My Papa My Boss

My Papa My Boss
Sang Penakluk IT



Rafiz dan beberapa karyawannya terus bekerja hingga pukul 10 malam. Namun, tak ada perubahan sedikit pun. Mereka tak tahu siapa dan mengapa orang tersebut terus saja mengacaukan sistemnya.


"Mas, ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang dulu, besok kita lanjutkan lagi," ucap Nandira.


"Aku takkan bisa tenang sebelum menyelesaikan masalah ini. Kau pulang lebih dulu, anak-anak pasti menunggu dan khawatir jika kita berdua tidak pulang."


Nandira yang mengerti situasi Rafiz saat ini, tak ingin berdebat dan memilih menuruti apa yang diperintahkan. Sebelum pulang, ia memastikan seluruh karyawan yang masih bekerja tak kekurangan makanan.


Nandira kembali ke rumah, sedangkan Rafiz dan tim IT kembali bekerja.


Saat di rumah.


Nandira Malam ini tidur bersama dengan Syahidah dan Zidan. Rafiz kembali bekerja lembur. Tak adanya Rafiz di sana dimanfaatkan Zidan dan Syahidah untuk tidur bersama mamanya.


"Mah, kenapa Papa tidak pulang lagi?" tanya Syahidah.


"Papa sedang ada masalah di kantor, semoga saja masalah papa cepat selesai."


"Emangnya ada masalah apa dengan kantor Papa?" tanya Zidan.


"Perusahaan Papa terancam bangkrut, ada orang yang berusaha menjatuhkan Papa dengan membobol sistem IT perusahaan Papa."


"Kenapa Papa tidak memasang sistem pelindung? Agar sistem nya lebih aman," ucap Syahidah.


"Mereka sudah memasang nya dan terus berusaha, tapi sepertinya usaha mereka tetap gagal."


Mereka terus berbincang-bincang hingga mereka tertidur.


Nandira menyelimuti kedua anaknya, kemudian Iya memeriksa keuangan perusahaan nya.


Rafis membutuhkan banyak suntikan dana. Jika ia tak menutupi semuanya, kemungkinan perusahaannya akan bangkrut.


Nandira sudah mencari pinjaman tanpa sepengetahuan Rafiz. Namun, tetap saja semua itu tak mampu menutupi kekurangannya.


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa membantu Rafiz keluar dari masalah ini," gumam Nandira.


Tanpa di sengaja ia menjatuhkan buku rekeningnya, semenjak ia tau Zidan memakai rekening miliknya, Nandira tak pernah lagi mengecek jumlah saldonya. Ia memberikan rekening itu pada Zidan sepenuhnya.


Nandira teringat jumlah terakhir di rekening tersebut. Ia dengan cepat mengecek kembali rekening Zidan, apa jumlahnya masih sama saat terakhir yang melihatnya.


Begitu berhasil mengeceknya, Nandira kembali menutup mulutnya. "Darimana Zidan mendapatkan uang sebanyak ini," batin Nandira melihat anak-anaknya masih tertidur.


Jumlah itu jauh lebih banyak dari jumlah saat terakhir ia mengeceknya, Nandira tau jika penghasilan Secret partner juga masuk ke rekening Zidan. tapi, ia tak menyangka hasilnya akan sebanyak itu.


Tanpa mereka ketahui Zidan terus mengembangkan uangnya dengan melakukan bisnis online di berbagai cabang baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan kemampuan bisnisnya, ia mampu mengembangkan uangnya berkali lipat.


Nandira memegang jantungnya dadanya terasa sesak. "Aku tak boleh pingsan," batinnya mencoba untuk mengatur nafasnya.


Setelah berhasil menguasai dirinya, Nandira membereskan semua berkas yang telah Ia keluarkan, berjalan mendekati mereka.


"Zidan, seperti apa kau sebenarnya, Nak. Mama tidak menyangka kau mengumpulkan uang sebanyak itu tanpa kami ketahui, apa sebenarnya yang kau lakukan," batin Nandira menatap wajah tenang zidan yang sedang tertidur pulas.


"Jika Zidan memiliki uang sebanyak ini, apakah Syahidah juga memilikinya," batin Nandira melihat Syahidah. "Sepertinya tidak, selama ini Syahidah selalu memberi tahu berapapun yang ia dapatkan." Nandira menjawab pertanyaannya sendiri.


Nandira kembali melihat buku rekeningnya dan mencoba menghubungi Rafiz. Sambung terhubung, lagi-lagi sepertinya suami itu sedang sangat sibuk. Bahkan tak bisa mengangkat panggilan darinya.


