My Papa My Boss

My Papa My Boss
Oleh-Oleh Syahidah.



Rafiz mengajak mereka mengelilingi Nagara Jepang, mereka menikmati kota Tokyo selama seminggu, tanpa terasa Sekarang adalah hari terakhir mereka berlibur di sana.


Hari ini saatnya untuk membeli oleh-oleh untuk kakek, nenek dan teman-temannya.


Mendengar kata berbelanja membuat Syahidah dan Nandira begitu senang, mereka pun pergi ke tempat tempat sovenir negara tersebut dan sambil mencicipi beberapa makanan khas yang ada di negara itu yang tak ada di negara mereka.


Nandira membeli beberapa oleh-oleh untuk para karyawannya di Toko dan juga untuk Daddy dan Mommy. Sedangkan Syahidah membeli bukan lagi beberapa, tapi sangat banyak oleh-oleh untuk teman-temannya.


"Kamu nggak membeli sesuatu untuk mereka?" tanya Syahidah.


"Kakak harus beliin apa ya buat mereka? kayaknya mereka nggak suka oleh-oleh kayak gini deh, mereka itu pada matre," ucap Zidan yang mengerti maksud dari kata mereka yang di ucapkan oleh Syahidah.


Setelah membeli banyak oleh-oleh mereka pun pulang, Syahidah membeli 2 koper oleh-oleh untuk teman-teman nya.


Mommy yang mendengar mereka akan pulang hari ini memasak makanan yang mereka sukai, sudah seminggu tak melihat mereka membuat mommy sangat merindukan mereka semua. Khususnya, mommy sangat merindukan celotehan Syahidah.


Mommy langsung menghampiri Zidan dan Syahidah, memeluknya erat mereka, melepaskan rasa kangennya kepada kedua cucunya itu. "Bagaimana liburan kalian? menyenangkan?" tanya mommy pada mereka berdua.


"Sangat menyenangkan, Nek!" jawab Syahidah.


"Nek, Syahidah punya sesuatu untuk kakek dan nenek." Syahidah membongkar tas khusus oleh-oleh nya.


"Di mana, ya." gumam Syahidah mencoba berusaha mencari oleh-oleh yang ia beli untuk neneknya. Karena terlalu banyak oleh-oleh yang dibeli Syahidah jadi susah mencarinya, di antara tumpukan oleh-oleh yang lainnya.


"Syahidah bisa? mau nenek bantu?" tawar mommy.


"Nggak usah, Syahidah bisa, Kok," ucap Syahidah kembali mencari oleh-oleh buat mommy, karena tak menemukannya syahidah kemudian membongkar semua isi tas tersebut. Semua hadiah itu bertebaran di lantai.


Nandira melongo melihat banyaknya oleh-oleh yang dibeli oleh Syahidah. Dari sekian banyak oleh-oleh tersebut dan berbagai macam bentuk Syahidah mengambil satu sumpit dengan gambar karakter Frozen.


"Ini untuk nenek," ucap Syahidah memberikan sumpit itu kepada mommy.


Mommy mengambil sumpit tersebut dan melihatnya, kemudian melihat begitu banyak oleh-oleh yang tersebar di lantai.


"Apa hanya ini oleh-oleh untuk Nenek?" tanya mommy memastikan.


"Ya, itu sumpit spesial untuk nenek yang spesial. Apa Nenek suka?" tanya Syahidah melihat Mommy dengan senyum berbinar senang.


"Tentu, Nenek sangat menyukainya, terimakasih ya, Sayang," ucap mommy.


"Syahidah juga punya sesuatu untuk Kakek," ucap Syahidah kembali mencari sesuatu diantara tumpukan oleh-oleh itu.


Syahidah berdiri dan menyilangkan tangannya di dada. Sepertinya oleh-oleh untuk kakek ada di tas yang lain, deh!" ucap syahidah kemudian berlari mengambil tas satunya, menariknya ke tempat yang tadi kemudian melakukan hal yang sama, ia mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas tersebut.


"Syahidah kamu beli berapa banyak oleh-oleh?" tanya Zidan yang menggeleng melihat apa yang dibeli oleh adiknya.


"Lebih baik lebihkan Kak, daripada kurang," jawab Syahidah santai sambil terus mencari sesuatu di antara tumpukan oleh-oleh tersebut.


"Ketemu," ucap Syahidah.


