
Rafiz terbangun dari tidurnya dan melihat semua masih tertidur pulas. Ia melihat jam di pergelangan tangannya,
"Ini masih jam 3 pagi," batin Rafiz ia melihat baju Zidan masih berlumuran darah Syahidah.
Penampilan mereka masih sama saat pulang dari tempat kejadian. Semalam mereka terlalu panik melihat keadaan Syahidah hingga mereka melupakan Zidan yang masih memakai baju yang berlumuran darah.
Rafiz berjalan mendekati ranjang Syahidah, ia mengusap lembut rambut gadis kecil itu. Entah mengapa hatinya merasa sakit melihat gadis kecil yang selama ini penuh tawa dan keceriaan kini terbaring lemah tak berdaya.
Rafiz melihat Nandira yang tertidur sambil memegang tangan Syahidah, Rafiz ingin mengusap rambut Nandira yang begitu cantik di matanya walau ia sedang tertidur, Rafiz mengulurkan tangannya ingin menyingkirkan anak rambut Nandira yang menghalangi wajah cantiknya. Namun ia menghentikannya dan menarik nya kembali. Takut jika Nandira akan terbangun karena ulahnya.
Rafiz berjalan keluar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tak mengeluarkan suara. Ia berjalan sambil terus memijat tengkuknya yang terasa pegal, meregangkan otot-ototnya.
Rafiz meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya, beberapa luka lebam akibat pukulan yang diterimanya kemarin baru Ia rasakan sekarang.Ia memutuskan untuk pulang menyegarkan diri dan membawa pakaian serta sarapan untuk mereka.
Sesampai nya di rumah, Rafiz menghela nafas kemudian masuk ke rumah. Melihat di semua sudut ruangan terasa sangat sepi, bayangan Zidan dan Syahidah bermain di sana terlintas di ingatan nya.
"Sepertinya semuanya masih tidur ," Gumam Rafiz berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Rafiz tunggu..." Teriak mommy saat melihat putranya itu datang, mommy dan Daddy sejak semalam tak tidur menunggu kepulangan anaknya itu.
"Mom, dad, kalian belum tidur ?" tanya Rafiz melihat penampilan kedua orang tuanya.
"Bagaimana Syahidah dan Zidan, Apa kalian sudah menemukannya?" tanya mommy tak menjawab pertanyaan Rafiz.
"Iya mom, kami sudah menemukannya. Syahidah terluka dan sekarang mereka ada di rumah sakit," jawab Rafiz.
"Apa... di rumah sakit? bagaimana keadaannya?, Apa lukanya parah?, Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Mommy beruntun .
"Tenang lah mom, Syahidah sudah keluar dari kondisi kritisnya. Semalam dia juga sudah sadar. Mereka masih tertidur Saat aku pulang. Mom, aku mandi dulu ya! mommy tolong buatkan sarapan buat mereka, Aku akan kembali ke rumah sakit," pinta Rafiz langsung berbalik meninggalkan mommy dan Daddy nya.
"Rafiz... tunggu...!" panggil mommy.
"Biarlah dia mandi dan istirahat dulu, buatlah sarapan untuk cucu kita. Kita akan memberitahunya saat ia turun nanti.
"Baiklah," pasrah mommy, ia sangat ingin mengatakan tentang hasil tes DNA itu.
Mereka pun turun ke lantai bawah. Kamar mereka memang di lantai bawah, usia tua mereka tak memungkinkan untuk mereka tetap tinggal di kamar mereka di lantai atas. Daddy berjalan menuju ke kamarnya Sedangkan mommy menuju ke dapur membuat makanan kesukaan untuk kedua cucunya. Mommy sangat bersemangat membuat makanan yang istimewa untuk mereka..
Sementara Jazlyn mengintip dari balik pintu kamarnya, ia melihat Rafiz yang baru datang, Jazlyn ingin menghampiri Rafiz namun mommy langsung datang. Ia menunggu apa yang mommy bicarakan kepada Rafiz,
Jazlyn bernafas lega saat mommy tak membahas tentang hasil tes DNA itu.
