
Di kediaman Nandira.
Nandira sedang merapikan sebagian barang barangnya yang akan di bawahnya ke kediaman Suaminya.
Rafiz terus memperhatikan Nandira berjalan kesana-kemari tanpa menghiraukan dirinya.
"Mas tolong dong, Mas bawah ini ke mobil,"ucap Nandira menunjuk barang-barang yang ada di atas kempat tidur.
"Kamu bawa semua barang-barang mu ya?" tanya Rafiz yang melihat begitu banyak barang yang akan dibawa Nandira.
"Ini hanya sebagian kok, Aku pikir kita akan jarang datang ke sini jadi aku bawa aja barang yang aku butuhkan." jawabnya.
"Kamu kan bisa membeli lagi, yang di sini simpan saja. Jadi kalau kita ke sini kamu punya pakaian untuk dipakai di sini." ucap Rafiz.
"Enggak lah Mas, ngapain beli jika masih ada yang bisa dipakai, aku hanya membawa sebagai aja kok," ucap Nandira.
Jika Nandira yang dulu pasti akan setuju dengan usulan Rafiz. Namun, Nandira yang sekarang sudah pernah merasakan bagaimana rasanya tak miliki uang sepeserpun. Nandira yang sekarang lebih bisa menghargai uang nya.
"Aku keluar dulu ya dengan Zidan, Kami ingin membeli sesuatu," ucap Rafiz.
"Iya, Apa Syahidah juga akan pergi bersama kalian?" tanya Nandira.
"Tidak, hanya kami berdua saja," jawab Rafiz kemudian mengecup pipi Nandira sebelum pergi.
Zidan sudah menunggu di mobil, mereka memang sudah janjian akan pergi membeli sepeda.
Saat Rafiz sudah menyalakan mobilnya, Syahidah berlari menghampiri mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Syahidah.
"Papa sama Zidan ingin membeli sepeda. Apa kau mau ikut?" tanya Rafiz pada putrinya.
"Iya Pah, Syahidah mau ikut," ucap Syahidah kemudian naik ke mobil.
Sebelum pergi Rafiz mengirim pesan pada Nandira jika Syahidah ikut bersamanya.
Dalam perjalanan Syahidah terus bertanya,
"Pah untuk apa Papa dan kakak membeli sepeda?" tanya Syahidah.
"Ya untuk dipakai lah dek, masa untuk dipajang saja?" jawab Zidan.
"Iya aku ngerti Kak, Tapi kan tumben aja Kakak mau naik sepeda, emangnya Kakak sama Papa mau kemana naik sepeda?" tanya Syahidah lagi.
"Papa sama Zidan mau olahraga aja, sambil bersepeda di sekitar rumah," jawab Rafiz.
"Kamu mau beli sepeda juga?" tanya Zidan.
"Iya boleh, Syahidah juga pengen ikut olahraga bersama kalian," jawab Syahidah bersemangat.
Rafiz dan Zidan saling melirik. Sepertinya mereka akan kesulitan mendatangi singa itu jika Syahidah ikut dengan mereka.
Rafiz membeli tiga sepeda, untuknya, Zidan dan Syahidah.
Saat mereka kembali, Nandira sudah ada di teras rumah menunggunya.
"Kalian dari mana?" tanya Nandira saat Rafiz menghampirinya.
"Kami dari membeli sepeda, kata Zidan ia ingin olahraga dengan sepeda," ucap Rafiz mulai mengangkat semua barang-barang ke dalam mobil.
Hari sudah menjelang sore. Mereka pun kembali ke rumah Rafiz.
Saat dalam perjalanan, Syahidah kembali melihat Pak Karyo keluar dari rumah tersebut, membuat Syahidah semakin penasaran rumah siapa yang Pak Karyo sering kunjungi dan untuk apa ya ke sana.
Begitu sampai di rumah, Nandira seperti biasa langsung ke dapur membantu mommy untuk menyiapkan makan malam, sedangkan Zidan, Syahidah dan Rafiz bermain bersama hewan-hewan yang tersisa di pekarangan samping.
Rafiz bermain bersama mereka, ketiga nya terus tertawa dan saling mengejar. Nandira melihat anak-anaknya yang tertawa gembira bersama dengan Papa mereka dan kini telah menjadi suaminya.
Senyum terbit di wajahnya, pemandangan yang sangat menyejukkan hatinya. Dimana anak-anak bisa bermain bersama dengan papa yang selama ini mereka rindukan.
