My Papa My Boss

My Papa My Boss
Awal dari Kebahagiaan Nandira.



Cahaya sinar matahari menyilaukan mata Nandira, saat cahaya tersebut berhasil lolos dari celah gorden yang terpasang di kamar hotel itu. Kamar hotel yang menjadi saksi bisu menyatunya cinta mereka.


Nandira merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit, kasusnya daerah sensitifnya.


"Ini kan bukan yang pertama," batin Nandira meringis saat mencoba menggerakkan kakinya.


Iya tak bisa menggerakkan badannya saat tangan kekar Rafiz memeluknya dari belakang.


Nandira mencoba memutar badannya menghadap ke arah suaminya.


Membiarkan tangan kekar Rafiz melingkar di perutnya.


Nandira melihat wajah tampan suaminya itu yang terlihat acak-acakan, terlihat jelas jika ia sangat kelelahan.


Bayangan saat pertama kali melihat Rafiz beberapa tahun lalu kembali teringat dibenaknya.


Waktu itu ia juga terbangun dan melihat Rafiz dalam kondisi yang sama, namun kali ini ia merasa sangat bahagia.


Pria yang sedang tertidur pulas dan memeluk tubuh polosnya itu sudah menjadi suaminya.


Nandira terus memperhatikan wajah Rafiz hingga Rafiz membuka mata.


Rafiz yang melihat Nandira melihatnya dan tersenyum kepadanya langsung mendaratkan ciumannya dan kembali mengulangi adegan semalam.


***


Mereka baru kembali ke rumah saat sore hari.


Saat mereka masuk ke dalam rumah, mereka disambut wajah cemberut Syahidah.


Semalam neneknya mengatakan jika Papa dan Mamanya akan pulang saat pagi hari Namun mereka baru pulang di saat sore hari bahkan menjelang malam.


Nandira yang sudah paham dengan sikap dan kebiasaan putrinya itu, sudah menyiapkan sesuatu untuk menbujuknya. Sebelum pulang mereka membeli hadiah untuk Syahidah.


Mereka membeli boneka Frozen dan berbagai macam rasa es krim kesukaan nya.


"Anak Papa kenapa manyun begitu? entar cantiknya hilang loh," rayu Rafiz mencoba menarik anak gadisnya itu.


Syahidah memalingkan wajahnya, masih merasa marah pada Papa dan Mama nya.


"Wah boneka Frozen ini sepertinya edisi terbaru deh, dan sepertinya es krim ini rasanya pasti enak," goda Rafiz.


Syahidah yang mendengar apa yang diucapkan oleh Papanya langsung menoleh dan mencoba mengintip apa yang ada dibalik paper bag besar yang ada di tangan Papanya itu.


Rafiz yang melihat Syahidah mulai tergoda langsung menarik putrinya itu ke pangkuannya dan memberikan semua itu kepadanya.


"Maaf ya, tadi macet di jalan." ucap Rafiz.


"Papa sama Mama dari mana sih?, semalam Papa tidur sama Mama, hari ini juga jalan sama Mama. Papa tidak sayang ya sama Syahidah," ucapnya sambil coba membuka es krimnya.


"Syahidah itu anak kesayangan Papa, kalian semua itu kesayangannya Papa. Papa nggak suka ah Syahidah ngomong kayak gitu," ucap Rafiz mengambil es krim yang ada ditangan putrinya dan mencoba membukakan untuknya.


"Tapi kenapa Papa enggak ngajak Syahidah jalan-jalan sama Mama?!" tanya Syahidah mulai menjilati es krimnya.


"Mama dan Papa nggak jalan-jalan kok sayang, Kami cuma di kamar hotel. Mama kelelahan jadinya Mama tidur terus deh," ucap Rafiz.


Syahidah melihat Mamanya yang sedang berbincang dengan Neneknya.


Syahidah bisa melihat jika Mamanya sesekali menguap..


Ia pun percaya apa yang di katakan oleh Papanya, jika mamanya memang kelelahan dan butuh istirahat.


"Oh ya Pah, Syahida boleh ikut foto model?" tanya Syahidah.


"Foto model?" tanya Rafiz,


"Iya, di acara pesta pernikahan kemarin ada yang nawarin Syahidah jadi modelnya, boleh ya Pah," rengek Syahidah.


Jika dulu Syahidah dan Zidan menjadi foto model karena ingin membantu perekonomian mamanya, sekarang Syahidah ingin menjadi model agar bisa terkenal. Ia suka difoto karena sudah menjadi kegemarannya bergaya di depan kamera.


"Tentu saja boleh, Papa akan carikan fotografer yang terbaik untukmu," ucap Rafiz.


"Tak usah Pah, Syahidah sudah menemukan orang yang akan memotret Syahidah."


Syahidah berlari mengambil kartu nama yang ada di dalam tasnya.


Syahidah ingin menjadi artis terkenal dan juga ingin menjadi foto model terkenal.