Syahidah membelikan tempat kacamata karakter Elza untuk kakeknya, Syahidah sering melihat jika kakeknya sangat sering kehilangan


kacamata bacanya.


"Jika sudah membaca, Kakek bisa menyimpan kacamata kakek di sini, agar tak hilang lagi," ucap Syahidah.


Kakek mengambil tempat kacamata tersebut dan mengambil kacamatanya yang tergeletak di meja.Kakek baru saja selesai membaca dan seperti biasa ia akan menyimpan kacamata bacanya dimana saja. Kakek mengusap rambut Syahidah yang duduk di dekatnya.


"Terima kasih cucu kakek yang cantik," ucap kakek mencubit hidung Syahidah.


"Buat Papa apa nih?" tanya Rafiz ikut duduk di dekat Syahidah.


"Papa kok, mau oleh-oleh! Papa kan juga dari berlibur bersama kami," ucap Syahidah berpindah duduk di pangkuan Rafiz layaknya anak kecil.


Syahidah menggeleng, "Semua ini sudah ada yang punya, Pah!" ucap Syahidah.


"Semuanya?" tanya Rafiz?


"Iya, semuanya nya".


"Emangnya kamu beli untuk satu sekolah ya?" tanya Zidan.


"Tadinya aku emang ingin membeli untuk semua anak di sekolah. Tapi, karena aku tak mengingat nama mereka jadi aku membeli yang aku ingat saja,"


Nandira hanya menggeleng mendengar penjelasan Syahidah.


"Udah, Syahidah harus bertanggung jawab ya, Syahidah yang menghamburkan semua ini. Jadi, Syahidah juga yang harus membereskannya," ucapkan Nandira.


Syahidah mengerucutkan bibirnya, "Syahidah melakukannya kan karena mencari hadiah untuk kakek dan nenek," lirih Syahidah.


"Berarti Kakek dan nenek juga harus membantu Syahidah dong!" sahut Zidan.


"Yuk, kita bersihkan, yuk!" ucap Syahidah menarik Kakek dan neneknya untuk membantunya membereskan oleh-oleh yang telah berserakan tersebut.


Mommy dan Daddy duduk di lantai bersama dengan Syahidah, memasukkan satu-persatu oleh-oleh tersebut ke dalam tas. Oleh-oleh itu berupa pernak-pernik yang semuanya berkarakter Frozen.


Mereka seolah bermain sambil membereskan semuanya, mereka terus bercanda, tertawan bersama. Syahidah juga menceritakan apa yang mereka alami di Tokyo Jepang. Meraka terus berbincang-bincang hingga tak terasa semua sudah beres.


Zidan kembali ke kamarnya begitu juga dengan Rafiz dan Nandira. Mereka pamit naik ke kamar. Seminggu ini mereka terus berjalan-jalan ke sana dan kemari menemani anak-anak yang sangat antusias menikmati kota Tokyo.


Membuat mereka tak memiliki waktu untuk berdua. Rafiz sangat merindukan sosok istrinya itu, sudah seminggu ini mereka berempat tidur di kamar yang sama, anak-anak tidur di tengah-tengah mereka, membuat Rafiz tak bisa tidur sambil memeluk Nandira, apalagi melakukan lebih dari sekedar memeluk.


Begitu sampai di kamar, Rafiz tak ingin membuang waktu lagi, ia benar-benar merindukan kehangatan istrinya.


Rafiz langsung mengangkat Nandira ke ranjang dan mulai menghujani Nandira dengan ciumannya. Tangannya tak tinggal diam, dengan cepat ia melakukan tugas penting nya.


Ia sudah di kuasa nafsunya.


Ponsel Rafiz terus berdering, "Mas angkat dulu, siapa tau aja penting," ucap Nandira mengusap dada Rafiz.


Dengan malas Rafiz mengangkat ponselnya. Nandira bisa melihat perubahan raut wajah suaminya.


"Aku akan ke kantor sekarang juga, kumpulkan semua Tim mu," perintah Rafiz mengakhiri panggilannya.


Nandira kembali memakai pakaiannya dan menghampiri Rafiz di walking closet. Rafiz dengan cepat memakai pakaian kantornya.


"Ada apa mas?" tanya Nandira menghampiri Rafiz.


"Ada masalah di kantor, aku pergi dulu ya. Kita lanjutkan malam nanti," ucapnya mengecup bibir Nandira dan dengan cepat pergi ke kantornya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya πŸ™


Salam dariku πŸ€—


Author m anha❀️


Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–