
Hari ini Rafiz sedang tidak bersemangat untuk bekerja, saat jam istirahat ia memilih untuk menjemput anak-anak dan membatalkan semua rapatnya hari itu.
Rafiz melihat anak-anak sudah menunggunya di depan sekolah, bukan hanya Zidan dan Syahidah, tapi teman-teman yang kemarin datang ke rumah mereka juga ada di sana bersama mereka, tiga orang teman Zidan dan dua orang teman Syahidah.
"Selamat siang Om," sapa mereka semua saat Rafiz turun dari mobil.
"Selamat siang anak-anak" Jawab Rafiz.
"Jemputan kalian belum datang?" tanyanya.
"Udah kok Om," jawab Nara.
Rafiz melihat ke kiri dan ke kanan, disana sudah tak ada mobil terparkir dan di sana sudah tak ada siapa-siapa, hanya mobilnya dan mereka semua yang ada di sekolah sekarang. Sedangkan yang lainnya Sudah sedari tadi sudah pulang.
"Dimana jemputan kalian ?" tanya Rafiz pada mereka semua.
Mereka semua kompak menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Rafiz.
"Katanya tadi jemputan kalian sudah datang, jadi jemputan kalian belum datang ya?" bingun Rafiz.
"udah datang kok om, tapi kita suruh pulang lagi," jawab Nizam.
"Iya Om, jemputan kami sudah kami suruh pulang. Kami ingin ikut Om saja." ucap Nara.
"Kami ingin melihat singa yang dikutuk," ucap Memet dengan ekspresi serius nya.
"Singa dikutuk?" tanya Rafiz tak mengerti apa yang di maksud oleh teman putranya itu.
"Om, kata Zidan singanya Om dikutuk ya sama Mamanya ?" tanya Memet.
Rafiz tertawa terbahak-bahak, ia baru mengerti apa yang dimaksud dengan anak itu. Rupanya anaknya sudah menjahili teman temannya.
"Ya sudah, kita ke rumah. Kita lihat singa yang dikutuk itu," ucap Rafiz di salah tertawanya.
Zidan ikut tertawa mendengar Papanya mengikuti ulahnya, membohongi teman-temannya.
"Zidan kamu nggak bohong kan?" tanya Memet masih penasaran...
"Eh Memet, emangnya kamu benar-benar percaya kalau singa itu benar dikutuk?" tanya Nizam
Memet dengan polosnya mengangguk mendengar pertanyaan Nizam.
"Ya ampun dasar ya mau aja dibohongin sama Zidan," ucap Riza.
Memet bingung dengan apa yang mereka maksud. Memet masih belum bisa mengartikan perkataan kedua temannya, ia memasang wajah mode bengong nya.
Membuat Syahidah, Nara dan Lusy tertawa melihat ekspresi Memet.
"Kalian mau ke rumah Zidan karena ingin melihat singa dikutuk itu kan?" tanya Memet pada mereka semua. Mereka semua kompak menggeleng kan kepada, mereka menyatukan pandangan mata mereka pada Memet.
"Terus Kalian mau ke sana mau ngapain?" tanya Memet masih dengan mode bingung nya.
"Ya kami mau main," jawab mereka semua kompak lalu menertawakan temannya itu.
Rafiz yang mendengar celotehan anak-anak itu ikut tertawa, sepertinya dalam grup mereka Memet lah yang menjadi bahan hiburan.
Sebenarnya nama Memet adalah Ahmad namun Entah mengapa teman-teman sekolahnya memanggilnya dengan sebutan Memet.
Mereka terus tertawa di dalam mobil. Sehingga mereka tak sadar sudah sampai di kediaman Rafiz.
Begitu mereka turun, mereka semua langsung berlari ke taman samping kediaman Rafiz, Syahidah dan teman-temannya tentu saja langsung menghampiri kelinci mereka, sementara Zidan ingin memperlihatkan singa yang dikutuk miliknya.
"Kelinci aku mana ?" tanya Lusy pada Syahidah.
"Iya ada, maaf ya aku lupa membawa nya tadi, padahal Pak Karyo sudah memasukkannya ke kandang," ucap Syahidah berjalan menghampiri kelinci yang ada di kandang, kelinci yang akan ia berikan kepada Lucy.
"Ini punya aku ya?" tanya Lucy melihat kelinci tersebut.
Syahidah mengangguk mengiyakan pertanyaan Lusy.
"Yeee. Makasih ya Syahidan," ucap Lusy sangat senang melihat kelincinya.
"Sudah ya, kita masuk. Kita main di kamarku aja " ucap Syahidah mengajak teman-temannya. Mereka pun berlari kekamar Syahidah.
Mereka memang sudah berjanji hari ini mereka akan bermain di rumah Syahidah. Sehingga mereka membawa pakaian ganti mereka masing-masing.
Saat anak perempuan sudah berlari masuk ke kamar Syahidah, para anak laki-laki masih penasaran dengan hewan di kutuk itu.
Zidan membawa mereka ke kandang singa, awalnya memet tidak mau masuk, ia masih ada rasa trauma tentang kejadian kemarin. Namun saat melihat teman-temannya semua masuk, Ia pun memberanikan diri ikut masuk.
Suara kucing mengagetkan Memet, membuat dia langsung melompat memeluk Nizam.
"Memet apaan sih ," protes Nizam yang hampir terjatuh karena ulah Memet.
