
Zidan dan Syahidah berlomba untuk sampai ke kelasnya, Saat melihat tingkah mereka berdua tak akan ada yang mengira jika mereka memiliki kegeniusan.
Mereka berdua bertingkah layaknya teman sepermainan nya.
Berlarian dan saling mengejek satu dengan yang lainnya.
Tak jarang Syahidah juga saling berdebat dengan teman sekelas hanya karena rebutan bangku paling depan saat salah satu murid yang duduk di bangku depan tak hadir.
Zidan memperlambat larinya saat akan sampai di kelasnya, agar Adiknya yang lebih dulu sampai, hal sekecil itupun Zidan selalu mengalah pada adiknya.
Begitu Zidan masuk ke kelas, Memet langsung menghampiri Zidan.
"Nanti kita ke rumahmu lagi ya, maksudku ke rumah tempat Singa itu," ucap Memet mengikuti Zidan duduk di bangkunya.
"Maksud kamu apa?" tanya Nizam.
Bangku Zidan berseberangan dengan bangku Nizam.
"Kamu tahu nggak papa Zidan sudah menemukan singa-nya. Kemarin aku ikut loh memindahkan singa itu," pamer Memet.
"Yang bener singa-nya udah ketemu?" tanya Riza ya ikut bergabung bersama mereka.
"Iya, tapi nanti enggak bisa, Mamaku yang jemput," ucap Zidan dengan santai melepas tasnya.
"Emangnya kenapa kalau mama kamu yang jemput?" tanya Riza.
"Mama belum tahu kalau Papa sudah menemukan singa-nya, jadi masih dirahasiakan," jelas Zidan.
"Ohh, begitu," ucap mereka semua.
"Zidan kamu kok nggak pernah sih ngundang kami main Secret partner level 3 lagi?" tanya Nizam.
"Habisnya main bareng kalian itu kurang seru, kalian semua payah," ucap Zidan.
"Emangnya selama ini kamu main sama siapa saja ?" tanya Memet.
"Zidan mengeluarkan gedjet dari tasnya kemudian mengaktifkan aplikasi Secret partner level 3. Ia memperlihatkan siapa saja yang sering ikut bergabung main dengannya. Ketiga temannya itu melongo saat melihat orang-orang yang sering main dengan Zidan adalah orang-orang yang mereka juga idolakan, Orang-orang yang memiliki level tinggi di setiap levelnya S P.
"Zidan kamu serius main dengan mereka?" tanya Nizam menggeleng tak percaya apa yang di lihat nya.
"Iya. Bahkan mereka sering mengundang ku untuk bermain. Namun, aku selalu menolaknya," jawab Zidan.
"Apa mereka tahu kalau kamu ini masih sekolah dasar, masih anak-anak?" tanya Riza terkagum-kagum.
Zidan kembali menggeleng, kemudian meminta teman-temannya mendekat padanya dengan isyarat jari telunjuknya. Semua dengan patuh mendekati Zidan, "Tak ada yang tahu, aku merubah suaraku menjadi orang dewasa. Ingat jangan beritahu siapapun kalau aku pemilik akun itu! hanya kalian yang tahu, mengerti!" Sahut Zidan.
"Oke, mengerti." kompak ketiganya.
Mereka kembali ke posisi awal mereka.
"Kapan dong kamu ngundang Kami main?" tanya Nizam pantang menyerah agar Zidan mau mengundangnya. Nizam sering mengundang Zidan. Namun, Zidan tak pernah menerimanya.
"Iya, nanti pulang sekolah kita main," ucap Zidan.
"Yees asyik!" seru Nizam.
"Kita main di mana nih? di rumahmu atau bagaimana?!" tanya Memet.
"Terserah kalian saja, mau ke rumah boleh," ucap Zidan.
"Enggak dulu ah, aku dilarang sama mamaku ke rumahmu, katanya di sana kita nggak belajar tapi kita cuman main saja," sahut Riza.
"Emangnya kamu izin bilangnya mau belajar?" tanya Zidan.
"Iya, aku bilang mau belajar kelompok. Emangnya kalian izin apa?" tanya Riza melihat Nizam dan Memet.
"Ya kita izinnya mau main game lah," ucap keduanya menertawakan Riza.
"Jadi hanya aku ya yang bohong sama mama," gumam Riza menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia berpikir mereka juga mengatakan hal yang sama kepada orang tua mereka, sehingga mereka diizinkan untuk bermain di rumah Zidan.