Jazlyn mondar-mandir di kamarnya,
"Bagaimana ini, Rafiz sudah datang.Aku yakin mommy akan mengatakannya. Aku harus cari cara agar mommy tidak memberitahu Rafiz, tapi bagaimana caranya?!" Jazlyn terus berpikir keras apa yang harus dia lakukan, tapi sepertinya ia sudah tak punya waktu lagi untuk membuat rencana.
Jazlyn ingin keluar dari kamar. Ia baru selangkah keluar. Namun Rafiz langsung datang, ia pun kembali masuk ke kamar dan menguncinya.
Mommy menyuruh Rafiz duduk, menyajikan makanan untuknya kemudian mommy dan Daddy duduk dihadapan Rafiz. Mereka terus memperhatikan Rafiz dengan wajah gembira.
Rafiz makan sambil terus memperhatikan kedua orang tuanya yang melihatnya sedari tadi dengan wajah bahagia.
"Dad, mom! Apa ada yang salah?!" tanya Rafiz.
Keduanya menggeleng,
"Ayo silakan dihabiskan sarapannya," ucap mommy memberikan secangkir kopi di dekat Rafiz.
"Kalian tidak sarapan?" tanya Rafiz.
"Kami sudah sarapan tadi," jawab Daddy singkat, ditangannya sudah ada secarik kertas yang sangat berharga. Dimana di secarik kertas itu tertulis jelas bahwa Zidan dan Syahidah adalah anak dari Rafiz putranya cucu mereka.
Mommy mengambil kotak makan yang sudah disiapkan untuk dibawa ke rumah sakit,
"Apa mommy dan Daddy akan ke rumah sakit juga ?" tanya Rafiz melihat penampilan kedua orang tuanya itu,
"Tentu saja kami akan rumah sakit, kami ingin menjenguk mereka ," jawab mommy menyimpan kotak makan di atas meja.
Rafiz telah menghabiskan sarapannya dan minum kopinya
"Ayo kita berangkat, takutnya mereka sudah lapar," ucap Rafiz berdiri dari duduknya.
Mommy kembali mendudukkan anaknya itu dan mereka berdua duduk disampingnya.
Tanpa kata Daddy memberikan secarik kertas yang ada di tangannya,
"Apa ini Dad?" tanya Rafiz melihat ke arah Daddy nya.
"Bacalah sendiri," ujar Daddy
Rafiz membaca apa isi kertas yang diberikan oleh Daddy nya.
"Dad apa ini?" tanya Rafiz tersenyum tak percaya dengan apa yang di bacanya, matanya berkaca-kaca, ia tak bisa berkata-kata lagi, ia sangat senang.
Daddy mengusap punggung anaknya, Rafiz tak bisa membendung air matanya. Kenyataan bahwa Zidan dan Syahidah adalah anaknya, darah dagingnya, benihnya sungguh membuatnya bahagia.
"Jazlyn???tanya Rafiz .
"Iya, tapi mommy bingung kenapa hasil tes DNA itu ada padanya."
"Bukankah waktu itu kamu bilang hasil tes DNA kalian tidak sama?" Tanya Daddy.
Raut wajah bahagia Rafiz berubah, menjadi kemarahan,
"Kurang ajar, apa itu rencana Jazlyn menghampiriku waktu itu," batin Rafiz.
"Mommy di mana Jazlyn?" geram Rafiz.
"Sepertinya dia belum keluar dari kamarnya," mommy menunjuk kamar Jazlyn dengan lirikannya, mommy sangat kesal melihat wajah wanita licik yang sudah memperdaya nya.
Rafiz berjalan cepat menuju ke arah kamar Jazlyn yang juga berada di lantai bawah
"Buka pintunya," Teriak Rafiz saat memutar gagang pintu ternyata pintunya terkunci.
"Jazlyn buka pintunya," geram Rafiz menggedor pintu kamar Jazlyn.
