suci lagi kan, bahkan kau sudah melahirkan anak pria itu. Apa kau juga tak mau melahirkan anak dari Ku?!" ucap Riko mencekik leher Nandira.
"Riko lepaskan, kau menyakitiku," ucap Nandira memukul tangan Riko yang terus memperkuat cekikan nya.
Wajah Nandira memerah saat Riko terus mencekiknya,
Melihat Nandira yang sudah kehabisan oksigen, Riko melepas cekikan nya. Nandira terbatuk-batuk di buatnya.
Riko langsung narik gaun Nandira hingga sobek di bagian depannya, bahkan memperlihatkan bagian dadanya, dengan sikap Nandira menutup dadanya dengan kedua tangannya, dan menatap tajam pada Riko.
"Riko lepaskan aku, Jangan lakukan ini," pekik Nandira terus meronta saat Riko mulai memeluknya dan menciumnya secara paksa.
Shireen yang tadinya ingin menghentikan Rico saat melihat Riko menyeret Nandira dan berpikir jika Riko akan kembali meminta Nandira untuk menjalin kembali hubungan mereka. Namun setelah melihat jika Riko menyiksa Nandira ia menghentikan langkahnya dan hanya melihat dari kejauhan. Ia hanya melihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu pada mantan tunangannya..
Tak jauh dari sana ada Jazlyn yang juga sejak tadi mengikuti mereka,
Saat melihat Nandira ke kamar mandi Jazlyn mengikutinya, tadinya ia Ingin menyusul Nandira masuk ke kamar mandi namun saat mendengar Shireen di kamar mandi bersama Nandira dan sepertinya mereka berdebat Jazlyn menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam. Ia hanya menunggu Nandira diluar dan mendengar semua percakapan mereka.
"Ternyata bukan hanya aku saja yang membencimu Nandira," batin Jazlyn.
"Apa maksudmu mereka sudah punya anak, bukankah mereka baru saja bertunangan,?" tanya seseorang yang menelfon Jazlyn.
"Benar, tapi memang itulah kenyataannya" jawab Jazlyn.
"Kirimkan aku foto anak-anak Rafiz" ucap orang tersebut.
Saat melihat Nandira keluar dari kamar mandi Jazlyn mengakhiri panggilannya, ia terburu-buru ingin menghampiri Nandira namun baru saja ia ingin menghampirinya ada seseorang yang menyeret dan membekap mulut Nandira.
Jazlyn terus mengawasi dari jauh mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, Jazlyn juga melihat wanita yang tadi berdebat dengan Nandira mengikuti nya.
Terlihat ekspresi jika wanita tersebut juga membenci Nandira dan senang dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
Jazlyn mencoba semakin mendekat, ia melihat pria itu berbuat kasar pada Nandira.
Jazlyn pergi dari sana dengan senyum Puas di wajahnya.
Ia pun membuat masalah dengan Rafiz, Jazlyn kembali memohon pada Rafiz agar memaafkannya, Ia juga mengeluarkan bakat aktingnya menangis berderai air mata di depan banyak orang.
Semua orang yang ada di sana mulai berbisik-bisik.
"Apa yang terjadi sebenarnya di sini, baru saja ia melamar seorang wanita, kali ini ada wanita lain yang mengatakan jika ingin memulai kembali rumah tangga mereka," itulah yang ada di pikiran mereka.
Rafiz menahan emosinya, tidak mungkin ia memukul seorang wanita di depan banyak orang. Rafiz meminta Miran mengamankan Jazlyn.
Miran, bawa perempuan ini pergi dari sini dan jangan biarkan mendekati kantor ini lagi, jika kau sampai melihatnya kau bisa melakukan apa saja padanya," perintah Rafiz sangat marah dengan suara ditekan.
Jazlyn diseret keluar dan terus berteriak dan berontak.
Iya dibawa keluar dari gerbang oleh para keamanan di kantor itu.
Jazlyn tersenyum sinis saat berada di luar gerbang.
"Semoga saja Aku cukup mengulur waktu untuk mereka," gumam Jazlyn berjalan ke mobilnya.
Jazlyn sudah mengambil foto Zidan dan Syahidah, begitu sampai di mobil ia mengirimnya pada seseorang dengan menyertakan tulisan "Ini foto anak-anak Rafiz."
"Bukankah ini pencipta game yang baru saja mereka luncurkan?" ucap seseorang saat melihat foto yang dikirim oleh Jazlyn.
Jazlyn pun pergi setelah mengirim foto itu.
"Malam yang indah," gumamnya lalu tertawa.
Rafiz yang merasa Nandira sudah lama meninggalkannya merasa khawatir, Ia pun segera menyusul Nandira.
Rafiz mencari ke kamar mandi terdekat, namun Nandira tak ada di sana, ia juga mencari ke beberapa kamar mandi lainnya. Nandira tak juga di sana. Rafiz menemukan anting Nandira yang terjatuh.
"Ini kan anting Nandira," gumam Rafiz mengambil anting tersebut.
Dan tak jauh dari sana Rafiz melihat satu anting lagi.
Rafiz sangat khawatir saat menemukan kedua anting Nandira.
Rafiz mengedarkan pandangannya dan melihat sesuatu berkilau agak jauh dari tempat nya berdiri.
Rafiz berlari menuju benda berkilau itu.
ππππππ₯Ίππππππ
Terima kasih sudah membaca π
LIKE VOTE KOMENNYA πππ
Salam dariku Author m anha.
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ₯Ίβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ₯Ίβ€οΈβ€οΈβ€οΈ