My Papa My Boss

My Papa My Boss
Keberanian seorang kakak



Jika menanyakan kepada seorang anak siapakah yang kau pilih, ayahmu atau ibumu. Itu adalah pilihan yang sulit untuk mereka. Anak-anak pasti menyayangi keduanya, karena memang mereka terlahir dari cinta dan sayang keduannya.


Mereka tumbuh dan besar dengan kasih sayang diberikan oleh keduanya, mungkin terlihat jika ibu yang merawat, membesarkan dan menjaganya. Namun, kasih sayang seorang ayah tak kalah besarnya dari kasih sayang seorang ibu, dan anak-anak pasti bisa merasakan kasih sayang keduanya.


Disaat Aksan minta Zidan untuk memilih salah satu dari papa dan Mamanya sudah tentu Zidan tak bisa memilih. Mendengar tangisan adiknya hatinya merasa pilu. Jika ia memang harus memilih biarkanlah mama, papa dan adik yang selamat. Zidan tak masalah jika dia yang menjadi sasaran dari peluru senjata yang ada di tangannya.


Namun, disini dialah yang memilih sasaran, Siapa yang ingin dia selamatkan dan Siapa yang ingin diakhiri.


Hitungan Aksan terus terdengar di telinganya, saat hitungan ke-3 jantung Zidan terasa berhenti berdetak ia menatap pada adiknya yang ditodongkan pistol oleh Aksan, Zidan bisa melihat dengan jelas jika Aksan  mulai menarik pelatuk senjatanya. Dengan refleks Zidan  langsung mengangkat senjata yang dipegangnya menembak tepat sasaran di pergelangan tangan Aksan, membuat senjata yang dipegangnya jatuh ke lantai dan dengan sigap Zidan juga menembak satu orang teman Aksan yang dari tadi memegang Syahidah. Zidan membidik tepat di titik mematikannya, walau di dalam game, tapi Zidan selama ini membidik lawan-lawannya tepat di titik mematikan nya, agar lawannya cepat ia kalahkan dan ia terapkan saat ini kepada lawan Papanya.


 Zidan melihat Aksan yang menunduk ingin mengambil pistolnya, lagi-lagi Zidan mengarahkan senjatanya dan menarik pelatuknya.


Sama halnya di dunia game, Zidan tak pernah salah dalam membidik lawannya. Pelurunya tak pernah sia-sia, begitu juga dengan sekarang. Bidikannya tepat, 3 muntahan peluru Zidan sudah bisa melumpuhkan mereka berdua.


"Mama, Papa," teriakan Syahidah membuyarkan keterkejutan Zidan. Zidan  baru menyadari jika ia baru saja ia menembak, membunuh di dunia nyata. 


Zidan melihat rembesan cairan merah yang keluar dari kedua orang dihadapannya dan itu semua karena dirinya, tangannya bergetar hebat rasa ketakutan mulai menyerangnya.


 Rafiz menghampiri putranya dan menyingkirkan senjata yang masih dipegang Zidan dengan sangat erat. Tatapannya lurus menatap kedua orang yang telah di tembaknya.


Rafiz membawa Zidan ke pelukannya, Zidan langsung menangis.


Rafiz terus berusaha menenangkan Zidan yang menangis hingga sesenggukan, dengan tubuh yang bergetar. Rafiz merasa  takut jika anaknya itu mengalami trauma karena semua ini, Rafiz juga melihat kearah Syahidah yang terus menangis dalam dekapan mamanya.


"Zidan dengarkan Papa," ucap Rafiz menangkup Kedua telapak tangannya di pipi Zidan dan mengarahkan fokus pandangan anaknya pada dirinya.


"Zidan kamu melakukan ini semua karena ingin melindungi Syahidah. Lihatlah adikmu, dia baik-baik saja. Kau sudah berhasil melindunginya, kau Kakak yang hebat. Papa bangga sama kamu, Kamu menyelamatkan Papa, Mama dan juga adik kamu Syahidah. Kamu memang anak Papa, anak kebanggaan Papa," ucap Rafiz  mencoba menghibur Zidan  dengan memujinya dan itu berhasil. Zidan mengangguk.


