My Papa My Boss

My Papa My Boss
Demi Anak-anak Kita.



Rafiz baru kembali dari kantor saat tengah malam, pekerjaannya sangat banyak hari ini.


Saat ia kembali, rumah sudah sepi. Semua sudah di kamar masing-masing.


Zidan yang sejak tadi menunggu Papanya pun Sudan tertidur.


Rafiz mengetuk pintu kamarnya sebelum membuka pintu. Rafiz masuk dan melihat Nandira sedang duduk di meja riasnya sedang memakai riasan di wajahnya. Ia memakai krim malam yang biasa ia gunakan sebelum tidur.


"Mas kamu sudah pulang," ucap Nandira menghentikan aktivitasnya dan berdiri menghampiri suaminya.


Memberikan kecupan Selamat datang di bibir suaminya.


Membuat Rafiz sangat senang dengan sambutan istrinya.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Rafiz.


"Iya Mas, mereka baru saja tertidur," jawab Nandira mengambil tas kerja dan jasnya suaminya.


Rafiz duduk dan melonggarkan dasinya, membuka sepatunya.


"Mas mau aku buatin kopi?" tawar Nandira.


"Enggak usah, aku sangat lelah. Aku ingin mandi dan beristirahat," ucap Rafiz.


"Aku siapkan air hangatnya dulu ya Mas," ucap Nandira masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk suaminya.


Rafiz masuk dan langsung memeluk Nandira dari belakang, " Temani aku mandi ya," pinta Rafiz.


Nandira mengangguk, dan mereka pun mandi bersama. Walau sudah menjelang tengah malam Nandira tetap memenuhi keinginan suaminya.


***


Mereka berbaring di atas kasur namun mereka tidak tidur. Nandira menyandarkan kepalanya di dada bidang Rafiz. Rafiz dengan penuh sayang mengusap-usap rambut istrinya.


Rafiz yang tadi nya sangat mengantuk dan lelah langsung segar dan tak bisa tidur lagi setelah mendapat apa yang ia inginkan dari istrinya.


"Mas, apa Mas mencintai ku?" tanya Nandira mendongak menatap mata Rafiz.


Rafiz mengecup kening Nandira belum menjawabnya.


"Tentu saja Mas sangat mencintaimu, kau adalah segalanya bagi Mas," jawab Rafiz.


"Apa jika aku berbuat kesalahan Mas akan marah padaku?" tanyanya.


"tergantung!, apa kau berbuat kesalahan?" tanya Rafiz mempererat pelukannya.


Nandira tak menjawab, ia hanya kembali mendongak melihat suaminya, menatap wajah tampan suaminya.


Rafiz kembali mendaratkan ciuman namun kali ini ia mengecup bibir istrinya.


"Kesalahan apa yang kau perbuat ?" tanya Rafiz yang mulai curiga dengan perubahan sikap istrinya.


Nandira tersenyum, ia ingin mengatakan jika ia sudah memindahkan hewan-hewan kesayangan nya. Namun Nandira menahannya, ia tak ingin membuat suaminya itu membangunkan semua orang saat tengah malam seperti saat ini. Nandira yakin, jika Rafiz mengetahui apa yang telah di lakukannya, mengetahui jika hewan-hewan nya sudah tak di kandangnya lagi, bisa di pastikan suaminya ini akan membuat kehebohan.


"Besok aja ya kita bicara, aku ngantuk banget. Kita tidur dulu," ucap Nandira menutup matanya dan mencari posisi yang nyaman dalam pelukan suaminya.


"Apa kau punya kesalahan?" tanya Rafiz yang masih penasaran apa maksud dari pertanyaan istrinya tadi.


Nandira mengangguk dan terus mencari posisi ternyaman nya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rafiz menghentikan usapan rambut Nandira menunggu jawaban dari istrinya itu.


Namun sepertinya ia harus sabar hingga besok pagi, Nandira sudah pergi ke alam mimpi.


