
Zidan dan Syahidah ikut bersama dengan Nandira ke Rumah sakit. Mereka tak ingin lagi ditinggal di rumah, mereka takut jika para penjahat itu kembali datang dan ingin menculik mereka.
Begitu sampai di Rumah Sakit mommy langsung menghampiri kedua cucunya, "Bagaimana keadaan kalian? Kalian baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?" tanya mommy khawatir. Sejak tadi mommy sangat khawatir memikirkan mereka. Namun, Daddy memintanya untuk tetap di rumah sakit, Mereka harus menjaga Rafiz, mereka tak boleh meninggalkan Rafiz seorang diri di rumah sakit tanpa pengawasan.
"Kami baik-baik saja, Nek?" Jawab Zidan.
"Iya, Nek. beruntung ada singa papa yang menjaga kami, jika tidak ... mungkin kami sudah dibawa oleh para penjahat itu," ucap Syahidah.
Mommy melihat Nandira, ia tak mengerti apa yang dimaksud dengan Syahidah.
"Sepertinya mereka bersembunyi di kandang singa untuk menghindari para penjahat itu, saat kami datang mereka semua sudah pergi, mungkin mereka mengetahui jika kami datang. Mereka segera pergi dari sana," jelas Nandira.
Tak lama kemudian Miran datang dan menanyakan keadaan mereka.
"Kami baik-baik saja. Terima kasih," ucap Nandira.
Selama ini orang yang dicurigai Nandira adalah Miran. Namun, Miran terlihat begitu cemaskan keadaan mereka semua.
"Aku sudah memperketat penjagaan di rumah kalian dan juga di rumah sakit ini. Sepertinya mereka sudah mulai beraksi," gumam Miran.
"Apa kau mengenal mereka?"tanya Nandira yang mendengar ucapan Miran.
Miran hanya diam, tak menjawab pertanyaan Nandira. Membuat Nandira semakin curiga dengannya.
"Mengapa …," baru saja Nandira ingin menanyakan lebih lanjut, pintu ruang operasi Rafiz sudah terbuka dan keluar Dokter dan beberapa perawat.
"Bagaimana keadaan suami saya Dokter?" Nandira langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Kami berhasil mengeluarkan pelurunya, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita hanya tinggal menunggu ia sadar dan memastikan kondisinya" ucap Dokter tersebut.
Semua bernafas lega khususnya Nandira, ia sudah sangat takut, takut jika Rafiz akan meninggalkannya.
Rafiz dipindahkan ke ruang perawatan, mereka semua hanya bisa duduk dan melihat Rafiz yang berbaring di ranjang pasien, menunggu Rafiz bangun.
"Sebaiknya kalian pulang, Dokter mengatakan bahwa Rafiz akan sadar masih beberapa jam lagi, kalian bisa datang besok pagi biar aku yang menjaganya disini," ucap Miran..
"Tidak, tidak perlu. Aku bisa menjaga suamiku sendiri," ucap Nandira merasa curiga.
"Tapi, sepertinya anak-anakmu sudah sangat mengantuk, apa mereka akan tidur di sini malam ini?"tanya Miran.
Nandira melihat anak dan mertuanya yang terlihat tak nyaman tidur di sofa.
"Begini saja, biar aku yang mengantarkan mereka pulang. Kau boleh menjaga Rafiz di sini, aku akan minta beberapa orang untuk berjaga di luar. Akan ku pasti kan kalian aman," ucap Miran meyakinkan Nandira.
Nandira hanya mengangguk, walau ada sedikit keraguan di hatinya. Namun, Ia juga kasihan melihat mertua dan anaknya.
Miran kemudian membawa mereka pulang, Nandira yang khawatir terus menghubungi Zidan setiap beberapa menit, hingga mereka sampai di rumah baru lah Nandira merasa tenang.
Nandira yang merasa kelelahan dan hari juga sudah malam tanpa sadar tertidur di sofa.
Beberapa saat kemudian seseorang dengan berpakaian jas Dokter masuk ke ruangan perawatan Rafiz.
