
Rafiz melepas jas dan melonggarkan dasinya, menyerahkan kunci mobil kepada satpam yang bekerja di rumahnya.
Hari ini ia sangat lelah, terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan nya.
Rafiz berjalan sambil memijat tengkuknya yang terasa pegal,
"Selamat malam sayang," sapa Jazlyn menghampiri Rafiz.
"Apa yang dilakukan Jazlyn di sini," batin Rafiz.
Jazlyn dengan tak tau malu langsung memeluk dan mencium singkat bibirnya Rafiz yang masih bingung, ia tak menolak atau pun tak menerima pelukan dan Ciuman Jazlyn.
Melihat Rafiz yang masih kebingungan melihatnya, Jazlyn langsung menariknya duduk di meja makan makanan. di sana sudah tersaji berbagai macam makanan walaupun bukan ia yang masakannya.
Rafiz masih diam, dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang terjadi di rumahnya.
Jazlyn dengan telaten menyajikan makanan di piring Rafiz dan mempersilahkannya makan
Jazlyn sengaja menunggu Rafiz pulang, Ia memakai pakaian yang sangat seksi sehingga memperlihatkan sesuatu yang menyembul di bagian dadanya.
Rafiz hanya menghela nafas dan berdiri dari duduknya, Walau ia masih membenci mantan istrinya itu, tak bisa di pungkiri nya jika tubuh Jazlyn sangat menggoda.
"Sayang kamu ke mana, makanlah dulu aku sudah menyiapkannya," ucap Jazlyn menahan tangan Rafiz.
"Maaf aku sedang lelah, aku ingin istirahat," tepis Rafiz dan berjalan naik ke kamarnya .
Jazlyn terus mengikuti Rafiz hingga masuk ke dalam kamar, Jazlyn berlaga seperti seorang istri, ia dengan telaten membuka dasi dan ini membuka kancing baju Rafiz, Rafiz menolaknya,
"Keluar lah, aku ingin mandi ," ucap Rafiz berjalan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Lama ia di dalam kamar mandi,
"Mengapa Jazlyn bisa ada di rumahku ?! Apa yang dilakukannya di sini ?! apa ibu yang memanggilnya ?"batin Rafiz bertanya-tanya.
Rafiz keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, menampilkan tubuh sixpack nya yang begitu menggiurkan di mata Jazlyn.
Jazlyn dengan tak tahu malu langsung menghampiri Rafiz, meraba tubuh yang sangat menggoda nya. Rafiz dengan kasar menghempaskan tangan Jazlyn.
"Pergilah Aku tidak mau melihatmu lagi," ucap Rafiz.
"Tak bisakah kau memaafkan ku ?! Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan pada aku. Tak bisa kita mulai dari awal," Jazlyn kembali menempatkan tangannya di dada bidang Rafiz, bulu-bulu halus di sana sungguh sangat menggelitik birahinya.
Rafiz memegang tangan Jazlyn yang terus bermain di dadanya,
"Aku Sedang ingin istirahat, aku tidak ingin diganggu. Aku mohon keluarlah" tegas Rafiz.
"Tidak bisakah kita bermain sebentar," ucap Jazlyn menggoda.
Rafiz tersenyum sinis. "Apa kau sudah puas dengan para pria di luar sana, sehingga kau kembali pada ku," sindir Rafiz.
"Tidak bisakah kau melupakan semua itu, ayolah sayang mari kita mulai lagi dari awal. Aku janji akan setia padamu aku hanya akan melayani mu ," ucap Jazlyn mendayu-dayu yang terus berusaha memainkan tangannya di tubuh kekar Rafiz.
Rafiz menarik Jazlyn dengan kasar dan membawa keluar dari kamarnya,
Rafiz mengunci pintu nya.
"Rafiz buka pintunya, apa-apaan ini ," protes Jazlyn yang tak mendapat jawab dari Rafiz
Jazlyn menyentak kan kakinya di lantai
"Aku pastikan kau akan bertekuk lutut di hadapanku, kita lihat sampai mana batas ketahanan dengan godaan ku," tersenyum sinis dan turun ke bawah.
"Bagaimana ?" tanya ibu saat melihat Jazlyn turun dari arah kamar Rafiz,
"Sepertinya Putra Ibu masih marah padaku ,"
jawab Jazlyn.
