My Papa My Boss

My Papa My Boss
Malam Pertama atau Kedua ya???



Sebelum Mommy membawa kedua cucunya keluar dari kamar pengantin anaknya itu, Mommy mengedipkan mata kepada putranya.


"Mommy memang Yang terbaik," ucap Rafiz membukakan pintu untuk mereka.


"Mommy nitip dua lagi ya," ucap mommynya sebelum benar-benar pergi.


"Siap Mom," ucap Rafiz mengangkat jempolnya.


Setelah Syahidah, Zidan dan mommy pergi, Rafiz tersenyum dan menutup pintunya.


Rafiz meregangkan otot-ototnya dan menatap Nandira penuh maksud.


Nandira yang sedang berada di tempat tidur melihat Rafiz yang menaik turun kan alisnya menatapnya.


Nandira menggigit bibir bawahnya mencoba mencari akal agar bisa terlepas dari suaminya itu malam ini.


Namun otaknya benar-benar menghianatinya, Ia tak bisa memikirkan satupun ide agar ia bisa lolos.


Rasa deg-degan semakin dirasakan oleh Nandira saat Rafiz berjalan semakin mendekat ke arahnya.


Bayangan adegan panas yang pernah di tonton nya menari-nari di kepalanya.


Mereka memang pernah melakukannya, namun saat itu kondisinnya sedang tidak dalam keadaan sadar. Tak seperti malam ini, ia sangat sadar sepenuhnya dengan apa yang akan terjadi padanya.


Saat itu Nandira hanya mengingat sebagai saja apa yang terjadi padanya malam itu, ia hanya mengingat samar apa yang terjadi pada mereka. Yang ia tau saat pagi hari ia sudah merasa kan sakit di area sensitifnya. Nandira sudah cukup dewasa waktu itu untuk mengetahui apa yang baru saja ia alami dengan pria yang sedang tertidur pulas di samping nya tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuh mereka berdua.


"Ayo otak berpikir," batin Nandira saat melihat Rafiz bahkan sudah melepas pakaian atasnya dan melempar nya ke segala arah, menatapnya seolah Nandira adalah makanan yang sangat menggiurkan baginya dan siap untuk di santap.


Rafiz baru akan naik ke atas tempat tidur namun ponselnya berdering.


Rafiz mengurungkan niatnya untuk naik ke atas tempat tidur dan berjalan ke arah meja yang ada di samping tempat tidur di dekat Nandira, kemudian ia duduk di sana membelakangi Nandira.


Rafiz mengangkat telepon dari mommy yang mengatakan jika ia akan membawa anak-anak pulang ke rumah. Mereka kualahan menjaga anak-anak di hotel itu, anak-anak merasa tak nyaman tinggal di sana. Mereka Tak mau masuk ke kamar dan meminta mereka menemaninya kesana kemari.


"Ya udah Mom, kalian pulang saja. Kami akan pulang besok pagi," ucap Rafiz kemudian mematikan ponselnya.


Nandira yang melihat Rafiz sedang mengangkat telepon dengan serius, perlahan-lahan mulai merangkak turun ingin menyelamatkan dirinya dari apa yang akan terjadi padanya malam ini.


Namun belum juga ia sempat turun dari tempat tidur Rafiz sudah menyelesaikan panggilan telfonnya dan langsung menangkap kaki Nandira dan menariknya hingga ke tengah tempat tidur.


"Kau mau ke mana ha' kau mau kabur dari kewajiban mu?!" ucap Rafiz merangkak naik ke atas tempat tidur.


Nandira merasakan panas dingin saat Rafiz mulai merangkak di atasnya. Rafiz menahan badannya dengan kedua sikunya membuat jarak di antara mereka sangat dekat bahkan seakan tak ada jarak di antara keduanya.


Nadira bisa merasakan detak jantung Rafiz saat dada bidang Rafiz tak berjarak pada dadanya.


"Kau mau ke mana?" tanya Rafiz dengan suara seratnya, nafasnya sudah semakin memburu .


"Aku mau ke kamar mandi?" ucap Nandira tergagap.


"Nanti saja setelah kita selesai melakukan nya," ucap Rafiz mulai menenggelamkan ciumannya di leher Nandira.


"Aku benar-benar ingin pipis," ucap Nandira Saat Rafiz terus bermain di lehernya.


Tubuh Nandira bergetar dengan apa yang di lakukan suaminya itu lakukan.


"Aku udah ga tahan, Aku ingin pipis," ucap Nandira semakin mendorong bahu Rafiz agar tak menindihnya.