Disaat mereka sedang bermain bersama, Pak Karyo menghampiri mereka membawa beberapa makanan untuk para hewan yang ada disana.
Melihat Pak Karyo, Syahidah jadi teringat akan rumah yang sering dikunjunginya.
Syahidah menghampiri Pak Karyo yang sedang memberi makan ikan-ikan.
"Syahidah mau juga memberi makan ikan-ikan ini?" tanya Pak Karyo yang melihat Syahidah mendekat padanya.
"Iya Pak," ucap Syahidah mengambil makanan yang diberikan oleh Pak Karyo padanya dan mulai menebarkan makanan tersebut.
Syahidah mengulanginya lagi, melempar makanan tersebut dan ikan-ikan kembali berkumpul untuk mengambil makanan yang baru saja Syahidah lemparkan ke kolam.
"Pak karyo darimana?" tanya Syahidah.
"Maksudnya? bapak di rumah aja kok Non" jawab pak karyo tanpa melihat Syahidah dan masih fokus membersihkan kolam ikan itu.
"Tadi Syahidah lihat bapak keluar dari rumah yang ada di sana ," tunjuk Syahidah.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku jawab," batin pak karyo mencoba mencari jawaban yang tepat, Rafiz sudah memintanya merahasiakan ini semua pada siapapun.
Syahidah terus menunggu jawaban Pak Karyo. Namun, pak karyo tak juga menjawabnya.
Pak Karyo tetap santai membersihkan kolam ikan tersebut.
" Maaf ya, sepertinya Bapak mesti ke belakang dulu. Bapak ambilkan makanan hewan yang lain."
Pak Karyo berusaha menghindari Syahidah, Ia pun berjalan ke belakang dengan terburu-buru .
Tak ingin melihat Syahidah yang terus melihat kepadanya, menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Pak Karyo kok lama sekali sih," batin Syahidah. Syahidah yang lelah menunggu Pak Karyo, akhirnya ikut ke belakang.
Pak Karyo sedang memilih wortel yang akan diberikan kepada kelinci.
"Kok lama sekali sih Pak?" tanya Syahidah.
"Emangnya kenapa sih Non ?" tanya Pak karyo.
"Bapak kan belum menjawab pertanyaan ku tadi!" ucap Syahidah.
"Syahidah pengen tahu aja, Bapak ngapain ke sana?" tanya Syahidah melihat Pak Karyo di yang sedang sibuk.
"Bapak ke sana hanya untuk membersihkan rumah itu," jawab Pak Karyo.
"Emang itu rumah Papa juga ya?" tanya Syahidah.
"Iya Non," jawab Pak
"Siapa yang tinggal di sana Pak?" tanya Syahidah.
"Itu rumah kosong, baru saja dibeli oleh Papanya non untuk menyimpan ...," Pak Karyo menutup mulutnya, hampir saja ia mengatakan jika Rafiz sengaja membeli rumah itu untuk menyimpan singa-nya.
"Untuk menyimpan apa Pak?" tanya Syahidah mengernyitkan keningnya menatap pak Karyo.
"Untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai Non, daripada tertumpuk di sini," jawab Pak Aryo asal.
"Oh gitu ya, " ucap Syahidah ikut membantu Pak Karyo memilih wortel yang akan diberikan pada kelincinya.
"Pasti Zidan dan Papa menyembunyikan sesuatu di sana. Hm, apa Papa sudah menemukan singa-nya." batin Syahidah semakin curiga.
Pak Karyo menemui Rafiz yang sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi dan melihat anak-anaknya bermain.
"Pak, tadi Syahidah menanyakan tentang rumah yang di sana, sepertinya ia pernah melihat saya keluar dari sana Pak," jelas pak Karyo.
"Apa dia menanyakan nya?" tanya Rafiz.
"Iya Pak," jawab pak Karyo.
"Bapak jawab apa?"
"Ya bapak bilang itu adalah gudang, tempat penyimpanan barang bekas." kata Pak Karyo.
"Iya Pak, ga apa-apa. Tak seharusnya kami menyembunyikan hal ini.Aku akan mencoba memberi tahukan mereka, tapi tidak sekarang," ucap Rafiz.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 💗
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
Love you all 💕💕💕
💖💖💖💖💖💖🙏🙏🙏🙏🙏💖💖💖💖💖