"Bersabarlah, aku yakin hatinya masih mencintaimu. Sama dengan Daddy nya, walau aku sudah menghianati dan membuatnya sakit hati, dia masih mau menerimaku ," ucap mommy Rafiz membanggakan dirinya.
"Aku rasa mommy memang benar, aku yakin aku akan bisa menaklukannya dan membawanya dalam pelukanku," gumam Jazlyn sinis.
"Aku sudah menyiapkan sarapan , ayo kita sarapan bersama ," Ajak Jezlyn merangkul tangan Rafiz.
"Aku akan sarapan di kantor, terima kasih ," ucap Rafiz melepas rangkulan namun Jazlyn bukannya menjauh dia malah memeluk Rafiz.
"Ayolah sayang, kenapa sih kamu masih marah sama aku , nggak bisakah kamu maafkan ku," ucapnya manja memeluk Rafiz.
Rafiz tak menggubrisnya, ia menyingkirkan Jazlyn dan terus berjalan.
Saat di dalam perjalanan ke kantor, Syahidah menelponnya,
"Halo Syahidah,"jawab Rafiz mengangkat telfon dari Syahidah.
"Halo Paman, Paman lagi di mana ?"tanya Syahidah,
Mendengar suara Syahidah menjadi mood booster bagi Rafiz,
"Paman lagi di jalan mau ke kantor," jawab Rafiz.
"Bisakah Paman menjemput ku dan kakak.
Mama tidak bisa mengantar kami ke sekolah, mama sedang ada urusan di tempat lain," ucap Syahidah. Sebenarnya itu hanyalah akal-akalan nya saja agar bisa bertemu dengan Papanya.
"Baiklah sebentar lagi Paman akan sampai di sana," Jawab Rafiz memutar arah mobilnya menuju ke rumah Nandira.
"Syahidah, Mama nggak suka kamu ngerepotin papa kamu seperti itu," tegur Nandira .
"Dia kan Papa kami mah, nggak masalah kan dia mengantarkan kami,," jawab Syahidah.
"Mama, kapan mama mau memberitahu Papa jika kami anak-anaknya," tanya Zidan.
"Mama juga berencana memberitahukannya ,kita tunggu waktu yang tepat ya," ucap Nandira tersenyum mengelus pipi putranya.
"Iya Mah, Syahidah sudah tidak sabar memberitahu papa kalau kami anak-anaknya. Syahidah harap Papa mau menerima kita dan tinggal bersama kita di sini ," harapan Syahidah.
Tak lama kemudian mobil Rafiz datang, ia membunyikan klekson mobil nya. Zidan dan Syahidah berlari menghampiri Papanya.
Nandira yang ingin pergi ke kantor juga keluar menuju mobilnya.
" Maaf ya sudah merepotkan mu," Ucap Nandira.
"Tidak apa, aku juga sedang tidak sibuk di kantor ucap Rafiz membukakan pintu untuk mereka , Syahidah dan Zidan
langsung naik.
"Siang nanti biar aku yang menjemput mereka," ucap ucap Rafiz.
" ya tidak masalah," jawab Nandira tersenyum namun senyum menghilang saat melihat tanda lipstik di kemeja Rafiz.
"Lipstik siapa itu," batin Nandira, hatinya terasa tergores. Nandira bahkan bisa mencium aroma parfum wanita dari kerja Rafiz..
"Kami pergi dulu ya,"ucap Rafiz pada Nandira.
"Iya hati-hati," Ucap Nandira berusaha tersenyum. Rafiz dan anak-anak sudah pergi.
Nandira memegang dadanya yang terasa sesak, "Apa ini, apa sebelum ke sini Rafiz bersama seorang seorang wanita ," batin Nandira.Apa Rafiz memang suka bermain wanita," pikir Nandira.
" Semoga saja itu hanyalah dugaan ku," batin n
Nandira.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️ Terima kasih sudah membaca semoga kalian suka ya jangan lupa apa like dan komennya ,beri pendapat ya tentang bab yang baru kalian baca.
sambil menunggu BAP selanjutnya kalian bisa mampir ke karya pertamaku judulnya pilihanku ditunggu ya kehadirannya nya
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️.
by m anha.