
Nandira terbangun di pagi hari, ia masuk ke kamar anak-anaknya melihat pakaian sekolah mereka yang masih tergantung rapi di sana.
Biasanya setiap pagi ia akan disibukkan dengan kedua anak kembarnya itu, mempersiapkan pakaian mereka sarapan dan lain halnya. Namun hari ini rumah terasa sangat sepi, Nandira mengusap pakaian Zidan dan Syahidah yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya namun hatinya merasa sakit entah mengapa ia merasa kedua anaknya itu akan lebih bahagia jika bersama dengan keluarga Rafiz.
****
Pagi hari di kediaman Rafiz juga sangat berbeda dari hari biasanya, rumah itu selalu sunyi dan tenang, namun tidak untuk pagi ini, suara Syahidah dan Zidan memenuhi rumah itu.
Pagi hari Rafiz di sambut dengan perkelahian antara mereka, mereka berebut ingin masuk kekamar mandi, berebut handuk dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang mereka rebutan.
"Papa ini punya aku," ucap Syahidah menarik handuk yang di pakai Zidan, padahal Rafiz sudah menyiapkan masing-masing handuk untuk mereka berdua.
"Syahidah, pakai yang ini saja ya," ucap Rafiz,
"Ga mau Pah, ini punya Syahidah," ucap Syahidah terus menarik handuk yang melilit di pinggang Zidan yang telah lebih dulu mandi.
"Ade,,, jangan di tarik nanti punya kakak kelihatan, kakak pake celana dulu ya," ucap Zidan membujuk adiknya namun Syahidah tetap kekeh menarik handuk itu....
Zidan yang ingin mendahului Syahidah masuk ke kamar mandi langsung menarik asal handuk, dan tanpa sengaja mengambil handuk Syahidah yang sudah di siapkan Rafiz untuknya. Entah dari mana Rafiz mengambil handuk berwarna pink kesukaan Syahidah.
"kakak ganti yang ini aja ya," ucap Rafiz memberi handuk lain.
Zidan menggeleng dan terus memegang erat lilitan handuk di pinggangnya agar pusakanya tetap tak terlihat.
Perkelahian handuk terjadi cukup lama.
Dengan segala cara Rafiz membujuk keduanya hingga Syahidah mengalah.
"Kakak cepatlah kita akan terlambat," teriak Syahidah memanggil Zidan dari meja makan.
"Iya sebentar ,"jawab Zidan juga dengan teriakan.
"Kakak sarapan," teriak Syahidah lagi,
"Iya sebentar," mereka kembali saling membalas teriakan.
"Syahidah, bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak, kalian itu berisik tahu," bentak Jazlyn pada Syahidah yang juga duduk di meja makan.
Syahidah langsung terdiam dan menatap tajam Jazlyn.
"Biarkan saja," tegur Daddy.
Mereka sarapan bersama kemudian Rafiz mengantar mereka kembali ke rumah untuk berganti pakaian.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Nandira begitu melihat kedua anak-anaknya berlari masuk ke dalam rumah.
"Sudah mah, jawab Syahidah dan Zidan berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian mereka.
Mereka sudah sangat terlambat,
"Ini gara-gara kakak, kita bisa-bisa terlambat ke sekolah," gerutu Syahidah sambil menaiki tangga,
"Jangan cerewet , capat pakai saja pakaianmu,"
Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing dan dengan cepat mengganti pakaian.
Nandira sedang sarapan sendiri di meja makan, Rafiz duduk disalah satu kursi yang ada di sana, tak ada pembicaraan diantara mereka. Nandira fokus pada makanannya sedangkan Rafiz fokus pada ponselnya.
Ingin rasanya mereka saling menegurnya namun entah mengapa semenjak kejadian itu keduanya merasa canggung satu sama lainnya.
"Ayo Pah kita berangkat," ucap Zidan yang sudah berganti pakaian.
"Mama kami berangkat dulu ya," ucap Syahidah mencium tangan dan pipi mamanya begitu juga dengan Syahidah. Rafiz iseng memberikan tangannya, tanpa sadar Nandira mengambil tangan Rafiz dan menciumnya. Nandira yang baru sadar apa yang dilakukannya dengan cepat melepas tangan Rafiz dan kembali duduk di kursinya, menghabiskan roti dan susu sarapannya.
Rafiz tersenyum melihat Nandira, hatinya terasa hangat pagi ini ia merasa memiliki keluarga yang utuh, punya istri dan 2 orang anak.
