
Semua tercekat saat mendengar suara tembakan yang nyaring di ruangan itu.
Melihat Nandira dan Jazlyn mecoba mengecoh penjahat yang menodongnya, Rafiz dengan sisa tenaganya mencoba menghampiri mereka dengan tertatih.
Rafiz melihat Aksan mengarahkan senjatanya pada Nandira yang tengah berlari ke arahnya. Entah kekuatan dari mana Rafiz yang babak belur, penuh luka dan sangat lemah berlari ke arah Nandira, dengan cepat memeluknya dan memutar tubuh meraka, memasang tubuhnya sebagai pelindung untuk istrinya.
Suara tembakan nyaring terdengar sesaat setelah Rafiz memeluk nya.
Tubuh Nandira membeku,
Nandira mengira jika Rafiz terkena tembakan, begitu juga sebaliknya. Rafiz yang tak merasakan sakit mengira ia terlambat menyelamatkan Nandira.
Beberapa saat berlalu. Suasana hening, mereka melepas pelukan dan saling tatap.
"Sayang kamu tak apa-apa?" tanya Rafiz cepat.
"Tidak, aku tak apa-apa," jawab Nandira membuat Rafiz bernafas lega.
Mereka berbalik melihat apa yang terjadi.
Nandira membekap mulutnya saat melihat Jazlyn sudah jatuh dan ada luka tembak yang bersarang di tubuhnya.
Aksan menjatuhkan senjatanya setelah tanpa sengaja menembak mantan kekasihnya.
Tadinya Aksan mengarahkan senjatanya pada Nandira. Namun, sebelum ia menekan pelatuknya, Zidan yang berada tak jauh dari sana langsung berlari dan mengubah arah tembakan Aksan, dengan sigap Zidan menghindarkan sasaran Aksan yang akan membidik mamanya.
Dengan cepat Aksan berlari menghampiri Jazlyn, membawa kepala Jazlyn ke pangkuannya. Zidan juga langsung berlari ke arah papa dan Mamanya tak lupa ia mengambil senjata yang dibuang oleh Aksan tadi.
"Jazlyn, kamu nggak apa-apa?" Memegang tangan Jazlyn.
"Maaf, jika aku mengecewakanmu. Aku sangat mencintaimu. Jadilah Aksan yang dulu, akhiri semua ini," hanya itu yang diucapkan Jazlyn sebelum ia kehilangan kesadarannya.
Aksan memeluk Jazlyn yang sudah tak sadarkan diri, punggung nya bergetar, ia telah menembak orang yang disayanginya, jauh di lubuk hatinya Aksan masih sangat menyayangi Jazlyn. Namun, rasa dendamnya yang menutupi semua rasa cintanya kepada Jazlyn.
Dengan kilatan kemarahan ia menatap kepada mereka bertiga, Rafiz, Nandira, dan Zidan.
Rafiz ambil senjata yang dipegang oleh Zidan dan menodongkan nya kepada Aksan membawa Nandira dan Zidan di belakang tubuhnya.
Aksan berdiri dan berjalan mendekat, "Apa yang kau tunggu, ayo tembak, tembak aku, tembak di sini," ucapnya lalu menunjuk dadanya sambil terus berjalan mendekati mereka. Rafiz Nandira dan Zidan,
Aksan yang sangat frustasi melihat Jazlyn semakin menggila, ia tertawa tak karuan dan terus berjalan maju tak ada rasa takut walau Rafiz telah menodongkan senjata ke arahnya.
Aksan semakin mendekat, Rafiz menarik pelatuknya. Namun, sayang tak ada letupan yang terdengar, tak ada yang terjadi,pelurunya kosong.
Rafiz kembali mengambil senjata yang di pegang Nandira dan kembali mengarahkannya pada Aksan.
Aksan menghentikan langkahnya. "Ayolah ini tak seru, Apakah aku akan berakhir hanya seperti ini," ucap Aksan semakin menggila. "Ayo tembak, Jika kau tak membunuhku aku yang akan membunuhmu," ucap Aksan dengan seringnya jahatnya.
Baru saya Rafis akan menarik pelatuknya, "Papa …" teriak Syahidah.
Semua berbalik melihat arah sumber suara. Aksan kembali tertawa saat kemenangan lagi-lagi di pihaknya, salah satu anak buahnya menangkap Syahidah dan kembali menodongkan senjata ke kepala anak Rafiz itu.
Aksan terus tertawa dan mendekati Rafiz mengambil senjata yang dipegangnya.
"Coba lihat, sepertinya situasi ini selalu saya mendukungku, ternyata memiliki keluarga juga memiliki beban yang cukup berat."
"Kita lakukan sedikit permainan sebelum mengakhiri semua ini," ucap Aksan menarik Zidan menjauh dari mereka.
"Mama," pekik Zidan saat ditarik oleh Aksan secara paksa.
Nandira tak bisa berbuat apa-apa, melihat Syahidah yang sedang menangis tak jauh dari mereka.
Aksan memberikan senjata yang dipegangnya kepada Zidan kemudian ia berjalan menuju ke arah Syahidah, mengambil pistol yang dipegang anak buahnya kemudian menodongkan nya dikepala anak itu.
"Kita buat permainan ini lebih seru! Bukankah kau pemilik akun bernama Secret Partner, kudengar kemampuan dalam menembak tak diragukan lagi. Aku ingin melihatnya secara langsung. Oya tembak sasaran mu, kamu bisa memilih salah satu dari orang yang ada dihadapanmu," tunjuk Aksan dengan tatapannya pada Nandira dan Rafiz.
Nandira terbelalak kaget pria itu benar-benar kejam bisa-bisanya ia menyuruh anak mereka menembak salah satu dari mereka.
