My Papa My Boss

My Papa My Boss
Hari Pernikahan



Di kamar Rafiz dan Zidan masih tertidur nyenyak, semalam meraka baru tidur saat menjelang subuh.


Ponsel Rafiz terus berdering, mengganggu tidurnya.


Dengan malas Rafiz mencari-cari ponselnya dengan mata yang masih tertutup.


"Halo ," ucap Rafiz dengan suara seraknya khas bangun tidur tanpa melihat siap yang memanggilnya.


"Kamu masih tidur ya?" Kesal Nandira yang mendengar suara serak Pria yang beberapa jam lagi menjadi suaminya itu.


Mendengar pertanyaan itu Rafiz langsung membulatkan matanya dan melihat jam di ponselnya,


"Halo... Rafiz, kamu masih tidur ya?" panggil Nandira.


"Enggak kok, ini lagi siap-siap sama Zidan. Sebentar lagi kita mau berangkat," bohong Rafiz, Zidan bahkan masih mendengkur.


"Ya udah, Aku dan Syahidah sudah siap, kalian cepat ya kami tunggu ," ucap Nandira.


"Iya, ini juga udah mau jalan," jawab Rafiz mematikan ponselnya.


"Zidan ayo bangun, bangun,'" ucapan Rafiz terburu-buru bangun dari tidurnya.


Acara akan dilaksanakan sebentar lagi, namun ia sama sekali belum siap. Putranya juga masih tidur.


"Zidan ayo kita mandi ," ucap Rafiz menggendong anaknya yang masih tertidur ke kamar mandi.


"Papa lima menit lagi, Zidan masih ngantuk," ucap Zidan dengan mata yang masih tertutup.


Zidan langsung membulatkan matanya saat merasakan guyuran air di kepalanya.


Dan saat membuka mata ternyata dia telah ada di kamar mandi bersama dengan Papanya.


Zidan yang mendapat guyuran kaget dan langsung berdiri.


Rafiz mendudukkan Zidan di kloset.


"Ayo cepat, kita sudah terlambat. Mama sudah menunggu kita," ucap Rafiz kembali menyiram Zidan.


Zidan yang masih belum sepenuhnya sadar hanya pasrah saat Rafiz memandikan nya, kemudian Ia pun mandi.


Mereka dengan cepat bersiap-siap.


"Ayo kamu pakai sendiri bajunya," ucap Rafiz panik memberikan pakaian Zidan.


Zidan yang baru tersadar jika Papanya dari tadi seperti itu karena mereka sudah terlambat ke acara pernikahan Papa dan Mamanya. Zidan ikut panik dan dengan cepat ia juga memakai bajunya.


Meraka berdua dengan cepat memakai pakaian masing-masing.


Rafiz berjalan bahkan sedikit berlari kesana kemari mencari barang-barang yang akan digunakannya.


"Aduh kaos kakiku kemana lagi," ucap Rafiz menghamburkan semua pakaian yang ada di kopernya.


Zidan yang juga tak menemukan kaos kakinya mengikuti apa yang Papanya lakukan. Ia mengeluarkan Semua barang-barang yang ada di kopernya, "Ketemu," sorak Zidan menemukan kaos kakinya.


Zidan sudah menemukan apa yang dicari namun tidak dengan Rafiz.


"Papa bagaiman? apa sudah ketemu?" tanya Zidan mendekati Papanya.


"Belum, bantu Papa mencarinya," Panik Rafiz.


Ponselnya terus saja berdering, itu panggilan dari Nandira.


Setelah mencari ke semua ruangan kaos kaki tersebut tak juga ketemu, Rafiz kemudian duduk di tepi tempat tidur.


Ponselnya kembali berdering.


"Halo kalian dimana? Kenapa belum datang tanya?!" tanya Nandira begitu Rafiz mengangkat panggilannya.


"Ini juga lagi di jalan," ucap Rafiz.


"Ya sudah, cepat ya ini mommy sudah dari tadi nanyain kita," ucap Nandira.


"Iya," Rafiz mematikan panggilannya.


"Mana lagi Itu kaos kaki," Kesal Rafiz frustasi.


"Papa, di kantong Papa itu apa?" tanya Zidan menunjuk di kantong kemeja Rafiz.


Rafiz menunduk melihat ke arah yang ditunjuk Zidan.


"Astaga, ternyata di sini rupanya," ucap Rafiz Yang baru menyadari jika kaos kaki yang sedari tadi mereka cari ada di saku kemejanya.