Mereka berangkat kesekolah,
"Papa, nanti jemput lagi ya, Syahidah masih ingin bermain bersama kakek dan nenek," ucap Syahidah saat turun dari mobil,
"Iya boleh, tapi kalian izin sama mama dulu ya,"
Setelah mengantar anak-anak Rafiz tak langsung ke kantor, ia mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah sakit.
"Semoga saja hasilnya menunjukkan jika mereka memang anak-anakku," gumam Rafiz berjalan menuju ke salah satu ruangan yang ada di rumah sakit, melihat sempel rambut Syahidah, Zidan dan juga miliknya.
"Kami akan menghubungi anda jika hasilnya sudah keluar," ucap petugas yang ada di rumah sakit itu,
"Baiklah, tolong lakukan secepatnya,"
****
Saat di kantor Rafiz kembali mengerjakan Secret partner yang telah dibahas bersama Zidan,
"Apa itu Secret Partner level 3?" tanya Miran,
"Iya, aku bisa pastikan kali ini akan jauh lebih menguntungkan bagi perusahaan kita, aku tak menyangka dia bisa menciptakan game luar biasa seperti ini ,"
***
Saat pulang kantor Rafiz dapat telepon dari Zidan,
" halo, Zidan bagaimana?"
" Maaf ya pa, sepertinya Mama nggak ngizinin kami menginap di sana, kami menginapnya lain kali saja ya,"
" Iya enggak apa-apa, Mama kalian pasti merasa kesepian kalian tinggal sendiri ,"
"Pah mama sudah datang, Zidan tutup dulu ya," ucap Zidan saat melihat mobil mamanya memasuki area parkir sekolahannya.
Rafiz menatap layar ponselnya,
"Semoga saja hasilnya sesuai dengan harapanku,"
Nandira menjemput anak-anaknya dan langsung membawanya ke toko kue miliknya.
"Mah, Syahidah ingin kue coklat ya," ucap Syahidah yang sudah lama tak makan kue coklat kesukaannya.
"Tentu saja, nanti Mama buatkan khusus untuk Syahidah," ucap Nandira.
"Kalian ke ruangan Mama ya, Mama buatin kue buat kalian,"
Zidan dan Syahidah berlari ke ruangan mamanya sedangkan Nandira menuju ke dapur membuat kue coklat untuk kedua anaknya.
Syahidah yang merasa bosan mencari sesuatu yang bisa dimainkannya, matanya tertuju pada sebuah kotak cincin yang ada di laci.
"Cincin siapa ini?!" ucap Syahidah mengambil cincin tersebut dan membukanya.
"Wah cantiknya," kagum Syahidah.
"Apa itu ?" tanya Zidan mendekati Syahidah.
"Cincin mama mungkin," Syahidah mengambil cincin tersebut dan memakainya di jarinya,
"Ya kebesaran," ucapnya saat melihat cincin tersebut tak cocok di jarinya padahal Ia sangat menyukai cincin tersebut. Syahidah melepas kalungnya dan menjadikan cincin itu sebagai liontin , "Kak cantik kan" ucap Syahidah menunjukkan kalungnya kepada Zidan.
"Iya cantik, tapi minta dulu ke mama jangan langsung diambil siapa tahu aja itu bukan punya mama," nasehat Zidan.
"Iya nanti aku minta sama mama," Syahidah kembali duduk di tempatnya dan bermain dengan gadgetnya.
Nandira masuk membawa 2 porsi kue pesanan mereka,"Pesanannya datang," ucap Nandira menyimpan kue tersebut di atas meja.
Mereka sudah lama tidak makan kue coklat buatan Mamanya,
Nandira sudah lama tak membuat kue untuk mereka, kesibukan di kantor sungguh sangat menyita waktunya.
"Mah ini cincin siapa?" tanya Syahidah. memperlihatkan cincin yang ada di kalungnya.
"Cincin?!" tanya balik Nandira,
"Iya ma, aku menemukannya di sana," tunjuk Syahidah pada laci tempat dimana ia menemukan cincin itu
Nandira baru teringat jika itu adalah cincin yang Rafiz tinggal kan waktu itu.
"Ini buat Syahidah ya ma,"
"Boleh, itu buat kamu saja," ucap Nandira yang berpikir Rafiz tidak akan mengingat cincin itu lagi karena ia sudah membuangnya.
ππππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri like, vote dan komennyaπ€
Salam dariku Author m anha β€οΈ
πππππππππππππππ