Di dalam kamar Jazlyn ketakutan,
"Bagaimana ini, sepertinya Rafiz sudah mengetahuinya," gumam Jazlyn dengan cepat mengambil koper dan masukkan semua barang-barangnya.
"Jazlyn," teriak Rafiz membuat Jazlyn terkejut dan menjatuhkan kotak perhiasan nya. Dengan cepat ia memungut nya dan memasukkan kedalam kopernya.
Jazlyn berdiri di depan pintu. Dengan ragu ia memutar kunci dan terbuka.
Rafiz langsung masuk menatap tajam pada mantan istrinya itu. Jazlyn memundurkan langkahnya,
"Apa ini, kenapa apa ini ada padamu" tanya Rafiz dengan tatapan tajamnya seolah ingin membunuh Jazlyn sambil memperlihatkan hasil tes DNA yang di pegangnya.
"Itu,,,itu,,," ucap Jazlyn tergagap, tak tau harus berkata apa untuk merendahkan amarah Rafiz.
"Apa saat di rumah sakit kau sengaja datang untuk menukar ini hah," bentak Rafiz.
"Rafiz maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukan itu, aku hanya tak ingin kau meninggalkanku, aku hanya tak ingin kau bersama dengan mereka. Aku sangat mencintaimu," ucap Jazlyn memeluk kaki Rafiz dengan berderai air mata.
Mommy melipat tangan di dadanya memalingkan wajah tak ingin melihat air mata buaya dari mantan menantunya itu. Ia yakin jika Jazlyn sedang berpura-pura.
Rafiz menarik lengan Jazlyn. Jazlyn mengikuti tarikan Rafiz karena merasa sakit di lengannya.
"Dengar Jazlyn mulai sekarang aku tidak mau melihat wajahmu lagi, jadi jangan berani-berani datang di hadapanku. Aku masih mengampuni mu saat karena aku M
masih menghargai hubungan yang pernah ada di antara kita, tapi jika aku melihatmu lagi kau takkan bisa membayangkan apa yang akan kulakukan padamu ," ancam Rafiz.
"Aku mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi ," ucap Jazlyn memohon memegang tangan Rafiz.
Rafiz menghempaskan tangan Jazlyn yang memegangnya. Ia menarik tangan Jazlyn dan menyeret koper Jazlyn keluar dari rumahnya.
"Jangan sekali-kali kau menginjakkan kaki mu lagi di rumahku, pergi dari sini," ucap Rafiz saat sudah berhasil menyeret Jazlyn keluar dari pintu rumahnya.
Jazlyn tak ingin menyerah, ia kembali berlutut memeluk kaki Rafiz,
"Rafiz tolong jangan usir aku dari sini, mari kita mulai lagi dari awal ya. Aku janji akan merubah semua sifat ku," ucap Jazlyn semakin berlinang air mata.
Mommy langsung menarik Jazlyn.
"Mommy sudah berbaik hati untuk mengajakmu kesini, namun ternyata mommy salah, wanita jahat sepertimu akan tetap seperti ini. mommy pikir kau sudah berubah tapi ternyata mommy salah," gerutu mommy menarik Jazlyn dan kopernya.
"Mommy maafkan Aku," ucap Jazlyn mencoba meminta bantuan kepada Rafiz namun Rafiz malah masuk begitu pula Daddy nya.
Mommy terus menyeret Jazlyn keluar pintu gerbang.
"Pak, jangan biarkan wanita ini masuk kerumah," ucap mommy pada satpam dan perjalanan kembali masuk ke rumah.
Jazlyn ingin masuk kembali namun ditahan oleh satpam. Karena melawan satpam mendorong Jazlyn dan terjatuh bersama kopernya.
"Maaf Bu, Jangan buat kami bertindak kasar"ucap satpam itu kemudian menutup pintu gerbang.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π€
Semoga tindakan mommy bisa mewakili perasaan kalian terhadap ulat bulu ituβΊοΈ
Jangan lupa ya beri like vote dan komennya di setiap bab nya ya kak πππ
Salam dariku
Author m anha β€οΈ
πππππππππππππππ