
Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh, Zidan yang ada di bagasi mobil itu kini sudah tertidur pulas, begitu juga dengan Syahidah .
Zidan terbangun saat merasakan aungan singa dan saat membuka mata ternyata hari sudah terang.
Zidan mengucek matanya merasa silau saat keluar dari bagasi mobil, ia bisa melihat jika sekarang ia berada di parkiran sebuah rumah mewah tak kalah mewah dari rumah Papanya.
"Dimana ini ," lirih Zidan mencoba untuk keluar secara diam-diam.
Zidan bisa melihat di rumah juga itu terdapat beberapa binatang walau tak sebanyak di rumah Papanya, Zidan berjalan mengendap-endap, berjalan merapat di dinding. Mencari jalan masuk dengan hati-hati, ia tak ingin ada yang tahu jika ia berada di rumah itu.
Zidan baru menyadari Jika dirinya tak membawa tasnya yang artinya Ia juga tak punya alat komunikasi untuk mengirim dimana lokasinya sekarang.
" Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan agar Mama dan Papa tahu dimana kami sekarang," lirih Zidan terus mengawasi sekitaran rumah itu.
Zidan terus berjalan masuk lebih dalam, ia menunduk saat ada seseorang yang lewat di depannya. Zidan bisa melihat di depan rumah itu terdapat banyak penjaga, mereka berlalu-lalang di sekitaran pintu besar bisa dipastikan itu adalah pintu utama rumah itu. Ia kemudian memutar mencari jalan lain, sesekali iya memanjat tembok agar bisa menggapai tempat lain.
Zidan melihat ada seorang pelayan yang mendorong troli makanan ia terus mengikutinya, Tak lama kemudian pelayan itu meninggalkan trolinya dan masuk ke sebuah ruangan. Sepertinya ia ingin mengambil sesuatu dari ruangan itu, dengan cepat Zidan masuk ke bawah troli yang tertutupi tirai.
Troli terus berjalan memasuki rumah besar itu. Zidan bisa melihat dari celah kecil apa saja yang dilewatinya, matanya terus mencari dimana keberadaan adiknya.
troli berhenti, Zidan bisa merasa jika pelayan tadi sedang mengambil makanan di atas troli itu dan menyiapkan makanan untuk seseorang. Makanan yang ada di atas troli itu disajikan ke sebuah meja dan Zidan bisa lihat kalau di sana ada seorang yang duduk namun ia tak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena pria tersebut membelakanginya.
Saat Zidan Sadang berusaha melihat siapa orang itu, troli lain berhenti disampingnya.
Ia pun berpindah, kemudian troli tempat Zidan bersembunyi berjalan menuju ke sebuah kamar. Pintu terbuka troli didorong masuk, suara tangisan mulai terdengar,
"Aku ingin pulang, kenapa kalian mengurungku disini. Aku ingin pulang bersama Mamaku lepaskan aku, aku mohon." pinta Syahidah pada pelayan yang baru masuk itu.
Zidan tersenyum saat mengetahui kamar tersebut adalah tempat Syahidah disekap.
"Makanlah, jangan menangis terus. Dengan menangis itu tidak akan membuatmu dibebaskan dari tempat ini," ucap pelayan tersebut menyimpan makanan di depan syahidah.
Syahidah melempar makanan itu,
"Aku tidak ingin makan, Aku ingin pulang," ucapnya sambil terus meraung-raung.
"Denger ya, aku hanya ditugaskan memberimu makanan. Aku tak berani membebaskan ," ucap pelayan tersebut.
"Sebenarnya mengapa mereka membawa ku ke sini, apa salahku pada mereka?!" tanya Syahidah pada pelayan itu dengan berlinang air mata.
"Dengar anak kecil aku juga tidak tahu, aku sudah bilang tugasku disini hanya memberimu makan, kau mau makan atau tidak Itu urusanmu," jelasnya.
"Aku akan mengganti ini," pelayan tersebut kemudian memungut makanan yang telah dilempar syahidah .
"Aku akan mengambilkan mu lagi makanan yang baru dan ini yang terakhir. Jika kau melemparkannya lagi aku akan memberimu makan ," ucap pelayan itu berlalu meninggalkan kamar Syahidah. Sebelum pergi Zidan bisa mendengar ketika pelayan tadi kembali mengunci pintu itu.