Tak ada jawaban dari Nandira, dan Rafiz bisa merasakan nafas istrinya sudah teratur yang berarti jika Nandira sudah tertidur.


"Kesalahan apa yang dia lakukan," batin Rafiz.


Rafiz yang tak menemukan jawaban dari pertanyaan nya kemudian ikut tertidur sambil memeluk Nandira.


***


Pagi hari.


Zidan bangun lebih awal dari biasanya, dan sudah membuat kehebohan dengan terus mengetuk pintu kamar mama dan Papanya.


"Mama, Papa buka pintunya," teriak Zidan terus menggedor-gedor pintu.


Pintu terbuka, "Ada apa Sayang, ini baru jam berapa? kamu kenapa mengetuk pintu kamar Mama?" tanya Nandira.


Nandira dan Rafiz masih tertidur dan merasa terganggu dengan ketukan Zidan.


Zidan tak menjawab pertanyaan Mamanya dan langsung masuk menghampiri Papanya.


"Bangun Papa..." ucap Zidan menarik tangan Papanya.


"Ada apa si Zidan, Papa masih ngantuk," ucap Rafiz masih menutup matanya.


"Papa bangun. Singa nya Papa, singa nya," ucap Zidan.


"Ada apa dengan singa nya? tanya Rafiz melihat Zidan.


Nandira yang mendengar percakapan mereka langsung berlari masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


Rafiz mencoba duduk." Emangnya ada apa sih Zidan?" tanya Rafiz memijat tengkuk yang terasa tegang.


"Papa singa nya tak ada Pah," jawab Zidan.


"Enggak ada gimana?" tanya Rafiz langsung berjalan menuju ke bawah untuk melihat singa tersebut. Zidan ikut berlari di belakang Papanya, begitu sampai di kandang Rafiz sudah tak melihat dimana hewan kesayangannya itu.


Rafiz kemudian memanggil Pak karyo, orang yang bertanggung jawab penuh atas hewan-hewan itu.


Pak Karyo berlari menghampiri mereka, "Ada apa Pak? katanya Bapak manggil Saya?" tanya Pak Karyo yang masih setengah sadar akibat dibangunkan saat sedang tidur.


"Itu Pak. anu, anu," pak Karyo bingun harus menjawab apa, ia masih berusaha menetralkan detak jantung nya.


Pak karyo yang sedang tertidur pulas di bangunkan oleh teman kerjanya, Pak Karyo yang mendengar Rafiz mencarinya langsung berlari ke kencang mungkin.


Tak ingin menambah marah majikannya itu.


Dari Semalam pak Karyo menunggu Rafiz pulang untuk memberitahu kan tentang nasib singa kesayangannya.


"Pak Dimana singa saya," bentak Rafiz.


Pak Karyo sangat gugup, ia tak tahu harus berkata apa menjelaskannya. Tadinya pak Karyo berpikir jika ia tak usah menjelaskan apa-apa pada tuannya, karena istrinya pasti memberitahunya lebih dulu.


"Si singa Bapak dipindahkan oleh istri dan Mommy Bapak," jawab pak Karyo.


"Semua hewan-hewan buas lainnya juga di pindahkan Pah," ucap Zidan.


"Apa dipindahkan, di pindahkan ke mana?" tanya Rafiz mencoba melihat semua hewan hewan peliharaannya, dan benar saja sudah tak ada di kandang mereka.


Hewan-hewan buas nya sudah berubah menjadi hewan-hewan yang menggemaskan.


Singa telah berubah menjadi kucing, buaya telah berubah menjadi kura-kura, ikan piranha nya sudah menjadi ikan koi.


Rafiz memegang kepalanya merasa sangat frustasi, melihat hewan-hewan kesayangannya sudah tak ada di tempat mereka.


Zidan kamu kembali ke kamarmu, dan bersiap-siap ke sekolah.


Papa ingin menemui Mamamu, menanyakan dimana ia menyingkirkan hewan-hewan Papa.


Mommy yang melihat Rafiz memarahi pak Karyo, tak jadi keluar dari kamarnya.