Sementara di kantor Nandira sangat sibuk mengurus pekerjaan kantor yang selama ini telah ditinggalkannya, menjadi seorang istri sekaligus pemimpin perusahaan bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang Nandira namun dia berusaha untuk melakukan keduanya.
Beruntung ia memiliki suami pengertian seperti Rafiz. Rafiz meminta orang kepercayaannya untuk mengelola perusahaan tersebut, sehingga Nandira hanya perlu mengawasi dan mengecek hasil kerjanya saja.
Begitu Nandira datang, para pegawai menyambutnya.
Para pegawai merasa sangat bersyukur bisa bekerja bersama dengan Nandira, mereka tak lagi dibayar seperti gaji pegawai pada umumnya. Namun semua keuntungan toko Nandira berikan kepada para pegawai, mereka membagi sama rata dari hasil keuntungan yang mereka dapatkan.
Nandira yang tahu jika para pegawainya hidup serba kekurangan dan menjadi tulang punggung keluarga, bahkan ada yang senasib dengan dirinya waktu dulu. Hidup sebagai singel parent bukanlah hal yang mudah, membuat Nandira jadi tergugah dan membantu mereka.
"Bagaimana dengan penghasilan toko?" tanya Nandira.
"Semuanya baik Bu, Penjualan di semua cabang juga terus meningkat," ucap Kiran.
"Kiran, aku percayakan pengelolaan toko kita ini padamu" ucap Nandira.
"Iya Bu, akan saya usahakan Bu," ucap Kiran.
Nandira memeriksa penghasilan toko beberapa bulan terakhir, ia sangat puas dengan hasil kerja mereka semua.
Nandira menghampiri kirain yang sedang ada di meja kasir
"Kiran Aku pulang dulu ya Aku ingin menjemput anak-anak di sekolah," ucap Nandira menghampiri Kiran.
" ya Bu," kirain dengan sikap berdiri saat Nandira menghampirinya. "Ayu, tolong bantu Kiran ya mengurus tokoh." Nandira yang melihat Ayu juga ada di sana.
" Baik Bu ," Ayu akan usahakan yang terbaik."Jawab Ayu.
Nandira mengambil kue coklat kesukaan Syahidah dan meminta Kiran untuk mengemas nya.
Ia juga sudah sangat kangen dengan kue andalan yang ada di tokonya itu.
1 panggilan masuk di ponselnya, itu adalah panggilan dari Rafiz. Nandira mengangkat ponselnya sambil berjalan ke mobilnya yang terparkir disana.
"Apakah masih di kantor ?" tanya Rafiz.
"Enggak, Aku sedang ada di toko sekarang aku sudah akan menjemput anak-anak," ucap Nandira masuk kedalam mobilnya.
"Apa toko?! Bukannya tadi aku memintamu untuk menunggu supir kantor untuk yang akan menjemput kalian?" ucap Rafiz, Nandira bisa mendengar nada emosi yang tertahan dari nada bicara Rafiz.
Nandira menggigit Bibir bawahnya, Ia lupa akan pesan suaminya tadi agar menunggu jemputan yang dikirim oleh Rafiz dari kantor.
Tadi, saat pulang dari kantor Nandira melihat mobilnya terparkir di sana, sehingga Nandira langsung masuk dan melajukan mobilnya ke toko. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali yang memakai mobil itu dan mengapa mobil itu ada di parkiran kantor.
Nandira hanya diam tak beran menjawab pertanyaan Rafiz.
"Nandira bisakah kau mematuhi apa yang aku katakan, apa sulit untuk menunggu sebentar saja, menunggu Supir yang ku kirim?
Sopir kantor mengatakan jika kau sudah dari kantormu dan ia mengatakan jika kau sudah pergi
"Maaf tadi aku lupa," ucap Nandira tergagap.
"Ya sudah, terserah kamu saja," mematikan ponselnya
Nandira melihat layar ponselnya, Rafiz sudah mengakhiri panggilan mereka.
"Apa dia marah,?" lirih Nandira. "Kenapa juga aku bisa lupa kalau ia menyuruhku menunggu sopir kantor untuk menjemput kami pulang.Nandira apa denganmu." Nandira memukul-mukul kepalanya.
"Oke baiklah, sekarang aku akan jemput anak-anak kemudian ke kantor Rafiz, dia pasti marah padaku. " Gumam Nandira melajukan mobilnya ke sekolah anak-anak nya.
πππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa like dan komennya yqπ
Salam dariku π€
Author m Anhaβ€οΈ
Love you all πππ
πππππππππππππ