"Uang ini pasti bisa membantu, aku akan ke kantor besok," Batin Nandira kemudian ikut tidur bersama dengan anak-anak.


Hari ini, hari Minggu. Nandira, Zidan, dan Syahidah bersiap ke kantor. Mereka membawa bekal dan berencana akan sarapan di kantor.


Mommy yang tahu jika putranya sedang dalam masalah, sengaja membuat sarapan untuk mereka di pagi buta agar Nandira bisa membawa sarapan untuk Rafiz.


Mereka pergi ke kantor.


Nandira melihat seseorang mengikutinya dari belakang melalui kaca spion.


Mereka terus mengikutinya hingga ada mobil lain yang seperti menghalangi mobil tersebut.


"Siapa Mereka?" batin Nandira, ia mencoba untuk tetap fokus dan mempercepat laju mobilnya menuju ke perusahaan Rafiz.


Begitu sampai, Nandira langsung menuju ke ruang IT, ia tahu pasti suaminya ada di sana.


Nandira mengetuk pintu sebelum masuk, ia bisa melihat mereka semua tak tidur semalaman. Penampilan mereka semua sangat berantakan termasuk Rafiz.


"Pagi, Pah!" ucap Syahidah Saat memasuki ruangan tersebut.


Rafiz menoleh ke arah sumber suara,


"Pagi sayang, kalian kok ke sini?" tanya Rafiz.


"Kami membawa sarapan untuk Papa," jawab Syahidah menghampiri papanya.


Rafiz melihat jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan mereka masih terus bekerja.


Rafiz memperhatikan semua karyawannya, "Istirahat, kita lanjutkan 2 jam lagi."


Mereka tak ada yang beranjak dari tempat duduknya, mereka hanya bersandar di kursi masing-masing sambil mulai membuka minuman dan roti yang ada di hadapan mereka.


Nandira menyiapkan sarapannya, Rafiz yang memang sedang lapar langsung melahap makanannya, ia membutuhkan banyak energi agar bisa menyelesaikan pekerjaan ini.


Nandira mengeluarkan buku tabungan dan beberapa data tentang keuangan perusahaan nya.


"Apa ini?" tanya Rafiz mencoba memeriksa apa yang diberikan oleh Nandira.


"Aku rasa itu cukup untuk menutupi sementara kerugian perusahaan mu, semoga saja itu dapat membantu," ucap Nandira.


Nandira juga menyertakan laporan ke keuangan perusahaan Rafiz yang harus ditutupi, belum lagi suntikan dana pada beberapa anak cabangnya.


"Kamu meminjam dana atas nama perusahaan mu?"


"Iya, aku yakin. Mas, masih bisa mempertahankan perusahaan ini dan melewati ini semua."


"Ternyata kerugian perusahaan terlalu besar, bahkan ini semua saja tak cukup," ucap Rafiz setelah mengecek total yang harus di keluarkan agar perusahaanya dapat stabil.


"Ini milik Zidan dan kau juga boleh memakainya."


Rafiz membelalakkan matanya melihat nominal yang disebut Nandira adalah uang Zidan.


"Zidan?" tanya Rafiz tak percaya.


"Awalnya, aku juga tak percaya jika Zidan bisa memiliki uang sebanyak itu. tapi, sekarang aku percaya seberapa pun banyak yang Zidan memiliki itu adalah memang hasil dari kejeniusannya," ucap Nandira bangga pada putranya.


Rafiz hanya menatap Zidan yang duduk di sofa, ia sedang bermain dengan gadgetnya. Tingkahnya sama dengan anak seusia dirinya pada umumnya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa ada kemajuan?" tanya Nandira.


Rafiz berdiri dari duduknya dan melihat layar besar yang ada di sana. Layar itu terhubung dengan komputer sehingga dapat menampilkan hasil terakhir pekerjaan mereka.


"Kau bisa lihat sendiri, semalaman kami bekerja tapi hasilnya tetap seperti ini," ucap Rafiz diikuti helaan nafas.


Mereka hanya bisa memperhatikan layar tanpa bisa berbuat apa-apa. Rafiz memicingkan matanya saat angka-angka di sana berubah dengan drastis. Bukan hanya Rafiz semua karyawan yang di sana saling memandang "Apa yang terjadi, siapa yang melakukannya," itulah yang ada di pikiran mereka masing-masing.


Semua fokus pada layar besar, Rafiz melihat deretan karyawan yang ada disana, mereka tak ada yang sedang bekerja. Mereka fokus pada layar dengan mulut yang menganga merasa takjub dengan apa yang ada di layar.


Bahkan ada salah satu karyawan yang tanpa sadar menumpahkan air kemejanya.