Syahidah sangat menyukai kepopuleran.


"Ini Pah kartu namanya," ucap Syahidah dengan gaya imutnya menyerahkan kartu nama itu pada Papanya.


"Papa akan selalu mendukung apa yang kamu cita-citakan," ucap Rafiz membuat Syahidah berlompat-lompat kegirangan mendapat persetujuan dan dukungan dari Papanya.


Malam ini terjadi drama kembali antara Rafiz dan Syahidah.


"Papa, Papakan tidurnya di kamar bawah dengan Zidan, kenapa Papa tidur di sini," keluh Syahidah yang merasa sempit.


Rafiz ikut bergabung tidur bersama dengan mereka.


"Papa merindukan kalian semua, jadi boleh ya malam ini Papa tidur di sini," mohon Rafiz.


"Tapi Papa ini sempit kalau kita berempat tidur disini bersama-sama." kali ini keluhan datang dari Zidan.


"Papa punya ide, kalian akan tidur disini, biar Papa dan Mama yang tidur di kamar bawah bagaimana?!" tawar Rafiz.


"Setuju," jawab Zidan.


"Aku tak setuju, Aku ingin tidur dengan Mama," kekeh Syahidah.


"Gini aja deh, Kalau Syahidah mau tidur disini sama Zidan dan Mama tidurnya sama Papa, besok Papa buatkan kamar buat Syahidah yang bagus. Syahidah suka karakter Frozen kan?," Syahidah mengangguk, " Papa akan buat kamar untuk Syahidah layaknya istana yang ada di animasi Frozen, bagaimana Syahidah setuju?"


Syahidah yang mendengar tawaran Rafiz langsung mengangguk antusias, "Iya Pah, Syahidah mau," ucap Syahidah langsung memeluk Papanya.


Nandira hanya menggeleng melihat ulah suaminya itu, sepertinya kecerdasan bernegosiasi ini di kantor juga digunakan dalam merayu putrinya.


Nandira merapikan tempat tidur mereka, memberi kecupan kepada kedua anaknya itu. "Selamat malam ya, semoga mimpi indah," Ucap Nandira.


Rafiz memperbaiki selimut anak-anaknya, "Tidur ya, besok kan kalian harus sekolah," ucapnya kemudian juga mengecup kening kedua anak-anaknya itu.


Keduanya mengangguk,


"Selamat malam Pah, selamat malam Mah," ucap mereka dan mencoba untuk tertidur.


Rafiz dan Nandira pun keluar dari kamar itu menuju ke kamar yang lain.


Rafiz takkan rela tidur terpisah dengan Nandira walau hanya semalam, Ia tak mau mengalah bahkan dengan anaknya sendiri.


***


Pagi hari mereka sarapan bersama.


"Papa kapan kamar Syahidah akan dibuat?" tanya Syahidah menagih janji Papanya.


"Sepulang sekolah kita akan menemui Arsitek yang akan mengerjakan semuanya, Papa sudah menelponnya semalam. Papa sudah buat janji bertemu mereka siang ini. Apa kalian mau ikut," tanya Rafiz melihat mereka.


"Iya Pak, Syahidah juga ingin ikut." jawab Syahidah.


"Baiklah, sepulang sekolah Papa akan menjemput kalian."


"Zidan kamu mau kamar seperti apa?" tanya Rafiz pada putranya yang hanya diam menikmati sarapannya.


"Aku tak masalah Pah, yang penting aku bisa bermain game sepuasnya di kamarku." jawab Zidan.


Rafiz mengangkat jempol pada anaknya itu.


Mereka pun sarapan kemudian Rafiz mengantar Anak-anaknya ke sekolah.


Rafiz tak mengizinkan Nandira untuk kembali bekerja di Kantor, ia hanya mengizinkan Nandira sesekali datang ke Kantor hanya untuk mengecek pekerjaan para karyawannya.


Ia ingin Nandira di rumah saja mengurus semua keperluannya dan anak-anak mereka.


Nandira mengantar kepergian suami dan anak-anaknya. Senyum terus terpancar di wajahnya sambil melambaikan tangan hingga mobil mereka hilang di balik pintu gerbang.


"Ayah, Ibu terima kasih atas doa kalian selama ini,, Nandira sangat bahagia bisa memiliki keluarga seperti saat ini.Bisa memiliki suami seperti suami Nandira dan anak-anak seperti anak-anak Nandira. Semoga kebahagiaan ini akan selalu bersama Nandira. Ayah, Ibu semoga kalian tenang di sana," batin Nandira kembali mengingat sosok kedua orang tuanya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membacaπŸ™


jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya dengan memberi like dan komen nyaπŸ€—


1 like dan komen kalian sangat berarti bagi kami para Author agar bisa berkarya lebih baik lagiπŸ€—πŸ™


Salam dariku❀️


Author m anha😍


love you allπŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–