Pria itu berhasil mengecoh beberapa penjaga yang berjaga di luar pintu dengan memakai jas Dokter, memakai masker dan beralasan jika ia ingin mengganti cairan infus pasien dan baru saja mendapat panggilan.
Penjaga ingin mencari tahu kebenaran ucapan pria itu, ia ingin menanyakan langsung pada Nandira. Namun, Nandira sedang tertidur, penjaga melihat cairan infus Rafiz yang memang sudah hampir habis.
Mungkin menang infusnya harus diganti. Pikirnya.
Para penjaga mengijinkan pria itu masuk.
Pria tersebut kembali memastikan tak ada yang melihat apa yang telah dilakukannya.
Setelah dirasa berhasil, pria itu berjalan keluar.
Rafiz membuka mata dan melepas jarum infus yang menempel di punggung tangannya.
Sebelum pria berjas Dokter itu masuk, Rafiz yang sudah sadar dan mencoba untuk bangun. Namun, dadanya terasa sakit, ia pun kembali berbaring mencoba mengatur detak jantungnya. Rafiz melihat Nandira yang tidur di sofa. Baru saja Rafiz ingin kembali mencoba untuk duduk seseorang membuka pintu dan terlihat gerakannya yang aneh. Rafiz yang masih berbaring langsung menutup matanya mencari tahu apa yang diinginkan orang tersebut.
Benar saja, orang itu bersikap sungguh sangat aneh dan menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infusnya.
Rafiz yang menyaksikan semua itu langsung melepas cairan infus yang mengalir ke tubuhnya, ia yakin itu cairan yang berbahaya dan orang tadi bukanlah seorang dokter dilihat dari caranya bersikap.
Orang tersebut berjalan santai keluar, Rafiz mencoba bangun dan mengambil tiang infus dan dengan sisa kekuatannya ia memukul bagian belakang orang tersebut, membuat orang itu langsung tersungkur tak sadarkan diri.
Nandira mendengar keributan langsung bangun dan sangat panik melihat Rafiz sudah sadar dan seseorang justru terkapar di lantai dengan luka di kepalanya.
Dengan cepat Nandira menekan tombol darurat yang ada di kamar itu dan membantu Rafiz duduk di sofa.
Tak butuh waktu lama, beberapa perawat dan seorang Dokter pun masuk. Mereka sangat heran melihat situasi di kamar itu, Seseorang tak sadar dan Rafiz yang mereka sangka mengalami keadaan darurat kini justru duduk di sofa.
"Apa orang itu salah satu Dokter disini?" tanya Rafiz yang melihat orang tersebut memakai jubah dokter.
Salah satu perawat langsung membalikkan badan orang itu yang jatuh tertelungkup dan membuka maskernya.
"Ia bukan Dokter ataupun petugas kesehatan di Rumah Sakit ini, Pak!" jawab perawat.
"Pria itu juga menyuntikkan sesuatu dalam cairan infus ku, cari tau cairan apa itu?"
Beberapa penjaga yang menyadari jika di dalam ada kegaduhan langsung masuk dan mereka kaget saat melihat ada seseorang yang terluka.
"Apa yang kalian lakukan di depan pintu sehingga orang ini hampir saja membunuhku?!" garam Rafiz.
"Maaf, Pak. Kami pikir orang tersebut adalah seorang Dokter."
Rafiz teringat akan anak-anaknya,
"Dimana Zidan dan Syahidah?" tanya Rafiz menatap pada Nandira.
"Anak-anak sudah pulang, mereka sudah sampai dirumah, mereka pulang bersama daddy dan mommy diantar oleh Miran.
"Apa … Miran?? ucap Rafiz yang baru mengingat sebelum kejadian penembakan itu salah satu orang yang mereka sekap mengatakan jika salah satu orang yang menyuruh mereka bernama Miran, baru saja orang tersebut ingin mengatakan satu nama lagi pria tersebut sudah tersungkur jatuh berlumuran darah. Begitu juga dengan pria yang lainnya, ia juga tertebak.
Rafiz panik, baru saja ia ingin keluar dari ruang itu, Rafiz merasakan sakit di dadanya. Ia juga tertembak.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
love you all 💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