Mereka semua heran, siapa yang sedang mengerjakan pekerjaan itu. Terlihat jelas di layar jika seseorang sedang memasang sistem pelindung dan sistem itu sukses. Tak hanya itu, data juga sudah berhasil dipulihkan.


Semua saling melihat, mencoba mencari tahu siapa yang melakukan semua itu semua.


"Syahidah," ucap Nandira yang melihat Syahidah sibuk dengan komputer yang ada di meja papanya. Ia terlihat santai mengutak-atik komputer tersebut. Rafiz mendekat ke arah putrinya itu, dan ternyata benar semua itu adalah ulah Syahidah.


Semua karyawan di sana juga ikut memperhatikan dan mereka baru tahu jika semua itu adalah ulah dari Putri bos mereka.


Mereka dengan susah menelan roti yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya. Menerima kenyataan mereka telah dikalahkan oleh anak kecil. Mereka sudah 3 hari bekerja, tapi tak bisa menyelesaikannya. Namun, Syahidah mampu menyelesaikannya hanya dalam beberapa menit saja.


Sistem sukses dan stabil.


Syahadah tidak hanya mengamankan sistem, ia juga mencoba melacak siapa yang sudah mengacaukan perusahaan Papanya dan membalas membobol sistem mereka. Semua itu dapat mereka lihat di layar.


"Lakukan pekerjaan kalian," ucap Rafiz pada mereka semua.


Mereka dengan cepat kembali ke posisi masing-masing, semua membantu Syahidah membalas apa yang telah diperbuat perusahaan itu kepada perusahaan mereka.


Syahidah yang sudah meretas sistem perusahaan lawan dengan cepat mereka mengambil semua data yang mereka perlukan bahkan beberapa data penting perusahaan lawan pun tak luput dari target mereka.


"Balas dendam," itulah yang ada di pikiran mereka saat ini.


Di sebuah perusahaan di luar negeri.


"Ada apa? Mengapa sistem kita menjadi seperti ini?" tanya Aksan pemimpin dari perusahaan tersebut.


"Sepertinya mereka berhasil mengetahui identitas kita, mereka berhasil membobol sistem kita, pak." jawab Salah satu dari mereka.


"Apa yang kalian lakukan, cepat selesaikan semua pekerjaan kalian. Aku ingin perusahaan itu hancur," ucapnya.


Mereka terus saling Serang.


"Sepertinya mereka kembali menyerang kita," ucap salah satu karyawan Rafiz.


Syahidah terus berselancar, menekan tombol dengan jari-jemarinya. "Selesai," ucap Syahidah menekan tombol terakhir.


Syahidah memenangkannya, hingga sistem Aksan menjadi error.


"Ada apa lagi ini?" tanyanya saat melihat layar di komputernya sudah tak nampak satupun data.


"Sepertinya mereka mengirim virus ke jaringan kita, semua datang kita terhapus."


"Bukankah Kalian sudah memasang sistem yang terbaik, aku memperkerjakan kalian semua dan menggaji kalian dengan mahal untuk melindungi perusahaan ku," garam Aksan.


"Sepertinya mereka memiliki orang yang keahliannya melebihi kami," ucap salah satu dari mereka.


Aksan mengepal tangannya, "Aku tak akan membiarkanmu bahagia, kau lolos kali ini. Jika aku tak bisa membuatmu menderita dengan jalan ini, aku akan membuatmu menderita dengan cara lain."


"Aku tidak mau tahu, selesaikan masalah ini secepatnya," ucap Aksan berlalu meninggalkan ruangan itu.


Di Perusahaan Rafiz. Semua karyawan bersorak gembira saat berhasil memulihkan data mereka dan menyerang sistem lawan mereka.


"Syahidah bagaimana kau melakukan semua ini?" tanya Rafiz.


"Jangankan meretas sebuah Perusahaan, Pah. Meretas sistem pertahanan sebuah negara maju saja Syahidah bisa dengan sangat mudah," ucap Zidan tanpa menoleh kearah mereka dan masih asyik bermain dengan gadgetnya.


"Yapzz, benar sekali. Semua ini sangat mudah bagiku," ucap Syahidah dengan santai dan kembali mengutak-atik komputer di hadapannya. Menambah pengamanan sistem agar tak mudah dibobol oleh perusahaan lain.


Semua kagum kepada ke kecerdasan Syahidah, begitu juga dengan Rafiz dan Nandira.


"Kalian selesaikan sisanya dan kalian boleh kembali, kita bertemu besok," ucap Rafiz mengakhiri pekerjaan mereka.


"Iya, Pak." jawab mereka dengan sangat kompak dan bersemangat.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like dan komennya ya 🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


Love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