Namun sesegukan dan tubuhnya tetap  saja bergetar.


Nandira dan Syahidah menghampiri mereka, Nandira langsung membawa Zidan ke pelukannya, "Terima kasih ya Sayang kau sudah menyelamatkan kami, kamu menyelamatkan adik kamu, makasih sayang," ucap Nandira berderai air mata. Rasa bangga dan haru terselip di antara rasa takutnya melihat tubuh Zidan yang bergetar hebat.


Rafiz mengusap air mata putrinya, mengecup seluruh wajahnya. Air mata Rafiz juga menetas, ia tak peduli anggapan anak-anaknya yang menyaksikannya. Rafiz ikut meneteskan air mata. Ketakutan kehilangan mereka sungguh tak bisa ia jelaskan.


"Maaf telah menempatkan kalian dalam situasi ini, ini semua kesalahan Papa." 


Rafiz membawa Syahidah, Nandira dan Zidan dalam dekapannya. Ia tertawa disela isakan yang ditahannya.


Selang beberapa saat para anak buah Rafiz sampai ke lokasi mereka. Mereka semua melihat beberapa orang sudah terkapar di sana dan melihat kondisi Rafiz.


"Maaf, Pak! Kami terlambat," ucap salah satu dari mereka.


"Tak apa, kami baik-baik saja. Tolong kau urus semuanya."


Rafiz melarang Syahidah dan Zidan  menengok ke belakang, melihat beberapa orang yang sudah terkapar di ruangan itu. Ia dengan cepat membawa anak dan istrinya keluar dari sana, mobil sudah disiapkan. Mereka pun langsung menuju ke bandara, Rafiz tak ingin berlama-lama lagi di negara itu. Ia ingin cepat pulang ke negaranya, ke tempat yang paling aman untuk keluarganya.


Dengan menggunakan pesawat jet pribadi mereka terbang kembali ke negara asal mereka.


"Mas, kamu nggak apa-apa?" tanya Nandira mengusap dada Rafiz.


"Aku nggak apa-apa, kamu jangan khawatir," ucap Rafiz bersandar, meluruskan badannya.


Nandira mengangguk dan memberikan air putih kepada suaminya, membantu memperbaiki posisi duduk Rafiz. Nandira tahu suaminya itu sedang menahan rasa sakit. Namun tak ingin membuat mereka semua khawatir.


Zidan memeluk adiknya, dia sudah jauh lebih tenang. Berbeda dengan Syahidah yang masih terus saja menangis.


"Tenanglah ada kakak, kakak akan selalu melindungimu," ucap Zidan dengan suara bergetar. Ia berusaha menahan isakannya, menahan rasa takutnya agar adiknya itu bisa melihat dirinya yang juga kuat.


Nandira ikut duduk di dekat anak-anaknya, mengusap pelembut rambut mereka,


"Kalian anak-anak Mama yang hebat, Mama bangga sama kalian." Nandira membawa keduanya ke dalam pelukannya.


Zidan dan Syahidah terus berada di pelukan mamanya hingga pesawat mendarat.


Saat turun dari pesawat, Mommy dan Daddy sudah menunggu mereka, sebelum berangkat Rafiz mengabarkan jika mereka akan pulang.


Mommy menangis melihat kondisi Rafiz, wajahnya babak belur pakaiannya berlumuran darah dan terlihat menahan kesakitan.


"Rafiz. Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja kan?" Mommy sudah menangis, mencoba memeriksa kondisi Putranya .


"Mommy! Tenanglah aku tak apa-apa," jawab Rafiz mencoba untuk tetap menahan rasa sakitnya.


Daddy langsung membawa Rafiz ke rumah sakit, begitu juga dengan kedua cucunya yang masih terlihat sangat syok.


Saat dalam mobil,


"Nandira, mommy sangat takut terjadi sesuatu pada kalian, pada cucuku," ucap Mommy terus terisak dan memeluk kedua cucunya.


"Iya, Mom! Nandira juga sangat takut."


"Sudahlah Mom, jangan dibahas lagi." 


Rafiz  yang tak ingin membahas masalah itu lagi di depan anak-anak nya, ia tak ingin anak-anak kembali teringat dengan kejadian di gedung tadi.