"Maaf, aku kaget. Aku pikir itu singa!" ucap Memet.
"Masa singa mengeong," protes Nizam.
"Namanya juga kaget, ini kan kandang singa jadi walau bunyi kucing aku tetap saja kaget" alasan Memet.
Kucing-kucing itu mendekati mereka. Mereka semua berjongkok mengelus bulu kucing tersebut.
"Ini kucing siap?" tanya Riza
"aku tahu ini kucing, kau tak usah membodohiku," ucap Memet menggendong salah satu kucing tersebut.
"Singanya kemana?" tanya Memet masih memperhatikan seluruh kandang tersebut.
"Enggak tahu, Mama membawanya dari sini, karena kejadian kemarin. Mama nggak suka Singa itu menyakiti kita. Mama takut kalau Kami sampai terluka lagi," ucap Zidan.
Mereka pun melihat semua hewan-hewan lainnya yang telah di kutuk oleh Nandira.
Setelah lelah bermain dengan hewan,
"Ayo kita ke kamar, Kita main game online Secret partner," ucap Zidan yang di sambut gembira oleh mereka semua.
Mereka semua pun berlari ke kamar.
Karena hari ini mereka tak ada rencana untuk ke rumah Zidan merekapun kembali memakai pakaian Zidan untuk mengganti seragamnya. Mereka yang sudah berbau keringat karena bermain dengan para hewan tersebut.
Disaat mereka sedang asyik bermain di kamar, Rafiz masuk ke ruang kerjanya. Ia mulai mencari rekaman CCTV yang mengarah pada Kandang singa nya.
Ada beberapa kamera yang terpasang di sekitaran tempat hewan tersebut. Ia bisa melihat jika satu persatu hewannya dimasukkan ke dalam mobil. Rafiz langsung mencatat nomor plat mobil tersebut.
Nandira sengaja melakukan semua itu saat Rafiz dan Zidan pergi ke sekolah. ia ingin menyembunyikan kemana ia membawa hewan-hewan tersebut. Namun sepertinya usahanya akan gagal, Ia lupa kalau di setiap sudut ruangan tersebut ada kamera CCTV yang selalu mengawasi mereka.
Rafiz terus memperhatikan mobil tersebut dan beberapa orangnya. Rafiz bisa melihat hewan-hewannya dipindahkan entah kemana. Ia pun menelepon Miran ingin mencari tahu lokasi terbaru nomor dengan plat mobil yang sudah di catatnya.
"Baik Pak," ucap Miran.
Rafiz masuk ke kamar dan melihat Nandira Sedang membereskan tempat tidur mereka.
"Mas, kamu kok nggak kabarin sih, jika ingin pulang siang. Aku pikir kamu akan lembur lagi di kantor!" ucap Nandira.
"Enggak kok, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," ucap Rafiz memeluk pinggang Nandira mencoba memberikan kecupan kecil di leher jenjangnya.
"Apa kamu pulang bersama dengan anak-anak?" tanya Nandira yang belum melihat anak-anak mereka. Ia keasyikan membaca novel online di kamarnya, sehingga Ia lupa akan waktu.
"Iya, mereka semua sudah ada di kamarnya bersama dengan teman-temannya!" ucap Rafiz.
"Oh... Mereka datang lagi?"tanya Nandira.
"Iya, katanya mereka ingin melihat singa yang telah di kutuk oleh mu," ucap Rafiz kembali tertawa.
"Singa di kutuk?" bingun Nandira.
"Iya, seperti Zidan menjahili mereka," ucap Rafiz.
Nandira ikut tertawa mendengar nya.
"Ya udah, aku siapkan mereka makan siang dulu ya Mas, kamu sudah makan atau belum? tanya Nandira.
"Aku sudah makan tadi, ada rapat di restoran jadi sekalian makan siang sebelum pulang"ucap Rafiz.
"Mas aku siapkan makanan untuk anak-anak dulu ya, mereka pasti lapar ini sudah jam makan siang. Kalau dibiarkan mereka tidak akan berhenti bermain game.
Setelah menyiapkan makan siang untuk mereka, Nandira memanggil anak-anak untuk makan siang.
"Ayo kita makan dulu ya," ucap Nandira.
"Semua menurut dan menghampiri makanan yang sudah terhidang di meja makan.
Nandira mulai menyediakan makanan pada mereka, memberikan dipilih mereka ingin makanan apa saja.
Mereka makan, sambil menunjuk makanan yang ingin dia makannya.
Nandira mendampingi dan mengambil apa yang mereka inginkan.
"Tante, Tante bisa mengutuk ya?" tanya Memet pada Nandira yang sedang mengambil makan untuk nya.
Pertanyaan Memet itu sontak membuat mereka semua tertawa, begitu juga dengan Nandira.
"Iya, Tante kalau lagi marah suka punya kemampuan mengutuk," canda Nandira yang membuat anak-anak semakin tertawa, namun tidak dengan Memet.
Kali ini yang memasang wajah mode kagum melihat Mama temannya itu.
Setelah makan mereka, mereka kembali melanjutkan permainan mereka di kamar masing-masing dan Nandira kembali ke kamar menemani Rafiz.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
semoga menghibur βΊοΈ
Kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk membuat karya ini lebih baik lagi ππ
Salam dariku π€
Author m anha β€οΈ
love you allπππ
ππππππππππππ