My Papa My Boss

My Papa My Boss
Tamu yang tak di harapkan.



"Brakkkk,"


Pintu berhasil didobrak, 4 orang bertubuh besar masuk kedalam rumah.


Syahidah yang tadinya mengira jika mobil yang ia dengar adalah milik Papanya berlari dengan cepat, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Papanya yang sejak tadi ia tunggu.


"Akhirnya papa datang juga," teriak Syahidah berlari menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat melihat orang yang masuk bukanlah Papanya melainkan orang yang bertubuh besar dan menatapnya tajam.


Syahidah memundurkan langkahnya saat melihat tatapan orang tersebut yang melihat kearahnya.


"Mereka siapa," lirih Syahidah mulai ketakutan.


"Itu dia Anaknya, tangkap dia," ucap salah satu dari mereka.


Syahidah yang merasa terancam langsung berlari ke lantai 2 di mana Zidan juga sedang tertegun melihat siapa yang datang.


Keduanya langsung berlari masuk kedalam kamar Zidan, mereka mengunci pintu nya,


"Kakak mereka siapa?" tanya Syahidah ketakutan.


"Kakak juga enggak tahu,"Jawab Zidan mencari sesuatu.


"Brakk,brakk,brakkk"


"Buka pintunya," mereka menggedor-gedor pintu kamar di mana tempat mereka bersembunyi.


"Bagaimana ini," panik Syahidah.


Zidan langsung mengambil tasnya yang sudah ia siapkan untuk di bawa ke rumah papanya, begitu juga dengan Syahidah.


"Kita harus keluar dari rumah," ucap Zidan.


Syahidah mengambil apa saja yang bisa di gunakan untuk melawan keempat orang tadi, begitu juga dengan Zidan.


"Ketemu," ucap Zidan yang sejak tadi mencari sebuah kotak besar.


"Itu apa?" tanya Syahidah melihat Zidan kesusahan mengangkat kotak,


"Tabur bedak itu di lantai," ucap Zidan,


Dengan cepat Syahidah melakukannya, ia menabur semua isi bedaknya.


"Inikan baru di beli mama," batin Syahidah melihat bedak kesukaannya yang baru sudah tak tersisa lagi.


"Bantu Kakak menarik ini ke sana." ucap Zidan minta Syahidah menarik kotak itu hingga ke dekat pintu. Zidan sedikit kesusahan mengangkatnya karena terlalu berat.


Zidan menumpahkan isi kotak tersebut ke lantai. Ribuan butir kelereng sudah bertebaran di lantai dan bedak tabur Syahidan.


Mereka melakukanya dengan cepat sebelum keempat orang itu berhasil membuka pintu.


Zidan kemudian mematikan lampu, mereka bersiap-siap untuk keluar dari kamar.


Keduanya berdiri di dekat pintu agar memudahkan mereka untuk keluar.


"Brakk,"


Pintu berhasil mereka buka, mereka melangkah pelan karena kamar tersebut gelap gulita.


Zidan dan Syahidah mendorong mereka agar lebih kedalam lagi dan dengan segera mereka keluar kamar, tak lupa Zidan menarik pintu menutup nya kembali.


Mereka mendekatkan kuping nya ke pintu, mencoba mendengar apa yang terjadi di dalam kamar.


Mereka mendengar suara benda jatuh dan teriakan dari dalam kamar. Bisa mereka pastikan rencananya berhasil.


Mereka melakukan tos.


"Aaaa Siapa kalian, lepaskan. Tolong, tolong" terdengar suara dari lantai bawah.


Mereka pun langsung berlari turun ke bawah. Namun ternyata dibawa masih ada dua orang lagi,


"Itu anaknya," tunjuk salah satu dari mereka saat melihat Syahidah.


Zidan dan Syahidah langsung berlari menjauhi mereka.


"Mau kemana kalian," mereka langsung


mengejar Zidan dan Syahidah.


Zidan dan Syahidah langsung berlari ke dapur, dua orang itu langsung mengejar mereka.


Zidan dan Syahidah melemparkan semua barang-barang yang ada di dapur, piring, gelas sendok, apa saja yang ada di dekat mereka.


Agar orang tersebut tidak semakin mendekat. Syahidah melihat bubuk cabai dan mericah Mamanya Ia pun mengambil dan menyembunyikannya di belakangnya.


Semua barang-barang yang ada di dekat mereka sudah habis. Mereka berjalan mundur saat kedua orang bertubuh besar itu terus mendekat kepadanya.