"Aksan kau jangan gila," garam Rafiz. Namun itu semua tak buat Aksan takut, ia justru senang dan memperlihatkan sering licinnya.
"Ayo Secret partner, tunjukkan padaku seperti apa kehebatan mu dalam membidik."
Zidan menggeleng tak mungkin ia menembak salah satu dari mereka salah satu dari papa dan Mamanya.
"Zidan, tembak papa," ucapan Rafiz melepas rangkulannya pada Nandira dan sedikit berjalan menjauh dari Nandira.
"Mas, Mas apa yang Mas katakan, mana mungkin Mas meminta Zidan menembakmu," isak tangis yang semakin mengeras dari Nandira Sama halnya dengan Syahidah.
"Ayolah. Kenapa sangat lama, jika kau menembak selama ini musuh yang akan menembakmu lebih dulu, ayo perlihatkan padaku tontonan yang menyenangkan," ucap Aksan yang sudah tak sabar menyaksikan kekalahan dari musuhnya, Ia sudah tak sabar melihat Rafiz mendapat tembakan dari putranya sendiri.
Zidan membeku ia tak tahu harus berbuat apa, disisi lain ia melihat Syahidah yang menangis ketakutan dan senjata yang ditodongkan padanya, disisi lain ia melihat papanya berlumuran dara, tangannya bergetar tak tahu harus bagaimana.
Nandira tak bisa berbuat apa-apa, Ia hanya membiarkan air matanya menetes di pipinya rasanya semua ini terlalu berat untuk dicerna.
"Ayo tembak," Teriak Aksan membuat Zidan tersentak dan langsung menggenggam senjatanya dengan erat.
"Aku akan menghitung sampai 3, pilihlah cepat, tunjukkan kemampuan menembak dengan menembak papa atau mamamu, jika dalam hitungan ketiga kau tak dapat memilih biar aku yang memilih." Aksan memberikan Syahidah pada anak buahnya. Memegang Syahidah yang terus menangis ingin melepaskan dirinya.
Aksan melihat beberapa orang sudah semakin mendekat, ia sudah tak banyak waktu dan ia juga ingin melihat hal gila yang sedang dimainkannya.
Satu, Aksan mulai hitungannya membuat tangan Zidan bergetar dan menatap mama dan papanya.
"Lihat Papa, ayo tembak papa, Nak," Rafiz berusaha membujuk agar Zidan mengarahkan tembakannya padanya, Rafiz juga bisa melihat Jika beberapa anak buahnya sudah mendekat, ia bisa menahan tembakan dari Zidan. Namun tidak dengan Nadira dan Syahidah.
Rafiz menatap dalam mata Zidan yang juga menatapnya dan mengangguk pelan berusaha meyakinkan Zidan jika ia akan baik-baik saja.
Nandilah sudah membekap mulutnya mencoba menahan isakannya.
Ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat kegilaan yang akan ciptakan Aksan.
Dua," Aksan kembali melanjutkan hitungannya.
"Tembak papa!" Rafiz terus meyakinkan Zidan. Ia berusaha meyakinkan Zidan dan matanya terus melihat beberapa orangnya sedang berlari menuju ke arah mereka.
"Tiga," hitungan terakhir diucapkan Aksan.
Aksan yang tak mendengar suara tembakan yang keluar dari senjata yang dipegang Zidan langsung mulai menarik pelatuknya mengarahkan kepada Syahidah.
Dor ... dor ... dor, 3 kali suara tembakan begitu nyaring memenuhi ruangan itu beberapa orang yang mendengarnya langsung semakin mempercepat langkah mereka. Nandira menutup matanya tak ingin melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Rafiz juga menutup matanya, mereka berpikir Zidan tak memilih mereka berdua itu berarti mereka Kehilangan Syahidah.
"Papa, Mama," teriak Syahidah berlari menuju papa dan Mamanya.
Rafiz langsung membuka mata begitu juga dengan Nandira. Ia langsung membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan langsung memeluk putrinya.
Menghujaninya dengan ciuman. Airmata mereka berdua terus menetes bersama isakan yang semakin mengeras.
Rafiz melihat jika Aksan dan anak buahnya sudah terkapar di lantai.
Zidan memuntahkan 3 pelurunya.
Pertama ia menembak pas di pergelangan tangan Aksan membuat senjata yang dipegang terjatuh ke lantai, tembakan kedua ditujukan kepada anak buah Aksan yang memegang Syahidah dan tembakan ketiga ditujukan kepada Aksan.
Tangan Zidan bergetar ia tak menyangka ia telah menembak 2 orang..Zidan melihat dua orang itu sudah tak sadarkan diri. Rafiz yang melihat Zidan yang masih syok langsung mengambil senjata yang dipegang dan membuangnya.
Memeluk putranya itu. Zidan langsung menangis dalam pelukan Papanya, Rafiz mencoba menenangkan putranya.
Semua rasa ketakutan yang sedari tadi dirasakannya, memuncak sudah.
"Sudah Tenanglah, pilihanmu sudah tepat
mereka memang pantas mendapatkannya." meyakinkan Zudan yang masih menagis ketakutan.
"Tenanglah, lihat Papa. Kamu sudah menyelamatkan adik kamu, Syahidah baik-baik saja. kamu Kakak yang hebat," ucap Rafiz menenangkan putranya. Rafiz bisa merasakan jika tubuh putranya berguncang hebat karena tangisan dan rasa ketakutan yang ia rasakan.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏 mohon dukungannya dengan memberi like, komentar.
mampir ke karya ku yang lainnya kak.
Salam dariku Author m anha ❤️.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