Setelah memastikan mereka sudah siap, mereka keluar dari kamar. Meninggalkan kamar yang sudah sangat berantakan hanya karena mencari kaos kaki.


Rafiz dan Zidan sedikit berlari menghampiri Nandira dan Syahidah di ruang make up.


Keterpesonaan dan kebahagiaan itu hilang saat melihat Nandira menatapnya tajam.


"Kalian baru bangun kan?!" tanya Nandira pada Rafiz.


Rafiz dan Zidan hanya saling menatap dan hanya tersenyum melihat Nandira yang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kesal.


Mommy yang sedari tadi menunggu mereka di ruang tempat akan di laksanakan ijab kabul menyusul mereka.


"Kenapa kalian lama sekali?! para tamu sudah datang dan acara akad nya juga sebentar lagi akan dimulai," ucap Mommy.


"Ini mom, Anak dan cucu mommy baru bangun," kesal Nandira menatap Rafiz.


"Kamu kesiangan?" tanya Mommy pada putranya.


Rafiz hanya tersenyum sambil memegangi bagian belakang lehernya.


"Mau nikah kok malah ketiduran," kesal Nandira berjalan mengikuti mommy sambil memegang tangan Syahidah, meninggalkan kedua pria yang sudah membuat mood-nya menjadi buruk.


Rafiz dan Zidan mengikuti mereka dari belakang, mereka tak banyak bicara karena kenyataannya memang mereka baru bangun.


Begitu akan memasuki tempat dilaksanakannya acara akad nikah Rafiz memberi tangannya agar Nandira menggandengnya.


"Kau deg-degan," bisik Rafiz.


Nandira mengangguk cepat,


Santai saja," ucap Rafiz. Padahal dia juga sangat deg-degan. Walau ini pernikahan keduanya namun tetap saja ia merasa sangat tegang.


Zidan dan Syahidah berjalan lebih dulu masuk ke ruangan tersebut bersama dengan mommy, setelah itu barulah Nandira dan Rafiz.


Keduanya tersenyum kepada semua para tamu .


Nandira melihat jika para karyawan dan teman-temannya juga sudah ada di sana menyambut mereka.


Mereka hanya mengundang beberapa orang dekat saja di Acara akad. Para tamu dan rekan bisnis serta koleganya di undang dalam acara resepsi malam nanti.


Rafiz membawa Nandira kemeja tempat dilaksanakannya ijab kabul, sedangkan Zidan dan Syahidah memilih duduk bersama dengan kakek dan neneknya.


Nandira kembali berkaca-kaca namun ia berusaha untuk menahan rasa harunya, Hari ini ia menikah tanpa didampingi oleh kedua orang tuannya.


Tenanglah bisik Rafiz yang melihat raut kesedihan di wajah calon istrinya.


Nandira sebisa mungkin tersenyum dan menahan air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya.


Zidan bisa melihat jika Mamanya terlihat sedih, Zidan menghampiri Mamanya dan menggenggam tangan Mamanya.


Melihat Zidan menghampiri Mamanya Syahidah juga ikut menghampiri mereka.


Zidan dan Syahidah mengambil tempat duduk di dekat Mamanya.


Kehadiran mereka membuat Nandira merasa lebih tenang. Kedua anak kembarnya adalah segalanya bagi Nandira.


Acara pun di mulai.


Penghulu mulai membacakan beberapa aturan dalam pernikahan dan masih banyak lagi yang iya baca kan agar didengarkan oleh kedua calon mempelai.


Jantung Rafiz semakin berdetak sangat kencang, detik-detik dimana ia akan menjadi suami sah untuk Nandira sungguh membuat ia merasa tegang.


Penghulu mulai menjabat tangan Rafiz dan membacakan ijab Kabul yang bertanda Salah satu syarat dalam membuat hubungan mereka menjadi sah secara agama.


Rafiz melafalkan ijab kabul dengan sangat fasih. Sejak semalam dia terus mengulanginya agar tak ada masalah dalam pengucapannya hari ini.


Usahanya berhasil, ia menjadikan Nandira istrinya dengan satu kali percobaan dan satu tarikan nafas.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–β€οΈπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membacaπŸ™


jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi LIKE VOTE KOMENNYA.❀️


Dukungan kalian begitu berarti untuk memberi semangat kepada kami para auditor agar bisa membuat karya lebih baik lagiπŸ€—


Sambil menunggu UPDATE selanjutnya, kalian bisa mampir ke karya pertamaku judulnya PILIHAN KU.


Terima kasih sebelumnya, ditunggu yaπŸ€—


Salam darikuπŸ’


Author m anha


love you allπŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–