Dekat...dekat.... dan semakin mendekat.


Mereka terus maju dekat... Samakin mendekatkan begitu mereka akan menangkap keduanya Syahidah langsung melampar bubuk cabai dan mericah ke wajah mereka dan tepat sasaran.


Bubuk tersebut mengenai mata mereka.


Zidan dan Syahidah tak menyia-nyiakan kesempatan itu mereka langsung berlari menuju pintu.


Mereka Melawati bibi yang sudah terkapar di lantai.


"Pintunya terkunci," ucap Zidan saat tak bisa membuka pintu.


"Sepertinya mereka sudah menguncinya, bagaimana ini," Syahidah sudah mulai menagis ketakutan.


"Tenanglah." ucap Zidan, sebenarnya ia juga takut.


"Kak mereka sudah keluar kamar," pekik Syahidah saat melihat keempat orang di lantai dua sudah menuruni tangga.


Zidan terus berusaha membuka pintu namun tepat tak bisa terbuka.


"Lewat pintu belakang," ucap Zidan langsung menarik Syahidah yang sudah menagis ketakutan.


"Mau kemana kalian," teriak orang bertubuh besar itu mempercepat langkahnya menuruni tangga.


Kedua orang di dapur juga sudah keluar dari dapur walau masih mengucek matanya.


"Cepat kejar mereka," ucap salah satu pria yang masih berusaha membersihkan bubuk cabai dan mericah dari matanya. Sepertinya ia lah memimpin mereka.


Dengan cepat Zidan dan Syahidah berlari ke arah pintu belakang,


"Syukurlah terbuka,"Ucap Zidan saat berhasil membuka pintu dapur. tak lupa ia mengunci pintu itu setelah mereka keluar dan memberi beberapa pengganjal lagi pada gagang pintu.


Meja dan kursi juga di letakkan nya di depan pintu.


Mereka berlari ke arah pintu gerbang, namun lagi-lagi Zidan melihat 2 teman mereka berjaga di sana.


"Diam lah," bentak Zidan pada Syahidah yang terus menangis.


Zidan terlalu panik sehingga tanpa sadar ia membentak Adiknya, Syahidah langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya walau masih ada isakannya yang berhasil lolos.


Zidan melihat ke arah pintu dapur yang tak lama lagi berhasil mereka buka.


"Ikut Kakak," ucap Zidan kembali menarik adiknya, Syahidah hanya mengikuti arahan kakaknya sambil terus membekap mulutnya.


Mereka berlari ke arah gudang di belakang rumah, mencari tempat yang aman untuk mereka bersembunyi


Tak ada jalan untuk mereka keluar dari gerbang dan meminta bantuan.


"Jangan berisik ya," bisik Zidan saat mereka menemukan tempat bersembunyi.


Syahidah mengangguk ia masih sesegukan ia kembali membekap mulutnya menutup kedua matanya. Ia sangat ketakutan.


"Papa, mama Syahidah takut." batin Syahidah berharap Papa mamanya datang menyelamatkan mereka.


"Tenanglah," Zidan menarik Syahidah ke pelukannya,, ia bisa merasakan tubuh adiknya itu bergetar.


Mereka tersentak saat terdengar suara benda jatuh dari luar gudang,,


Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat Zidan semakin mempererat pelukannya. Sesekali ia mengusap rambut adiknya mencoba menenangkannya.


Pintu gudang terbuka, Zidan bisa melihat 3 orang masuk ke gudang itu dan mulai menjatuhkan barang-barang yang ada di sana.


Syahidah semakin ketakutan mendengar suara benda jatuh itu.


"Ayolah anak-anak, kami tak akan menyakiti kalian, kami hanya ingin bermain-main." ucapnya.


"Dimana ya kalian,"


"Yuhu"


"Om hitung sampai 10 ya,,, kami akan mencari mu, carilah tempat sembunyi yang aman."


"1,2,3,4," mereka yakin kedua anak yang mereka cari ada di dalam gudang itu.


Mereka menemukan penjepit rambut Syahidah di depan pintu gudang itu.


"5,6" mereka tersenyum saat melihat bayangan Zidan dan Syahidah di tembok, bisa mereka pastikan pemilik bayangan bersembunyi disana....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱


Ayo kak Like, Vote dan komennya,, kita up lagi😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬


Author m anha πŸ˜‰


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜±πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜±πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–