Begitu sampai di rumah sakit, Rafiz langsung mendapat pertolongan, begitu juga dengan Zidan dan Syahidah. Mereka diberi beberapa obat agar mereka bisa lebih tenang.


Rafiz di beli obat penenang agar ia bisa beristirahat, begitu tengah malam Rafiz terbangun dan ia dengan cepat mencari di mana anak dan istrinya. 


Rafiz baru merasa legah saat melihat Nandira tidur sambil memegang tangannya, sedangkan Zidan dan Syahidah tidur di sofa bersama mommy dan daddynya.


Rafiz menggapai ponsel yang ada di atas nakas, ia menelpon seseorang kemudian menyimpannya kembali. 


Rafiz mengusap rambut Nandira yang sedang tertidur ia bisa melihat masih ada sisa air mata di pelupuk matanya, Rafiz mengusap air mata Nandira dan membuatnya Nandira terbangun.


"Kau sudah sadar, bagaimana apa masih sakit?" tanya Nandira berdiri dan mengusap dada Rafiz mengusap beberapa luka lebam di wajah tampan suaminya.


"Aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilanganmu dan anak-anak." Memandang penuh rasa cinta pada Nandira.


Nandira memeluk Rafiz, "Aku sangat mencintaimu. Aku takut, aku sangat takut terjadi sesuatu padamu," lirih Nandira terisak pelan.


Rafiz  mencium pucuk kepala Nandira. "Kita lupakan semua. Jangan biarkan anak-anak terus mengingat peristiwa itu, anggap saja semua itu tak pernah terjadi," ucap Rafiz kembali mengecup cukup kepala Nandira.


Nandira hanya mengangguk, ucapan Rafiz ada benar, sebaiknya mereka tak membahas masalah itu lagi demi anak-anak mereka.


Malam ini mereka semua menginap di rumah sakit. Zidan dan Syahidah tidak memiliki luka secara fisik, tapi mereka memiliki trauma atas penculikan itu.


Saat di kantor Dirga berjalan dengan santai, ia belum tahu jika rencananya gagal, yang ia tahu Aksan akan menghabisi Rafiz dan keluarganya. Dengan begitu, sesuai perjanjian mereka ia akan membantu Dirga mendapatkan perusahan milik Rafiz.


Beberapa orang menghampiri Dirga,


"Apa Anda yang bernama Dirga?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya, Pak! Saya Dirga. Ada apa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dirga dengan santainya.


Beberapa orang langsung menangkap, mengunci Dirga dan salah satu dari mereka langsung memasang borgol di tangannya.


"Apa-apaan ini, lepaskan saya," berontak Dirga.


"Maaf, Pak! Kami mendapat laporan jika Bapak terkena kasus penculikan dan pembunuhan berencana, silahkan ikut kami ke kantor polisi."


"Bapak pasti salah orang, lepaskan saya," ucap Dirga terus meronta.


Namun kekuatannya tak seberapa dibanding kekuatan dua polisi yang memegang tangannya, menyeretnya untuk naik ke mobil ..


Dirga terus mengatakan jika ia tak bersalah, tapi polisi tak bergeming dan terus memasukkannya ke dalam mobil dan mereka membawanya ke kantor polisi.


Berdasarkan laporan Rafiz semalam polisi langsung bergerak cepat dan menangkap.


Semakin hari kondisi Rafiz semakin membaik begitu juga dengan anak-anaknya. Hari ini  mereka akan pulang ke kediaman mereka. 


Saat mereka berjalan di lorong Rumah Sakit, Mommy menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Nek?" tanya Syahidah, mereka semua berhenti mengikuti mommy yang berhenti.


"Mumpung kalian di rumah sakit, apa kalian tak mau menjenguk Miran?" Mommy melihat ke arah putranya yang juga kini menatapnya dengan kening berkerut. 


Nandira dan Rafiz saling tatap dengan bingung.


"Bukankah Miran sudah meninggal! Apa maksudnya mommy menyuruh kami menjenguknya," batin Nandira.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like dan komennya.


mampir juga ya kak ke karya ku yang lainnya🙏



ditunggu kak🤗


salam dariku Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