Setelah memastikan pelayan tersebut keluar dan sudah aman, Zidan keluar dari persembunyiannya. Syahidah yang melihat Zidan langsung berlari memeluk kakaknya,
"Kak aku takut , aku ingin pulang bawa aku pulang dari sini, keluar dari sini, aku mohon Aku ingin ketemu mama," ucap Syahidah sesegukan.
"Hay Tenang lah, aku akan mengeluarkan mu dari sini. Bersikap Tenanglah, aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dari mu. Bersabarlah kita akan pikirkan cara bagaimana agar kita bisa keluar dari sini. kakak mohon jika makanan itu datang makanlah kita butuh energi,
"Baik kak, Tak lama kemudian terdengar suara kunci pintu yang dibuka. Zidan dengan cepat masuk ke kolong tempat tidur dan Syahidah kembali ke tempatnya, berpura-pura seperti tadi.
"Makanlah ini, aku akan meninggalkanmu kau mau makan atau tidak Itu urusanmu," ucap pelayan tersebut mengambil troli nya lalu keluar dari kamar itu setelah menyimpan makanan di depan Syahidah.
Pintu kembali dikunci dari luar, Zidan pun keluar dari persembunyiannya.
"Ayo kita makan, kita harus tetap kuat," ucap Zidan yang memang merasa lapar.
Merekapun makan bersama. Zidan melihat mata adiknya yang bengkak karena terlalu lama menangis dan suaranya juga parau.
Mereka makan sambil menyusun rencana.
Maraka juga membahas beberapa cara agar mereka bisa keluar dari sana, namun Zidan ingin mencari tahu dulu apa yang diinginkan oleh para penculik itu dari Syahidah.
Beberapa saat kemudian terdengar kembali suara kunci buka, Zidan kembali masuk ke kolong tempat tidur. Ada 2 orang yang masuk ke dalam kamar dan membawa Syahidah keluar, Zidan hanya bisa melihat langkah mereka dari bawah kolong tempat tidur.
"Kalian mau bawa aku kemana?" tanya Syahidah namun tak dijawab oleh kedua orang tersebut. Mereka terus membawa Syahidah ke sebuah ruangan. Ruangan yang sangat luas dan mewah Syahidah bisa lihat jika ruangan itu adalah ruang kerja seseorang yang ada di balik
kursi itu.
"Apa ini anaknya?" tanya seseorang yang duduk di balik kursi tersebut, Syahidah menatap orang tersebut,
"Anda siap?" tanya Syahidah mencoba untuk tak terlihat takut
"Kau tak usah takut, aku hanya ingin berbisnis denganmu," ucapnya.
"Aku tidak mengerti apa yang anda katakan".
"Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu anak kecil,"
"Kesepakatan?, kesepakatan apa?" tanya Syahidah.
"Aku hanya ingin kau memberikan kepadaku Secret partner itu.," ucapnya lagi.
"Apa kau menculik hanya ingin mengambil alih game online itu?" tanya Syahidah.
"Benar, ternyata kamu memang anak yang Genius." orang itu tertawa, membuat nyali Syahidah langsung menciut mendengar tawa orang itu,"
"Tapi untuk apa, aku tak yakin anda menginginkannya karena tergiur oleh kesuksesannya?!" tebak Syahidah.
"Wah, wah, wah. Kau tau, tebakan mu kali ini Juga benar." ucap pria itu berjalan mendekati Syahidah.
"Apa tujuan anda?" tanya Syahidah menatap orang itu .
"Kau masih terlalu kecil untuk mengetahuinya. Yang pasti sekarang lakukan saja apa yang aku minta," ucap orang itu membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Syahidah.
"Jangan membuat ku Marah," lirihnya.
Syahidah refleks mengangguk.
"Baiklah berikan flash disk nya padaku, tunggu apa lagi."
" flash disk nya sudah ku berikan kepada pa..pak Rafiz," ucap Syahidah. Tadinya Iya ingin menyebut Papa, tapi ia mengurungkan niatnya.
"Jika kau yang membuatnya isi flash disk itu, kau pasti juga bisa membuat nya lagi kan?!"
Lagi-lagi Syahidah mengangguk.
"Apa yang kau butuhkan?!" tanya orang itu.
"Gadget " ucap Syahidah cepat.
"Aku akan menyiapkannya nya." ucap orang itu berjalan kembali ke kursi kebesarannya.
☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️🙏💖🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️
Terima kasih sudah membaca semoga menghibur 😊💕
👉 Like, Vote dan komennya 🙏💕
Salam dariku Author m anha 💕💕💕💕💕
💖☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️