Rafiz yang merasa terganggu dengan kelakuan Nandira akhirnya menghentikan apa yang ia lakukan. Ia menyingkir dari atas tubuh Nandira, berguling ke samping.


Nandira yang merasa terbebas dengan cepat berlari ke kamar mandi dan menguncinya.


"Cepatlah ," teriak Rafiz saat melihat Nandira sudah hilang di balik pintu kamar mandi.


"Nandira bersandar di pintu kamar mandi, ia memegangi dadanya kemudian memegangi pipinya yang terasa panas.


"Aku harus apa!, aku harus apa!, bagaimana ini," gumam Nandira panik, ia benar-benar belum siap untuk melakukannya malam ini.


Nandira melihat sekeliling kamar mandi itu mencoba mencari jalan untuk keluar dari sana tanpa melalui pintu, namun tak ada satupun celah agar ia bisa keluar dari sana.


Lama Nandira mondar-mandir di dalam kamar mandi sambil menggigit kuku-kukunya. Mencoba mengukur waktu.


"Baiklah, Kita sudah pernah melakukannya. Aku tak perlu takut lagi. Malam ini pasti berlalu dengan cepat.," ucap Nandira meyakinkan dirinya sendiri kemudian bersiap untuk membuka pintu.


Hingga terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar mandi itu yang semakin lama ketukannya semakin keras.


Membuat jantung Nandira kembali berdetak tak karuan.


"Nandira Apa yang kau lakukan?! Kenapa lama sekali," kesal Rafiz.


"Sebentar lagi," teriak Nandira dari dalam kamar mandi.


"Buka pintunya," ucap Rafiz terus menggedor-gedor pintu tersebut.


Nandira mendorong pintu kamar mandi tersebut seolah pintu kamar mandi tersebut tak akan terbuka Jika ia melakukan hal itu.


"Nandira aku bilang buka pintunya atau aku akan mendobrak nya ," ucap Rafiz yang sudah sangat frustasi. sudah 1 jam lebih ia menunggu Nandira. Namun istrinya itu tak juga keluar dari kamar mandi, sedangkan miliknya sudah menagihnya.


"Aku masih pipis," teriak Nandira mencoba menghentikan Rafiz yang terus berusaha membuka pintu tersebut.


Rafiz terus menggedor pintu itu semakin kencang,


"Kamu jangan bohong ya, Aku tahu kau menghindariku kan?! buka nggak pintunya,". geram Rafiz.


"Enggak mau, Aku belum siap," jujur Nandira.


"Ya udah, kalau kamu belum siap, aku enggak akan ngapa-ngapain kamu, Tapi kamu keluar dari sana," rayu Rafiz.


"Kamu janji ya?!" tanya Nandira.


"Iya, oke. Aku janji tak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kau benar-benar sudah siap," ucap Rafiz.


Rafiz mencoba mendekatkan telinganya ke pintu mencoba mendengar apa yang dilakukan oleh Nandira dalam sana.


Rafiz bisa mendengar suara kunci terbuka, seringai licik terbit di bibirnya.


Perlahan Nandira memutar gagang pintu dan ia bisa melihat suaminya itu bersandar di dinding di dekat pintu kamar mandi itu.


"Sudah pipisnya," tanya Rafiz.


"Iya, sudah." jawab Nandira dengan senyum terpaksa.


"Apalagi?" tanya Rafiz yang melihat Nandira tak beranjak dari tempatnya.


"Enggak ngapa-ngapain, mau tidur," jawab Nandira yang masih berdiri memegangi pintu dan ia masih ada dalam kamar mandi hanya kepalanya saja yang keluar melihat Rafiz.


"Keluar, kamu mau tidur di kamar mandi?" tanya Rafiz berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sisi tempat tidur tersebut, mengambil ponselnya.


Kamar pengantin ini sudah dipesan khusus olehnya, di atas tempat tidur sudah dihiasi kelopak bunga mawar yang masih segar dan aromanya masih sangat wangi.


Nandira berjalan pelan menuju ke sisi lain tempat tidur.


Menyingkirkan kelopak bunga mawar yang ada di sana.


"Oh syukurlah," ucap Nandira saat sudah masuk ke dalam selimut dan melihat Rafiz yang masih duduk tenang di sisi tempat tidur sambil memainkan ponsel.


Nandira tidur membelakangi Rafiz, Ia meresa tenang sekarang dan mencoba untuk tidur.


Nandira berpikir Rafiz benar-benar menepati apa yang diucapkannya tadi, Namun ternyata Nandira salah.


"Aaaaarg," Pekik Nandira saat Rafiz langsung menyerangnya.


💖💖💖💖🥰🥰🥰🥰💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa untuk memberi like vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️