Rafiz kembali ke kamarnya, dan mencari Nandira.


" Nandira kamu dimana," panggil Rafiz.


Nandira tak menjawab panggilan Rafiz.


Rafiz yang tak melihat istrinya itu di kamar mencari Nandira di kamar mandi.


Nandira mengunci pintunya dari dalam.


"Nandira buka pintunya, aku tahu kau di dalam," ucap Rafiz mengetuk pintunya.


Nandira memberanikan diri membuka pintu tersebut secara perlahan. Ia bisa melihat tatapan penuh tanya dan amarah di mata Rafiz.


Dimana hewan-hewan ku?" tanya Rafiz langsung pada intinya.


"Mana aku tau," jawab Nandira mencoba berjalan melawati Rafiz dan kembali berbaring di kasur empuknya.


"Kamu jangan bohong, kamu pasti tau di mana semua hewan itukan."


"Ada di kandangnya mungkin,"


"Di tempatnya nggak ada, kata Pak Karyo kalian menyingkirkannya, apa itu benar?" tanya Rafiz.


Rafiz menyibak selimut yang di pakai Nandira. "Nandira katakan pada Mas, dimana kalian membawanya?" tanya Rafiz mulau emosi.


"Kami hanya memberikan tempat baru kepada mereka, yang pasti lebih baik dari pada mereka tinggal di sini." jelaskan Nandira.


"Lalu kenapa kamu nggak izin dulu sama Mas?"tanya Rafiz.


"Apa kalau aku izin, Mas akan mengizinkan nya?" tanya Nandira kiri balik menatap Rafiz.


Rafiz tak menjawab, karena memang benar,Jika mereka meminta izin pasti ia tak akan mengizinkannya .


"Dimana kalian membawanya?" tanya Rafiz.


Nandira hanya diam.


"Dengar Nandira, Mas sudah memelihara mereka sedari kecil, Mas sangat menyayangi mereka, Katakan dimana kalian membawanya?" bentak Rafiz.


"Mas bersama mereka sejak kecil dan Mas sangat menyayangi mereka, Begitu maksud Mas?. Bagaimana dengan Aku Mas, Aku membawa anak-anak sejak masih di rahim ku, mengurus mereka hingga besar. Aku sendiri Mas merawat dan memberi mereka makan dengan tangan ku, Mas pasti bisa tau bagaimana perasaanku saat melihat Zidan terluka karena hewan Mas itu. Mas tidak tahu kan, bagaimana khawatir nya aku saat anak-anak bermain dengan hewan-hewan buas itu," cecar Nandira.


Rafiz mengusap wajahnya kasar, Nandira memang benar hewan-hewan itu tak begitu penting jika dibandingkan dengan anak-anak mereka.


"Jadi Mas lebih menyayangi hewan-hewan Mas daripada anak-anak kita?" tanya Nandira.


"Tentu saja aku lebih sayang dengan anak-anak kita," jawab Rafiz.


"Apa Mas marah aku memindahkan hewan-hewan tersebut demi kebaikan anak-anak kita?" tanya Nandira menatap kesal pada Rafiz.


"Mas ga nggak marah kok," ucap Rafiz cepat.


"Mas semua ini aku lakukan untuk kebaikan anak-anak, Kalau Mas tidak suka dengan apa yang aku lakukan, Mas bisa mengambil hewan-hewan Mas kembali. Itu bukan hal yang susah untuk mengembalikan hewan-hewan itu. Biar aku yang mengalah dan anak-anak, kami akan pindah ke rumah aku saja." ucap Nandira.


"Bukan seperti itu maksudku sayang. Maaf, Mas ngga akan mengungkit masalah hewan-hewan itu lagi, asal kalian tetap berada di sini," ucap Rafiz akhirnya mengalah saat melihat mata Nandira mulai berkaca-kaca.


"Maaf ya ," Rafiz membawa membawa Nandira ke pelukannya.


Nandira hanya mengangguk menjawab permintaan maaf suaminya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


salam dari ku


Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